Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Baihaqi Abdillah


__ADS_3

Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu menyadarkan Shanum dari lamunannya. Dia menghapus air mata yang tanpa disadari sudah membasahi pipinya. Shanum bergegas keluar dari kamarnya menuju pintu depan rumahnya.


"Assalamu'alaikum" ucapan salam mengawali pertemuan mereka ketika pintu terbuka.


"Teteh...." Rida memanggil Shanum dengan suara lirih. Dia langsung memeluk Shanum saat mendapati Kakaknya yang membuka pintu dengan mata sembab yang terlihat jelas.


"Wa'alaikumsalam, eh..eh..eh..ada apa?' tanya Shanum panik saat mendapati sang adik langsung memeluknya erat diiringi isakan tangis.


Ditanya sepertu itu Rida semakin mengeratkan pelukannya. Di belakang tampak menyusul Adam suami Rida yang menutup bagasi mobil dan membawa barang-barang bawaannya.


"Ada apa?" tanya Shanum tanpa suara ke arah Adam dan dijawab Adam hanya dengan mengangkat bahunya.


"Sudah, sudah...yuk kita masuk, nanti ada tetangga lewat dikiranya ada apa gitu" Shanum mengusap punggung adiknya dan mengurai pelukannya.


Rida pun menurut dia memasuki rumah dan terus bergelayut manja di lengan kanan Shanum.


"Duduklah dulu, Teteh ambilkan minum biar kamu tenang. Kasihan anakmu, ingat sekarang kamu tidak sendirian ada nyawa yang harus dijaga ekstra dalam kandunganmu" Shanum menasehati adiknya panjang lebar, tapi yang dinasehati malah semakin mengeratkan pelukan di lengannya.


Adam pun mengalah, dia beranjak dari tempat duduknya menuju dapur mengambil minum untuk sang istri dan dirinya yang juga merasa haus.


"Ada apa, Dek?" Shanum menolehkan wajahnya ke samping kanan tepat dimana adiknya berada.


"Rida sayang Teteh" ucap Rida mengabaikan pertanyaan Shanum sebelumnya.


"Teteh tahu, teteh juga sayang kamu" balas Shanum dengan senyum mengembang di bibirnya. Semenjak hamil adiknya itu memang menjadi sangat manja padanya entah kenapa, bawaan janin mungkin.


"Teteh, mau ya nikah sekarang?" Rida tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang cukup sensitif untuk Shanum saat ini. Shanum menghela napas sebelum menjawab pertanyaan adiknya Rida. Adam sudah kembali dari dapur dengan membawa tiga gelas dan satu poci berisi air putih.


"Kenapa?" tanya Shanum lirih.


Rida merogoh tas selempang yang masih menggantung di bahunya. Dia mengambil gawai dan membuka aplikasi di gawainya kemudian memperlihatkannya pada Shanum.


Shanum menghela napas, dia tak bisa mengelak lagi rupanya sang adik pun sudah mengetahui tentang berita yang sedang hangat-hangatnya beredar. Berita tentang dirinya yang menjadi selingkuhan Akhtar.


"Teteh minta tolong jangan sampai Ibu dan Bapak tahu hal ini" ucap Shanum lirih, dia menundukkan kepalanya saat mengatakan itu. Sejujurnya dia pun syok dengan kabar itu. Tetapi Shanum tidak mau memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan adik-adiknya.


Suasana menjadi hening, tidak ada satupun yang berani bersuara setelah Shanum mengatakan itu. Rida tahu jika kakaknya pun sangat tidak nyaman dengan pemberitaan itu, tapi kakaknya tetap menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang tegar.


"Assalamu'alaikum, Teteh...." teriak seseorang yang tak lain adalah Fauzan adik bungsu Shanum mengagetkan tiga orang yang sedang duduk bersama di ruang tamu namun asik dengan pikiran mereka masing-masing.


"Wa'alaikumsalam" ketiganya pun kompak menjawab.

__ADS_1


"Teteh, teteh enggak apa-apa kan?, teteh baik-baik saja kan?" Fauzan memperlihatkan gawainya kepada Shanum, terpampang jelas di layar gawai adiknya itu berita yang sama yang dia baca sebelumnya.


Shanum kembali menarik napas dalam, dia benar-benar harus bertindak sebelum berita ini semakin merajalela tersebar di dunia nyata. Namun dia pun bingung apa yang harus dia lakukan untuk membuktikan ketidakbenaran berita itu.


"Assalamu'alaikum" ucapan salam seseorang kembali mengalihkan fokus mereka yang sedang berada di ruang tamu. Pintu yang masih terbuka membuat semua bisa langsung mengetahui siapa yang datang.


"Wa'alaikumsalam" semua orang pun serempak menjawab ucapan salam itu.


"Liani, sudah datang?" tanya Shanum basa-basi.


