Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Do'a di Antara Jeda Adzan dan Iqamah


__ADS_3

Pagi masih buta, adzan subuh baru saja berkumandang. Shanum menggeliat, mengumpulkan nyawa yang masih berterbangan.


"Alhamdulillahilladzi ahyana ba'dama amatana wailaihinnusur"ucapnya pelan.


Dering alarm di gawainya tak terdengar dia baru ingat kalau semalam mematikannya. Shanum beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, untuk selanjutnya melaksanakan kewajiban subuh.


Sesuai rencana, hari ini warung nasi ibu masih tutup. Semua karyawan diberi waktu untuk beristirahat setelah perhelatan akbar kemarin. Shanum lebih santai dia berencana akan menghabiskan waktunya di kamar saja bersama Humairah, menebus beberapa hari yang tak sempat dia bermain dengan anak gemoy itu. Kesempatan berharga yang tidak akan Shanum sia-siakan begitu saja.


Shanum mengawali paginya dengan berada di dapur, mumpung Humairah belum bangun dia bermaksud akan memasak nasi goreng kesukaan keponakannya itu.


Tok ...tok...tok...


Suara ketukan pintu tidak mengalihkan Shanum dari nasi gorengnya. Bu Hana yang baru keluar dari kamarnya selepas tadarus segera menuju ruang depan untuk membuka pintu.


"Siapa pagi-pagi begini yang sudah bertamu?" gumamnya pelan.


Bu Hana terperanjat saat melihat sosok anak muda yang tampan nan gagah dengan rambut yang masih sedikit basah tengah berdiri di hadapannya.


"Nak Akhtar?" Bu Hana membuka pintu rumahnya lebar-lebar, bibir Akhtar tampak pucat menandakan jika saat ini dia kedinginan.


"Silahkan, silahkan masuk. Maaf ibu malah berdiri aja, kaget jam segini Nak Akhtar datang ke sini" Bu Hana berkata jujur.


"Ibumu baik-baik saja kan? tidak ada keluhan? kemarin dia bilang kalau kolesterolnya sempat kambuh" setelah Akhtar duduk, Bu Hana bertanya perihal Bu Fatimah, dia khawatir jika terjadi sesuatu dengan sahabatnya.


"Ibu alhamdulillah baik Bu, kemarin langsung pulang diantar Ghifar ke rumah Aki"


"Oh Alhamdulillah. Kalau begitu Nak Akhtar tunggu dulu ya, ibu ambilkan minum dulu" pamit Bu Hana, namun sedetik kemudian Bu Hana yang akan meninggalkannya menuju dapur terhenti karena panggilan Akhtar.


"Maaf Bu, gak usah repot-repot. Saya hanya ingin bertemu Bapak, beliau ada kan Bu?" Bu Hana mengernyit mendengar penuturan Akhtar, diapun mengangguk kepala ragu.


"Bapak masih di mesjid, Nak Akhtar bisa menunggu dulu?"


"Bisa Bu, saya akan tunggu Bapak" ucap Akhtar mantap. Bu Hana pun berlalu meninggalkan Akhtar sendiri di ruang tamu menuju dapur.


"Ada tamu Bu? siapa?" Shanum yang sedang membuat nasi goreng pun menoleh saat melihat sang ibu datang. Sekilas dia mendengar ibunya mengobrol dengan seseorang di depan.


"Iya, ada Nak Akhtar teh"


"Hah? Akhtar? ngapain?" tanya Shanum panik, pasalnya baru saja dia kembali teringat kebersamaan mereka semalam. Salah satu alasan Shanum membuat nasi goreng seafood pagi ini karena semalam yang menjadi bagian dari topik obrolan mereka adalah tentang nasi goreng Mang Sule yang menjadi favorit Ahsan kalau pulang dari Asrama.


