
Semua orang masih menunjukkan wajah tegangnya, setelah menerima informasi dari dokter yang menangani Shanum bahwa Shanum harus melakukan transfusi darah, keadaan di ruang tunggu semakin terasa mencekam. Akhtar tertunduk lesu di kursi tunggu yang berada di lorong rumah sakit. Beberapa orang sudah menawarinya minum dan makan namun dia hanya menggelengkan kepala dengan mata yang sembab karena tangis dalam diamnya.
Waktu sudah menunjukkan dini hari, artinya sudah cukup lama Shanum berada di ruang persalinan khusus itu, Akhtar pun berdiri dan bertanya dimana letak mushala. Fauzan dan Ghifar yang tak pernah jauh dari Akhtar pun mengikuti kemana langkah kaki calon ayah itu. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada Akhtar yang sebenarnya sangat terlihat lelah. Sejak perjalanannya dari Malaysia Akhtar belum beristirahat sekejap pun.
Sementara Ibu Fatimah, Pak Furqan, Bu Hana dan Pak Imran sudah tidak berada di sana. Akhtar meminta para orang tua itu agar pulang ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Shanum saat ini dirawat. Akhtar meminta agar mereka beristirahat di rumahnya karena keadaan di rumah sakit tidak memungkinkan untuk mereka beristirahat di sana. Tinggallah Akhtar, Ghifar, Fauzan, Indri, Ahsan dan Liani yang berada di rumah sakit. Tama pun sudah pamit karena harus mempersiapkan diri untuk acara di yayasannya esok hari.
Akhtar menumpahkan segala kekhawatiran dan ketakutannya di penghujung malam, berharap Shanum dapat segera sadar dan kembali bisa bersamanya.
"A, A Akhtar....." Fauzan menyentuh bahu Akhtar yang tertidur selepas shalat subuh, semalam Akhtar tidak memejamkan mata sedetik pun hingga akhirnya pertahannya runtuh selepas melaksanakan shalat subuh, dia tertidur dalam keadaan duduk dan bersandar di dinding mushala rumah sakit.
"Teh Shanum sudah sadar" dia memberi tahu Akhtar jika Shanum sudah sadar berdasarkan informasi yang diterimanya dari pesan yang dikirim Indri,
"Benarkah?" tanpa menunggu lagi Akhtar mengakhiri munajatnya setelah bersujud syukur atas kabar yang diterimanya dan segera keluar dari Mushala kemudian berlari menuju ruangan tempat istrinya berada.
Dengan mata berbinar Akhtar bertanya pada semua orang yang masih berada di ruang tunggu itu depan ruangan Shanum.
"Apa aku sudah boleh masuk?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Indri dengan senyum bahagia dengan kabar yang didapatnya dari perawat tadi,
Ceklek.....pintu ruangan tempat Shanum pun terbuka, tatapan Akhtar langsung tertuju pada tempat tidur pasien. Menatap sang istri yang tengah tersenyum lemah kepadanya.
"Sayang..." tidak mempedulikan keadaan sekitar fokus Akhtar hanya pada Shanum. Dia berhambur memeluk dan menciumi seluruh wajah Shanum, air mata bahkan tak terbendung lagi. Haru bahagia menyelimuti hatinya, berucap syukur karena sang istri telah sadar dan tengah berada di dalam pelukannya saat ini. Dia menumpahkan kerinduan dan kebahagiaannya saat ini karena Shanum sudah sadar.
"Sayang, maafkan aku..." Akhtar kembali menghujani wajah Shanum dengan ciuman, dia tidak peduli jika di ruangan itu masih ada seorang dokter jaga dan dua perawat yang memantau keadaan Shanum.
