
Akhtar beranjak dari tempat duduknya, dia pergi tanpa pamit. Berbagai spekulasi negatif bermunculan di pikirannya tentang alasan dirinya harus menikahi Raina.
Alasan yang diberikan Ayahnya sungguh tidak dapat diterima oleh akalnya, mengapa beliau memaksakan kehendaknya dan Akhtar kembali menjadi pihak yang harus mengalah dan terkorban. Menjadikan berbakti pada orang tua dan orang-orang yang berjasa dalam hidupnya sebagai alasan untuknya tidak menolak perjodohan ini. Dia harus menggadaikan cintanya demi jabatan dan popularitas yang menjadi ambisi sang Ayah.
Terbayang wajah Ibunya yang menderita sendirian, selama ini dia tidak menyangka sang Ibu memikul beban berat dan luka yang begitu dalam. Laki-laki yang begitu sangat dicintainya lebih memilih bersama wanita lain. Hati siapa yang tidak terluka, bila cintanya berakhir dusta.
Akhtar masih ingat, jika sang ibu selalu menceritakan hal-hal yang baik tentang ayahnya sehingga dirinya pun menjadikan sang ayah sebagai sosok idolanya. Lelaki yang laik menjadi teladan untuknya. Bahkan sampai perpisahan pun terjadi, sang ibu masih tetap mengatakan kalau Ayahnya adalah laki-laki yang baik.
Terbayang juga wajah Shanum, wanita yang selama ini sangat dia cintai. Dia telah membuat Shanum menunggu tanpa kabar dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Tapi Shanum mampu melakukannya, padahal dia tahu menunggu adalah pekerjaan yang tidak mudah.
Dan betapa jahatnya dia, ketika kembali hanya memberi luka. Akhtar memberikan pil pahit yang harus Shanum telan melalui perjodohannya dengan Raina. Tekadnya bulat, untuk memperbaiki semuanya namun lagi-lagi keterbatasan kuasanya tak mampu untuk menolak apa yang sudah dipilihkan untuknya. Akhtar sadar, lagi-lagi dia memberi luka yang dalam untuk Shanum.
Akhtar menjerit dalam hatinya, tangis yang berusaha dia tahan sejak dalam ruang kerja sang ayah akhirnya tumpah juga setelah dirinya sampai di rumah dinasnya. Dua wanita berharga dalam hidupnya berada dalam kesakitan yang begitu dalam, dan dia tak mampu berbuat apa-apa.
"Arggghhhhhh......", prankkk...lemparan gelas tepat mengenai dinding ruang kerjanya.
Dua hari ini Akhtar mengurung diri dia tidak mau bertemu siapapun. Sampai akhirnya dia sadar, keadaan tidak akan berubah begitu saja.
Akhtar mengambil gawainya, dicari nama seseorang lalu berusaha menghubunginya.
"Wa'alaikumsalam" ucapnya menjawab salam dari seseorang di seberang telepon.
"Bisa bertemu hari ini?" tanyanya
"..."
"Oke, aku tunggu siang ini di Caffe biasa. Assalamu'alaikum." Akhtar mengakhiri teleponnya.
Dan di sinilah Akhtar berada, sebuah caffe yang tidak jauh dari komplek yayasan. Di hadapannya Ahsan sudah siap mendengar semua keluh kesahnya.
"Hari ini Ayah memintaku kembali untuk menemuinya, tapi aku menolak karena belum ada persiapan apapun. Aku belum mengadakan rapat koordinasi dengan yang lainnya untuk mengurus acara pertunanganmu. Aku masih menunggu Shanum, dia sedang mengikuti pelatihan di Jakarta. Sudah seminggu dan hari ini harusnya dia sudah kembali."
Suara Ahsan mengembalikan kesadaran Akhtar dari lamunannya. Beberapa hari ini dia terpuruk sendirian memikirkan nasibnya.
