
"Maaf Raina, aku harus rapat sekarang", ucap Akhtar kepada Raina. Setelah acara makan siang dengan segala dramanya, Raina mengajak Akhtar mengunjungi butik maminya untuk melihat-lihat koleksi kebaya yang akan dipakai saat pertunangan mereka nanti, namun Akhtar menolak.
Keluarga keduanya sudah sepakat akan menggelar pertunangan resmi pada bulan yang akan datang. Akhtar masih memutar otaknya mencari cara untuk menolak pertunangan itu dengan alasan yang tidak akan terbantahkan oleh kedua keluarga namun tidak merusak hubungan baik. Tetapi hingga saat ini dia belum menemukannya.
Tidak mungkin dia jujur kalau dia sudah menemukan kembali cintanya. Akhtar tidak ingin menyeret nama Shanum ke dalam masalah ini. Biarlah dirinya sendiri yang menyelesaikan semuanya tanpa harus melibatkan Shanum.
Masih ada waktu satu bulan untuknya memaksimalkan ikhtiyar menolak perjodohan dan kembali menggapai cinta Shanum, pikirnya.
"Baik Mas gapapa aku bisa menunggu kok", Raina bersikukuh dengan keinginannya.
"Tapi aku tidak tahu rapat ini akan selesai kapan, nanti malam kami akan berangkat ke Pangandaran jadi harus persiapan juga kan?", Akhtar melirik Ahsan memberi kode agar membenarkannya, ia masih berusaha menghindar.
"Kalian bisa pergi nanti setelah acara Pangandaran selesai, masih ada waktu kan?", timpal Ahsan yang dibalas tatapan kesal dari Akhtar tidak setuju dengan apa yang Ahsan katakan. Ahsan berusaha menahan tawanya karena tahu sepupunya itu tidak senang dengan caranya merayu Raina.
Sejenak Raina berpikir, dia ingat bahwa nanti malam seluruh pengurus yayasan akan pergi ke Pangandaran dan dipastikan dirinya pun harus ikut.
"Baiklah kalau begitu aku mau ngajak Yasmin aja beli perlengkapan buat ke Pangandaran nanti", jawab Raina dengan antusias.
Akhtar menghela napas, entah kenapa mengetahui Raina akan ikut ke Pangandaran ia merasa enggan.
"Ayo!", Akhtar mengajak Ahsan keluar dari ruangannya. Memilih meninggalkan gadis itu di ruangannya daripada terus berdebat yang membuat emosi jiwanya.
Mereka berdua menuruni tangga menuju lantai satu gedung kantor yayasan, ruang sekretariat panitia kegiatan kemarin berada dekat dengan pintu keluar gedung itu.
Tiba di lantai satu Akhtar dan Ahsan menghentikan langkahnya serempak. Pandangan mereka tertuju pada dua orang yang sedang berjalan ke arahnya. Laki-laki dan perempuan yang tak asing bagi mereka. Dari kejauhan tampak mereka asik mengobrol, sesekali terlihat mereka tergelak bersama. Bahkan semakin dekat suara tawa mereka berdua semakin terdengar.
Akhtar dan Ahsan semakin geram saat melihat laki-laki itu memukulkan map yang dipegangnya ke bahu si perempuan. Kedekatan mereka begitu kentara, membuat dua pria itu kehilangan kontrol untuk tidak menunjukkan aura kemarahan di wajahnya.
Shanum dan Arga berhenti tepat di depan mereka berdua.
"Assalamu'alaikum", ucap mereka kompak membuat Akhtar dan Ahsan semakin geram, tapi sedetik kemudian kesadaran mereka kembali.
"Wa'alaikumsalam" Akhtar dan Ahsan menjawab dengan ketus.
"Maaf Pak, saya terlambat", suara Shanum melerai ketegangan di antara mereka.
"Bu Shanum, bapak-bapak saya permisi mau ke lantai atas, ada berkas yang harus saya serahkan ke bagian kepegawaian", Arga menganggukan kepala pamit dan menuju lantai atas.
"Hemm", Ahsan hanya menjawab dengan deheman. Dia tahu Arga adalah dosen di sana, mereka sering bertemu karena memang mengajar di jurusan yang sama.
Berbeda dengan Akhtar yang tampak tidak peduli dengan Arga, pandangannya tidak beralih dari perempuan yang ada di hadapannya. Shanum menyadari Akhtar sedang menatapnya, dia bergegas masuk ke ruang sekretariat.
