Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Malam Pertama


__ADS_3

Senja menyapa, deretan jingga sudah menghiasi langit Bandung kala itu. Di rooptop sebuah gedung yang menjulang tinggi seseorang tengah menikmati kesendiriannya.


Hembusan angin perlahan membuat dia semakin terlelap dalam lamunan, sepertinya dia tidak menyadari jika langit telah berlukiskan warna jingga.


"Kata orang, terkadang rasa sakit akan membuat kita lebih kuat. Rasa takut akan membuat kita lebih berani. Dan patah hati membuat kita lebih cerdas berfikir."


"Tapi bolehkan kali ini aku gunakan kecerdasan berfikir itu untuk tetap optimis, tidak berhenti membumikan ikhtiyar dan melangitkan do'a untuk harapan yang kini seakan telah pupus? bukankah sangat mudah untuk Allah mengubah sesuatu yang menyakitkan menjadi momen yang sangat indah? because nothing is impossible when Allah said Kun Fayakun. Maafkan atas keegoisanku Shanum, sungguh aku tak kuasa menghentikan rasa ini. Izinkan aku terus menyayangimu"


Akhtar berbicara pada dirinya sendiri. Rasa cinta yang begitu besar untuk Shanum kembali harus dia redam sekuat hatinya.


"Sekali lagi, tak ada seorang pun yang baik-baik saja setelah kehilangan. Kalau pun ada, dia hanya terlalu hebat dalam menyembunyikan rasa", gumamnya.


Sementara di Bogor...


Shanum yang menyadari jika kamarnya masih gelap padahal hari sudah petang segera beranjak dari atas sejadah. Dia menghapus jejak-jejak air mata yang tadi sempat mengalir deras di pipinya. Dia lipat kembali surat yang masih betah di genggamannya dan disimpan di tempat aman bersama semua kenangan tentang Akhtar.


Shanum tidak ingin semuanya itu masih menjadi bagian dari hidupnya. Saat ini Shanum bertekad untuk mendedikasikan hidupnya untuk seseorang yang telah dia pilih menjadi masa depannya. Imam yang akan menuntunnya menuju surga.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan mengalihkan perhatian Shanum dari sebuah kotak tempat tersimpannya semua kenangan tentang Akhtar. Dia pun menyimpannya di lemari paling bawah agar tidak mudah terjangkau. Shanum berniat meminta Fauzan untuk mengamankan barang-barang itu, berharap segera memasuki ruang penglupaan dan tidak pernah kembali.


Shanum segera membuka pintu, dan di dapatinya sosok laki-laki yang kini telah resmi menjadi suaminya. Kecanggungan pun kini muncul di antara mereka, Shanum berdiri di ambang pintu tanpa mempersilahkan Haqi masuk ke dalam kamarnya. Dia bingung harus berbuat apa, ini adalah pertama kalinya ada laki-laki asing akan masuk ke dalam kamarnya.


"Boleh aku masuk?" tanya Haqi mencairkan suasana.


"Hah?" Shanum malah bengong, terlihat jelas kebingungan di wajahnya.


Haqi yang mendapati ekspresi wajah Shanum seperti itu merasa lucu dengan tingkah istrinya. Dia tersenyum ramah dan kembali mengulangi pertanyaannya dengan penuh kelembutan.


"Boleh aku masuk?" ulangnya.


Di saat bersamaan, Rida kebetulan datang melewati kamar Shanum yang bersebelahan dengan kamarnya. Dia mendengar pertanyaan bodoh menurutnya yang diajukan oleh Haqi namun belum juga terdengar jawaban dari mulut Shanum.

__ADS_1


"Teteh!" sentak Rida memecahkan ketidakfokusan Shanum.


"Itu Bang Haqi mau masuk kamar, masa mau Teteh halangi terus? haha.." Rida mengingatkan Shanum dengan nada ejekan dan diakhiri dengan tawa yang cukup keras karena merasa lucu dengan tingkah kakaknya.


"Oh, iya iya, silahkan Bang" Shanum pun menggeser tubuhnya dan membuka pintu kamarnya lebih lebar memberi jalan kepada Haqi agar bisa masuk.


"Maaf Bang, Teteh aku ini emang sangat pinter tapi kalau urusan yang ginian dia emang bener-bener suka jadi bodoh, haha..." Rida kembali mengejek kakaknya.


Haqi hanya tersenyum menanggapi ocehan Rida.


"Ishh.....kamu ini. Maaf Bang" Shanum mendelik melihat sang adik yang masih menertawakannya. Shanum menghembuskan napasnya kasar setelah kepergian adiknya, Haqi sudah berada di dalam kamarnya. Malam ini akan menjadi malam pertama untuknya berada satu kamar dengan seorang pria asing yang kini telah menjadi mahramnya.


Haqi mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar yang baru saja dia masuki. Sederhana, namun menunjukkan karakter kuat dari si pemilik kamar. Dia tersenyum saat melihat deretan foto yang menghiasi salah satu dinding kamarnya. Haqi pun melangkah mendekati dinding itu, diamatinya foto-foto yang menggambarkan metamorfosa Shanum dari waktu ke waktu, hingga jadilah dia seperti saat sekarang.


Adzan maghrib pun berkumandang, mereka sepakat untuk melaksanakan shalat berjamaah untuk pertama kalinya di kamar.


"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarokatuh" Haqi mengakhiri shalatnya dengan ucapan salam sebagai ucapan penutup dari rangkaian ibadah shalat.