"Mau ketemu Bapak katanya, Ibu juga gak tahu mau ngapain. Ayo Teteh temuin sana!" Bu Hana meminta Shanum untuk menemui Akhtar, dia pun mengambil cangkir untuk membuat teh hangat untuk Akhtar.


"Idih kenapa teteh harus nemuin kan dianya mau ke Bapak" protes Shanum pada ibunya. Bu Hana menoleh sekilas melihat ada rona berbeda di wajah putrinya, dia mengulum senyum. Berharap dugaannya benar, jika sang putri sudah mulai membuka hati.


"Ya sudah, biar ibu saja yang mengantarkan minum, kasihan sepertinya dia kedinginan, mungkin bangun tidur Nak Akhtar langsung ke sini kali ya" Bu Hana berbicara tanpa melihat ke arah Shanum yang malah asik menikmati nasi gorengnya sendiri.


Sesampainya di ruang tamu Bu Hana melihat jika Pak Imran sudah berada di sana bersama Akhtar, dia mempersilahkan Akhtar menikmati teh hijau hangat yang dia bawakan.


"Bu, duduk dulu di sini" Pak Imran menyuruh Bu Hana untuk duduk di sampingnya.


"Nak Akhtar bilang, kedatangan dia ke sini karena ada sesuatu yang ingin disampaikan pada kita"


"Iya, Pak" Bu Hana duduk di samping suaminya dengan masih memangku nampan. Dia pun penasaran dengan apa yang akan dikatakan Akhtar.


"Bapak, Ibu, sebelumnya saya minta maaf jika kedatangan saya terlalu pagi mengganggu Bapak dan Ibu. Jujur, semalam saya tidak bisa tidur ingin segera pagi dan menemui Bapak dan Ibu. Makanya setelah shalat subuh tadi saya langsung menuju ke sini" Akhtar menghela napas, menjeda ucapannya setelah menjelaskan kronologis kedatangannya.


"Apa yang saya ketahui semalam akan terus ada diingatan saya. Mungkin Bapak dan Ibu tahu sedikit banyak tentang saya dengan Shanum. Dulu di masa remaja kami adalah teman dekat, namun keadaan mengharuskan saya untuk pergi dari Garut" Akhtar menceritakan kisahnya di masa lalu, bagaimana dia bisa berada di Garut dan harus kembali meninggalkan Garut dengan semua kenangannya. Termasuk cinta monyet yang mengantarkannya pada cinta sejati namun keadaan mengharuskan Akhtar mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap Shanum.


"Sejak awal saya sudah berusaha untuk menerima jika mungkin kami memang tidak berjodoh, walaupun berat saya harus ikhlas. Perlu perjuangan yang tidak mudah untuk sampai ke titik itu. Tetapi kenyataan yang baru saya ketahui semalam, membuat saya kembali berharap semoga ini adalah jawaban dari do'a-do'a yang saya langitkan selama ini. Jika Shanum adalah yang saya tuju, bahwa Shanum adalah tempat saya pulang"


"Saya percaya sebaik-baik ungkapan rindu adalah saling mendo'akan. Berharap, semoga dengan kesabaran, Allah hadiahi kami pertemuan" Akhtar berkata dengan mata berkaca, mengingat perjuangan dia untuk memendam semua rasa di hatinya untuk Shanum sangatlah berat.


Bu Hana dan Pak Imran pun mendengarkan apa yang Akhtar katakan dengan seksama, mereka pun terbawa suasana haru. Tahu betul bagaimana putri sulung mereka harus berkorban dengan mengabaikan perasaannya sendiri selama ini.


Fauzan sudah menceritakan semuanya tentang kisah cinta Shanum dan Akhtar pada mereka berdua tanpa sepengetahuan Shanum. Sebagai orang tua tentu hati mereka pun ikut terluka, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain mendo'akan yang terbaik untuk anaknya. Pak Imran dan Bu Hana tahu bagaimana Shanum tidak pernah menyusahkan mereka, selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Menampakkan wajah ceria dengan senyum mengembang di bibirnya ketika bertemu mereka. Shanum tidak ingin jika kedua orang tuanya bersedih karenanya.

