
Kesepakatan dengan sang ayah berakhir sesuai syarat yang diajukan Akhtar. Dia bersedia menerima pertunangannya dengan Raina asal diizinkan menemui sang Ibu kandung dan membawanya saat pertunangan nanti.
Tidak ada pilihan untuk pria paruh baya itu. Di usianya yang semakin senja sebenarnya begitu banyak penyesalan dalam hatinya yang hanya dirinya dan Allah yang tahu.
Tanpa menunda lagi, setelah perbincangannya dengan Ahsan di sebuah caffe yang berujung pada kenyataan yang cukup rumit menurutnya. Akhtar bergegas menuju Garut. Dia pergi seorang diri tanpa memedulikan hal lainnya. Urusan perusahaan dan yayasan dia serahkan sepenuhnya kepada Ghifar sang asisten sekaligus sahabatnya itu.
Tidak ada yang tahu keberadaan Akhtar selama dua minggu ini. Ahsan yang merasa khawatir dengan kondisi sepupunya itu turut resah memikirkannya.
Akhtar tiba di Garut dini hari, karena tidak ingin mengganggu dan membuat khawatir nenek dan kakek karena kedatangannya Akhtar memilih tidur di mushala yang jaraknya tidak jauh dengan rumah kakeknya.
Bedug yang berada di mushala berbunyi menggemparkan alam yang masih terasa sunyi. Adzan pun berkumandang bersahutan dengan kokokan ayam menandakan waktu subuh telah tiba.
Matanya yang baru saja terpejam beberapa menit yang lalu, kembali terbuka karena mendengar suara bedug yang ditabuh. Perlahan Akhtar bangun dari tidurnya, dia mengerjap-ngerjapkan matanya seakan mengumpulkan nyawanya yang masih bertebaran.
Akhtar bangkit dari duduknya, menuju toilet untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat subuh berjamaah. Selepas shalat dia segera menghampiri kakeknya yang tampak khusuk berdzikir.
"Assalamu'alaikum, Kek" sapanya.
"wa'alaikumsalam", sang Kakek menoleh dan menghentikan aktivitasnya.
"Akhtar?" sang Kakek tampak terkejut mendapati cucunya ada di hadapannya.
Selesai dengan ritual ba'da Shalatnya, Akhtar dan Kakeknya kembali ke rumah.
Perbincangan hangat Akhtar dengan Kakek dan Neneknya menjadi aktivitas pagi yang mengisi rumah sederhana itu. Betapa bahagianya mereka ketika bertemu dengan Akhtar. Mereka berbincang di dapur yang cukup luas karena berfungsi sekaligus sebagai ruang makan. Aini sang cucu dari putri kedua mereka saat ini sedang pulang ke rumah orang tuanya.
Nenek yang berulang kali mengatakan kalau dirinya sangat merindukan Akhtar membuat Akhtar merasa bersalah karena selama ini sangat jarang mengunjungi mereka.
Perbincangan hangat mereka berakhir saat hidangan untuk sarapan pagi sudah tersedia. Mereka menikmati sarapan dengan tenang dan sesekali sang Nenek menawari Akhtar untuk menambah porsi makannya.
Selesai sarapan Akhtar dan sang Kakek menuju pintu belakang. Mereka duduk lesehan di teras beralaskan samak (tikar anyaman) yang menghadap kolam ikan. Di sekeliling kolam ikan tersebut terdapat tanaman-tanaman yang bukan hanya menyegarkan mata tapi bermanfaat untuk kesehatan dan bisa juga digunakan untuk bumbu masakan.
__ADS_1
Mereka berbincang dengan berbagai topik, sampai akhirnya Akhtar memberanikan diri untuk menyampaikan maksud utama kedatangannya ke Garut.
Akhtar menceritakan semua yang dia alami beberapa hari ini, tidak ada satu pun yang terlewat. Dia pun menceritakan tentang dirinya dengan Shanum dan Raina. Hingga bermula dari hal itu Akhtar pun mengetahui kenyataan pahit tentang alasan perpisahan kedua orang tuanya.
