
Saat cahaya matahari memasuki jendela kamar, Ahsan masih lelap dalam tidurnya. Dia tidur terlentang di atas ranjang king size yang khusus hanya ada di rumah dinas yang ditempatinya.
Di Sofa yang masih terdapat di kamar Ahsan seseorang juga tengah tidur meringkuk tampak asyik bergelut dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Setelah pertengkaran yang berbalas saling bogem membogem semalam mereka berdua masuk pada rumah yang sama. Keduanya membersihkan diri masing-masing dan langsung tertidur pulas tanpa ada lagi pembicaraan.
Saat Subuh tiba pun mereka melaksanakan shalat masing-masing dan kembali tertidur di tempat semula. Ahsan dengan leluasa tidur di atas ranjang king sizenya, sementara Akhtar menjadikan sofa yang ada di kamar itu sebagai tempat peristirahatannya.
Derrrttt ...Derrtttt...Derrrrttt....
Dering gawai yang entah punya siapa membangunkan mereka.
"Bro, gawai lu tuh bunyi terus berisik tau, masih ngantuk gue", teriak Ahsan dengan mata masih terpejam. Panggilan mereka masih sama seperti semalam.
"Gawai gue mati dari semalem belum gue aktivin lagi", balas Akhtar tak kalah keras dia berteriak dengan suara serak khas bangun tidur.
Sejak pesta berakhir dia memang mematikan gawainya karena Raina terus saja meneleponnya. Dia tidak ingin ada yang mengganggunya, fokusna semalam adalah ingin segera bertemu dengan Ahsan.
"Ckk..." Ahsan berdecak, dia meraba-raba gawainya yang berada di atas nakas di samping ranjangnya dengan mata yang masih terpejam.
Ahsan sedikit mengangkat kepalanya, dia menyipitkan matanya menatap layar gawai yang sudah ada di genggamannya.
"Hah...." teriak Ahsan saat membuka pesan yang masuk ke aplikasi whatsappnya. Dia membuka pesan yang dikirim Liani yaitu sebuah foto yang memperlihatkan Shanum yang bahunya sedang dicengkram seseorang.
Teriakan Ahsan sontak membuat Akhtar pun terbangun.
"Apaan sih lo teriak-teriak mulu", tanya Akhtar, dia menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya.
Semalam dia tidur tanpa selimut itu, tapi ketika subuh dia terbangun tubuhnya menghangat. Dia yakin bahwa Ahsan yang melakukannya. Dia berjalan menuju ranjang tempat. Pertengkaran mereka semalam tidak membuat keduanya larut dalam kebencian. Mereka kembali bersama seolah tak terjadi apa-apa.
Akhtar berjalan ke arah tempat tidur dimana Ahsan berbaring. Ahsan melempar selimut yang membalut tubuhnya dia beranjak ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Akhtar.
Akhtar heran dengan kelakuan Ahsan, dia pun penasaran dengan pesan yang baru saja Ahsan terima. Dia mengambil gawai Ahsan dan melihat layar yang masih menampilkan foto yang dikirim Liani.
"Hah...apa-apaan ini?" diapun segera beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya, di saat yang sama Ahsan pun keluar dari kamar mandi itu. Mereka saling pandang dan kemudian melengos saling menghindar.
Keduanya pun melakukan gerakan yang sama, Ahsan melangkah ke kiri, Akhtar pun ke kiri. Akhtar beralih melangkah ke kanan Ahsan pun mengikutinya. Hal tersebut berlangsung sampai tiga kali. