
Acara besar di yayasan telah usai. Seiring itu pula libur akhir tahun pelajaran dimulai. Selama dua minggu ke depan seluruh kegiatan belajar mengajar akan diliburkan.
Seluruh pendidik yang tinggal di rumah dinas diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing selama liburan.
Semalam penutupan acara diakhiri dengan foto bersama seluruh panitia dan pimpinan yayasan.
Semua bergembira, acara berjalan dengan lancar dan sukses. Mereka optimis di bawah kepemimpinan ketua baru yayasan akan lebih berkemajuan.
Usia dan semangat sang ketua yayasan selaras dengan kecerdasaan dan kepiawaiannya dalam memimpin. Aura pemimpin dan kharismanya tak kalah dari pendahulunya.
Seantero yayasan kini heboh membicarakan tentangnya. Siapa yang tak terpesona dengan sosok muda yang kini jadi buah bibir itu.
Tampan, mapan, berpengetahuan, dermawan dan beriman tentunya.
Perpect!
Dambaan gadis-gadis untuk jadi imamnya.
Idaman emak-emak untuk jadi mantunya.
Kesuksesan acara yang digelar semalam diapresiasi oleh pihak yayasan. Pembubaran panitia akan diadakan tiga hari yang akan datang, dan dilaksanakan di Pantai Pangandaran.
Shanum memilih pulang ke Bogor terlebih dahulu. Mengingat beberapa hari yang lalu Bapaknya memintanya untuk pulang karena ada hal penting yang harus didiskusikan bersama katanya.
Pagi ini ia tengah bersiap. Membereskan barang-barang yang perlu dibawanya. Shanum tak banyak membawa barang karena ia akan kembali secepatnya.
Tok....tok.....tok.....
Suara ketukan pintu menghentikan aktifitas Shanum, dia beranjak menuju ruang depan hendak membuka pintu.
Liani datang sambil membawa kantong kresek di tangannya, diyakini itu adalah sarapan yang ia bawa untuk sahabatnya itu.
"Assalamu'alaikum", ucap Liani nyelonong masuk ke dalam tanpa menunggu penghuni rumah mempersilahkannya.
"Wa'alaikumssalam", Shanum menjawab ucapan salam Liani sambil kembali menutup pintu rumah dinasnya.
Shanum menatap punggung Liani yang berjalan mendahuluinya. Ia menghirup napas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Bersiap mendapat investigasi dari Liani.
"Aku bawakan sarapan, dari semalam kamu belum makan. Aku yakin saat ini cacing-cacing di perutmu pasti sedang demo", ucap Liani datar.
Shanum hanya mengangguk, ia mengambil piring dan sendok untuk mereka berdua.
Menikmati sarapan dalam diam terasa aneh bagi Shanum, biasanya selalu saja ada hal-hal yang Liani ceritakan saat bersama seperti ini.
Shanum mengerti, sahabatnya itu sedang merajuk. Semalam Liani terus mengekori Shanum meminta penjelasan perihal hubungannya dengan Akhtar. Tapi Shanum terus saja menghindar.
Sejujurnya, semalam Shanum tak mampu memejamkan matanya, rasa lelah dan kantuk tersingkir begitu saja saat memikirkan pertemuannya dengan Akhtar.
__ADS_1
Dia tak habis pikir, bisa-bisanya Akhtar menjudgenya seolah tak setia. Padahal dirinya sendiri yang kembali dengan berstatus calon suami orang.
Shanum sudah memikirkannya, mungkin ini saatnya Liani mengetahui kisahnya dengan Akhtar. Dia cukup menyadari posisinya, tanpa diminta pun akan mundur dengan sendirinya. Bukannya menjauh lebih baik daripada tersakiti, itulah seni menggoreng ikan...hehe..
"Num, ada yang mau kamu jelasin ke aku?", akhirnya Liani memulai pembicaraan. Mana kuat dia lama-lama mendiamkan Shanum.
Shanum tersenyum lebar menatap sahabatnya yang diliputi kepenasaran.
"Ada Li....ada yang akan aku jelaskan ke kamu. Maaf, semalam aku belum siap. Capek juga kan?!" tanya Shanum balik.
"Iya, sorry ....semalem aku sampe gak bisa tidur mikirin kamu, gak nyangka ternyata banyak yang aku tidak tahu tentang kamu terlalu banyak kejutan", tutur Liani.
Shanum tersenyum, melihat sahabatnya sudah kembali ke mode semula dia lega. Dia pun tak enak hati membiarkan sahabatnya itu larut dalam kegusarannya.
Liani kembali menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya sebelum ia berbicara.
"Selama ini aku menunggu seseorang, 10 tahun yang lalu dia menyatakan cintanya dan setahun kemudian pamit untuk pergi. Tanpa kabar."
Shanum menghela nafas menjeda ucapannya...
"Entah aku yang menjujung tinggi kesetiaan atau terlalu menjadi manusia bodoh, tetapi aku bahagia menunggunya."
"Ada harapan yang aku lukis di setiap senja selama menunggunya. Aku selalu meyakinkan hatiku, dia akan datang membawa mimpinya yang telah terwujud."
"Kebersamaan kami memang singkat, tak banyak interaksi....tetapi setiap waktu yang kami lalui sangat bermakna. Dia laki-laki kedua yang menempati tempat istimewa di hatiku setelah Bapak."
Shanum menunduk, merasakan sesak yang teramat di dadanya saat mengatakan itu. Berusaha menahan jatuhnya buliran air dari sudut matanya. Namun tak ayal, pertahanannya runtuh...
Tersedu tak mampu lagi menahan air matanya...
"Heuh heuh....dia orangnya Li, dia adalah orang yang selama ini aku tunggu," Shanum terisak menahan tangisnya.