"Permisi Pak, saya masuk", pamit Shanum berlalu tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua. Akhtar dan Ahsan pun mengekori Shanum, mereka menuju tempat duduk masing-masing tanpa bicara.
Di dalam ruang sekretariat Shanum sudah ditunggu timnya. Shanum duduk berdampingan dengan Rahma, mereka membicarakan ide-ide rencana kegiatan yang akan mengisi acara mereka di Pangandaran dengan sedikit berbisik, posisi duduk melingkar membuat meraka tepat berhadapan dengan dua orang penting di yayasan itu.
Akhtar yang tepat berhadapan dengan Shanum memilih memainkan gawainya, jantungnya berdegup lebih cepat saat berhadapan dengan Shanum.
Berbeda dengan Ahsan maupun Shanum yang tampak lebih mampu menguasai diri karena pertemuan rapat dengan posisi seperti ini sudah biasa untuk mereka.
Shanum selalu mampu bersikap profesional dalam berkerja, mengesampingkan perasaan lainnya walaupun sejujurnya jantungnya pun terasa lebih cepat berdetak karena rapat kali ini dihadiri oleh Akhtar.
Rapat belum juga dimulai karena ada beberapa orang yang masih berada di luar. Andi salah satu tim acara yang masih berada di luar bergegas memasuki ruang sekretariat saat melihat dua atasannya sudah masuk ke dalam.
Tanpa berpikir apapun Andi duduk di kursi kosong yang ada di samping Shanum, sontak hal tersebut kembali memancing emosi Akhtar. Pandangan Akhtar beralih dari gawainya ke arah Andi yang tampak santai mengobrol dengan Shanum. Tatapan penuh intimidasi, memorinya sedang berputar merekam wajah laki-laki yang sedang mengobrol dengan Shanum. Sementara yang ditatap tampak biasa saja.
Ahsan membuka rapat seperti biasa dengan penuh wibawa. Setelah memberi sambutan selanjutnya mempersilahkan tim acara untuk menyusun rencana kegiatan apa saja yang akan mengisi acara mereka di Pangandaran. Shanum sebagai penanggungjawab tim meminta waktu untuk berdiskusi.
Mengisi waktu saat menunggu tim acara berdiskusi Akhtar dan Ahsan tampak asik berselancar dengan gawainya masing-masing.
Walau tangan mereka memainkan gawai tapi tanpa mereka sadari pandangan mereka sebenarnya lebih sering tertuju pada gadis di depannya. Shanum begitu cekatan menanggapi berbagai ide yang disampaikan anggota timnya dan menumpahkannya dalam bentuk catatan.
30 menit telah berlalu, semua ide yang sudah disepakati semua anggota tim sudah tertuang dalam power point yang siap dipresentasikan.
Shanum dan timnya sudah selesai menyusun draft rundown acara yang akan diajukan ke pimpinan yayasan. Dia pun beranjak dari kursinya untuk menyerahkan dokumen draft rundown acara tersebut.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih untuk kerja samanya. Selanjutnya silahkan siapa yang akan mempresentasikannya" , Ahsan menerima berkas yang diserahkan Shanum dan membuka sesi presentasi dengan serius.
Shanum dan teman-teman timnya yang terdiri dari lima orang saling tatap. Mereka sepakat menjadikan Andi sebagai orang yang akan mempresentasikan hasil diskusinya.
Selama tiga hari ke belakang dialah yang bekerja keras mengumpulkan berbagai data di lapangan tujuannya adalah memastikan kegiatan yang akan dilaksanakan dapat terlaksana dengan baik karena ditunjang sarana, prasarana dan situasi lapangan. Shanum tidak bisa membersamai karena harus pulang ke Bogor waktu itu.
Andi pun beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke mimbar untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka. Namun, belum juga dia memulai Akhtar sudah menghadangnya dengan pertanyaan.
"Kenapa anda yang maju? bukankan penanggung jawab acara adalah Bu Shanum?" tanya Akhtar dengan wajah datar, arah pandangannya tertuju pada Andi.
Mendengar pertanyaan itu semua terdiam, bingung mau menjawab apa. Tidak habis pikir seorang ketua yayasan menanyakan hal itu. Siapapun yang presentasi harusnya tidak jadi masalah, yang penting penanggungjawab memastikan semua program yang sudah disetujui segera terrealisasi dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
Shanum yang merasa paling bertanggungjawab akan hal ini akhirnya angkat bicara.