Sang Kakek menghela napasnya, dia sebenarnya sudah mengira bahwa hal ini akan terjadi. Selama ini cucunya itu tidak pernah tahu alasan kedua orang tuanya berpisah, putri sulungnya yang merupakan ibu dari Akhtar selalu melarang siapapun untuk memberi tahukan Akhtar perihal alasan perpisahannya dengan sang suami. Ibu Akhtar tetap ingin membuat Akhtar mengenal sosok ayahnya sebagai pria yang baik hingga terlalu sempurna untuk dirinya.
Dengan susah payah Akhtar membujuk sang Kakek untuk memberitahukan keberadaan sang Ibu kepadanya. Begitu pun dengan sang Nenek, beliau diam seribu bahasa saat Akhtar menanyakan keberadaan ibu kandungnya. Mereka tidak mau membuat putri sulung mereka kembali terluka, karena Akhtar pasti akan mengingatkannya pada peristiwa paling menyakitkan yang menimpa putri sulungnya itu. Tetapi mereka pun sungguh tidak tega melihat kegigihan sang cucu untuk menemui ibunya.
Akhtar meyakinkan nenek dan kakeknya bahwa dia sekarang sudah dewasa dan sudah sepantasnya mengetahui sebenarnya apa alasan kedua orang tuanya dulu memutuskan berpisah di tengah-tengah suasana keluarga yang selalu tampak harmonis.
"Maaf, Nak. Kakek tidak bisa memberitahukan alasannya kepadamu, biarlah ibumu yang langsung memberitahukan alasannya karena dia yang lebih berhak. Dan kamu harus tahu Nak, Ibumu pasti punya alasan mengapa selama ini menutupi masalah ini terutama darimu. Kakek harap kamu bisa bersikap bijak saat bertemu dengan Ibumu." Kakek menasehati Akhtar panjang lebar.
"Baik Kek, aku faham. Untuk saat ini aku hanya ingin bertemu dengan Ibu, untuk masalah itu biarlah Ibu yang memutuskan akan memberi tahuku atau tidak." Akhtar berucap dengan hati yang haru, merasakan kerinduan yang semakin membuncah terhadap sang Ibu.
"Baiklah....Kakek hanya bisa mendo'akanmu. Semoga perjalananmu lancar dan Allah mudahkan segala urusanmu." Ucap Kakek tulus.
Suasana yang tadinya hangat berubah menjadi haru. Kedua orang tua yang usianya sudah senja itu menitikkan air mata saat melepas kepergian cucunya. Besar harapan mereka sang cucu dapat menjadi pelipur lara untuk putri sulung mereka. Mereka berharap Akhtar dapat kembali membawa pulang sang putri yang sudah terlalu lama berkelana, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga tapi juga mengobati hatinya yang terluka.
Akhtar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Jakarta. Keadaan jalanan cukup padat sehingga membuat perjalanannya tidak bisa dipercepat. Akhtar berkali-kali menarik nafas panjang karena harus menahan diri saat kemacetan melanda.
Perjalanan kurang lebih tujuh jam akhirnya membawa Akhtar sampai di halaman sebuah kantor agency yang khusus memberangkatkan para tenaga kerja wanita ke luar negeri, seperti Arab Saudi, Hongkong, Malaysia dan negara-negara lainnya.
Akhtar meminta langsung bertemu dengan pemilik agency tersebut. Setelah melakukan diplomasi, dengan beberapa syarat yang harus Akhtar penuhi dia berhasil menemui pemilik agency tersebut.
Berbagai cara Akhtar tempuh untuk dapat memulangkan sang Ibu dari negara tempatnya mencari rupiah. Beberapa koneksi yang dimiliki Akhtar akhirnya dia gunakan untuk mempermudah jalannya. Tidak sedikit uang yang harus dia keluarkan untuk menempuh berbagai prosedur yang bisa mempercepat kepulangan sang ibu ke tanah air, tapi dia tidak peduli. Dia pun tidak memedulikan panggilan-panggilan yang sejak kemarin masuk ke gawainya. Saat ini dia hanya ingin fokus pada ibunya.