__ADS_1


"Sekarang, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk meraih kebahagiaan saya sendiri dan maksud kedatangan saya ke sini menemui Bapak dan Ibu adalah memohon izin untuk saya mendekati Shanum" Akhtar berkata dengan tegas, dia bertekad untuk bergerak lebih cepat kali ini. Tidak ingin kehilangan lagi kesempatan, memaksimalkan diri membumikan ikhtiyar dan terus melangitkan do'a. Akhtar yakin selalu ada harapan untuk mereka yang sering berdo'a. Akan selalu ada jalan bagi mereka yang selalu berusaha.


*


Shanum sudah selesai dengan sarapannya. Cukup lama dia menikmati sepiring nasi goreng seafood buatannya itu sambil menunggu sang ibu yang tak kunjung kembali setelah membawakan secangkir teh untuk tamu yang datang.


Shanum penasaran apa yang dilakukan ibunya di depan, bermaksud mengintip keadaan namun dering telepon masuk dari gawainya menghentikan aksinya. Dia terperanjat, secepat kilat berlari menuju tangga untuk kembali ke kamarnya takut ketahuan jika dirinya tengah mengintip.


Matahari mulai merangkak naik, cahayanya mulai menghangatkan semesta dengan segala isinya. Shanum beranjak dari tempat tidurnya, menerima telepon dari sahabatnya Liani sambil rebahan membuatnya kembali tenggelam dalam lamunan.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu mengembalikan kesadaran Shanum dari lamunan panjangnya. Memikirkan banyak hal, terutama tentang percakapannya dengan Liani sepanjang di telepon.


"Teh, ditunggu Nak Akhtar di bawah" perlahan Bu Hana membuka pintu kamar Shanum lebar-lebar, dia datang memberitahu Shanum jika Akhtar menunggunya.


"Hah? mau apa?" tanpa sadar Shanum kembali bereaksi lain dari biasanya, kentara kegugupan di wajahnya saat mendengar kalau Akhtar menunggunya.


"Ya, enggak tahu. Makanya temuin sana, tanyain sendiri sama Teteh" Bu Hana mengulum senyumnya, melihat raut wajah putri sulungnya yang merona ketika membicarakan tentang Akhtar.


"Ya sudah, ibu turun duluan. Mau bikin pepes ikan buat Bu Fatimah, mumpung ada nak Akhtar, jadi ibu mau nitip. Teteh cepet gih temuin nak Akhtar. Kasihan dia kalau terlalu lama nunggu" Bu Hana kembali mengingatkan, dia pun berjalan keluar dari kamar Shanum lebih dulu.


"Huuhh" Shanum membuang napasnya kasar.


Dan di sinilah kini mereka berada, babancong yang biasa dijadikan mushala untuk pengunjung warung yang hendak melaksanakan shalat. Dan dijadikan tempat lesehan kala warung berhenti beraktivitas. Saat Shanum turun dari lantai dua rumahnya menuju ke ruang tamu dia tidak mendapati Akhtar di sana. Bu Hana memberi tahunya jika Akhtar sedang di halaman belakang.


Suara gemericik air yang berasal dari kran air yang sengaja dialirkan begitu saja untuk menjaga sirkulasi air dalam kolam seakan menjadi musik alam yang melengkapi degup jantung dua insan yang kian mengencang.


Masih belum ada yang bersuara, masing-masing seolah sedang menyelami perasaan satu sama lain, mencari pembenaran dari setiap rasa yang tumbuh semakin subur di hati masing-masing.


Shanum mengingat kembali percakapannya dengan Liani beberapa saat yang lalu di telepon


'Num, sebenarnya aku ingin sekali marah. Kamu anggap apa aku, katanya kita sahabat tapi kamu menyembunyikan hal penting dariku. Aku tahu aku bukan sahabat yang baik, tapi setidaknya jangan membuat aku semakin tidak berharga di matamu' Liani mengungkapkan kemarahannya pada Shanum, dia merasa sangat tidak dihargai saat mengetahui jika suami sahabat baiknya itu telah lama meninggal.