"Yaa Allah mulai saat ini izinkan aku melambaikan tangan pada rasa yang tak lagi layak bersemayam dalam hatiku. Biarkan aku berdamai dengan diriku sendiri, walau pun ini terasa lebih sulit" gumam Shanum dalam hatinya.


"Dek...." Haqi masih terlihat enggan melepas tangan Shanum.


"Ya" Shanum mendongak saat dirinya dipanggil.


"Bagiku kamu adalah aamiin di penghujung do'aku. Sederhana, menjadi yang terakhir dan mampu membuat Allah tersenyum. Terima kasih sudah menjadi bagian dari kesempurnaan agamaku"


Shanum masih membisu dia memberanikan diri menatap lekat laki-laki yang kini ada di hadapannya dan sedang menggenggam erat tangannya.


"Betapa istimewanya seorang perempuan. Saat kecil, dia membuka pintu surga untuk ayahnya. Saat dewasa, dia menyempurnakan agama untuk suaminya. Dan saat menjadi ibu kelak, surga berada di bawah telapak kakinya" ucap Shanum dalam hatinya.


"Aku ingin sakinah bersamamu, Dek. Aku tahu tantangan hidup setelah menikah akan banyak menguras kepayahan fisik dan hati. Akan ada fase tangis, kecewa dan sakit yang harus dijalani, karena begitulah lazimnya cinta di dunia. Tak selalu indah, tapi aku sudah siap. Dan dari segala cobaan itu aku berdo'a agar kelak bisa menggenggam tanganmu di surga dan berkata akhirnya kita berada di sini" lanjut Haqi penuh harap.


"Sungguh, aku ingin membangun cinta bersamamu. Melewati setiap suka dan duka, tangis dan tawa. Hingga kita menua dan renta. Bantu aku untuk menjadi imam terbaik untukmu, yang menghiburmu ketika kau sedih. Yang bisa berbagi kebahagiaan ketika kau senang. Dan bisa bersama-sama berbagi momen terindah dalam hidup kita"

__ADS_1


Kata-kata yang dilontarkan Haqi membuat Shanum terharu. Dia tahu laki-laki yang kini sedang menggenggam erat tangannya adalah imamnya. Dia sudah menentukan pilihannya kepada laki-laki yang ada di hadapannya itu. Ketaatannya dan baktinya harus berpindah dari kedua orang tuanya kepada lelaki ini. Lelaki yang akan menjadi sumber surganya atau nerakanya.


Shanum masih menatap lekat wajah lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya. Kecanggungan masih terlihat jelas dari sikapnya.


Haqi tersenyum melihat tingkah Shanum yang tampak salah tingkah ketika genggaman tangannya tak kunjung lepas.


"Ini sudah halal untuk Abang genggam kan, Dek?" Haqi mengangkat tangan Shanum yang masih dalam genggamannya.


Shanum hanya mengangguk kaku mendengar pertanyaan Haqi.


"Dek, menikah itu adalah tentang komitmen dan tanggung jawab bersama terhadap seseorang yang kamu pilih. Ketika kita memutuskan untuk menikah, maka kita harus siap bekerja sama menjalani segala tantangan berat dalam kehidupan baru kita"


"Mulai saat ini mari kita melangkah bersama, Dek. Jika ada sikap Abang yang membuatmu tidak nyaman, maka bicaralah dan katakan bagian mana yang harus Abang perbaiki"


Shanum kembali mengangguk, pandangannya masih tertuju pada laki-laki yang sejak tadi sudah berbicara panjang kali lebar kepadanya.


Jantung Shanum tiba-tiba berdegup lebih cepat tatkala Haqi semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Shanum. Dia semakin tegang dengan apa yang dilakukan suaminya itu. Bingung harus merespon seperti apa.


Haqi kemudian berbisik tepat di telinga kanan Shanum.


"Bisakah kita berdamai dengan masa lalu masing-masing? kamu dengan masa laluku dan aku dengan masa lalumu. Kita mungkin tidak bisa saling menjadi cinta pertama, tapi kita selalu bisa saling menjadi cinta terakhir. Mari kita sama-sama berbenah"


Tubuh Shanum seakan membeku, ini adalah pengalaman pertamanya berinteraksi dengan lawan jenis dengan posisi yang cukup intim menurutnya. Selama ini Shanum sangat menjaga diri dari pergaulan dengan lawan jenis. Posisinya saat ini sangat membuatnya gugup dan salah tingkah.


Haqi tak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya. Dia semakin mendekatkan tubuhnya dengan Shanum saat membisikkan kata-kata itu. Dia menyadari tubuh Shanum yang menegang saat dirinya mendekat, dia pun perlahan kembali menjauhkan tubuhnya. Terlukis senyum di bibirnya melihat Shanum tanpa jeda dengan wajah semakin merona membuat Haqi semakin gemas dibuatnya.


Shanum semakin menundukkan wajahnya, dia tak kuasa jika harus terus beradu tatap dengan suaminya. Kesempatan ini digunakan oleh Haqi untuk semakin menggoda Shanum.


Dia kembali mendekatkan dirinya dengan Shanum, tangannya terulur meraih dagu Shanum agar kembali menatapnya. Shanum terpaksa mendongak pandangan mereka bertemu, Haqi semakin mendekatkan wajahnya dengan wajahnya Shanum dan......


Tok...tok...tok...


"Teh, teteh....ditunggu oleh semuanya buat makan malam" suara Rida membuyarkan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2