Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 15: Ulah Yasmin


__ADS_3

Sebuah rumah dengan desain minimalis modern, tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Shanum duduk di sebuah single sofa yang terdapat di ruang tengah rumah itu. Dia mengedarkan pandangannya mengamati setiap sudut rumah yang tampak rapi dan bersih.


Orang-orang yang membawanya tidak terlihat, tiga orang perempuan yang membawanya menempatkan dia di rumah itu dan mendudukkannya di sebuah kursi yang seharusnya terasa nyaman namun tidak untuk Shanum. Setelah membuka penutup matanya, tiga gadis itu pun pergi entah kemana.


Tangan Shanum masih terikat hingga tak banyak yang bisa dia lakukan. Dengan tangan yang masih terikat itu Shanum berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan perlahan mengamati setiap hal yang ada di rumah itu. Dia berharap mendapat petunjuk dari apapun hal yang ada di rumah itu. Siapa yang menculiknya dan apa motif orang itu melakukannya.


Setelah dia menyusuri semua ruang di rumah itu yang hanya terdiri dari satu kamar yang terkunci, ruang tamu, ruang tengah, dapur yang berdekatan dengan kamar mandi dan juga pintu menuju teras belakang yang terdapat taman kecil yang terlihat dari jendela kaca besar cukup indah dan terawat Shanum tidak mendapatkan petunjuk apapun, nihil.


Shanum menarik napas panjang, dilihatnya pergelangan tangan yang terikat sudah mulai memerah karena ikatan itu cukup kuat, Shanum bahkan tidak bisa membukanya setelah beberapa kali berusaha.


Waktu menunjukkan pukul enam sore, sepertinya sudah waktunya shalat maghrib. Dia teringat dengan suaminya, saat ini suaminya pasti sudah landing dan dalam perjalanan menuju Garut. Shanum juga teringat pada Ibu dan keluarga lainnya di rumah merasa semakin tak karuan, mereka pasti sangat mengkhawatirkannya. Apalagi sang ibu, pasti sangat panik karena tidak ada kabar apapun darinya.


Tas dan gawai Shanum entah berada dimana, tiga gadis yang membawanya pasti sudah mengamankannya agar dia tidak bisa menghubungi siapapun. Shanum pun memilih untuk melaksanakan shalat, menuju kamar mandi dengan tangan terikat. Sebisanya melakukan wudhu dengan keterbatasannya saat ini.


Shanum tidak sedikitpun mendapat petunjuk berada dimana dirinya saat ini, dia pun melaksanakan shalat hanya dengan mengandalkan keyakinannya saja, tidak tahu pasti kemana arah kiblat di tempatnya berada sekarang.


Waktu berjalan terasa sangat lama bagi Shanum, berada sendiri di tempat asing. Sejujurnya hatinya diliputi ketakutan dan kekhawatiran, apalagi dirinya tengah hamil besar. Menurut perkiraan dirinya akan melahirkan minggu depan, tapi kecemasan yang dialaminya saat ini membuat perutnya merasakan sedikit kontraksi yang cukup membuat wajahnya meringis saat merasakannya.


Ceklek.... suara pintu terbuka mengalihkan fokus Shanum yang masih bersimpuh di tempatnya bersujud, Shanum pun menoleh ke arah pintu terbuka itu. Seseorang yang tidak asing untuknya kini berada di hadapannya.


"Yasmin?" Shanum terkejut melihat orang yang masuk ke ruangan itu adalah Yasmin, adik iparnya sendiri, tepatnya adik tiri dari Akhtar.


"Iya, ini aku. Apa kabar kakak ipar?" tanyanya dengan menampakkan senyum yang dipaksakan, ada kesedihan juga kemarahan yang dilihat Shanum dari ekspresi wajah yang tampak berusaha tenang itu.


"Tiga orang wanita yang membawaku, orang suruhan kamu?" Shanum balik bertanya dan mengabaikan pertanyaan Yasmin.


