
Seorang Ibu tengah bersimpuh di sebuah mushala rumah sakit. Ribuan do'a dia langitkan, bermunajat memohon kesembuhan untuk sang putra.
Hasil pemeriksaan dokter menyatakan jika semua organ tubuh sang putra sudah berfungsi dengan baik. Tapi anehnya, belum ada tanda-tanda jika putranya akan bangun.
"Bu, kata dokter Akhtar ada perkembangan" ucapan seseorang yang tak lain adalah Ahsan menghentikan isak tangis Bu Fatimah sesaat setelah memanjatkan do'a. Dia beranjak dari tempat sujudnya dan segera menghampiri Ahsan.
"Benarkah? kamu tidak bohong kan?" tanya Bu Fatimah memastikan.
"Iya Bu, katanya Akhtar menggerakan jarinya barusan dan itu merupakan kemajuan yang luar biasa kata dokter. Sekarang Akhtar akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa dan kita bisa menungguinya di dalam" jelas Ahsan.
Bu Fatimah segera berjalan menuju ruangan tempat putranya dirawat diikuti oleh Ahsan di belakangnya. Kini Akhtar sudah dipindahkan di ruang rawat biasa, Bu Fatimah dan anggota keluarga yang lainnya sudah dibolehkan memasuki ruangan itu dan menunggui Akhtar.
Dalam ruangan itu sudah ada Pak Furqan dan Bu Sopia.
"Assalamu'alaikum" ucap Bu Fatimah saat memasuki ruangan itu.
"Wa'alaikumsalam" semua yang ada di ruangan pun menjawab serempak.
"Bagaimana perkembangan anak saya, Dok?" Bu Fatimah langsung berjalan mendekati dokter, dia melewati Pak Furqan dan Bu Sopia tanpa menyapanya.
"Alhamdulillah ada perkembangan Bu, kami semakin yakin jika seluruh organ tubuhnya sudah kembali berfungsi dengan baik. Kita hanya tinggal menunggu kapan dia mau bangun. Semoga dengan kehadiran orang-orang terdekatnya bisa memberinya motivasi agar segera bangun dari tidur panjangnya" dokter menjelaskan dengan rinci perkembangan kesehatan Akhtar. Bu Fatimah menganggukkan kepala tanda mengerti penjelasan yang diberikan dokter, dia pun sedikit lega karena sekarang bisa menunggui putranya langsung.
Hari berganti hari, Bu Fatimah tanpa mengenal lelah menunggui dan merawat putranya yang masih enggan membuka mata. Melihat tidak ada lagi perkembangan yang signifikan dari sang putra membuat Pak Furqan akhirnya menerima saran dokter agar Akhtar dibawa ke luar negeri. Di sana Akhtar akan melalui pemeriksaan yang lebih detil dengan hasil yang lebih akurat. Fasilitas rumah sakit yang lebih lengkap diharapkan bisa menemukan penyebab Akhtar yang belum juga terbangun serta dapat menunjang kesembuhan Akhtar. Bu Fatimah tak bisa apa-apa selain menyetujui dan menerima apapun yang menjadi keputusan Pak Furqan demi kesembuhan putranya.
Sebelum pemberangkatan Akhtar ke luar negeri, Bu Fatimah sempat mendengar perdebatan antara Pak Furqan dengan istrinya, Bu Sopia tidak mengizinkan jika Bu Fatimah ikut serta ke luar negeri dan menunggui Akhtar. Cukup di sini dia membiarkan mantan istri suaminya itu berdekatan dengan suaminya. Selama Bu Fatimah menunggui Akhtar di rumah sakit otomatis dia pun sering bertemu dengan suaminya. Bahkan tak jarang karena sesuatu hal yang berhubungan dengan Akhtar, mereka berdua sering dibersamakan dalam satu momen. Hal itu jelas membuat Bu Sopia geram, dia masih tidak bisa meredam kecemburuannya. Walau bagaimanapun dia dapat merasakan jika suaminya masih sangat mencintai mantan istrinya sekaligus mantan sahabatnya itu.