"Benar Pak, saya yang bertanggungjawab dan saya yang akan melakukan presentasi. Mohon maaf jika Bapak kurang berkenan", tutur Shanum dengan tenang dan penuh wibawa.
Tanpa menunggu respon atasannya dia pun berjalan menuju mimbar untuk mengambil alih tugas Andi.
"Pak Andi, terima kasih atas kerja kerasnya, selanjutnya saya yang akan melakukan presentasi Bapak silahkan kembali ke tempat", lanjutnya.
Andi hanya menatap Shanum sendu, dia pun jadi tak enak hati berada di situasi ini. Pasalnya beberapa hari yang lalu Shanum mewanti-wanti agar tugas ini menjadi tanggung jawabnya.
Tanpa ragu Shanum pun memulai presentasinya dengan tenang, dia menyampaikan setiap rencana dengan terperinci lengkap dengan dasar, tujuan dan berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebagai dampak dari kegiatan tersebut lengkap dengan alternatif solusinya.
Kemampuan memimpin Shanum memang patut diacungi jempol, dia pandai mencari peluang, menganalisis masalah dan menemukan solusi serta bijak menentukan keputusan.
Akhtar tak mampu memalingkan wajahnya, menatap gadis yang sejak sepuluh tahun yang lalu telah ada dalam hati dan pikirannya, hingga kini tak mampu sedetik pun dia berpaling, bayangan gadis itu selalu bertahta di ingatannya, kini dia tampak lebih memesona seiring bertambahnya usia.
Benar kata orang bahwa perempuan selalu mampu untuk tampil cantik. Saat remaja dia cantik karena usianya masih muda, ketika dewasa dia cantik karena kedewasaannya dan ketika usia lanjut dia cantik karena kebijaksanaannya.
Tak jauh beda dengan Akhtar, Ahsan pun selalu terpesona saat Shanum berbicara. Dia seakan tak peduli dengan dunia sekitarnya kata-kata Shanum dan ekspresi wajahnya saat berbicara menjadi magic word yang mampu menghipnotis semua orang yang mendengarkannya. Shanum memang memiliki kemampuan public speaking yang keren.
"Demikian yang yang dapat kami sampaikan, terima kasih." Shanum mengakhiri presentasinya.
Suasana ruangan kembali hening, tim acara tampak gugup menunggu keputusan dari para pimpinan. Sementara Akhtar dan Ahsan masih asik dengan dunianya masing-masing, pandangan keduanya masih tertuju pada layar depan tepat dimana Shanum berdiri entah apa yang sebenarnya mereka tatap.
"OK", jawaban singkat Akhtar
Ahsan mengernyit menoleh ke arah Ahsan, harusnya terlebih dahulu dia yang memutuskan.
"Deal", akhirnya Ahsan pun berkomentar.
Semua anggota tim akhirnya bernapas lega.
Rapat berakhir, peserta rapat berangsur meninggalkan ruangan. Shanum dan Bu Rahma masih merapikan beberapa berkas. Mereka pun beranjak meninggalkan ruangan.
Akhtar dan Ahsan masih setia berdiri di luar ruang sekretariat mereka masih membahas beberapa hal tentang persiapan untuk nanti malam.
"Bu Shanum," Ahsan memanggil Shanum saat hendak pamit.
"Ya, Pak?" jawab Shanum
"Tunggu saya, ada yang mau saya sampaikan", jelas Ahsan.
Akhtar yang mendengar itu tak mampu menyembunyikan perasaannya. Ekspresi wajahnya langsung berubah.
"Bu Rahma silahkan boleh duluan", Ahsan mempersilahkan Bu Rahma untuk pergi
"Eh kenapa?" tukas Shanum berusaha menghindar.
"Jika ada yang salah mengenai yang tadi mari kita bicarakan bersama" ucap Shanum tegas.
Bu Rahma bingung menuruti perintah Ahsan sementara tangannya masih digandeng erat oleh Shanum.
"Kakak, Assalamu'alaikum", tiba-tiba ucapan salam seseorang melerai ketegangan. Yasmin adik sambung Akhtar datang bersama Raina.
__ADS_1
"Kakak, sudah selesai kan rapatnya? sekarang antar aku dan Kak Raina ya belanja buat persiapan nanti ke Pangandaran", ucap Yasmin.