"Iya, mereka orang-orang suruhanku" jawabnya dingin,


"Kenapa?" tanya Shanum dengan lembut, dia berusaha menyelami keadaan hati Yasmin yang tampak putus asa.


"Kenapa?" Yasmin mengulang pertanyaan Shanum dengan senyum menyeringai.


"Iya, kenapa kamu melakukan ini? kita bisa bicara baik-baik jika ada apa-apa" jelas Shanum dengan lemah lembut, dia menatap Yasmin yang menatapnya tajam dengan tatapan yang penuh kelembutan. Berharap Yasmin tidak berbuat sesuatu yang tidak diharapkannya, yang akan menyelakai diri dan anak dalam kandungannya.


Shanum tahu Yasmin adalah gadis yang baik, dia pun sangat menyayangi dan menghormati Akhtar, tapi kenapa sekarang dia berbuat seperti ini? pasti ada faktor pemicu yang membuatnya nekad melakukan hal ini.


"Benarkah? benarkah kamu dan suamimu akan menerimaku setelah mengetahui keadaanku yang sebenarnya?" suara Yasmin terdengar putus asa.


"Tentu, kita kan keluarga" jawab Shanum memancing, ingin mengetahui sebenarnya apa motif Yasmin melakukan semua ini.


Shanum ingat cerita suaminya tentang ayah mertuanya yang mengetahui jika istrinya selama ini berkhianat. Yasmin anak pertama mereka ternyata bukan darah dagingnya, dia anak bu Sopia dari laki-laki lain dan ayah mertuanya harus menanggung semuanya dalam kebohongan yang dibuat bu Sopia selama bertahun-tahun membuat Pak Furqan percaya jika istrinya itu hamil mengandung anaknya dan membuat Bu Fatimah meninggalkannya.


Dan sekarang setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya Pak Furqan murka, dia sangat kecewa, dibohongi selama bertahun-tahun hingga membuatnya kehilangan istri yang dahulu bahkan hingga saat ini masih sangat dicintainya. Walaupun raganya bersama Bu Sopia, Pak Furqan tidak bisa mengelak jika di hatinya Bu Fatimah adalah wanita terbaik yang pernah ada di hidupnya dan kini hanya penyesalan yang dirasakannya. Andai waktu bisa diulang kembali, dia pasti akan memilih kembali ke masa-masa kebersamaannya dengan bu Fatimah dengan segala kesederhanaannya dan memilih untuk tidak pernah dipertemukan dengan bu Sopia.


"Hahaha....."Yasmin tertawa terbahak mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Shanum.


"Kakak ipar, kamu baik sekali. Benarkah kamu menganggap kita keluarga? bukankah suaminya memilih keluar dari rumah? bukankah itu artinya dia sudah tidak menginginkan hubungan keluarga ini?" teriak Yasmin, marah.


"Dan sekarang setelah kenyataan sebenarnya terungkap jika aku dengan Akhtar tidak ada hubungan darah, akankan dia masih menganggapku keluarganya?" Yasmin kembali berteriak mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Tentu saja, bukankah hubungan keluarga itu tidak harus selalu karena ada ikatan darah?" Shanum masih berusaha tenang, sekarang dia faham jika adik iparnya itu hanya frustasi karena keadaan yang dialaminya saat ini.


"Benarkah? lalu kemana dia saat aku membutuhkannya, kemana dia saat aku terluka mengetahui jika aku bukan anak dari Furqan Wijaya? kemana dia saat aku menangis karena ternyata ayahku adalah laki-laki brengsek yang tidak bertanggung jawab? kemana dia saat aku menangis memohon agar Ayah Furqan tidak pergi dari rumah? kemana dia saat aku terpuruk melihat ibu kandungku kesakitan karena penyakitnya sementara hatiku membencinya karena dia telah menghancurkan hidupku, menghancurkan kehangatan keluarga yang selama ini aku miliki, hancur menjadi tak bersisa karena kebohongannya"


Yasmin terus berteriak mengatakan semua yang mengganjal di hatinya, ternyata dia begitu terpuruk, dia begitu terluka dan parahnya dia merasa sendiri tidak memiliki tempat untuk berbagi semua perasaannya. Yasmin bahkan menangis tersedu setelah mengatakan semua itu di hadapan Shanum.

