
Pukul sepuluh malam Shanum sudah merebahkan badannya di atas tempat tidur. Setelah mandi dan mengobrol sebentar dengan Pak Imran yang masih terjaga Shanum pun pamit untuk beristirahat. Sementara Bu Hana sudah terlelap bersama Humairah.
Hari yang sangat melelahkan untuk Shanum. Mulai dari persiapan hingga akhir dia terlibat secara langsung dalam acara besar ini. Menyiapkan hidangan terbaik untuk para tamu. Memastikan semuanya berjalan sesuai harapan pelanggan. Meski lelah tiada tara namun kepuasan pelanggan, pujian tamu hingga beberapa langsung mengajukan kerja sama dengannya membuat lelah Shanum menguap. Dia tidak menyangka akan kembali terlibat urusan dengan Akhtar.
Menatap langit-langit kamar, seulas senyum terbit di bibir Shanum saat mengingat kembali kebersamaannya bersama Akhtar beberapa jam yang lalu. Shanum bisa merasakan ada kenyamanan saat mengobrol tentang masa-masa sekolah di SMP bersama Akhtar. Tak ada lagi kecanggungan, Shanum sangat menikmati kebersamaan itu.
Ting....
Bunyi notifikasi pesan masuk mengembalikan kesadaran Shanum dari lamunannya. Matanya masih enggan terpejam, dia pun meraih gawai yang di simpan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
Shanum memicingkan mata saat melihat pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan di daftar kontaknya. Ragu dia untuk membukanya, takut hanya orang iseng di tengah malam. Shanum menyimpan kembali gawainya, tanpa membuka pesan itu. Dia memejamkan matanya berharap segera terlelap.
Ting...
Notifikasi pesan masuk kembali berbunyi membuat Shanum membuka matanya lagi.
Ting...
Ting...
Ting...
Belum juga Shanum menggapai gawainya, beberapa pesan sudah masuk kembali ke gawainya. Dia akhirnya bangun dari tidurnya, duduk bersandar di kepala ranjang. Mengambil gawai yang beberapa kali berbunyi menandakan banyak pesan masuk.
08xxxx.......
'Assalamu'alaikum'
'Sudah tidur?'
'Capek ya?'
'Sudah makan dulu kan?'
'Istirahatlah!'
'Tidur yang nyenyak!'
'Semoga mimpi indah!'
Shanum mengernyitkan kening, tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan beruntun di malam hari seperti ini.
Penasaran, namun dia enggan membalas. Takut jika orang itu hanya iseng atau salah kirim. Shanum pun mengalihkan gawainya menjadi mode hening. Dia menyimpan lagi gawai itu di atas meja, merebahkan kembali badannya. Terpejam dengan segala do'a dan harapan untuk hari esok yang lebih baik.
__ADS_1
*
*
Sementara di lantai dua mebel FDF, Ahsan sedang diintrogasi habis-habisan. Akhtar meminta agar Ahsan mengulang semua yang didengarnya dari Liani, tidak boleh terlewat satu kalimat pun. Setelah mengantar Liani ke rumah orang tua Bu Fatimah, Ahsan buru-buru menuju mebel. Dering gawainya sudah berkali-kali berbunyi, rupanya si penelepon sudah tak sabar menanti klarifikasi kebenaran berita yang baru diterimanya melalui pesan di aplikasi whatsapp.
Dan di sinilah mereka sekarang. Tiga orang pria tengah duduk di mini bar yang ada di ruangan itu. Ahsan menceritakan apa yang dia dengar dari Liani, dia pun menceritakan informasi yang dia dapat dari Yusup. Dengan tatapan tajam dan ekspresi wajah serius Akhtar menyimak penuturan Ahsan dengan seksama.
Dia meremas rambutnya sendiri, merasa geram dengan dirinya sendiri, menyesali diri yang memilih untuk tidak tahu apa-apa selama ini. Lagi-lagi dia berbuat kesalahan yang sama tentang Shanum. Dia hanya mengetahui semuanya dari apa yang dia dengar tanpa bermaksud untuk memastikan kembali dengan kedua matanya.
"Aarrgghhh...." Akhtar berteriak sambil menjatuhkan bokongnya di atas sofa. Dia tidak bisa berkata-kata, bingung harus berekspresi seperti apa. Di satu sisi berita kematian Haqi menjadi duka untuk Shanum termasuk dirinya karena memang mereka beberapa kali pernah terlibat urusan bisnis. Tapi di sisi lain Akhtar merasa mendapatkan harapan untuk bisa kembali memperjuangkan cintanya.
"Bro, gue jahat gak kalau sekarang merasa bahagia dengan status Shanum?" Akhtar mulai membuka suara. Dia merubah posisi duduknya, tegak menghadap dua sahabatnya yang masih terdiam di atas kursi mini bar.
"Maksudnya?" Ghifar beralih tempat duduk menuju sofa dan diikuti Ahsan dengan membawa kacang dua gelas kopi miliknya dan Akhtar.