'Maaf' hanya kata maaf yang terucap di bibir Shanum, matanya turut berkaca-kaca saat melihat Liani berderai air mata di sebrang sana. Awal dari bertelepon beralih menjadi video call.


'Sekarang sudah waktunya kamu move on, Num. Jangan terus larut dalam nestapa yang tak berujung. Aku yakin tidak sulit untukmu menumbuhkan kembali perasaan yang sempat kamu kubur untuk Pak Akhtar. Kasihan dia Num, berikan dia kesempatan untuk kembali memperjuangkan cintanya dan di saat itu terjadi kamu pun harus benar-benar membuka hati'


'Jangan kamu sia-siakan kesempatan baik ini, ikuti kata hatimu, jangan sibuk ngerasa enggak layak melulu, jangan menolak perasaan dan kenyataan nanti kamu sakit sendiri. Pak Akhtar sudah tahu keadaan kamu yang sebenarnya. Berikan dia kesempatan, OK!' Liani membulatkan ibu jari dan telunjuknya yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Shanum.


Panggilan mereka pun berakhir. Liani menelepon Shanum juga untuk meminta maaf karena tidak bisa pamit secara langsung pada Shanum dan keluarganya. Rencananya untuk mengajukan cuti selama dua minggu gagal total. Maksud hati ingin meminta bantu kepada Ahsan untuk kelancaran rencananya bersama Bu Fatimah dan Bu Hana, malah rencananya sendiri yang gagal karena Ahsan tidak menyetujui.


Dia melarang Liani untuk cuti karena dirinya yang sibuk di Jakarta, Liani sudah berusaha memberi alasan bahwa keberadaannya di Garut tanpa Ahsan akan baik-baik saja, namun Ahsan keukeuh tidak memberi Liani izin untuk cuti. Liani hanya boleh berada di Garut jika dirinya pun berada di sana. Keposesifan Ahsan mulai terlihat untuk Liani.


"Ini!" Akhtar menyodorkan buket bunga mawar putih yang sejak tadi dia sembunyikan di belakang punggungnya. Shanum mendongak, dia menatap bunga itu tanpa melihat orang yang memberinya. Masih ragu menerima pemberian bunga itu. Akhtar kembali menarik tangan yang menggenggam bunga itu, dia tahu Shanum masih enggan menerimanya.


"Ternyata ada yang lebih sakit daripada dibohongi, yaitu menemukan kebenaran dari mulut orang lain" Akhtar berkata dengan arah pandangan tertuju pada ikan-ikan yang saling berebut makanan sesaat setelah dirinya melempar pakan ikan yang dia ambil dari wadah yang menggantung di salah satu tiang babancong itu, posisi mereka saat ini saling berdampingan.


"Maksudnya?" Shanum menautkan kedua alisnya mendengar pernyataan Akhtar.


"Sudahlah" Akhtar kembali melempar pakan ikan ke dalam kolam yang disambut dengan antusias oleh puluhan ikan yang berwarna warni.


"Ada beberapa kenangan yang tak mampu diulangi oleh kita, yang ada hanya meratapi atas kehilangannya. Namun aku harap kamu tidak larut dalam rasa kehilangan itu" Shanum menoleh, menatap sekilas wajah pria yang masih bertahta di hatinya itu, dia mulai memahami kemana arah pembicaraannya.


"Kenangan semanis atau sepahit apapun, tetaplah sebuah kenangan. Yang nilainya bukan dilihat dari seberapa manis dan pahitnya, tapi dari seberapa banyak dan dalam pelajaran dan hikmah yang dihasilkannya. Ada kalanya, kenangan pahit yang menyengsarakan jauh lebih bernilai daripada kenangan manis yang membahagiakan" Akhtar membalikkan badannya empat puluh lima derajat, dari samping dia bisa melihat wajah Shanum dengan jelas.