Ternyata butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa memulangkan ibunya ke tanah air. Prosedur yang harus ditempuh tidak sesederhana yang dibayangkan. Sudah satu minggu Akhtar berada di Jakarta. Dia memutuskan menginap di hotel yang berjarak tidak terlalu jauh dari kantor agency sang ibu. Setiap hari dia selalu mendatangi kantor itu untuk menanyakan kemajuan proses pemulangan ibunya.
**
Pagi yang cerah memberi semangat untuk setiap insan dalam mengawali harinya. Banyak harapan yang diukir di awal hari baru itu. Berharap setiap langkah dipenuhi keridhaan sang Pencipta. Sehingga apapun yang dilakukan menjadi berkah dan apapun yang diusahakan hari ini berbuah indah.
__ADS_1
Dreetttt....Dreettt...Dreeettt....
Getaran gawai yang tersimpan di atas nakas di samping tempat tidurnya membuyarkan fokus Akhtar yang sedang anteng menatap laptop memantau pekerjaan yang sudah satu minggu dia tinggalkan.
Ghifar sang asisten selalu setia melaporkan keadaan yayasan dan perusahaan setiap harinya dan dengan telaten pula Akhtar memeriksa setiap laporan yang dikirim via emailnya. Akhtar bahkan tahu jika calon tunangannya selalu mencari keberadaannya. Dia berkali-kali mendatangi perusahaan dan kantor yayasan. Akhtar pun tahu jika di yayasan Ahsan dan Shanum tengah sibuk menyiapkan acara pertunangannya dengan Raina.
"Assalamu'alaikum", sapa Akhtar saat menerima telepon dari seseorang.
"..."
"Benarkah?"
"..."
"Jam berapa perkiraan pesawatnya akan landing?"
"Baiklah, saya akan segera ke sana", pungkasnya mengakhiri telepon.
Akhtar segera mematikan laptopnya, dia bergegas beranjak dari ranjang hotel menuju toilet untuk membersihkan diri. Tidak memerlukan waktu lama dia sudah siap menuju kantor agency.
Menurut informasi yang dia terima melalui telepon tadi, kabar baik yang beberapa hari ini dia tunggu sudah tiba. Sang Ibu yang dirindukannya berhasil dipulangkan dan saat ini sedang berada dalam pesawat dan akan segera landing.
Satu jam berlalu, Akhtar masih menunggu kedatangan seseorang yang sedang dijemput dari bandara. Jantungnya berdegup sangat kencang. Pertemuan ini selalu dia harapkan, tapi ketika sudah berada di pelupuk mata sungguh perasaannya tak karuan.
"Assalamu'alaikum", ucapan seorang pria membuyarkan lamunannya.
Matanya menatap pintu yang terbuka, seseorang dengan perawakan tegap membuka pintu dan menyunggingkan senyum kepadanya. Di belakangnya tampak seorang wanita yang tak asing bagi Akhtar.
Pandangan Akhtar dan wanita yang tak lagi muda itu bertemu, cukup lama terkunci saling menatap seolah menyelidik raut wajah dan pikiran masing-masing. Ingatan Akhtar melayang ke beberapa tahun yang lalu. Mata yang saat ini ditatapnya masih sama, tatapannya selalu meneduhkan. Bibirnya pun masih sama, bibir yang selalu tersenyum, senyuman yang penuh dengan kehangatan yang membuat Akhtar selalu bersemangat menjalani hari-harinya.
Lidah Akhtar kelu, tak mampu berucap. Suaranya seakan menghilang, tercekat di tenggorokan dengan napas yang menyempit. Hanya mata yang mampu mengungkapkan apa yang di rasanya, dengan derasnya air mata itu mengalir begitu saja. Dia tak mampu lagi menahan keharuan dan kerinduan yang menyeruak dalam dadanya.
__ADS_1
"Ibuu......."