
Akhtar menatap haru pemandangan pagi buta yang sungguh indah menurutnya. Air matanya tak mampu dibendung, mengalir membasahi pipi dengan bibir yang masih mengatup.
Kumandang adzan awal sudah biasa menjadi alarm untuknya membuka mata dari lelap yang cukup lama. Usapan tangan halus penuh kelembutan hampir saja membuatnya terlena. Kesadarannya semakin hadir tatkala dia ingat keberadaannya saat ini.
Menyadari tangannya tak lagi menggenggam sontak membuat kepala yang terbaring nyaman pun mendongak menatap sosok yang tengah mengusap kepalanya penuh kelembutan itu.
Seulas senyum terbit di wajah pucat wanita halalnya saat ini kesadaran Akhtar telah kembali sepenuhnya. Dilihatnya senyum itu semakin mengembang, tangan yang mengusap kepalanya pun kini terulur di hadapannya.
Akhtar semakin yakin jika ini adalah nyata dia tidak sedang bermimpi, diraihnya tangan yang masih terlihat lemas itu. Dia cium dengan dalam dan berulang kali. Air mata terus mengaliri pipinya, lidahnya seakan kelu dia masih tak mampu berbicara.
Sejenak Akhtar berhenti mencium tangan sang istri, dia bangun dari duduknya dan merengkuh tubuh wanita berharganya yang masih terlihat lemah.
"Terima kasih Ya Allah,...terima kasih sayang. Terima kasih sudah bangun, terima kasih sudah kembali, terima kasih...." pada akhirnya kalimat itulah yang keluar dari lisan Akhtar secara bertubi-tubi. Tak ada kata yang paling pantas saat ini untuk dia ucapkan selain ucapan syukur atas kembalinya sang istri.
Akhtar memeluk dan menghujani wajah Shanum dengan kecupan tak ada yang terlewat, dia terus membisikan kalimat terima kasih di sela-sela tangisnya yang masih sulit untuk dihentikan.
"Aa, aku pengap" ucap Shanum lirih di tengah aktivitas suaminya yang menciumi wajah dengan badannya yang didekap sangat erat,
"Maaf, maafkan aku sayang, maaf. Mana yang sakit, heum? Akhtar melepas dekapannya, dia memindai tubuh Shanum dengan seksama, memastikan jika dekapannya tadi tidak menyakiti istri tercintanya,
"Ah aku lupa seharusnya aku segera memanggil dokter agar segera memeriksamu" ucap Akhtar lagi, dia terlihat benar-benar gugup.
"Sebentar A" Shanum menahan lengan Akhtar yang akan berbalik untuk memanggil dokter,
"Kenapa sayang?" tanya Akhtar mengurungkan niatnya,
"Aku baik-baik saja A, sekarang aku hanya ingin dipeluk Aa, aku rindu. Kita tunggu subuh dulu, baru memanggil dokter" ujar Shanum lirih, dengan wajah merona dia mengungkapkan keinginannya. Baginya pelukan suami adalah obat yang paling manjur untuk merecharge energinya.
"Sayang...." Akhtar kembali dibuat haru, dia pun merengkuh tubuh Shanum dan menyandarkan tubuh sang istri di dadanya. Akhtar duduk di samping Shanum.
"Aa, sepertinya kurang nyaman kalau seperti ini" ucap Shanum jujur,
__ADS_1
"Hah, gimana sayang. Kamu gimana nyamannya?" Akhtar mengurai pelukannya, dia menatap sang istri lekat, sorot matanya menyiratkan keharuan dan kebahagiaan yang bercampur menjadi satu,
"Aa naiklah ke atas tempat tidur, biarkan tubuhku bersandar di dada Aa" pinta Shanum masih dengan suara lirih menunjukkan jika dirinya masih begitu lemah setelah tiga hari ini dinyatakan koma,
"Baiklah sayang, akan aku lakukan" Akhtar pun naik ke atas tempat tidur yang lumayan cukup untuk dua orang, tempat tidur yang dipesan khusus untuk sang istri dirawat. Perlahan Akhtar menggeser tubuh sang istri ke depan dan menyandarkan ke dadanya. Dia memeluk Shanum dari belakang, tangannya melingkar sempurna di perut sang istri yang masih terlihat jelas perbedaannya pasca melahirkan.