"Iya Mas, bisa kan? kita pergi sekarang biar gak terlalu malam pulangnya", timpal Raina lembut. Dia berjalan mendekati Akhtar dan berdiri di sampingnya.
Shanum memalingkan wajahnya seketika ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerang, matanya terasa menghangat. Akhtar menangkap perubahan raut muka Shanum, dia semakin merasa bersalah.
"Bro, aku duluan ya", pamit Ahsan pada Akhtar.
"Yuk Num", Ahsan mengajak Shanum dan tanpa menunggu jawaban Akhtar mereka pun berlalu meninggalkan Akhtar yang terpaku.
Dia memandangi punggung Shanum dan Ahsan yang berjalan semakin menjauh. Matanya masih setia mengikuti kemana arah tujuan mereka.
Dari kejauhan Akhtar masih bisa melihat, Ahsan yang berbicara pada Shanum dengan sedikit menundukkan kepalanya karena dia memang lebih tinggi dari Shanum, dan diangguki Shanum dengan senyum ramahnya. Interaksi mereka terlihat lebih intim membuat hati Ahktar semakin bergemuruh.
Ahsan dan Shanum memutuskan berbicara di dekat taman aula yang tidak jauh dari gedung kantor yayasan. Taman itu lebih sepi jika hari libur seperti saat ini.
"Kenapa kamu suka sekali menikmati senja, Num?" Ahsan memulai pembicaraan, posisi mereka kini duduk berdampingan dengan jarak cukup jauh.
"Karena senja adalah bagian dari semesta yang paling faham caranya pamit tanpa membuat sakit", jawab Shanum penuh arti. Ahsan menyunggingkan senyumnya mendengar jawaban Shanum.
" Kamu masih merasa paling tersakiti?" tanya Ahsan mengikuti alur yang dibuat Shanum, dia ingin mengetes sampai dimana kejujuran Shanum tentang keadaan hatinya.
Berdasarkan informasi yang dia terima dari Liani, Ahsan tahu kalau saat ini Shanum sedang terluka karena dikecewakan oleh orang yang dia tunggu selama ini.
"Tidak", jawab Shanum dia belum sadar dengan pertanyaan jebakan Ahsan.
"Benarkah?" , timpal Ahsan.
"Iya, aku tidak merasa menjadi orang yang paling tersakiti, karena nyatanya aku pun menjadi luka untuk orang lain", jawab Shanum tegas.
Ahsan semakin tersenyum lebar, dia tahu maksud jawaban Shanum.
"Aku tidak akan bosan menjadi obat untuk lukamu Num." ucap Ahsan dengan tulus.
Shanum menoleh menatap Ahsan, dia tersadar jika pertanyaan Ahsan memancingnya.
"Kakak...."
"Tak apa Num, salah satu bentuk mencintai diri adalah dengan berani meninggalkan orang yang mengecewakanmu", Ahsan memotong ucapan Shanum.
Shanum menghela napas, dia berpikir mungkin ini saatnya berbicara serius dengan Ahsan tentang urusan hati.
"Kakak, semua bisa menemani tetapi tidak semua bisa memahami. Tapi Kakak melakukan keduanya untukku, terima kasih", ucap Shanum tulus.
"Aku tidak ingin lagi mendengar ucapan terima kasih darimu karena semua sudah menjadi keharusan untukku. Tapi jujur sampai saat ini aku masih berharap lebih darimu", jawab Ahsan jujur.
Shanum menoleh, dia memandangi Ahsan lama.. "Apa?" tanyanya yang kemudian menunduk.
Ahsan menarik napas panjang, dia merubah posisi duduknya menghadap Shanum.
"Hatimu", ucap Ahsan pasti.
"Aku ingin kamu membuka hatimu untukku, Num" lanjutnya.
Shanum mendongak, sejenak mereka saling memandang tapi sedetik kemudian Shanum kembali menunduk.
Ahsan terdiam menunggu jawaban Shanum. Shanum menarik napas panjang sebelum berbicara, memastikan keputusannya kali ini tepat.
"Kakak....." dia menjeda ucapannya.
"Ya?" jawab Ahsan penuh harap.
"Beri aku waktu sedikit lagi untuk bisa menerimamu, karena saat bersamamu aku ingin benar-benar selalu bahagia bukan hanya terlihat bahagia", ucap Shanum mantap.
Sudah waktunya dia membuka hati, karena menyadari Akhtar sudah tak laiak menjadi penghuni hatinya.
__ADS_1
'