Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
A Beautiful Day


__ADS_3

Hamparan tanaman teh yang hijau tampak memantulkan cahaya karena tersorot sinar mentari yang cerah pagi itu. Hembusan angin perlahan menggoyangkan dedaunan pohon yang lebih tinggi dari tanaman teh di area perkebunan menambah kesejukan pagi hari yang menyegarkan.


Pemandangan indah yang memanjakan mata seakan menjadi saksi pertemuan dua insan yang saling memendam rasa yang terpisah oleh jarak beberapa bulan ini. Kini mereka berdiri berdampingan menatap indahnya hamparan tanaman teh di perkebunan itu.


Shanum tersentak saat ada orang yang berbicara di belakang dengan suara yang tak asing di telinganya. Seorang pria dengan penampilan yang sederhana namun justru semakin memperlihatkan kesempurnaannya, Simplicity is perfection.Yang berarti kesederhanaan justru adalah kesempurnaan adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan penampilannya saat ini.


Jaket hoodie yang simpel dipadukan dengan celana skinny yang stylish. Gaya yang nampak santai namun membuat sang pria terlihat semakin keren. Sejenak Shanum terperangah mendapati kehadirannya. Matanya menatap dalam, memindai sang pria dari atas hingga bawah.


"Kenapa? kaget aku ada di sini?" pertanyaan sang pria sontak membuyarkan fokus Shanum yang masih memindai orang yang ada di hadapannya kini.


Dengan segera Shanum memalingkan wajah dan tubuhnya ke arah lain untuk menyembunyikan keterkejutannya melihat pria yang selalu ia rindukan kini ada di hadapannya.


Penampilan sang pria saat ini mengingatkannya pada kenangan masa lalunya. Gaya berpakaiannya hari ini sama persis seperti ketika dia remaja. Akhtar memang dikenal selalu berjaket hoodie ketika berkegiatan santai alasannya karena udara Garut dingin katanya, itu dulu alasan Akhtar beberapa tahun yang lalu saat dirinya masih tinggal di Garut di usia remaja yang dia lewati dengan keindahan cinta khas remaja entahlah dengan alasannya saat ini.


"Terpesona ya melihat penampilanku hari ini?" Akhtar kembali melontarkan pertanyaan yang mengandung kenarsisan pada Shanum, bibirnya di penuhi senyum yang merekah pertanda bahagia.


Shanum menarik napasnya dalam-dalam, laki-laki yang satu ini selalu saja berhasil membuat dadanya sesak. Jantungnya berpacu lebih cepat dibanding sehabis olah raga tadi.


"Maaf, anda siapa? Ada yang bisa saya bantu? pertanyaan Shanum dengan nada yang serius membuat senyum Akhtar hilang seketika.


Deg.... sesuatu tiba-tiba saja menghantam dadanya. Napasnya tercekat, mendengar pertanyaan Shanum yang tidak masuk akal menurutnya.


Akhtar memandang Shanum dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sementara yang ditatap hanya menampakkan ekspresi wajah yang datar.


"Sha..Sha..num, kamu jangan bercanda, gak lucu" Akhtar kembali berbicara dengan sedikit terbata dan intonasi meninggi. Dia syok mendengar Shanum mempertanyakan siapa dirinya.


Shanum hanya membalas tatapan Akhtar, dia masih membungkam mulutnya dan masih betah dengan ekspresi wajah datarnya. Dilihatnya wajah Akhtar yang kaget bercampur khawatir dan Shanum sangat menikmati ekspresi itu saat berkesempatan menatapnya.


Akhtar yang melihat Shanum belum memberikan respon atas pertanyaannya semakin panik.


"Shanum, Shanum Najua Az-Zahra?" ucapnya lagi dengan intonasi sedikit meninggi.


"Iya?...saya Shanum, anda?" jawab Shanum balik bertanya masih dengan nada seriusnya.


"Aku Akhtar, Shanum. Akhtar, Akhtar Farzan Wijaya" jawab Akhtar yang mulai emosi.


"Ouh..." balas Shanum singkat.


Jawaban Shanum sontak semakin membuat Akhtar kaget. Ada apa dengan Shanum, kenapa dia seperti tidak mengenalinya.


"Ouh apa?" tanya Akhtar heran.


"Akhtar siapa ya?" tanya Shanum lagi.


"Aku Akhtar, Shanum. Dulu kita adalah sepasang kekasih, kita pernah berjanji untuk saling mendo'akan agar kita berjodoh. Aku menepati itu, bahkan sampai saat ini di penghujung sujudku do'a agar kita berjodoh selalu terucap dengan tulus", Akhtar menjawab dengan mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


Suasana hening beberapa saat, Shanum masih berdiri dengan tegak menatap lurus ke depan. Jawaban yang didengarnya justru semakin membuat hatinya tak karuan. Jantungnya bahkan berdetak semakin kencang.