"Ya...gue merasa agak enak aja, walau bagaimana pun kematian adalah sesuatu yang akan menyisakan duka dan kesedihan. Tapi hati gue gak bisa bohong kalau gue seneng akhirnya bisa dengan leluasa kembali mendekati Shanum" Akhtar berkata lirih, dia menundukkan kepala menatapi karpet tebal yang menjadi alas lantainya.
"Kalau menurut gue, itu adalah takdir Bro. Lo pernah denger kan pepatah yang bilang sesulit apapun itu, jika itu milikmu pada akhirnya akan Allah takdirkan untukmu" Ghifar kembali mengemukakan pemikirannya.
"Saatnya sekarang buat lo berjuang, jangan kasih kendor. Jangan sampai lo kehilangan kesempatan emas lo lagi. Gue tahu selama ini lo sudah banyak berkorban, terutama tentang cinta dan perasaan lo. Sekaranglah saatnya lo kejar kebahagiaan lo sendiri, Bro" lanjut Ghifar, dia antusias menyemangati Akhtar agar giat memperjuangkan cinta dan kebahagiaannya.
Ahsan yang sejak tadi diam dan malah asik menikmati kacang bawang yang Shanum buat sebagai bonus dari catering yang Akhtar pesan menarik perhatian Akhtar.
"Siapa bilang gue diam aja dari tadi yang ngomong itu gue" sejak awal datang Akhtar memang langsung mengintrogasi Ahsan, dia tidak memberikan Ahsan kesempatan untuk terlebih dahulu beristirahat padahal sebelumnya dia sudah mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi dan berlari menaiki tangga mebel menuju lantai dua.
"Sekarang gue kehabisan energi, makanya perlu amunisi" lanjutnya dengan sewot. Akhtar pun menarik napasnya dalam, hatinya membenarkan alasan Ahsan karena memang dirinya yang memaksa. Sementara Ahsan melanjutkan menikmati kacang bawang dengan lahapnya.
Glek...glek...glek....
Setelah hampir setengah toples kacang bawang itu berkurang, Ahsan meminum air mineral yang dibawakan Ghifar untuknya, terlihat sangat kehausan. Selain karena kecapekan, memakan kacang bawang dalam porsi banyak lumayan membuat tenggorokannya mengering.
"Euu....Alhamdulillah" Ahsan bersendawa dengan keras, membuat kedua sahabatnya kaget dan geleng-geleng kepala. Akhtar bahkan melemparinya dengan bantal sofa yang kemudian ditangkap Ahsan untuk di jadikan sandaran kepalanya.
"Gue seneng kalau lo mau kembali memperjuangkan cinta lo" ucap Ahsan, matanya tampak sayu, rasa kantuk sudah mulai menyerangnya.
Ghifar melirik ke arah Akhtar saat mendengar Ahsan mengatakan hal itu dengan ekspresi yang kurang bersemangat. Terlihat sepertinya Akhtar pun memiliki pikiran yang sama dengannya.
Suasana menjadi hening, tak ada satu pun yang bersuara. Ahsan sudah mulai memejamkan mata karena kantuk yang melandanya. Sementara Akhtar dan Ghifar asik dengan pikiran mereka masing-masing. Ghifar sangat mengerti kegelisahan yang dialami sahabat sekaligus bossnya itu saat ini.
"Bro, lo masih mencintai Shanum?" akhirnya Akhtar mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hatinya, dia ingin kejelasan dengan mendengar langsung dari Ahsan tentang misi hidup selanjutnya setelah mengetahui jika Shanum ternyata berstatus kembali single.
"Hah...apa?" Ahsan mulai kehilangan kesadarannya, namun dia masih sedikit mendengar jika Akhtar bertanya padanya.
__ADS_1
"Lo masih mencintai Shanum?" Akhtar mengulangi pertanyaannya dengan intonasi meninggi. Sontak membuat kesadaran Ahsan yang perlahan memasuki dunia mimpi pun kembali. Dia mengubah posisi duduknya menjadi tegak menghadap dua sahabatnya itu.
"Apa maksud lo?" tanya Ahsan sedikit geram dengan pertanyaan itu, matanya tajam menatap Akhtar.
"Gue hanya bertanya, agar kita bisa sama-sama jelas menentukan langkah selanjutnya" Akhtar menjelaskan maksud pertanyaannya. Dia mengambil air putih di botol mineral yang ada di hadapannya, glek...Akhtar pun meminum sisa air yang sebelumnya diminum Ahsan.
"Lo orang kedua yang menanyakan hal itu. Gue heran, emang kelihatan banget ya kalau gue masih cinta sama Shanum?" Ahsan balik bertanya dengan wajah serius, pertanyaan itu sangat menohok di hati Akhtar.
Suasana menegang, Ghifar bersiaga dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Sebelumnya Ghifar memang tidak pernah melihat Akhtar dan Ahsan bertengkar, mereka sangat saling menyayangi dan melindungi satu sama lain tetapi entahlah jika menyangkut urusan hati, mereka memiliki cinta yang besar untuk perempuan yang sama.
"Kenapa?" sentak Ahsan saat melihat tatapan Akhtar seakan akan menghunusnya.