Mereka pun berpelukan karena sudah lama tidak bertatap muka. Pelukan Liani semakin erat tatkala dia mengingat bahwa kedatangannya karena berita tentang Shanum yang sedang viral saat ini. Bahkan seantero yayasan sudah mengetahui mengenai berita itu.


Sebagian orang tidak memercayai berita itu karena mereka tahu betul seperti apa Shanum. Namun, ada juga yang memilih percaya karena bisa saja hal itu terjadi mengingat Shanum mengundurkan diri secara mendadak dengan alasan yang tidak diketahui oleh semua orang.


"Duduklah" Shanum mengajak Liani untuk duduk, dia meminta Fauzan untuk mengambilkan minum dan beberapa cemilan yang sudah tersedia di dapur.


"Shanum, aku...." ucapan Liani terjeda karena Shanum menganggukan kepalanya memberi kode bahwa dia sudah mengetahui tentang berita yang mereka bicarakan di telepon sebelumnya.


"Aku sudah mengetahuinya, Li. Bahkan kedatangan mereka juga untuk memberiku support" Shanum menunjuk dua adik dan iparnya dengan dagu.


"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Liani. Shanum masih diam tidak menjawab.


"Aku sudah menelepon Kak Akhtar meminta dia untuk membersihkan kembali nama Teteh" kali ini Fauzan yang menjawab. Semua mata pun tertuju padanya.


"Iya, Teh" jawab Fauzan singkat.


"Kapan?" susul Liani.


"Tadi sebelum aku ke sini aku menelepon Kak Akhtar untuk mengklarifikasi berita itu. Kak Akhtar bilang dia tidak tahu apa-apa dan berjanji akan mengusutnya sampai tuntas. Dia minta agar teteh tenang dan jangan banyak pikiran katanya. Kak Akhtar harap sih teteh jangan sampai tahu tentang berita ini sebelum dia membereskan semuanya, tapi ternyata teteh udah tahu duluan" jelas Fauzan membuat semua orang melongo.


"Dek?" Shanum memanggil adiknya dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Fauzan yang ditatap jadi serba salah dia baru menyadari kalau dia keceplosan. Selama ini dia memang sering berkomunikasi dengan Akhtar.


Berawal dari dia menanyakan kebenaran nomor telepon yang dia dapat dari kartu nama atas nama Akhtar. Sejak saat itu mereka pun jadi sering berkirim pesan. Awal-awal Akhtar yang mengiriminya pesan menanyakan perihal Shanum tetapi kemudian beberapa hari ini sudah seperti kebiasaan untuk Fauzan melaporkan semua kegiatan yang Shanum lakukan setiap harinya.


Akhtar berpesan agar Shanum jangan sampai tahu tentang hubungan mereka yang semakin dekat. Pertemuan terakhir mereka di perkebunan teh, Shanum meminta agar dirinya jangan datang lagi mengingat status Akhtar yang sudah bertunangan sangat tidak baik jika terlihat masih menemui gadis lain apalagi dirinya yang dulu pernah memiliki hubungan lebih dari sekedar teman.


"Aku...aku hanya menanyakan kebenaran berita itu" Fauzan berusaha memberi alasan yang bisa diterima oleh semua orang. Namun tampaknya Shanum belum puas dengan alasan yang diberikannya. Dia masih menatap tajam ke arah Fauzan yang jadi salah tingkah.


"Teteh ... Adek dapet nomor Kak Akhtar dari kartu nama yang pernah dia berikan dulu waktu ke sini sama temennya yang satu lagi, siapa teh?...eumhhh...siapa sih lupa lagi namanya, yang waktu nikahan Teh Rida datang geuning" Jelas Fauzan berharap kali ini kakak sulungnya itu berhenti memberinya tatapan tajam dan percaya dengan penjelasannya.


Benar saja, tatapan Shanum mulai melunak. Dia percaya jika Akhtar yang memberi asiknya kartu nama karena waktu itu dia ingat pernah melihat mereka berdua mengobrol cukup akrab sebelum Akhtar dan Ahsan akhirnya kembali ke Bandung.


"Num, sepertinya Raina tidak akan berhenti sebelum Akhtar benar-benar lepas dari bayang-bayang kamu" ucap Liani kembali ke topik pembicaraan semula.

__ADS_1


"Iya Teh, sepertinya sekarang teteh harus benar-benar mengambil keputusan final. Jika hanya menghindar dengan menjauh dari Kak Akhtar seperti yang teteh lakukan selama ini aku rasa Kak Akhtar akan masih dengan mudah menemukan dan menemui teteh dan itu artinya tunangannya pun tidak akan berhenti mengusik ketenangan hidup teteh" timpal Rida.


"Jadi, maksudnya apa dengan keputusan final?" tanya Fauzan penasaran.


"Ada baiknya jika Teh Shanum segera menikah" kali ini Adam yang membantu menjawab.