"Pokoknya aku akan stop semua biaya pengobatan Akhtar kalau Akang membiarkan Fatimah ikut bersama kita ke Australia" ancam Bu Sopia, "Akang percayakan saja sama aku. Aku juga bisa merawat Akhtar dengan baik" ucapan terakhir Bu Sopia yang sempat didengar oleh Bu Fatimah dan hanya bisa dibalas dengan helaan napas dalam oleh mantan suaminya.
Bu Fatimah mencoba untuk berlapang dada, dia kembali harus merelakan dirinya jauh dari sang putra demi kesembuhannya. Bu Fatimah tidak mau egois meskipun dia yakin jika sang putra menginginkan dirinya membersamai namun Bu Fatimah tidak bisa memaksakan diri.
Bu Fatimah sadar keterbatasan materi yang dimilikinya menjadi salah satu alasan dia harus rela kembali berjauhan dengan sang putra. Lagi-lagi apa yang pernah dia alami di masa lalu kembali terulang. Dan Bu Fatimah cukup sadar siri jika berlapang dada dan ikhlas adalah solusi terbaik yang harus dia tempuh saat ini.
"Aku titip Akhtar, aku percayakan semuanya pada Akang dan Sopia" Bu Fatimah berbicara dengan tenang saat mereka kini berkesempatan untuk bicara berdua. Bu Sopia sudah lebih dulu meninggalkan rumah sakit beberapa menit yang lalu karena ada yang menghubunginya.
"Maafkan Akang Fatimah" Pak Furqan berbicara pelan, faham maksud ucapan mantan istrinya itu. Dia menundukkan kepalanya tak kuasa jika harus beradu tatap dengan Bu Fatimah karena kembali dirinya harus menjadi pria pengecut.
"Aku paham" balas Bu Fatimah, dia berjalan mendekati Akhtar dan membisikkan sesuatu di telinga sang putra.
"Ibu akan menunggu kamu kembali, maafkan Ibu tidak bisa membersamaimu namun percayalah do'a ibu akan selalu menyertai. Syafakallah" bisik Bu Fatimah pelan tepat di telinga Akhtar. Pak Furqan yang mendekat sayup-sayup mendengar apa yang dikatakan Bu Fatimah kepada putra mereka dia pun mengusap ujung matanya yang tiba-tiba berair.
__ADS_1
Kepergian Akhtar ke luar negeri meninggalkan duka sekaligus harapan di hati Bu Fatimah. Dia berduka karena harus kembali jauh dengan putranya sedangkan dia yakin jika putranya sangat membutuhkan dirinya. Namun di hatinya pun tumbuh harapan yang besar jika sang putra akan pulang dengan keadaan sehat wal afiyat seperti sedia kala.
Hampir lima bulan lebih dia menunggui sang putra, bahkan rumah sakit sudah serasa motel bagi Bu Fatimah, tidak sehari pun dia meninggalkan rumah sakit, Pa Furqan pernah meminta Bu Fatimah untuk tinggal di rumah yayasan yang Akhtar tempati namun dia menolak.
Bu Fatimah pun berkemas, setelah mengantarkan Akhtar ke bandara dia pun berencana akan kembali ke Garut. Sudah lama dia meninggalkan pesantren tempatnya mengabdi, awalnya pamit untuk menghadiri pernikahan putranya di Bandung namum takdir berkata lain. Dia harus menunggui sang putra yang terbaring koma selama berbulan-bulan di rumah sakit.
"
*
*
Sementara di Bogor ...
Shanum kembali menjalani rutinitas yang sempat dia tinggalkan karena harus tinggal di Jakarta beberapa bulan ini. Kelahiran keponakannya yang merupakan anak dari Farida dan Adam membuatnya semakin sibuk dan dapat mengalihkan kesedihannya. Setelah melahirkan Rida memilih tinggal di rumah orang tuanya di Bogor, Adam pun mengikuti keinginan istrinya dia kembali harus pulang pergi Jakarta Bogor karena harus tetap bekerja.