"Emang lo gak bisa bedain antara cinta dan sayang, hah?" ucapnya lagi
"Jujur gue akui sampai saat ini gue memang masih sangat menyayangi Shanum, gue ingin selalu menjaga dan melindungi dia. Gue gak mau Shanum sedih, mendengar Haqi meninggal saat usia pernikahan mereka belum lama membuat gue sakit, gue nyesek banget dengernya. Gak bisa gue bayangin bagaimana perasaan Shanum saat itu. Gue yakin Shanum sangat sedih, gue tahu dia cewek yang tangguh, tapi di balik ketangguhannya itu sebenarnya dia juga rapuh namun dia selalu berhasil menyembunyikan duka di balik senyumannya"
"Dan sekarang gue ingin Shanum bahagia, gue sayang sama dia seperti sayangnya seorang kakak pada adiknya. Gue juga sayang sama lo, Bro. Lo bukan hanya sepupu buat gue, tapi lo sahabat gue. Gue sedih banget waktu lo enggak bangun-bangun dari koma. Bahkan sampai berbulan-bulan, tante sopia selalu bilang buat nyopot semua alat-alat yang nempel di tubuh lo tapi Ayah sama gue orang yang paling menentang. Mungkin kalau waktu itu ibu tahu, ibu juga akan jadi orang paling depan yang menentang usulan tante sopia" Akhtar kaget mendengar cerita Ahsan tentang ibu sambungnya, namun dia abaikan karena apa yang dihadapinya saat ini jauh lebih penting.
"Sekarang gue ingin lo juga bahagia, gue ingin lo kembali mengambil hatinya Shanum. Kejar dia, jangan biarkan peluang buat siapapun mengisi hatinya, kali ini lo harus menjadi pemenangnya, Bro".
Ahsan berbicara panjang kali lebar. Semua yang dia katakan tulus dari hatinya. Dia memang menyayangi Shanum tapi kini tak ada sedikit pun di hatinya keinginan untuk memiliki Shanum. Dia benar-benar sudah mendapatkan kenyamanan dari wanita lain, wanita yang tanpa dia sadari selalu ada untuknya selama ini. Setia mendengar setiap keluh kesahnya dan memahami dirinya.
Ketegangan yang tercipta pun memudar seketika, suasana berubah menjadi haru. Akhtar berdiri dan mendekat ke arah Ahsan. Dia memeluk sepupu sekaligus sahabatnya itu dengan erat. Merasa beruntung memilikinya, dia pun menoleh ke arah Ghifar, dengan senyum mengembang Akhtar merentangkan sebelah tangannya. Meminta Ghifar bergabung dalam pelukannya. Mereka bertiga pun saling berpelukan, Akhtar semakin bahagia. Kini dia mantap untuk meraih kembali hati Shanum, memperjuangkan cinta yang sempat terpisah karena takdir lain. Akhtar bersyukur dia di kelilingi orang-orang baik saat ini, yang selalu ada bahkan di saat paling pelik dalam hidupnya.
"Aarrgghhhh.....lepas!" Ahsan tiba-tiba berteriak di tengah suasana penuh haru membiru itu.
"Lama-lama engap gue dipeluk kalian berdua, gila ya kalian emang gue cowok apaan. Sorry ya, gue masih normal" tukas Ahsan, dia sudah kembali dengan gaya absurdnya, selalu mampu memberi tawa untuk siapa pun yang ada di dekatnya.
"Diih....najis!" kompak Ghifar dan Akhtar menjauh, mereka kembali ke tempat duduk masing-masing dengan mengibas-ibaskan tangan mereka ke tubuh masing-masing.
Tak lama tawa mereka pun pecah, ketiganya tertawa terbahak-bahak, larut dalam suasana bahagia yang menjadi ending kisah mereka hari ini.
*
Akhtar sudah berada di kamarnya, Ghifar dan Ahsan memilih untuk tidur di ruang tengah sambil menonton pertandingan bola. Badannya sudah bersih, mandi dengan air hangat menjadi pilihannya sebelum tidur. Akhtar merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya.
"Matanya menatap langit-langit kamar yang bercat putih itu, pikirannya menerawang ke depan, bagaimana dia merangkai hidupnya bersama Shanum kelak. Senyuman terbit di bibirnya saat membayangkan betapa dia akan bahagia. Namun mengingat bagaimana selama ini Shanum menutupi statusnya, seolah membangun benteng tinggi antara Shanum dengan dirinya membuat bayangan kehidupan bahagia yang akan segera dia raih kembali menguap.
Akhtar harus sungguh-sungguh berjuang untuk bisa mendapatkan hati Shanum dan kali ini sepertinya akan lebih sulit dari sebelumnya. Tidak mudah menjadi obat untuk hati yang dia pun pernah menorehkan luka di dalamnya.
"Aku tidak akan menyerah, apapun akan aku lakukan untuk bisa memenangkan hatinya kembali. Kali ini aku tidak ingin kehilangan lagi, cukup kesalahan di masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk lebih baik di masa kini dan masa yang akan datang. She is mine"
Akhtar berbicara pada dirinya sendiri, dia pun meraih gawai yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya, dicarinya kontak dengan nama Pemilik Hati.
__ADS_1