
"Sayang, aku sudah mau take off. Sampai jumpa beberapa jam lagi ya... bersiaplah menerima semua kerinduanku tiga hari ini!" adalah pesan terakhir yang dikirim Akhtar menjelang kepulangannya dari bandara Kuala Lumpur Malaysia, dua jam yang lalu.
"Fii amanillah" balas Shanum dibubuhi emoticon love.
Senyum bahagia terbit di bibir Shanum, terlihat dia begitu bersemangat siang ini. Tak lupa menyisipkan do'a semoga perjalanan sang suami dimudahkan.
"Bu, sedang masak apa?" Shanum menghampiri Bu Hana yang sedang sibuk di area kekuasaannya, dapur.
"Ada pesanan nasi kotak untuk ba'da maghrib, menunya pepes ayam jadi ibu mulai bikin pepes dari sekarang takut gak keburu" jawab Bu Hana, sekilas dia melirik Shanum yang sudah duduk nyaman di sofa dengan perut besarnya.
"Alhamdulillah ya Bu, warung ibu makin banyak pelanggan, aku seneng lihatnya tapi sedih juga ibu makin sibuk takut ibu terlalu capek" Shanum menatap ibunya dengan penuh kasih sayang, satu sisi dia bahagia warung nasi ibu yang dirintisnya kini berkembang semakin pesat, sudah banyak yang menjadi pelanggan tetap warung nasi itu, bahkan ada perusahaan yang sudah bekerja sama dengan warung ibu untuk pengadaan makan siang semua karyawannya. Tapi di sisi lain Shanum pun merasa sedih karena melihat sang ibu semakin terlihat sibuk, dia takut sang ibu kelelahan. Rasa bersalah pun menyergap hatinya.
Bu Hana menghentikan sejenak aktifitasnya yang sedang memasukan bungkusan pepes ayam ke dalam kukusan, dia menoleh ke arah Shanum, kemudian kembali beralih segera menyelesaikan semua pekerjaannya. Melapisi tutup panci kukusan dengan lap bersih dan menutup kukusan yang sudah penuh dengan bungkusan pepes ayam itu.
Bu Hana beranjak mendekati Shanum yang duduk bersandar di single sofa yang sengaja di simpan di dapur sekedar untuk melepas lelah.
"Teteh ibu tidak capek, teteh jangan khawatir Alhamdulillah ibu masih sehat dan do'akan ibu terus ya semoga Allah memberi ibu kesehatan dan keberkahan" Bu Hana berdiri di samping Shanum, dia merangkul bahu anak sulungnya dengan penuh kasih.
"Lagian ibu juga hanya memasak menu andalan warung nasi kita saja, yang lainnya sudah ibu percayakan sama ceu imas. Alhamdulillah dia bisa belajar cepat ibu hanya mengarahkan dan mencicipi hasil masakannya" lanjut Bu Hana, mengurai kekhawatiran Shanum.
"Alhamdulillah, semoga ibu sehat selalu dan panjang umur, Allah berkahi setiap saat. Jangan memaksakan jika lelah" do'a Shanum tulus, dia pun menggenggam erat tangan sang ibu sang masih berada di bahunya, menurunkannya dan balik memeluk sang Ibu begitu eratnya.
Ting....notifikasi pesan masuk menghentikan keharuan antara dua wanita beda generasi itu. Shanum pun mengurai pelukannya, dia merogoh saku cardigannya dan melihat notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar di kontaknya.
"Shanum aku lagi di Garut, sekarang lagi di Masjid Agung. Kamu bisa ke sini gak? nanti teman aku yang jemput" Liani
Sebuah pesan masuk atas nama Liani pun diterima Shanum, dia mengernyitkan keningnya dengan nomor baru sahabatnya itu. Dia pun heran kenapa Liani berada di Masjid Agung, biasanya kalau ke Garut Liani akan langsung datang ke rumahnya atau rumah sang ibu.
"Kamu ngapain di masjid Agung? kenapa enggak langsung datang ke rumah? aku masih di rumah ibu" Shanum pun membalas pesan itu karena penasaran.
"Aku lagi mau jalan-jalan dulu keliling kota Garut, kamu ke sini ya temani aku. Nanti kita pulangnya bareng" balas Liani meyakinkan.
"Baiklah, siapa yang akan jemput aku?" balas Shanum lagi,
"Ada temen aku bawa mobil, sekarang dia sedang menuju ke sana. Kamu bersiap ya, tunggu di depan biar gak lama" pesan terakhir yang dikirim Liani.
"Baiklah" balas Shanum singkat.