"Kalau maksud kamu aku berbohong dengan statusku selama ini. Aku kira kamu salah, selama ini aku merasa tidak pernah berbohong. tentang statusku, jika ada orang yang bertanya ya aku jawab seadanya" Shanum mengklarifikasi pernyataan Akhtar tentang kebohongan yang dimaksud olehnya.


"Shanum, kamu sudah menikah? sudah jawabku, karena aku memang sudah menikah. Apa kabar suamimu? aku jawab baik, karena sekarang dia memang baik-baik saja, dia sudah tenang menghadap-Nya. Shanum dimana suamimu? ya, aku jawab di Jakarta karena memang dia dimakamkan di Jakarta" jawab Shanum enteng tanpa mengalihkan pandangannya, dia tahu jika Akhtar sedang menatapnya. Tak ada lagi kesedihan saat dia mengatakan tentang almarhum suaminya, dia sudah kembali menata hatinya. Ikhlas dengan semua yang tertakdir untuknya. Berharap apa yang tertakdir selanjutnya sama dengan yang diharapkannya.


"Terus kenapa semalam kamu jawab ya saat aku bertanya apa kamu bertelepon dengan suamimu?" Akhtar geram dengan Shanum yang menjawab dengan santai tanpa rasa bersalah.


"Kapan?" seru Shanum


"Semalam, di mobil" jelas Akhtar.

__ADS_1


"Siapa yang jawab ya, aku cuman senyum aja jawab pertanyaan kamu" Shanum kembali beralibi yang membuat Akhtar semakin gemas dengan wanita di hadapannya itu yang telah berhasil memporakporandakan suasana hatinya dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui.


"Kamu!" sela Akhtar, dia benar-benar tidak habis pikir dengan Shanum yang menanggapi semuanya dengan begitu santai.


"Hhe....maaf" Shanum hanya menampilkan wajah nyengir, dia tahu Akhtar sangat kesal dengan semua jawabannya.


"Ini" Akhtar kembali mengulurkan buket bunga yang masih dia genggam di tangan kanannya. Shanum pun akhirnya menerima bunga itu,


"Kamu ngasih bunga ke aku?" tanyanya lagi,


"Iya, kenapa?" tanya Akhtar.


"Aku istri orang lo" jawab Shanum santai dia mencium wangi bunga mawar putih yang kini ada di pelukannya


"Dulu, itu dulu" sela Akhtar cepat,


"Haha..." Shanum tergelak dan hal itu pun membuat senyum Akhtar terbit, ada kehangatan yang menyeruak di dadanya saat melihat Shanum tersenyum.


"Kamu tahu Num, dari dulu ada yang sangat indah dari dirimu" Shanum menghentikan gerakannya, menunggu kelanjutan dari kata-kata Akhtar,


"Hal yang sangat indah dari dirimu yaitu senyummu, senyummu yang menularkan senyum di bibirku" ucap Akhtar penuh kelembutan.


Blussshh.....Shanum memalingkan kepalanya, dia merasakan wajahnya memanas saat Akhtar mengatakan itu.


"Saat ini aku hanya ingin kamu sadar, sekuat apapun seseorang nyatanya pasti akan membutuhkan orang lain untuk berada di sisinya walau hanya sekedar ada dan mendengarkan dan izinkan aku untuk menjadi seseorang itu" Akhtar mengatakannya dengan tegas dan lugas penuh dengan asa dan harap yang selama ini terpendam.


"Aku tidak tahu kenapa hingga saat ini aku masih mencintaimu, hanya satu yang aku tahu aku bahagia saat bersamamu. Bahkan saat raga terpisah jarak pun mengenangmu dalam do'a adalah cara paling ampuh menumpahkan kerinduan yang selalu menyeruak dalam dadaku"


Hati Shanum menghangat saat mendengar semua yang Akhtar katakan.