Luapan kata cinta tak kuasa terbendungkan, bahkan tak tertandingi. Akhtar terus membisikkannya tepat di telinga Shanum. Mengungkapkan semua cinta kasih dan kerinduannya terhadap wanita halalnya itu.
"Aku mencintaimu, aku merindukanmu, aku tak ingin kehilanganmu. Aku tak mau lagi berpisah denganmu walau hanya menjeda hari, apapun halangan dan rintangan akan tertundukan agar selalu bersamamu kekasih hatiku"
"Aku tahu jika di dunia ini tak ada yang benar-benar saling memiliki, kita hanya saling dititipi. Ketakutan terbesarku bukan kehilanganmu, tapi bagaimana aku harus melewati hari-hari setelah sebelumnya selalu kamu temani" Akhtar berbicara dengan sesekali menyeka air matanya,
"Aa, maafkan aku sudah membuat Aa cemas. Bagaimana dengan anak-anak kita? terakhir yang aku ingat aku mendengar suara tangisan bayi saling bersahutan. Tetapi setelahnya aku sungguh tidak ingat apa-apa" Shanum pun mulai menceritakan apa yang dialaminya beberapa hari yang lalu, keadaan emergency mengharuskan dirinya melahirkan tanpa ditemani sang suami.
"Mereka baik-baik saja, aku yang harusnya minta maaf, sayang. Seharusnya waktu itu aku tidak meninggalkanmu. Harusnya aku selalu berada di sisimu, seandainya waktu itu aku tidak pergi semua ini tidak akan terjadi" Akhtar kembali meneteskan air mata mengenang apa yang sudah terjadi, mengingat saat Shanum diculik, dia pasti ketakutan, berada dalam kesakitan namun dirinya sungguh tak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa. Akhtar sungguh sangat merasa bersalah.
"Alhamdulillah, selamat ya A, akhirnya Allah memberi amanah mulia untuk Aa dengan menjadi seorang ayah. Terima kasih sudah bersamaku sampai hari ini. Aa bukan hanya sebatas pendamping, tapi jiga pejuang terhebat dan Aa adalah pemenang. Aku bangga di milikimu, semoga setiap kekuranganku menjadi ladang pahala untukmu dan kelebihanku menjadi sumber bahagiamu" balas Shanum dengan penuh haru,
"Terima kasih sayang, aku sangat bersyukur menjadi imammu, bersamamu selalu membuatmu tenang dan berjarak darimu selalu membuatku rindu.Tetaplah di sampingku, Shanum Najua Azzahra. Temani aku sampai ke surga-Nya"
🌻
Pagi menjelang, matahari mulai menghangatkan semesta. Orang-orang mulai sibuk dengan rutinitasnya masing-masing. Kabar sadarnya Shanum telah sampai ke keluarga besarnya.
Bu Hana dan Pak Imran segera meluncur ke rumah sakit setelah menerima telepon dari Akhtar bahwa putri sulungnya sudah sadar. Begitupun dengan Bu Fatimah, dia mengajak keponakannya yang sedang libur kuliah untuk mengantarnya ke rumah sakit
Pak Furqan tak kalah bahagia saat menerima kabar itu, Ghifar yang masih berada di Garut selalu setia membersamai Akhtar semenjak mereka kembali dari Malaysia menyampaikan kabar bahagia ini melalui pesan whatsapp kepadanya.
Semua orang bersuka cita, setelah melalui serangkaian pemeriksaan Shanum dinyatakan baik-baik saja. Semua organ vitalnya berfungsi dengan baik, saat ini yang dibutuhkan Shanum adalah istirahat untuk pemulihan pasca melahirkan.
Pemandangan indah yang ada di hadapannya membuat hati Akhtar kembali menghangat, kebahagiaan sungguh menyelimuti hatinya. Dia melihat Shanum yang tengah bersandar di kepala tempat tidur pasien dengan diapit oleh dua bayi mungil yang juga sudah semakin sehat.
__ADS_1
Akhtar sengaja meminta perawat untuk memindahkan kedua bayinya agar dirawat satu ruangan dengan sang istri. Semua peralatan medis di tubuh Shanum sudah dilepas, hanya selang infus yang masih harus terpasang di tangan kirinya.