Dia pun segera beranjak dari tempat duduknya, memberi tahu sang ibu perihal pesan yang diterimanya dari Liani. Bu Hana pun percaya dan meminta agar anaknya berhati-hati, tidak lupa mengingatkan agar jangan terlalu lama pergi karena khawatir Shanum kelelahan, apalagi Akhtar akan pulang hari ini.
Akhtar dan Ghifar akan di jemput dari bandara Soekarno Hatta Jakarta oleh Adam adik iparnya, sekalian mereka sekeluarga akan berlibur di Garut beberapa hari karena Adam sedang mendapat jatah cuti tahunan dari perusahaan tempatnya bekerja.
Shanum pun sudah siap dengan outfit khas ibu hamil, pakaiannya yang longgar dan hijabnya yang lebar membuat Shanum tidak terlalu terlihat jika dirinya sedang hamil besar, sederhana namun tetap modis dan tampak elegan.
Shanum menunggu teman Liani yang akan menjemputnya, dia pun menunggu di depan warung nasi ibu duduk di kursi santai yang ada di bagian luar warung nasi itu. Tidak lupa dia mengirim pesan pada sang suami, walaupun gawainya belum aktif tapi dia tetap harus memberi tahu sang suami jika dirinya akan menemui Liani.
"Aa, pasti masih di pesawat ya? aku menemui Liani sebentar ya di alun-alun Garut, katanya dia pingin dijemput dan jalan-jalan sebentar di kota nanti kita bareng pulang ke rumah ibu. Aa sampai aku insya Allah sudah di rumah lagi Miss U Aa, cepat pulang ya!"
Tiin... tiba-tiba suara klakson yang berasal dari mobil sedan civic putih yang berhenti tepat depan warung nasi ibu mengalihkan perhatian Shanum, tampak seorang perempuan dengan pashmina yang hanya menutupi sebagian kepalanya keluar dari mobil itu.
"Mbak Shanum?" tanyanya pada Shanum
"Iya, saya"
__ADS_1
"Saya temannya Liani, disuruh untuk menjemput Mbak. Mbak Liani sudah menunggu di alun-alun Garut" dia pun mengulurkan tangannya bersalaman,
"Siska" ucapnya memperkenalkan diri, yang disambut dengan senyum ramah Shanum menerima uluran tangan wanita yang mengaku siska itu. Dia pun pamit pada ibu dan Indri yang saat itu berada di bagian depan warung dan melihat interaksinya dengan Siska. Mobil sedan civic berwarna putih pun melaju perlahan meninggalkan area parkir warung nasi ibu.
Suasana hening beberapa saat, tidak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka berdua, hingga akhirnya Shanum pun mulai membuka suara.
"Mbak Siska kenal dengan Liani dimana?" tanya Shanum hati-hati, pasalnya sejak memasuki mobil raut wajah wanita itu datar sekali.
"Di Bandung" jawabnya singkat,
"Ouh, kalian sama-sama datang dari Bandung. Kapan datang? kenapa enggak langsung datang ke rumah, Liani biasanya langsung ke rumah kalau ke Garut" Shanum masih berbicara santai, menatap lurus arah jalanan yang dilaluinya.
"Tadi pagi" jawabnya lagi tetap singkat.
Shanum pun diam, bingung mau berkata apa lagi orang yang diajaknya bicara pun sepertinya enggan mengobrol dengannya. Suasana di dalam mobil pun kembali hening.
Setelah dua puluh menit perjalanan Shanum mengernyitkan dahinya, pasalnya jalan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju alun-alun Garut.
"Lho kita mau kemana? ini kan bukan jalan ke alun-alun?" tanya Shanum mulai panik.
"Tenanglah Mbak, saya akan membawa Mbak ke tempat tujuan sebenarnya. Diamlah dan bekerja samalah agar semuanya berjalan lancar" jawab orang itu dingin, membuat Shanum benar-benar panik dan semakin curiga jika ada sesuatu yang tidak beres yang tengah terjadi saat ini, namun dia berusaha tenang.
Shanum menarik nafas panjang, berusaha menenangkan diri. Dia ingat jika saat ini harus lebih mementingkan dua kehidupan yang ada di rahimnya. Jangan sampai karena tak mampu mengelola emosi terjadi sesuatu pada calon anak-anaknya.
"Sebenarnya kamu siapa? jika melihat gelagatmu saat ini aku rasa kamu bukan temannya Liani" tanya Shanum pelan, dia berusaha tidak memancing emosi wanita yang ada di hadapannya tak ingin orang itu berbuat sesuatu yang akan membahayakan dirinya dan anak dalam kandungannya.
"Baguslah kalau kamu sudah sadar, sekarang sebaiknya kamu diam. Sebentar lagi kamu akan mengetahui semuanya" jawabnya masih dengan sikap dingin dan penuh intimidasi.
Mobil yang ditumpangi Shanum pun menepi, wanita yang mengendarai mobil itu pun berbicara entah pada siapa.
Shanum semakin ketakutan, dia khawatir orang-orang itu menyakiti anak yang ada dalam kandungannya, Shanum melindungi perutnya dengan kedua tangannya, takut jika tiba-tiba salah satu dari mereka berbuat hal yang tidak terduga. Benar saja, wanita yang membuka pintu pun meraih tangan sanum dan mengikatnya sangat kencang hingga Shanum tak mampu berontak, sementara satu orang yang berada di jok belakang pun tidak tinggal diam dia menutup mata Shanum dengan kain yang cukup tebal hingga hanya kegelapanlah yang bisa Shanum lihat, dia berusaha memberontak namun sia-sia.
"Diamlah, ikuti mau kami. Jangan sampai kami menyakiti kamu dan anak dalam kandunganmu itu" hardik wanita yang mengemudikan mobil itu membuat Shanum menghentikan aksinya dan diam untuk melindungi diri dan anaknya.
*
*
Sementara di bandara Soekarno Hatta, Akhtar dan Ghifar sudah landing beberapa menit yang lalu. Mereka mengerek koper masing-masing ke tempat menunggu jemputan. Hal yang pertama Akhtar lakukan adalah menghidupkan gawainya, pesan pertama yang dilihatnya dari sekian deretan pesan masuk adalah pesan yang dikirim sang istri. Akhtar tersenyum, dia pun membalas pesan Shanum dengan cepat.
"Aku sudah landing sayang, ini lagi menunggu Adam menjemput. Take care Sayang, cepat pulang dan tunggu aku" balasnya dengan emot love yang lebih banyak dari kiriman Shanum.
Tidak menunggu lama, Adam dan Rida tampak melambaikan tangan ke arah Akhtar dan Ghifar, mereka pun saling menyapa dan bersalaman. Segera masuk mobil yang sudah terdapat dua bocah di jok belakang, anak dari Rida dan Adam.
Tidak lupa Akhtar menyapa dan beradu tos dengan keponakannya itu yang tetap memilih duduk di jok belakang setelah Akhtar menawari untuk digendong olehnya.
Perjalanan Jakarta Garut di lalui dengan lancar, arus lalu lintas tidak terlalu ramai hingga jam tujuh malam mereka sudah sampai di Garut. Warung nasi sudah tutup, tapi keadaan rumah tampak ramai. Akhtar dan semua orang segera turun dari mobil Adam dan masuk ke pintu pagar halaman rumah Pak Imran. Beberapa orang tampak tegang melihat kedatangan Akhtar.
"Assalamu'alaikum" sapa Akhtar saat melihat semua orang tengah berkumpul, tampak Bu Hana sedang dikerumuni beberapa kerabat karena tengah menangis.
"Wa'alaikumsalam" semua orang pun menjawab serempak dengan tatapan tegang menatap ke arah Akhtar yang berjalan memasuki rumah diikuti Rida, Ghifar dan Adam yang menuntun kedua anaknya.
"Ibu, ibu kenapa?" Rida tak kalah panik melihat sang ibu yang tengah menangis begitupun beberapa kerabat yang juga terlihat turut menangis.
__ADS_1
"Rida ...." Bu Hana langsung berhambur memeluk putri keduanya dengan tangis yang semakin menjadi, dia masih belum bisa berkata-kata.
Akhtar tampak mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan seseorang yang sangat dirindukannya. Biasanya Shanum sudah berdiri di teras depan menyambut kedatangannya setiap kali dia pergi sendiri, tapi tidak untuk kali ini padahal sejak dalam mobil dia sudah mengirimi istrinya itu pesan mengabarkan jika dirinya sudah akan sampai.
"Shanum dimana Bu?" ...deg, pertanyaan Akhtar membuat Bu Hana sontak menghentikan tangisnya, dia pun melepas pelukannya dari Rida. Beralih menatap Akhtar yang tampak menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Maafkan Ibu Nak, tadi teteh pamit untuk menemui Liani ke alun-alun Garut, tapi sampai sekarang belum pulang. Gawainya juga tidak aktif, dari tadi dihubungi tidak tersambung juga. Sekarang, Bapa, Mang Ujang dan Fauzan sedang mencari teteh ke kota" Bu Fatimah menjelaskan keadaan yang sebenarnya dengan isak tangis, membuat semua orang semakin iba.
Akhtar melongo, kepanikan langsung menyergap wajahnya. Khawatir terjadi sesuatu pada istri dan calon anak mereka. Dia pun segera mengambil gawai di saku celananya, dilihatnya semua pesan yang dia kirim sejak dari bandara masih ceklis satu menandakan jika gawai sang istri memang tidak aktif. Akhtar semakin khawatir, dia meminta kunci mobilnya untuk mencari Shanum sendiri.
"Saya akan mencari Shanum ke alun-alun Bu, dimana kunci mobil saya" ucap Akhtar dengan nada tegas, dia tidak bisa berdiam diri dan duduk menunggu.
"Tapi kamu pasti capek, kita coba tunggu dulu kabar dari Bapak dan Fauzan" usul Ghifar mencoba berpikir tenang.
"Tidak bisa, aku bisa gila kalau hanya diam saja" jawab Akhtar semakin emosi, membuat beberapa orang semakin panik dan tegang melihatnya. Semua yang berada di rumah itu hanya bisa berdo'a semoga Shanum baik-baik saja dan bisa segera pulang.
"Tapi mobil kamu dipakai Fauzan sama Bapak Nak, mang Ujang membawa mobil teteh. Mereka akan berpencar mencari keberadaan teteh. Nak Ghifar benar, kita tunggu sebentar lagi kabar dari mereka ya" Ibu yang sedari tadi menangis pun akhirnya mencoba menguasai dirinya, melihat Akhtar yang sangat panik dan khawatir membuatnya berusaha untuk tenang dan ingin memberikan kekuatan pada menantunya itu.
Kring.......suara dering telepon Indri membuat perhatian semua orang beralih menatap ke arah Indri, dia pun segera mengangkat panggilan yang ternyata dari Fauzan.
"Assalamu'alaikum A, gimana teh Zahra sudah ketemu?" tanya Indri panik,
"Wa'alaikumsalam, belum In. Aku mau tanya lagi tadi kamu melihat teteh dijemput pakai mobil apa?" tanya Fauzan di ujung telepon yang terdengar oleh semua orang karena Indri meloudspeakan teleponnya.
"Tadi aku lihat seorang perempuan menjemput teteh menggunakan mobil sedan civic berwarna putih, perempuan itu berkerudung tapi pake pashmina yang hanya menutupi sebagian kepalanya. Katanya itu teman Teh Liani" jawab Indri memberikan informasi sesuai dengan apa yang dilihatnya tadi siang.
Akhtar segera mengambil gawai Indri,
"Fauzan, sekarang kamu dimana?" tanya Akhtar penuh penekanan
"Aa? Aa sudah pulang?" Fauzan kaget dan malah balik bertanya.
"Iya aku sudah pulang, sekarang kamu dimana aku akan menyusul"
"Aku di alun-alun A, setelah dari tadi aku memasuki semua toko dan tempat makan di pengkolan aku stay lagi di alun-alun A" jawab Fauzan apa adanya
"Nak Akhtar, ini Bapak. Kamu tenang ya, kita semua sedang berikhtiyar dan tetap berdo'a semoga teteh baik-baik saja dan segera pulang" Pak Imran berusaha menenangkan menantunya padahal dia sendiri sangat panik dan khawatir.
"Iya Pak, saya akan menyusul kalian" jawab Akhtar datar, dia pun kembali menyerahkan gawai Indri.
"Ghifar, hubungi Liani" titah Akhtar cepat,
"Sorry gue gak punya nomornya" jawab Ghifar nyengir..
"Cihh" Akhtar berdecih, diapun kembali menelepon seseorang.
"Ahsan, kirim nomor Liani sekarang" tanpa salam, Akhtar langsung to the point dengan intonasi meninggi membuat si penerima telepon pun kaget. Rupanya Akhtar menelepon Ahsan,
"Cepat!" entah apa yang dikatakan Ahsan, Akhtar sepertinya enggan menjawab dan kembali berteriak di ujung teleponnya.
Ting...tidak lama pesan masuk dari Ahsan pun diterimanya, segera dia menelepon nomor yang dikirim Ahsan tanpa mau membalas pesan sepupunya yang bertanya ada apa.
"Wa'alaikumsalam, Liani kamu bersama Shanum?" Akhtar langsung menanyakan perihal istrinya setelah panggilannya tersambung.
__ADS_1
"Tidak Pak, saya masih di Bandung. Rencananya mau ke Garut setelah ada kabar kepastian Shanum melahirkan" seketika tubuh Akhtar lemas mendengar jawaban Liani, dia bahkan menjatuhkan gawainya yang masih terhubung panggilan dengan Liani. Peristiwa penculikan Shanum di masa lalu pun kembali membayanginya, membayangkan Shanum yang tengah hamil besar membuatnya semakin frustasi.
"Sayang, kamu dimana?" ucapnya lirih dengan air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya, dia menunduk dan menjatuhkan tubuh bertumpukan lututnya.