Akhtar menarik napasnya dalam, sejak tadi dia hanya melamun dan membiarkan es krim affogatonya mencair begitu saja. Mendengar Ahsan menyebut nama Shanum hatinya kembali teriris. Mengingat betapa hal yang diminta Ayahnya itu akan sangat menyakiti hati Shanum.
"Jadi Shanum akan turut serta dalam kepanitiaan acara pertunanganku?" tanya Akhtar sendu.
"Iya dong, itu harus. Selama ini ide-ide kreatif selalu bermunculan darinya. Ayahmu saja mengacungkan jempol saat membaca laporan konsep-konsep acara yang diracik Shanum. Beliau sendiri yang memintaku untuk membuat Shanum turut andil lagi dalam acara pertunanganmu. Walaupun nanti ada dari pihak WO, tapi semua konsep Ayah mau kita yang bikin dan mereka tinggal eksekusi sesuai keinginan kita", jelas Ahsan panjang lebar.
__ADS_1
Lagi-lagi Akhtar menarik napasnya dalam, tangan kirinya yang bertumpu dengan sikut di atas meja mengusap sekilas wajahnya.
'Ayah, tampaknya ayah menyukai kinerja Shanum. Dia memang cerdas, sudah sejak dulu aku mengetahuinya. Andai ayah tahu kalau dia adalah perempuan pujaan hatiku. Apakah ayah akan tega membiarkan Shanum yang mengatur acara pertunanganku? Tidakkah ayah belajar dari pengalaman menyakiti Ibu? Kenapa sekarang aku harus melakukan hal yang sama? Menyakiti perempuan yang aku cintai. Mengapa urusan menyakiti hati perempuan yang kita cintai harus Ayah wariskan juga padaku? Sebesar apa lagi luka yang akan aku torehkan di hatinya?', gumam Akhtar dalam hatinya.
Ahsan kembali mendapati Akhtar melamun. Dia mengerti dengan kegundahan hati sahabat sekaligus sepupunya itu.
" Bro, tidak semua yang menurut kita tidak baik itu tidak baik. Akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Yang terbaik untukmu tidak akan pernah hilang, jika hilang berarti itu bukan yang terbaik",
"Percayalah, sekeras apapun kamu berusaha yang bukan takdirmu akan menemukan jalan untuk hilang dan yang menjadi takdirmu akan menemukan jalan untuk datang. Semua akan membaik seiring waktu." Ahsan berupaya memotivasi Akhtar. Dia tahu beberapa hari ini keadaan sepupunya itu sedang tidak baik-baik saja.
Akhtar hanya menunduk mendengarkan semua nasehat Ahsan.
"Berbahagialah, niatkan semuanya untuk beribadah", Ahsan masih melanjutkan nasehatnya.
"Dan aku pun ingin berbagi kebahagiaan denganmu"
Akhtar mendongak, "Oya, apa itu?" tanyanya penasaran.
Ahsan terlebih dahulu mengulas senyum sebelum kembali berbicara, menandakan betapa bahagianya dia dengan kabar yang akan disampaikannya pada Akhtar.
"Aku sudah berhasil mendapatkan cintaku. Dia sudah membuka hatinya untukku. Setidaknya hubungan kami sekarang selangkah lebih maju", mata Ahsan berbinar saat mengatakannya.
"Jadi dia sudah kembali?" tanya Akhtar antusias, dia turut bahagia dengan kebahagiaan sahabat sekaligus sepupunya itu.
"Setelah tiga eh empat apa lima yah aku nembak dia, akhirnya dia menerimaku, Bro. Tidak sia-sia perjuanganku selama ini, aku semakin yakin hasil memang tidak akan mengkhianati proses. Aku hanya perlu menambah kesabaranku dan meningkatkan intensitas jalur langit, Allah pun tahu yang kupinta adalah apa yang kubutuhkan bukan sekedar ambisi semata." Ahsan terus bercerita dengan antusiasnya dia tidak memperhatikan ekspresi wajah penuh tanya sepupunya.