"Aa..." Shanum menahan bibir Akhtar dengan tangannya yang tidak terpasang jarum infus yang hampir saja akan mendarat di bibirnya,
"Kenapa sayang? apa yang sakit? bagian mana yang sakit biar aku panggil dokter" ucapnya sambil memeriksa bagian tubuh Shanum, tangannya kemudian berhenti di perut Shanum dan dia pun mendaratkan ciumannya di perut sang istri,
"Kalian baik-baik saja kan? maafkan Yanda, maafkan Yanda sayang. Seharusnya aku tidak pergi meninggalkan kalian, semua ini tidak akan terjadi kalau aku berada di samping kalian. Maafkan aku, sayang" ucapnya kembali menatap sendu wajah Shanum yang masih tampak pias sambil mengusap- usap perut sang istri, Akhtar yang sejak awal merasa jika semua kejadian yang menimpa istrinya adalah karena kesalahannya tak mampu menahan air mata penyesalannya,
"Aa, malu sama bu dokter dan teteh-teteh perawat" Shanum berucap pelan karena keadaannya masih lemah, dia tidak bisa menghindar dari kelakuan Akhtar yang menghujani wajahnya dengan ciuman dan tangannya yang memberikan sentuhan lembut di perutnya dengan air mata yang terus berurai di pipinya, keadaan Shanum saat ini masih sangat terlihat lemah.
Akhtar yang sedang menciumi perut Shanum pun mendongakkan kepala ke arah Shanum, dia berdiri tegak dan menoleh sekilas ke arah dokter yang sedang berpura-pura sibuk dengan senyum tertahan,
"Mereka tidak melihat kita, sayang. Mereka sedang sibuk" ujar Akhtar yang kembali menatap lembut sang istri penuh cinta,
"Aa,...aku lelah" ucap Shanum pelan namun terdengar jelas di telinga Akhtar,
"Istirahatlah sayang, kamu belum pulih" Akhtar pun mengusap kepala Shanum yang mengangguk dan mulai memejamkan kembali matanya,
"Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak-anakku?" Akhtar kemudian beralih topik setelah puas dengan apa yang dia lakukan, dia bertanya pada dokter yang masih berada di sana perihal perkembangan kesehatan istri dan anak-anaknya yang masih berada dalam kandungan,
"Sejauh ini stabil Pak, detak jantung janin berangsur kembali normal dan Bu Shanum pun sudah tidak mengalami kontraksi lagi seperti sebelumnya, pendarahan yang dialaminya sudah dapat diatasi dengan baik. Saat ini belum ada tanda-tanda pembukaan, sepertinya masih belum waktunya melahirkan " terang dokter menjelaskan hasil pemeriksaan terakhirnya,
"Terima kasih" ucap Akhtar setelah mendengarkan penjelasan dokter, semalam tim medis yang menangani Shanum pun tidak beranjak barang sebentar pun dari ruang tempat Shanum dirawat. Mereka terus memantau perkembangan janin dan ibunya, memastikan semuanya berangsur membaik setelah sebelumnya terjadi pendarahan pada Shanum namun tidak terjadi pembukaan jalan lahir.
__ADS_1
Akhtar dan dua orang dokter spesialis terus mengobrol tentang perkembangan kesehatan Shanum dan bayinya. Akhtar sangat antusias mendengar semua penjelasan dokter, dia sekarang lebih tenang setelah mendengar hasil pemeriksaan Shanum dan bayinya yang baik-baik saja. Mereka mengobrol di sofa yang berada di ruangan itu.
"Bu Shanum, waktunya makan dan minum obat" seorang perawat datang dengan membawa nampan berisi makanan khusus untuk Shanum, Akhtar dan dua orang dokter pun menoleh ke arah perawat itu.
"Biar saya yang menyuapi istri saya, Sus" Akhtar segera beranjak dari duduknya dan segera mengambil alih nampan yang dibawa perawat itu,
"Silahkan, Pak" suster pun menyerahkan nampan dan obat yang harus dimakan Shanum pagi ini,
"Sayang...bangun dulu ya, sekarang waktunya makan dan minum obat" Akhtar membangunkan Shanum dengan lembut, dia menyimpan nampan yang berisi makanan pada meja kecil yang berada di samping tempat tidur Shanum.