__ADS_1


Tanpa terasa Shanum pun turut meneteskan air mata melihat betapa rapuhnya gadis yang ada di hadapannya ini. Shanum tahu Yasmin adalah korban, korban dari perilaku orang tuanya, dan kini dia menjadi yang paling terluka.


"Dia bahagia bersamamu sementara aku harus menderita sendirian, dia melupakan aku padahal dulu dia selalu ada untukku" ucapnya lagi di sela isakan tangis yang terdengar pilu, menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.


Shanum kembali menarik napasnya, menenangkan diri diiringi lafal do'a yang terus dia panjatkan dalam hatinya. Meminta perlindungan dan keselamatan untuk diri dan anak dalam kandungannya juga meminta agar Allah melembutkan hati Yasmin.


Shanum membiarkan Yasmin terus menangis, mengeluarkan semua sesak di dadanya. Dia tahu gadis itu hanya sedang salah arah, dan Shanum berharap bisa kembali membawanya ke arah yang benar. Namun Shanum pun masih ragu dengan perasaan Yasmin terhadap Akhtar, benarkah dia kehilangan sosok kakak setelah Akhtar pergi atau lebih dari itu.


"Kakak, kenapa kakak meninggalkan aku? aku butuh kakak, walau pun aku bukan adik kandungmu tapi dulu kamu selalu bilang akan selalu menjagaku" gumam Yasmin pelan dalam tangisnya namun masih terdengar di telinga Shanum.


Shanum pun bernapas lega, dia menyimpulkan jika Yasmin benar-benar kehilangan sosok seorang kakak.


"Yasmin, Akhtar tetap kakakmu. Kami tidak pernah melupakanmu, terima kasih sudah datang padaku walaupun dengan cara yang kurang tepat. Tapi aku bahagia, karena artinya kamu masih menganggap kami ada. Aku yakin kakakmu pun akan menyambut kedatanganmu dengan bahagia" Shanum meyakinkan Yasmin, jika dirinya masih sangat berharga.


" Tapi aku bukan anak Ayah Furqan" ucapnya pelan masih dengan isak tangis yang mulai mereda.


"Itu tidak akan mengubah apapun, sejak kecil kamu sudah hidup bersama dalam keluarga ayah Furqan. Apapun kenyataan yang terjadi saat ini tidak layak jika harus menghancurkan hubungan baik di antara kalian, kalian tidak bersalah. Kalian tetap bersaudara, kamu dan Naura tetap menjadi adik manis untuk A Akhtar. Kamu tahu, beberapa malam sebelum kepergiannya ke Malaysia sebelum tidur dia selalu menceritakan tentang kamu dan Naura. Menceritakan kisah masa kecil kalian yang selalu berebut ingin digendong oleh A Akhtar setiap kali dia pulang ke rumah saat liburan kuliah, aku tahu dari caranya bercerita dia sebenarnya sedang sangat merindukan kalian"


"Aa bahkan pernah berkata jika sebenarnya dia sangat ingin bertemu dengan kalian. Aa sangat sedih saat pernikahan kami karena kalian tidak hadir. Hanya Ayah Furqan yang datang, Ayah bilang kamu dan Naura sedang ada ujian yang tidak bisa ditinggalkan"


"Aa terlihat sedih mendengarnya, hanya menerima kado sementara kalian tidak datang. Padahal kedatangan kalian di pernikahan kami adalah kado terindah untuk kami" Shanum kembali bercerita tentang Akhtar.


"Kado?" Yasmin menghentikan tangisnya, dia menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya, rambutnya bahkan sudah acak-acakan karena teriakan dan tangisannya yang cukup histeris.


"Iya, kado. Ayah membawa sebuah kado beliau bilang itu dari kamu dan Naura" Yasmin terlihat bingung saat Shanum berbicara tentang kado.