"Hari ini dia pulang, aku sudah sangat merindukannya. Seminggu tidak bertemu rasanya menyiksa banget. Tadinya aku ingin menjemputnya, tapi dia menolak karena akan pulang dengan temannya sama-sama peserta yang berasal dari Bandung."
Akhtar semakin mengerutkan keningnya, dibenaknya penuh tanya siapa sebenarnya wanita yang dibicarakan Ahsan.
Ting
Bunyi notifikasi pesan di ponsel Ahsan menjeda pembicaraan mereka.
Shanum:
'Kak, kegiatan pelatihan sudah selesai. Sekarang aku baru jalan pulang ke Bandung'
Shanum mengirimi Ahsan pesan perihal kepulangannya. Sejak pagi Ahsan memintanya supaya mengabarkan kepulangannya agar saat Shanum pulang dia ingin menunggunya di gerbang seperti pada waktu kembalinya Shanum dari Bogor. Ahsan membalas pesan itu dengan hati yang semakin berbunga-bunga, bibirnya tak lepas mengukir senyum.
__ADS_1
"Seminggu?" tanya Akhtar heran.
"Heumm...." Ahsan hanya menjawab dengan deheman sambil kembali menyeruput kopinya, kembali menyimpan gawai setelah membalas pesan Shanum.
"Aku sudah seminggu gak ketemu Shanum, ternyata bener ya rindu itu berat haha...", Ahsan bicara dengan santainya diakhiri gelak tawa merasa geli berpuisi di depan sepupunya itu.
Jeddeerrrrr.......bak ada petir di siang bolong. Akhtar yang mendengarnya langsung mematung. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik dari petir itu. Lidahnya kelu tak mampu berucap. Hanya matanya yang terus melebar menatap Ahsan dengan tajamnya, tangannya pun terkepal menahan sesuatu yang ingin meledak di hatinya.
"Sudah bertahun-tahun aku menyukai Shanum, sudah berkali-kali juga aku menyatakan cintaku dan berkali itu juga aku ditolak hahaha....." Ahsan mulai bercerita tentang kisahnya mengejar Shanum sesekali dia tertawa merasa lucu dengan kelakuannya dulu, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Sejak kuliah aku mengenalnya, dia sudah membuat aku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Aku merasa sangat nyaman ketika bersamanya. Walaupun saat itu aku masih terlalu gengsi untuk mengakuinya."
"Kesederhanaan yang ia miliki, kepiawaian dia dalam bergaul yang membuat semua yang mengenalnya betah bersamanya walau hanya sekedar mengobrol. Saat berbicara dia selalu memerioritaskan siapa yang sedang hadir di hadapannya, sehingga membuat orang merasa sangat dihargai. Bertemu Shanum aku merasa menemukan tempat yang tepat untuk pulang."
"Shanum benar-benar mampu menyeimbangkan hidupku. Sejak aku mengenalnya lebih jauh, aku semakin menyukai dan ingin melindunginya. Sejak itu aku pun bertekad untuk mendapatkan hatinya. Walaupun aku sempat hampir akan kehilangan dia karena dia pernah mau dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya di Bogor. Tapi Tuhan berkehendak lain, aku merasa Tuhan berpihak padaku dengan masih memberi kesempatan aku untuk bisa bersama Shanum."
"Kehidupan dia selama ini sangat tidak mudah, tapi aku tidak pernah melihatnya mengeluh atau kecewa dengan keadaannya. Dia selalu ceria dan berpikiran positif dalam menghadapi setiap masalah hidupnya."
"Suatu hari pernah dia hampir tidak bisa mengikuti ujian penting yang biayanya tidak tercover dari beasiswa. Aku menjadi saksi betapa keras dia berusaha untuk menyelesaikan masalah itu tanpa membebani orang tuanya. Aku pernah menawarkan diri ingin membantu, tapi dia menolak dengan halusnya. Mungkin dia berpikir aku ada pamrih saat ingin membantunya, pasalnya dua hari sebelumnya aku nembak dia dan dia menolak, hhee..." Ahsan kembali terkekeh di sela-sela ceritanya.