"Sayang" panggil Akhtar lagi,
"Sayang" Akhtar mengusap pipi Shanum yang tampak tertidur begitu tenang.
"Sayang" Akhtar kembali memanggil Shanum, kali ini sesuatu menyergap yang tidak mengenakkan hatinya karena Shanum tak kunjung merespon.
Dia meraih tangan Shanum, terasa dingin. Dilihatnya lagi wajah Shanum dengan seksama, tampak semakin memucat dengan bibir yang membiru.
"Sayang, sayang bangun yang" Akhtar mengeraskan suaranya, dia mengguncang tubuh Shanum, panik.
"Sayang bangun sayang, kamu harus makan dan minum obat. Sayang bangun, ini gak lucu Shanum, bangunlah Shanum, Shanum Najua Azzahra bangun" teriak Akhtar,, dia terus mengguncang tubuh Shanum semakin keras namun Shanum tak kunjung merespon.
"Dokter, dokter....." Akhtar berteriak memanggil dokter yang baru saja pamit kembali ke ruangannya saat Akhtar bilang akan menyuapi Shanum.
Perawat yang baru saja beberapa langkah keluar dari ruangan Shanum pun tak kalah panik mendengar suara Akhtar yang memanggil-manggil dokter dengan berteriak. Dia segera kembali ke dalam untuk memeriksa keadaan sebenarnya,
"Suster, panggilkan dokter. Panggilkan dokter cepat!" titah Akhtar tak terbantahkan,
"Baik Pak, saya akan panggil dokter" jawab perawat itu dengan sigap mengambil seribu langkah berlari ke luar menuju ruang dokter,
Selang beberapa menit, dua dokter spesialis kandungan yang menangani Shanum sejak semalam pun kembali memasuki ruangan diikuti oleh para perawat yang siap membantu.
"Pak Akhtar silahkan tunggu di luar, dokter akan memeriksa keadaan Bu Shanum" seorang perawat yang datang bersama dokter pun meminta Akhtar untuk keluar dari ruangan namun Akhtar bergeming di tempatnya setelah sebelumnya melepaskan Shanum dari pelukannya.
Melihat Akhtar yang tak merespon salah satu dokter pun menghampirinya dan kembali mengatakan pada Akhtar agar keluar dan memberi ruang kepada dokter agar bisa memeriksa Shanum dengan leluasa.
"Sus, tolong bawa Pak Akhtar keluar" ujar dokter setelah melihat Akhtar merespon dengan anggukan namun masih tetap berdiri di tempatnya,
"Baik Dok. Bapak, mari ikut saya" perawat pun meraih tangan Akhtar yang tampak syok dengan keadaan istrinya,
Di luar ruangan, Indri dan Liani yang baru saja datang dari kantin rumah sakit untuk membeli sarapan pun heran melihat keadaan Akhtar. Sementara Ahsan dan Fauzan mereka masih berada di kantin untuk menikmati secangkir kopi pagi.
"Aa, ada apa?" Indri setengah berlari menghampiri Akhtar yang didudukkan oleh seorang perawat di kursi tunggu.
"Pak Akhtar, ada apa dengan Shanum? kenapa dokter kembali melakukan tindakan? bukankah tadi Shanum sudah sadar?" Akhtar tersentak mendengar nama istrinya disebut, dia mendongak menatap Liani dan Indri bergantian yang sudah berdiri tepat di hadapannya,
__ADS_1
"Aa minum dulu" Indri menyodorkan botol air mineral yang dibelinya dari kantin untuk Akhtar.