Niat hati ingin mengerjai Akhtar karena kedatangannya yang tiba-tiba dan membuatnya kembali sport jantung ternyata malah semakin mengguncangkan hatinya yang beberapa bulan ini sudah mulai tenang.


Sedangkan Akhtar masih berdiri di sampingnya dan terus memandangi Shanum dengan penuh tanda tanya. Jantungnya berdegup lebih kencang, rasa takut dan khawatir jelas menghiasi wajahnya. Takut jika Shanum ternyata benar-benar tidak ingat siapa dirinya. Khawatir dengan keadaan Shanum, ada apa dengannya? Apa yang sudah terjadi padanya akhir-akhir ini?


Dari laporan orang suruhannya dia mendapat informasi jika Shanum selama ini baik-baik saja, selalu menjalani hari-harinya dengan semangat dan ceria.


Ya...selama ini Akhtar memang selalu mengawasi Shanum, mengingat perlakuan Raina dan Suraya terhadap Shanum beberapa waktu yang lalu Akhtar sangat mengkhawatirkannya. Dia memutuskan untuk menyuruh orang kepercayaannya bertugas khusus mengawasi Shanum dan melaporkannya setiap hari.


Tidak hanya karena takut Raina kembali menyakiti Shanum, tetapi semua ini dia lakukan karena Ahsan sudah tidak mungkin melakukannya. Akhtar tahu selama ini Ahsan begitu sangat menjaga Shanum. Karena itulah dia merelakan Shanum bersama sepupunya itu.


Beberapa hari sejak kepergiannya ke Surabaya, Ahsan mengajukan cuti ke perguruan tinggi tempatnya mengajar. Dia mengajukan cuti selama satu semester ke depan dengan alasan ingin membantu sang ayah menyelesaikan kasusnya, dia juga tidak tega harus meninggalkan ibunya sendirian dalam keadaan seperti ini. Sebagai anak satu-satunya Ahsan cukup tahu diri untuk itu.


Informasi terakhir yang Akhtar terima dari Ahsan adalah tentang perkembangan kasus ayahnya yang ada peluang untuk bebas bersyarat, dengan syarat melapor setiap harinya mengenai aktivitas sang ayah. Tetapi itu saja tidak cukup untuk Ahsan. Dia ingin memastikan Ayahnya harus benar-benar bebas, dan apa yang dituduhkan kepadanya adalah fitnah belaka. Ahsan tahu betul siapa ayahnya, integritas dan kredibilitasnya dalam bertugas tidak perlu diragukan lagi. Ahsan terus berusaha mencari jalan keluar untuk membuktikan bahwa sang ayah memang tidak bersalah. Dia ingin mengembalikan nama baik sang ayah.


Sampai suatu hari seseorang menawarkan bantuan pada Ahsan untuk membebaskan ayahnya dan kembali membersihkan nama baiknya. Tentu Ahsan menyambut gembira tawaran ini, dengan suka cita dia mendatangi orang tersebut yang tak lain adalah ayah Suraya yang merupakan atasan ayah Ahsan.


Awalnya Ahsan hanya menganggap apa yang dilakukan orang tua Suraya adalah sebatas kebaikan seorang atasan kepada bawahan atau karena mereka memang berteman baik selama ini.


Namun di balik semua kebaikan yang mereka tawarkan ternyata ada udang di balik batu. Setelah mengungkapkan maksudnya untuk menolong ayah Ahsan, Ayah Suraya pun mengajukan persyaratan. Dia akan membantu membebaskan ayah Ahsan dan kembali membersihkan namanya dengan syarat Ahsan bersedia menikah dengan Suraya.


Sampai saat ini Akhtar belum tahu kelanjutan kabar tentang Ahsan dan Suraya. Dia hanya tahu jika pamannya sudah bebas dan kembali beraktivitas.


'Aku kalah, titip Shanum!'


Akhtar tidak mau menunda lagi hari ini dia sengaja mengosongkan jadwalnya untuk menemui Shanum dan memastikan keadaannya baik-baik saja.


Dari sudut matanya Shanum bisa melihat ekspresi wajah Akhtar yang penuh kekhawatiran.


"Hahaha......." tawa Shanum tiba-tiba pecah, dia sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Akhtar seperti itu, ekspresinya wajah Akhtar yang seperti itu terlihat sangat lucu di mata Shanum.


Akhtar masih membeku di tempatnya, dia masih belum tahu apa yang harus dia lakukan menanggapi sikap wanita yang ada di hadapannya itu.


"Kenapa? kaget?" sindir Shanum.


"Hah?" Akhtar terlihat gugup menanggapi pertanyaan Shanum.


"Hahaha....." lagi-lagi Shanum tertawa melihat ekspresi Akhtar.


"Kamu....?" ucapan Akhtar terhenti.