"Ini" Shanum menunjukkan gelang kakinya, dia sedikit kesulitan dengan perut besar dan tangan yang masih terikat mengulurkan kakinya ke hadapan Yasmin.


"Ini adalah gelang kaki, kado yang kamu berikan untuk kami dan aku selalu memakainya. A Akhtar sendiri yang memakaikannya, dia bahkan memintaku untuk tidak pernah melepasnya. Aa bilang, ini hadiah istimewa dari adik-adik manisnya"


"Kata Aa, huruf-huruf ini adalah inisial nama kita, A Akhtar, S Shanum, Y Yasmin dan N Naura. Aa bilang, dari semua perhiasan yang paling disukai kamu dan Naura adalah gelang kaki"


"Kak Akhtar mengatakan itu?" Yasmin mendongak, menatap Shanum dengan mata sembabnya dan dijawab anggukan dengan tatapan yang meneduhkan dan senyum yang menenangkan oleh Shanum.


"Kakak masih mengingat itu?" Yasmin kembali bergumam sambil terus memegangi gelang kaki Shanum.


"Tentu saja, kalian adalah adik-adik A Akhtar dan selamanya akan jadi adik A Akhtar" ucap Shanum meyakinkan.


Yasmin pun menarik kakinya dan mensejajarkan dengan kaki Shanum. Dia meraba gelang kaki miliknya dan menyamakannya dengan gelang kaki yang dipakai Shanum. Sama, motif gelang yang dipakai mereka sama, hanya gantungan huruf kecil saja yang berbeda. Gelang kaki yang dipakai Yasmin hanya ada satu huruf Y yang menggantung sebagai hiasan yang semakin memperindah gelang kaki itu.


"Ini pasti perbuatan ayah. Aku dan Naura tidak pernah menyiapkan kado untuk pernikahan kalian. Aku bahkan tidak tahu hari itu kalian menikah, ayah sudah mengetahui semua kebohongan Mama dan ayah sudah pergi dari rumah saat itu" jelas Yasmin mengurai kebingungannya.


Shanum tersenyum, dia pun berpikir ini pasti perbuatan ayah mertuanya.


"Itu tandanya Ayah Furqan sangat menyayangi kalian, kalian tetap anak-anaknya tidak peduli dengan kenyataan yang sebenarnya. Yang pasti jika benar ini perbuatan ayah pasti karena ayah ingin anak-anaknya tetap memiliki ikatan persaudaraan yang kuat"


"Ayah .....Kakak...." Yasmin kembali menangis tersedu,


Shanum tersenyum, dia yakin Yasmin sudah melunak, Allah sudah mengabulkan do'anya untuk melembutkan hati Yasmin.


"Kakak ipar, maafkan aku" Yasmin memeluk kaki Shanum dia bersimpuh, menangis dengan terus mengucapkan kata maaf.


"Yasmin, Yasmin hentikan. Jangan seperti ini" Shanum terus menggoyangkan kakinya, dia tidak bisa menghindar karena kakinya dipegang erat oleh Yasmin yang terus menangis sambil mengucapkan kata maaf.


"Yasmin, bangunlah. Kakak jadi tidak nyaman"

__ADS_1


"Hah, kakak ipar" sontak Yasmin menghentikan tangisnya dan duduk dengan tegak memandangi kakak iparnya itu.


"Maafkan aku, kakak ipar" ucapnya lagi,


"Iya, kakak maafkan. Sekarang bisakah kamu melepas ikatan tangan kakak?" tanya Shanum dengan wajah meringis karena merasakan tangannya perih karena ikatan itu.


"Apa!" Yasmin terkejut, dia baru menyadari jika Shanum diikat tangannya.


"Maafkan aku Kakak, maafkan aku" Yasmin kembali panik, dia mencari gunting untuk melepas ikatan itu.


"Maafkan aku kakak, maafkan aku" Yasmin berhambur memeluk Shanum setelah ikatan itu terlepas sambil terus mengulang kata maaf.


"Iya, kakak memaafkanmu" jawab Shanum, dengan membalas pelukan Yasmin dan mengusap punggung adik iparnya itu.