Semua mata tertuju pada Shanum. Mereka semua penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Shanum. Rida menjadi orang yang paling deg degan karena dia yang pertama kali memberi solusi itu ditambah barusan suaminya yang menjawab pertanyaan adiknya Fauzan.


Shanum masih memilih diam, dia terlihat sedang berpikir.


"Sebenarnya aku tidak ingin memaksa diri menikah cepat hanya karena omongan orang lain atau takut umur sudah menua. Usaha pasti tapi jika Allah belum mengiyakan, perkenalan indah pun hanya berujung jadi saudara" Shanum mengungkapkan isi hatinya. Dia bukannya tidak mau mencoba menerima orang lain tetapi di hatinya masih ada seseorang yang bertahta.


"Karena Teteh belum mencoba, Teh" sela Rida.


"Iya Num, bukankan kamu pernah bilang kalau menikah itu bukan hanya urusan cinta dan kebahagiaan dunia, tapi menikah itu berjuang bersama menuju surga" sambung Liani mengingatkan Shanum tentang apa yang pernah dia sampaikan dalam salah satu kajian yang pernah dia isi.


Shanum menahan napasnya yang terasa sesak mendengar apa yang dikatakan adik dan sahabatnya. Dia menarik napas dalam-dalam berusaha menetralkan kembali suasana hatinya.


"Sebenarnya Teh, ..." Adam kembali bersuara, dia menghentikan sejenak ucapannya melihat reaksi semua orang yang terlihat penasaran dengan apa yang akan dia ucapkan.


"Sebenarnya apa?" Liani yang berani menyela perkataan Adam, dia jadi gemas sendiri karena penasaran dengan apa yang akan dikatakan adik ipar Shanum itu.


"Sebenarnya selama ini ada seseorang yang menyukai Teteh, tapi dia tidak cukup percaya diri untuk datang langsung menemui Teteh dan mengungkapkan maksud hatinya" lanjut Adam membuat semua orang semakin penasaran.


"Siapa, Bang?" Rida menjadi orang pertama menanyakan siapa orang yang dimaksud suaminya. Dia heran kenapa suaminya bisa tahu jika ada seseorang yang menyukai kakaknya, sementara dia sendiri tidak tahu menahu tentang seseorang itu.


"Bang Haqi, Dek" jawab Adam


"Bang Haqi?" Rida balik bertanya.


"Iya Dek, waktu kita nikah dia juga hadir, dia adalah sepupu jauh aku Teh, hanya kebetulan kami lebih dekat semenjak dia tinggal di Bogor karena di pindah tugaskan. Sekarang dia bertugas di perkebunan yang waktu itu kita jalan-jalan. Sudah lama dia mengetahui tentang teteh, namun yang pastinya saat bertemu langsung dengan teteh pas nikahan aku dan Rida. Sejak saat itu dia bilang benar-benar tidak bisa melupakan Teh Shanum" Adam menjelaskan tentang sepupunya yang sudah lama menyukai Shanum.


"Kamu tahu darimana dia menyukai Teteh, Bang? kenapa gak pernah bilang ke aku?" tanya Rida semakin penasaran dan mengungkapkan kekesalannya karena suaminya itu tidak pernah memberitahukan hal ini sebelumnya kepadanya, dia merajuk dengan wajah cemberut.


"Dia pernah datang ke kantor Abang, Dek. Sengaja datang menemui Abang untuk mencari dukungan katanya, tapi sebelum semua keberaniannya terkumpul diapun meminta agar Abang merahasiakan ini dari siapapun termasuk kamu hehe .." jawab Adam jujur diakhiri kekehan.


"Abang Haqi?" Shanum kembali menanyakan tentang orang itu


"Iya Teh, nama lengkapnya Baihaqi Abdillah. Sudah tiga tahun dia bertugas di perkebunan yang dekat dengan pemukiman. Insyaa Allah dia sholeh Teh, agamanya juga baik. Bahkan keluarganya sangat bersemangat ketika dia mengungkapkan jika dirinya sudah menemukan wanita idamannya",


"Bang Haqi sangat memuliakan ibunya teh, dia juga sangat menyayangi adik perempuan satu-satunya. Ayahnya sudah meninggal sejak dia masih SMA dan dialah yang menjadi penanggung jawab atas ibu dan adiknya. Makanya Ibunya sangat bahagia kalau Bang Haqi bahagia karena sudah menemukan pendamping hidup yang menyayangi dan membersamai dia selama hidupnya" Adam menjelaskan sedikit tentang laki-laki yang dia bilang menyukai Shanum itu.


Shanum hanya bisa diam mendengarkan penjelasan dari adik iparnya. Dia sungguh tidak menyangka jika ada seseorang yang kembali menjadi stalker atas dirinya.

__ADS_1


__ADS_2