"Aku ada proyek di luar kota selama dua minggu, selama itu mari kita saling bermunajat. Aku harap kamu sudah siap dengan jawabanmu saat aku kembali" Akhtar mengakhiri ungkapan hatinya. Shanum mematung dia tak mampu bersuara mendengar semua yang Akhtar katakan.


"Nda......" kedatangan Humairah bersama Indri memecah keheningan yang tercipta dia antara mereka. Shanum pun merentangkan dua tangannya bersiap menyambut bayi gemoy ya g sudah mulai pandai berbicara itu ke pangkuannya.


"Eh ada babang ganteng, pantesan pagi ini cerah banget, ternyata ada yang diapelin pagi-pagi" Indri menggoda Shanum yang dibalas pelototan oleh Shanum. Dia pun terkikik melihat ekspresi kakak sepupunya itu.


"Teteh, kata uwa ajak babang gantengnya sarapan, uwa udah nunggu di dapur" Indri memberitahukan tujuannya menemui Shanum yang hanya dijawab anggukan oleh Shanum.


"Jadi ini anak kamu?" tanya Akhtar dengan nada menyindir.


"Iya, dia memang anak aku" jawab Shanum sewot


"Ouh" Akhtar hanya membulatkan bibirnya.


"Kenapa?"


"Enggak" jawab Akhtar dengan mengulum senyumnya


"Mau bilang aku bohong lagi?"


"Enggak, siapa bilang?"


"Kali aja kamu mau bilang aku bohong lagi, aku kan gak bohong Humairah memang lahir dari rahim Rida, Rida kan adikku berarti aku juga bundanya Humairah juga kan" Shanum beralibi panjang lebar yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Akhtar


"Iya, kan?" Shanum kembali memastikan jawaban Akhtar


"Iya, iya" jawab Akhtar dengan masih mengulum senyumnya, dia berkali-kali menganggukkan kepala meyakinkan Shanum dengan jawabannya, takut Shanum kembali marah. Dalam hatinya tergelak, merasa lucu dengan tingkah Shanum yang semakin kesini semakin menunjukkan diri apa adanya, Akhtar senang Shanumnya mulai kembali.


Mereka pun masuk ke dalam, Shanum menggiring Akhtar ke dapur untuk menikmati sarapan yang sudah disiapkan sang ibu. Sementara dia menyuapi Humairah yang selalu lahap dengan makanan yang disiapkan sang nenek, karena nasi goreng yang dia siapkan untuk keponakannya itu sudah dingin


Senja menyapa, tanpa terasa keberadaan Akhtar di rumah Shanum sudah cukup lama. Bu Hana menahan Akhtar yang akan pamit selepas shalat dzuhur dengan alasan pepes ikan yang dibuatnya untuk Bu Fatimah belum matang.


Akhtar pun menghabiskan waktu dengan memantau warung Shanum. Di temani Indri mereka bertiga berdiskusi tentang rencana pengembangan warung, Akhtar memberikan beberapa masukan terkait interior dalam warung agar terlihat lebih estetik dan menarik.


Akhtar melajukan kendaraannya perlahan keluar dari halaman rumah Shanum. Satu boks besar pepes ikan spesial untuk sang ibu dia simpan di kursi tengah. Kebahagiaan kembali menyeruak dalam dadanya, harapannya satu persatu mulai terwujud. Jalanan yang cukup padat saat sore di hari kerja membuat Akhtar menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Senyum terus mengembang di bibirnya.

__ADS_1


"Senja bisa jadi adalah kepulangan, orang-orang pulang kerja menuju rumahnya. Burung-burung terbang kembali ke peraduan. Sementara namamu pulang kembali dalam do'a-do'a di antara jeda adzan dan iqamah, Shanum Najua Azzahra" gumam Akhtar.


__ADS_2