"Num.....", Liani mendekat dan memeluk Shanum.
"Dia Akhtar Li, Akhtar Farzan Wijaya." ....heuheueheu....Shanum tak lagi mampu menahan tangisnya.
Liani syok, dia menggelengkan kepalanya. Tak percaya dengan apa yang sudah dia dengar barusan. Pantas selama ini Shanum begitu menjaga hatinya. Namun kembali dia meringis, membayangkan bagaimana perasaan sahabatnya itu semalam saat melihat orang yang dinantinya selama ini bersanding dengan wanita lain.
Shanum menangis sejadi-jadinya di pelukan Liani. Liani ikut menangis melihat sahabatnya begitu terluka, Shanum yang tegar dan selalu ceria kini tak tampak lagi, ia terlihat begitu rapuh dan lelah.
"Selama ini kakiku yang melangkah Li, tapi kenapa hati yang lelah...?", hikhikhik........
"Selama ini aku tak pernah mengeluh. Tak mengapa jika harus menunggu lama dalam penantian. Percaya dia akan datang",.....hikhikhik......
"Tapi ternyata aku hanya sekedar tempat persinggahan. Ternyata aku bukan akhir dari pencariannya, Li"
"Aku percaya Li, kesetiaan itu bukan diukur dari banyaknya waktu tuk bersama, tapi kemampuan menjaga hati ketika tak sedang di sisinya. Aku mampu Li, aku sudah menjaga hati selama ini"....hikhikhik....
__ADS_1
"Cinta dan kesetiaan teruji ketika waktu dan jarak memisahkan dan hanya kepercayaanlah yang mampu mempertahankannya. Aku percaya Li, selama ini aku percaya padanya".....hikhikhik...
"Harusnya dia bilang dari awal jika memang tidak lagi mempunyai rasa, setidaknya jangan membuatku untuk menunggu." hikhikhik.....
Shanum terus mengeluarkan unek-unek hatinya di pelukan Liani. Liani membiarkannya, saat ini hanya ini yang bisa dia lakukan untuk sahabatnya. Ada di sampingnya dan menjadi pendengar yang baik.
Satu jam berlalu, Shanum tampak sudah lebih tenang. Dia kembali dapat menguasai dirinya.
Mengurai pelukannya dari Liani, dia beranjak menuju toilet. Membasuh muka sekalian berwudhu.
"Li, udah Dhuha?" Shanum bertanya.
Liani masih tampak terbawa suasana, dia terdiam tatapannya sendu. Memandangi Shanum yang sedang memakai mukena.
"Li, Dhuha?" Ajak Shanum
Liani tersentak, dengan cepat dia berjalan ke toilet. Mengambil wudhu dan mengikuti Shanum.
Setelah melaksanakan shalat dhuha, Shanum merasa lebih damai. Ia lebih bisa mengendalikan emosinya. Ia menyadari bahwa semua yang terjadi padanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Shanum menarik napas panjang, menghembuskannya pelan...shalat memang selalu menjadi solusi. Hati terasa lebih tenang.
Ketenangan hati adalah solusi awal yang Allah hadirkan untuk setiap permasalahan yang kita hadapi.
Sebagai mana dalam Al-Qur'an Allah berfirman "Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
(Q.S. Al-Baqarah:45)
Allah memerintahkan untuk tetap sabar dan sholat sebagai penolong kita. Dalam menghadapi urusan atau kesulitan-kesulitan apapun, bersabar dan menahan diri dari hal-hal yang tidak baik dengan sholat adalah solusi yang paling jitu.
"Maaf ya Li, aku terlalu banyak bicara" ucap Shanum melepas mukenanya.
"Gak papa Num, terkadang kita cerita bukan untuk mendapatkan solusi, tetapi ada kalanya kita mencari kelegaan hati", balas Liani tulus.
"Terima kasih Li, sudah jadi pendengar sejati, hhe....." Shanum sudah kembali menampakkan keceriaannya.
Larut dalam kesedihan dan kenestapaan hanya akan merugikan diri sendiri. Waktunya terlalu berharga, saat ini menjaga imunitas tubuh jauh lebih penting.
"Aku seneng Num, bisa menjadi pendengar yang baik buat kamu. Ya...walaupun aku tidak bisa menghadirkan solusi terbaik untuk masalahmu. Tapi, ini mah maaf ya Num jika aku mengatakannya terlalu dini....mungkin sekarang saatnya kamu benar-benar membuka mata, telinga dan hati. Dunia ini luas Num, bukan hanya tentang Akhtar. Masih ada orang yang jelas-jelas mengistimewakan kamu. Cobalah untuk menerima semua perlakuannya dengan rasa yang berbeda, bukan lagi sekedar rekan atau teman, tapi sebagai laki-laki dewasa." Liani panjang lebar berbicara, berharap sahabatnya itu bisa segera move on.
Shanum memejamkan matanya, sejenak mengkondisikan pikirannya yang masih dibayangi peristiwa semalam.
"Menerima seseorang menjadi bagian dari hidup kita adalah pekerjaan yang tidak mudah. Butuh proses, butuh keyakinan dan juga harus ada keberanian. Tapi ada yang lebih berat lagi, Li...." Shanum menjeda ucapannya, Liani dengan sigap memperhatikan.
" Melepaskan seseorang yang selama ini menjadi bagian hidup kita, yang akhirnya kita tahu bahwa melepaskannya adalah pilihan terbaik untuk semuanya."
Shanum menghembuskan napasnya berat, seakan ingin melepas sesak didadanya saat mengatakan semua itu.
__ADS_1
Liani kembali kembali memeluk Shanum, dia tahu sahabatnya itu masih belum baik-baik saja.