"Nak, apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka berdua?" Bu Fatimah yang turut berada di ruangan Shanum pun bertanya, semua orang tampak penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Akhtar. Siapa nama yang akan diberikan Akhtar untuk anak kembarnya,
"Belum Bu" Akhtar menoleh ke arah Shanum, dia mengusap kepala bayi perempuan yang saat ini ada di pangkuan sang istri, sementara bayi laki-lakinya tengah anteng dalam tidur siangnya di samping sang bunda.
"Bagaimana sayang, kamu punya nama untuk mereka?" Akhtar bertanya pada Shanum,
"Terserah Aa saja" jawab Shanum lirih sambil melempar senyum yang disambut Akhtar dengan senyum manis yang selalu menenangkan untuk Shanum.
☘️
Terhitung sepuluh hari sejak Shanum sadar dari komanya, dokter akhirnya mengizinkan Shanum dan dua bayi kembarnya itu untuk pulang.
Bu Hana meminta izin kepada Akhtar agar Shanum dibawa pulang ke rumahnya, beliau ingin membantu merawat Shanum dan bayinya sampai Shanum benar-benar pulih dan dapat merawat kedua bayinya sendiri.
Permintaan Bu Hana tentu saja disambut baik oleh Akhtar yang terlebih dahulu mendiskusikannya dengan Shanum. Mereka akhirnya sepakat untuk pulang ke rumah orang tua Shanum. Akhtar pikir akan lebih tenang kala mereka berdekatan dengan orang tua di saat seperti ini.
Bu Fatimah pun tak kalah antusias, dia setuju karena memang jarak rumahnya dengan rumah Bu Hana lebih dekat daripada dengan rumah Akhtar dan Shanum. Dia pun ingin membantu Shanum merawat anak-anaknya.
Acara aqiqah dua bayi kembar itu pun dilaksanakan dengan cukup meriah walau pun sedikit terlambat karena keadaan namun tak mengurangi esensi dari syariat aqiqah itu sendiri. Sebagai ungkapan syukur Akhtar dan Shanum mengadakan syukuran dengan mengundang semua anggota keluarga, teman dan para tetangga.
Tiga ekor kambing pun di sembelih sebagai salah satu syariat yang dianjurkan dalam aqiqah, dua ekor untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan. Selain itu mencukur rambut dan menamai kedua anak mereka secara resmi pun dilakukan di hari yang sama.
Muhammad Izzudin Kamil dan Khadijah Izzati Kamila adalah nama yang Akhtar berikan untuk kedua anaknya, memiliki makna yang begitu mendalam dan menjadi harapan serta do'a kelak kedua anak mereka menjadi insan mulia dengan kemuliaan yang paripurna sebagaimana mulianya Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah.
Untaian do'a dari para tamu yang datang terucap untuk kedua anak mereka, semua orang tampak bahagia. Pasangan yang akhirnya menemukan kebahagiaan setelah badai besar yang mereka lalui pun tak berhenti menebar senyum saat semua tamu berangsur datang dan menyalami mereka, menjelang acara inti dimulai.
"Aku bahagia masih bisa hadir di sini, Neng" Liani yang datang sejak beberapa hari yang lalu ke Garut pun mengungkapkan kebahagiaannya dapat turut merasakan suka cita dari keluarga kecil sahabatnya.
Keberangkatannya ke luar negeri untuk melanjutkan studi ditunda dua minggu karena ada beberapa hal teknis yang masih dalam proses. Liani bersyukur dibalik penundaan jadwal itu ternyata dia masih bisa membersamai sahabatnya di hari bahagia ini.
__ADS_1
"Terima kasih Li, kamu sudah menjadi sahabat terbaik untukku sampai saat ini. Aku do'akan semoga kebahagiaan pun selalu menyertaimu" balas Shanum, mereka saling berpelukan di saat para tamu sudah lenggang.
Acara inti pun dimulai, setelah seorang tokoh agama sekitar memberikan sambutan sebagai pembuka acara, beliau mempersilahkan Ustadz yang diundang khusus untuk menjadi penceramah di acara aqiqah ini pun untuk menyampaikan tausiyah dan nasihatnya.