Shanum yang sangat antusias menyambut kehadiran anggota keluarga baru mereka menjadi orang terdepan yang turut merawat bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu. Hampir setiap malam Shanum terbangun karena harus mengganti popok atau menemani Rida menyusui si bayi mungil yang dia beri nama Humairah itu.
Adam dan Rida sengaja meminta Shanum untuk memberikan nama pada putri pertama mereka. Tentu hal tersebut disambut gembira oleh Shanum dia merasa terhormat dan berbangga diberi kesempatan itu. Dan terucaplah sebuah nama dari mulut Shanum saat itu juga Awwalia Humairah.
Bayi yang akrab dipanggil Humairah itu pun selalu nyaman jika berada di dekapan Shanum. Kadang Rida tertidur pulas saat malam tidak tahu jika sang putri menangis karena Shanum sudah lebih dulu menggendong dan kembali menidurkan Humairah.
Ketenangan dan kenyamanan Shanum berada di Bogor dengan segala kesibukannya mengajar dan mengasuh keponakannya ternyata tidaklah lama. Dia kembali dirundung kabar-kabar tidak nyaman yang dia dengar dari omongan para tetangga.
"Dia itu kayanya pembawa sial, soalnya dulu juga calon suaminya meninggal sehari sebelum menikah, sekarang suaminya yang meninggal"
"Kalau laki-laki tahu masa lalunya, pasti berpikir dua kali buat mendekati dia takut jadi korban selanjutnya"
"Si Rida harusnya hati-hati sekarang kakaknya membantu merawat anaknya, lama-lama suaminya yang dirawat"
Dan masih banyak lagi omongan-omongan pedas yang sampai ke telinga Shanum tentang dirinya. Pertahanannya pun perlahan mulai runtuh. Sepandai-pandainya bodo amat tetap kepikiran juga.
"Kuat-kuatin mentahnya, Teh. Jaman sekarang banyak orang yang sembarangan ngomong dan gak pernah mikirin perasaan orang lain" Suara Fauzan membuyarkan lamunan Shanum yang sedang duduk sendiri di bangku halaman belakang rumahnya. Dia tahu jika kakaknya sedang memikirkan gosip-gosip tentangnya yang beredar saat ini.
Sehabis pulang dari madrasah diniyah Shanum tidak mendapati siapa-siapa di rumah. Dia menerima pesan jika Rida dan Adam sedang membawa bayinya jalan-jalan. Usia Humairah yang sudah satu bulan lebih sudah mulai bisa diajak pergi jauh. Keadaan Rida pun sudah semakin membaik. Ibu dan Bapak pun memutuskan untuk kembali ke Garut.
Dia pun sempat berpikir jika keberadaanya di rumah bersama Rida dan Adam wajar saja jika jadi bahan su'udzan tetangga-tetangganya. Apalagi mengingat statusnya sebagai janda, tentulah orang akan memiliki pandangannya masing-masing. Fauzan lebih sering berada di luar rumah karena harus bekerja di dua tempat sekaligus dari pagi sampai malam.
Shanum menarik napasnya panjang. Dia menoleh ke arah sumber suara. Didapatinya Fauzan sedang menatapnya sambil nyengir kuda.
__ADS_1
"Teteh mau tinggal di Garut. Kamu anterin ya?!" Shanum mengungkapkan pikirannya. Dia lebih baik menghindar. Shanum ingin benar-benar menenangkan dirinya, sudah cukup bebannya selama ini. Dia benar-benar ingin hidup tenang.
Setelah mendiskusikannya dengan Rida dan Adam. Shanum memutuskan untuk pergi ke Garut besok. Sekalian besok dia akan pamit ke kepala sekolah tempatnya mengajar. Dia pun akan mengunjungi ibu mertua dan adik iparnya di Jakarta sebelum ke Garut.