"Apa?" Shanum bertanya balik, karena melihat Akhtar menghentikan ucapannya.


"Kamu ngerjain aku?" tanya Akhtar.

__ADS_1


"Iya" jawab Shanum singkat, dia menganggukan kepala tanpa melihat ke arah Akhtar.


"Huuhh." Akhtar menghembuskan napasnya kasar, membuang semua sesak di dadanya, karena berhasil kena prank oleh Shanum.


Sungguh dia sangat takut jika Shanum benar-benar melupakannya. Dia tidak akan siap untuk itu.


"Kamu ya, benar-benar", Akhtar geleng-geleng kepala sambil melempar daun teh yang tanpa sadar tadi dia petik dan meremasnya karena menahan sesak yang menyeruak di dadanya.


"Idiih...apaan ini main petik-petik aja. Nanti yang punyanya marah lho" sentak Shanum saat tahu Akhtar melemparinya dengan daun teh, di bibirnya masih menyisakan tawa karena berhasil mengerjai Akhtar.


'Emang kamu aja yang bisa bikin orang sport jantung, aku juga bisa' gumam Shanum dalam hatinya.


"Biarin, nanti kamu yang harus bertanggungjawab sebagai warga di sini mencontohkan yang tidak benar." tukas Akhtar tak kalah sengit.


"Eh eh eh...enak aja, mencontohkan yang tidak benar apanya?" protes Shanum sambil mengambil ranting pohon yang tergeletak di dekat kakinya kemudian dihalaukan ke arah Akhtar.


Mereka pun terlibat perang ranting dan daun, kekakuan yang terjadi di antara keduanya beberapa bulan ini seolah mencair di bawah pancaran sinar mentari pagi yang tidak hanya menghangatkan alam semesta namun kehangatannya mampu menelusup ke hati sanubari dua insan yang selama ini saling memendam cinta dan kerinduan.


Tanpa mereka sadari tiga pasang mata sejak tadi mengawasi interaksi mereka berdua. Ketiganya pun larut dengan adegan-adegan yang sedang mereka. Mereka ikut tersenyum kala melihat Shanum tertawa dengan lepasnya, keceriaan yang sudah lama menghilang hari ini kembali karena kehadiran seseorang.


Farida dan Fauzan tahu jika selama ini Shanum sedang menanti seseorang. Setiap laki-laki yang datang akan dia tolak dengan halus dengan berbagai alasan. Sampai ketika Shanum menerima pinangan putra dari teman ibu mereka dengan sedikit terpaksa karena permintaan sang ibu mereka berdua pun tahu.


Tapi mereka tidak pernah ikut intervensi terhadap urusan pribadi kakaknya terutama tentang perjalanan cintanya. Shanum tidak terlalu terbuka tentang hal itu, beberapa kali mereka pun pernah bertanya tentang kekasih sang kakak namun selalu senyuman yang Shanum berikan sebagai jawaban.


Suatu hari mereka pun pernah menemukan buku diary Shanum, dari sana mereka tahu bahwa telah ada seseorang yang mengisi hati Shanum. Mereka tidak mau memaksa. Cukup tahu saja sudah cukup untuk mereka, biarlah jika sudah waktunya Shanum sendiri yang akan bercerita. Namun mereka akan selalu ada di kala sang kakak membutuhkan.


Seperti hari ini, Farida dan Fauzan yakin bahwa laki-laki yang berada dengan Shanum adalah laki-laki yang selama ini mengisi ruang hati Shanum. Fauzan pun mengingat jika laki-laki itu bernama Akhtar yang datang ke rumah dan memberinya kartu nama beberapa bulan yang lalu.


Pantas saja Fauzan merasa tidak asing dengan nama itu, toh dia pernah menemukan namanya tertulis di diary sang kakak yang tak sengaja pernah dia baca. Mereka pun memilih membiarkan dan melanjutkan aktivitas kala melihat Shanum asik mengobrol dengan laki-laki itu.


Akhtar dan Shanum tampak asik mengobrol dengan berbagai topik kekinian. Mereka terlihat lebih akrab.


"Eh, dimana mereka?" gumam Shanum


"Siapa?" tanya Akhtar


"Adik-adik aku, tadi mereka sedang foto-foto di sini" jelas Shanum.


"Sepertinya mereka menjauh" tunjuk Akhtar ke arah Farida dan Fauzan.


"Euleuh.....itu bumil macem-macem wae maunya teh." ceplos Shanum.


"Bumil?" tanya Akhtar penasaran.


"Iya, Rida adikku sedang hamil. Sekarang usia kandungannya sudah dua bulan menuju tiga.

__ADS_1


Shanum menceritakan perihal sang adik kepada Akhtar. Tidak sedikit pun kecanggungan tercipta antara mereka bahkan saat ini mereka sibuk dengan obrolan masa-masa remaja mereka di Garut.


__ADS_2