Setelah membuka kemasan dan meminum air yang hampir habis setengahnya, Akhtar pun tersadar dan mulai bisa mengendalikan dirinya,
"Astaghfirullahal'adzim" ucap Akhtar mengusap wajah dengan kedua tangannya,
"Ada apa, Pak?" Liani mengulang pertanyaannya,
"Shanum pingsan" jawab Akhtar lesu, dia menghindari tatapan kedua wanita di hadapannya dengan menundukkan kepala karena tak kuasa menahan tangis,
"Innalillahi..." Liani dan Indri kaget mendengar ucapan Akhtar,
"Tapi bukankah tadi dia sudah sadar?" seru Liani,
"Iya, tadi dia sadar dan kami..." Akhtar menghentikan ceritanya saat terdengar pintu ruang Shanum terbuka,
"Keluarga Ibu Shanum?" seorang perawat memanggil keluarga Shanum, sigap Akhtar berdiri dan berjalan mendekati perawat yang memanggilnya.
"Bagaimana istri saya, Sus?" tanya Akhtar khawatir,
"Maaf Pak, ada yang mau disampaikan oleh dokter" Dokter wanita yang sejak semalam menangani Shanum pun keluar dengan wajah datar,
"Dokter, bagaimana istri saya?" tanya Akhtar beralih pada dokter wanita itu,
"Ada apa? kenapa dengan teteh A?" di saat bersamaan Fauzan dan Ahsan datang setelah ngopi di kantin rumah sakit,
"Maaf Pak Akhtar dan keluarga yang lain, dengan berat hati saya harus sampaikan bahwa saat ini kondisi Bu Shanum dan bayinya tidak baik-baik saja, kami harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya" ucap dokter, menjelaskan kondisi terkini Shanum.
"Lakukan dok, lakukan apapun asal istri dan anak saya selamat" Akhtar menyahut dengan cepat, dia menyerahkan sepenuhnya pada dokter untuk melakukan tindakan yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya.
"Baik Pak kami akan melakukan yang terbaik yang kami mampu, dokter spesialis dari rumah sakit pusat yang akan langsung melakukan operasi pada Bu Shanum. Tapi mohon maaf sebelumnya, ada berkas yang harus Bapak tanda tangani sebagai persetujuan tindakan kami" dokter pun melirik perawat yang ada di sampingnya, memberi perintah dengan sorot matanya agar menyerahkan map pada Akhtar.
Perawat yang tadi memanggil keluarga Shanum pun menyodorkan sebuah map yang berisi berkas yang harus Akhtar tanda tangani.
Akhtar langsung menerima dan membuka map itu, tanpa menunggu dia pun mengambil ballpoint dari tangan perawat itu dengan mata yang masih membaca setiap kata yang tertulis di surat pernyataan itu.
Tangan Akhtar sudah bergerak untuk menandatangani berkas itu, namun seketika terhenti saat dia membaca kalimat yang membuat dirinya kaget.
Di surat pernyataan itu tertulis kalimat yang mengharuskan dirinya memilih, ibu atau anaknya yang akan diprioritaskan untuk diselamatkan..
Duuuaaaaarrrrr.......serasa tersambar petir di siang bolong, Akhtar merasa tubuhnya bergetar tidak mampu menerima kenyataan yang tengah di hadapinya.
Dia menutup map yang berisi berkas yang akan ditanda tanganinya dengan kasar dan setengah membantingnya ke hadapan wajah perawat yang tadi memberikan map itu padanya.
"Apa-apaan ini?" teriaknya marah, membuat semua orang kaget dengan reaksi Akhtar yang semula tenang,
__ADS_1
"Maaf Pak, saya...." ucapan perawat itu terhenti saat sang dokter angkat bicara,
"Maaf Pak Akhtar itu adalah prosedur yang harus kami tempuh saat ini, dengan keadaan Bu Shanum dan bayinya yang semakin melemah kami harus menentukan pilihan, siapa yang akan diprioritaskan untuk di selamatkan, Ibunya atau bayinya" jelas dokter yang membuat semua orang membulatkan mata.