"Alasannya karena dia ingin fokus dengan kuliahnya, secara... menjadi mahasiswa pejuang beasiswa sangatlah tidak mudah dan dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah datang padanya, begitu ujarnya. Dan sejak saat itu aku benar-benar menjadi Secret Admirer yang ingin selalu membantu dan melindungi tanpa diketahuinya."
"Semakin aku mengenalnya aku semakin mengaguminya. Tapi entah kenapa aku tidak mau memaksakan perasaanku untuknya. Aku lebih rela menunggu dan lebih bahagia melihat dia bahagia."
"Sejak peristiwa batalnya pernikahan, Shanum memutuskan untuk kembali berkuliah. Dia kembali ke Bandung setelah berhasil mendapatkan beasiswa S2 dan melanjutkan kuliahnya. Kamu tahu, Bro? aku sampai bela-belain daftar jadi dosen pembimbing penelitiaannya waktu itu, saking pingin deketnya dan setelah selesai penelitian aku kembali menyatakan cintaku untuknya tapi dia menolakku lagi sepertinya dia masih trauma dengan batalnya pernikahan itu."
Akhtar menatap Ahsan semakin tajam, dengan seksama mendengarkan rangkaian cerita Ahsan tentang Shanum yang masih terus berlanjut.
"Entah apa yang membuatku tidak marah dan kecewa dengan perlakuannya, yang ada saat itu aku justru mencari peluang baru untuk bisa kembali bersamanya walaupun bukan sebagai pasangan kekasih. Dan ternyata Tuhan lagi-lagi berpihak padaku dengan diterimanya Shanum sebagi guru di yayasan Ayah. Aku merasa peluang itu kembali datang."
"Belum juga setahun Shanum berada di yayasan, aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Aku sampai meminta bantuan Pak Khalid staf yayasan yang mengurus bagian pendidikan jenjang SMA untuk memanggil Shanum ke kantor yayasan. Di sana aku kembali menyatakan cintaku, dan lagi-lagi aku ditolak hahaha ...."
"Aku masih belum tahu waktu itu apalagi alasannya. Dia hanya bilang, akan ada perempuan yang lebih pantas untuk bersanding denganku. Ckk....aku sampai kesal mendengar alasannya. Tapi hal itu tidak membuat semangatku surut, aku tahu Shanum paling tidak suka dengan orang yang suka memaksakan kehendaknya. Aku lebih baik mengalah dan menambah stok kesabaranku untuk bisa membuka pintu hatinya."
"Aku memilih untuk hadir sebagai sebagai teman daripada harus jauh darinya. Kebersamaan kami membuat aku semakin jatuh cinta dan benar-benar ingin memilikinya. Sudah sering aku melontarkan candaan merayunya, berharap dia peka kalau aku masih sangat mengharapkannya. Tapi dia selalu bilang katanya rayuanku enggak bakalan mempan untuknya...hhe.."
"Hingga setelah sekian purnama terlewati, aku baru mengetahui kalau alasan Shanum selalu menolakku karena dia sedang menunggu seseorang", cerita Ahsan terhenti, sejenak dia menyeruput kembali kopinya yang sudah dingin.
Degg.....Akhtar yang menyimak penuturan Ahsan dengan khusuk merasa tubuhnya kembali menegang. Hatinya seperti terkoyak mendengar kalimat terakhir yang Ahsan katakan.
__ADS_1
"Dan sayangnya orang yang bertahun-tahun dia nantikan itu kembali dengan membawa harapan palsu dan luka untuk Shanum."
Deg deg deg....jantung Akhtar berdebar semakin cepat. Dia tidak tidak menyangka perjuangan dan pengorbanan Shanum begitu besar untuknya.