
Shanum tersenyum menatap sosok yang kini berada di hadapannya. Dia meraih uluran tangan pria itu.
"Terima kasih, Abang. Aku bangga dimilikimu" ucap Shanum dengan binar bahagia di wajahnya.
"Aku yang harusnya berterima kasih, setelah sekian lama mengagumi dan mencintaimu dalam diam akhirnya Allah memberiku kesempatan untuk bisa mengungkapkannya dan menjadi pendampingmu walau tak lama" ungkap laki-laki yang tampak berpakaian putih dengan wajah berseri.
"Maksud Abang? Abang mau kemana? bukankah kita akan selalu bersama?" tanya Shanum heran, melihat laki-laki yang sedang menggenggam tangannya itu perlahan melonggarkan genggaman tangannya.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
"Abang harus pergi sekarang, kamu adalah wanita yang kuat. Abang titip Mami dan Hasna, tolong jaga mereka untuk Abang. Abang mencintaimu Dek, walau pun Abang tahu hatimu belum sepenuhnya milik Abang. Namun percayalah, itu tidak mengurangi sedikitpun rasa cinta dan sayang Abang untuk Adek"
"Abang pergi ya, nitip Mami dan Hasna"
Laki-laki berbaju putih itu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Shanum, dia melambaikan tangannya seiring tubuhnya yang menjauh dan semakin tidak terlihat.
"Abang, Abaang....Abang Haqi..." teriak Shanum, dia terbangun saat seseorang memanggilnya.
"Teh, Teteh, teteh....sadar Teh, istighfar Teh" suara Bu Hana membangunkan Shanum yang sejak tadi berteriak memanggil suaminya.
Shanum membuka matanya, dia menatap langit-langit kamar yang tampak serba putih. Dari aroma yang diciumnya dia menyadari jika dirinya kini sedang berada di rumah sakit.
Shanum segera bangun dari tidurnya. Dia melihat di sekelilingnya. Orang-orang dengan wajah sendu sedang menatapnya. Shanum teringat jika tadi dia melihat suaminya menghembuskan napas terakhirnya.
"Astaghfirullah" ucapnya pelan. Dia sadar jika tadi dia pingsan sampai bermimpi bertemu dengan suaminya.
"Bang Haqi bagaimana?" tanya Shanum yang sudah lebih tenang. Dia menyadari jika baru saja dia ditinggalkan oleh suaminya untuk selama-lamanya, rasa kaget dan syok membuatnya sampai tak sadarkan diri.
"Jenazah Nak Haqi sedang dipersiapkan untuk di bawa pulang. Teteh sudah kuat? kita pulang sekarang" tanya sang ibu dengan isak tangis yang tertahankan.
"Bu, Abang Bu, Abang" tangis Shanum kembali pecah saat mendengar kabar tentang jenazah suaminya yang akan segera dipulangkan.
"Teteh yang sabar ya, ikhlaskan, biarkan Nak Haqi tenang. Insya Allah dia Husnul Khotimah. Nak Haqi adalah orang yang baik dan banyak menebar kebaikan semasa hidupnya" nasehat Bu Hana pada putrinya. Dia sendiri mengatakannya dengan tangis tertahan berusaha tegar demi memberi kekuatan kepada putri sulungnya.
Bu Hana tersenyum getir, untuk kedua kalinya putrinya ditinggalkan karena kematian oleh laki-laki yang mencintainya. Saat ini bahkan lebih tragis, putrinya ditinggalkan saat usia pernikahan mereka menginjak baru dua minggu, itu artinya kini sang putri berstatus sebagai janda.
Jenazah Haqi di bawa ke kediaman ibunya yang menjadi tempat tinggal mereka selama di Jakarta. Rombongan pelayat dari berbagai kalangan mulai memenuhi rumah itu. Shanum duduk bersimpuh di dekat jenazah suaminya. Dia tampak berusaha tegar dengan mata yang sembab karena tak berhenti menangis sejak di rumah sakit. Wajahnya pun semakin pucat, kantung matanya semakin menampakkan garis-garis hitam menandakan jika selama seminggu ini istirahatnya sangatlah kurang. Namun kali ini dia sekuat tenaga menahan diri agar tidak menjatuhkan air mata.
Wajah sendu menjadi penanda jika Shanum benar-benar sangat kehilangan. Tujuh hari kebersamaannya menjadi pasangan suami istri benar-benar digunakan mereka untuk saling mengenal dan semakin dekat, dan tujuh hari berikutnya waktu yang Shanum miliki untuk mengabdikan dirinya, berbakti pada suami dengan merawatnya dengan penuh kesabaran dan ketulusan saat terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Sakit memang, saat dirinya sudah mulai berdamai dengan dirinya sendiri, menerima keadaan dengan lapang dada dan hati terbuka, hingga rasa sayang dan saling membutuhkan itu mulai tumbuh di hati Shanum, namun Shanum harus kembali kehilangan. Dia kembali dirundung duka karena harus benar-benar ikhlas melepas kepergian suaminya untuk selama-lamanya.
"Sejatinya ... di dunia ini tidak ada yang benar-benar ditakdirkan untuk saling memiliki, semua hanya saling dititipi" gumam Shanum dalam hatinya.
Kumandang surat Yasin terus Shanum lantunkan, dengan suara parau dan pilu membuat setiap orang yang mendengarkan turut tersayat hatinya.
اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ ...
innā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamụ wa āṡārahum, wa kulla syai`in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn
Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuz).
(Qur'an Surah Yasin ayat 12)
Sesekali lantunan ayat suci Shanum terhenti saat harus mengusap air mata yang tak mampu ia bendung.
Para pelayat yang datang hanya memperhatikan apa yang Shanum lakukan, mereka tak kuasa harus menemuinya saat melihat Shanum begitu menikmati lantunan ayat suci yang sedang dia baca.
__ADS_1
"Teh..." Bu Ratna menghampiri Shanum dan memeluknya dari samping, saat melihat Shanum sudah menyelesaikan bacaan surat Yasin-nya. Dia memeluk erat Al-Qur'an itu dengan terus merunduk.
"Ya, Mi" Shanum mendongak, dia menatap Ibu mertuanya yang juga tampak sangat sedih kehilangan putra satu-satunya itu.
"Banyak keluarga dan teman-teman Haqi yang ingin mengucapkan bela sungkawa, mereka menanyakan Teteh" ucapnya pelan di telinga Shanum, karena saat ini para pelayat sedang mengantri untuk turut mendo'akan kepergian putranya.
"Iya, Bu. Maaf" Shanum beralih sedikit menjauh dari tempat duduk semulanya yang begitu dekat dengan jenazah Almarhum.
Dia melihat seluruh ruangan yang sudah dipenuhi banyak pelayat. Shanum menyapa ramah para pelayat yang datang menghampirinya. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada saat satu persatu para pelayat itu menyalaminya untuk mengungkapkan rasa bela sungkawa atas kepergian Almarhum suaminya. Tidak lupa Shanum pun meminta maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat Almarhum yang sengaja maupun tidak disengaja.
Suasana di rumah orang tua Haqi semakin ramai oleh para pelayat yang terus berdatangan. Mereka pun bergiliran menyolati Almarhum. Shanum terharu melihat banyaknya pelayat yang datang silih berganti, dia semakin yakin jika suaminya itu benar-benar orang baik selama hidupnya.
Pemakaman Almarhum Haqi akan dilakukan di lokasi makam keluarga. Jenazah Haqi akan dikebumikan tepat di samping makan sang ayah yang telah lebih dahulu menghadap-Nya karena sakit yang berkepanjangan dan semakin parah.
Shanum melangkahkan kakinya menuju pemakaman mengiringi jenazah yang sudah lebih dulu diberangkatkan. Didampingi ibu, ibu mertua, adik ipar juga adiknya Rida dan Fauzan yang sejak di rumah sakit selalu membersamainya Shanum merasa yakin akan menghadiri pemakaman suaminya.
Dia sudah menyiapkan diri dan hatinya akan menyaksikan prosesi pemakaman dan melihat jenazah Haqi untuk yang terakhir kalinya sebelum dikebumikan.
Prosesi pemakaman pun berjalan lancar, banyaknya pelayat yang turut mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya membuat jalanan pun macet. Banyak kendaraan yang menghentikan lajunya sementara saat rombongan pengantar jenazah itu lewat.
Suasana pemakaman semakin sunyi, berangsur para tamu dan keluarga yang melayat berpamitan satu per satu meninggalkan lokasi pemakaman. Kini tinggallah Shanum dan keluarga inti yang masih setia berada di samping makam Haqi yang sudah dipasangi batu nisan.
Shanum mengusap batu nisan itu, hati dan lisannya tidak berhenti berdzikir melafalkan kalimah-kalimah thayyibah. Shanum berusaha sekuat dirinya untuk tidak meneteskan air mata selama prosesi pemakaman berlangsung. Hingga saat semua orang telah pergi dan tinggallah dia dan keluarga inti, Shanum tak mampu lagi menahan gejolak hatinya yang semakin merasa kehilangan. Air matanya mengalir deras tanpa mampu Shanum bendung. Dia menangis dalam diam, berusaha meredam suaranya agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Abang....hiks 😭" ucapnya lirih.
Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikit pun kubayangkan
Kau akan pergi
Tinggalkan ku sendiri
Begitu sakit kurasakan
Kau akan pergi
Tinggalkan ku sendiri
Di bawah batu nisan, kini kau t'lah sandarkan
Kasih sayang kamu begitu dalam
Sungguh, ku tak sanggup ini terjadi
Kar'na ku sangat cinta
Inilah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku, menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
"S'lamat jalan, kasih"
Satu jam saja, ku telah bisa
__ADS_1
Cintai kamu, kamu, kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
Satu jam saja, ku telah bisa
Sayangi kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
Di nantiku
Wo-oh, wo-oh
Oh-ho-oh
Oh-uh-oh-oh
Inilah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku, menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
"S'lamat jalan, kasih"
Oh-uh-oh-oh
Satu jam saja, ku telah bisa
Cintai kamu, kamu, kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
Satu jam saja, ku telah bisa
Sayangi kamu di hatiku
Namun bagiku lupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
Wo-oh-oh
Wo-wo-wo-ah-ah
Ah-wo-oh
Sumber: Musixmatch
Lirik Saat Terakhir © Pt. Trinity Optima Publishing
__ADS_1
"Abang, terima kasih telah memberikan kenangan indah dan pelajaran berharga untukku, bahwa kita tidak akan pernah tahu berapa nilai sebuah momen sampai ia berubah menjadi sebuah kenangan" gumamnya pilu.