"Aduuh" tiba-tiba Shanum mengaduh, dia mengurai pelukannya begitu pun dengan Yasmin yang kaget refleks melepas pelukannya.


"Kakak kenapa?" Yasmin panik melihat Shanum meringis dengan memegangi perutnya.


"Perut kakak sakit, dek" Shanum terus meringis sambil memegangi perutnya.


"Apa!" Yasmin semakin panik,


"Kakak mau melahirkan?" tanyanya khawatir,


"Entahlah, tapi perut kakak sakit sekali" Shanum semakin meringis menahan sakitnya, memegangi perutnya.


Yasmin mengambil gawainya, dia menelepon seseorang dan tidak lama tiga orang gadis yang tadi membawa Shanum pun datang.


"Sis, cepat siapkan mobil. Dan lu berdua bantu gue memapah kakak ipar gue, kita ke rumah sakit sekarang. Kakak ipar gue mau melahirkan" Yasmin setengah berteriak memerintah teman-temannya yang juga terlihat panik mendengar jika Shanum akan melahirkan.


Mereka pun sudah berada dalam mobil, mencari rumah sakit yang terdekat yang bisa menolong Shanum. Saat ini mereka berada di wilayah Wanaraja Garut yang cukup jauh dari pemukiman. Jalanan yang dilalui pun diapit oleh kebun-kebun.


Setelah tiga puluh menit mereka pun sampai di rumah sakit swasta yan masih berada di kawasan Wanaraja. Dengan segera Yasmin memapah Shanum bersama dua rekannya dan membawanya ke UGD.


Shanum pun segera ditangani dokter jaga dan segera dialihkan ke dokter kandungan karena tampaknya Shanum sudah menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.Yasmin semakin panik, dia bingung harus berbuat apa.


"Dimana gawai kakak ipar gue?" tanyanya pada temannya.


"Di mobil"


"Ambil" titahnya dengan intonasi meninggi, yang segera dituruti oleh temannya karena mereka pun sama-sama panik.


Yasmin mengaktifkan gawai Shanum yang sejak beberapa jam yang lalu sengaja di non aktifkan agar tak ada satu pun yang bisa menghubungi Shanum. Dia sempat heran ternyata gawai Shanum tidak dikunci. Yasmin pun mencari kontak Akhtar, dia tahu jika kakaknya itu sudah kembali dari Malaysia dari orang-orang yang disuruhnya untuk mencari info tentang Akhtar sebelum rencana penculikan itu dieksekusi.


"As..Assalamu'alaikum" Yasmin terbata saat panggilannya terhubung.


"Sayang, kamu dimana?" terdengar suara Akhtar yang panik di seberang telepon.


"Kakak, ini aku Yasmin. Kak Shanum sekarang sedang bersamaku. Kami di rumah sakit di daerah Wanaraja, sepertinya kak Shanum mau melahirkan" Yasmin berbicara dengan cepat, panik dan takut bercampur menjadi satu membuat suaranya bergetar. Dia tidak peduli dengan kemarahan Akhtar karena perbuatannya, yang penting saat ini kakak ipar dan bayinya itu selamat.


"Jadi kamu bersama Shanum? kamu yang membawa Shanum?" teriak Akhtar diujung telepon, marah.


"Maafkan aku kakak, aku bisa menjelaskannya. Sekarang Kak Shanum sedang sangat membutuhkan kakak, sebaiknya kakak cepat datang dan bawa semua perlengkapan melahirkannya. Aku akan share lokasinya" dengan cepat Yasmin menyela bicara Akhtar, dia lebih mengkhawatirkan keadaan Shanum saat ini. Perihal Akhtar yang akan marah atau bahkan membencinya setelah ini dia hanya akan pasrah karena menyadari itu kesalahannya.


"Kak Shanum, maafkan aku" Yasmin kembali bergumam dengan air mata yang mengalir di pipinya, menggenggam erat gawai Shanum setelah memutuskan panggilannya dengan Akhtar.

__ADS_1


__ADS_2