"Teh, kata orang bijak orang hebat itu dibentuk dari proses yang menyakitkan, tiba saatnya mereka jatuh dia tidak akan panik karena sudah pasti tahu betul caranya untuk berdiri" ucap Fauzan saat mereka sudah berada di perjalanan menuju Jakarta.
"Wishh....keren banget adek Teteh, darimana tuh dapet kata-kata bijak kaya gitu?" Shanum mencebikkan bibir meledek sang adik.
"Ck...si Teteh mah, aku udah cape-cape ngapalin malah diledek" Fauzan berdecak mendapat tanggapan sang kakak yang malah meledeknya.
"Hahaha...." sontak tawa Shanum pun pecah, dia tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah sang adik yang memberengut kecewa.
Shanum yang semalam sudah menghubungi ibu mertua dan adiknya bahwa dia akan datang, langsung disambut dengan ramah di rumah itu.
Rasanya masih sama seperti ketika dia pertama kali datang ke rumah itu, Shanum mendapat sambutan hangat dari ibu mertua dan adik iparnya yang sengaja tidak masuk kantor karena tahu dirinya akan datang.
Tanpa basa-basi Shanum pun menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya. Bu Ratna dan Hasna sempat melarang Shanum karena jarak mereka semakin jauh jika Shanum di Garut, namun dengan berbagai pertimbangan yang Shanum sampaikan akhirnya Bu Ratna dan Hasna pun mengizinkan.
"Teteh, hati-hati di jalan ya. Berbahagialah di sana jangan lupa tiap hari harus ngabarin Mami" pesan Bu Ratna saat berpelukan dengan Shanum.
Selama ini Shanum tidak pernah lupa untuk selalu menanyakan kabar Bu Ratna dan Hasna, mereka selalu bertukar pesan dan berbagi cerita tentang aktivitas yang mereka jalani masing-masing walaupun hanya melalui video call atau grup chat yang sengaja dibuat oleh Hasna sang adik ipar.
Shanum benar-benar merasa menjadi anak kandung di keluarga mereka. Kehadiran Haqi yang sesaat benar-benar memberinya banyak berkah, Shanum mendapat keluarga baru yang benar-benar tulus menyayanginya.
"Teteh, kapan-kapan aku boleh gak main ke Garut?" Hasna bergelayut manja di tangan Shanum, dia rasanya enggan melepas kakak ipar yang serasa sahabat itu.
"Tentu dong, Dek. Teteh akan menunggu kedatangan kamu di sana. Nanti kita main lumpur di sawah ya" canda Shanum sambil menjawil dagu adik iparnya itu.
"Asiiik....aku suka, aku suka, aku suka..." Teriak Hasna tanpa sungkan, dia memeluk dan mencium Shanum sebelum mereka berpisah.
*
*
*
Tujuh jam waktu yang mereka tempuh untuk sampai di Garut. Beberapa kali berhenti di rest area, membuat mereka masih cukup segar untuk menikmati alam Garut menjelang senja.
"Garuuutttt.....I'm coming!" Teriak Shanum saat gapura bertuliskan selamat datang di Kabupaten Garut mereka lewati.
__ADS_1
Shanum menghembuskan napasnya pelan, dia kembali menarik udara Garut melalui hidungnya yang sudah mulai dingin karena waktu sudah hampir maghrib Jendela mobil yang sengaja dibuka karena Shanum meminta Fauzan untuk mematikan AC mobil membuat udara sejuk dan dingin itu memasuki mobil dan benar-benar Shanum nikmati.
"New place, new hope, Bismillah!" gumam Shanum pelan, namun masih terdengar oleh Fauzan. Dia pun melirik ke arah Shanum dan tersenyum senang, melihat sang kakak yang tampak mulai ceria kembali.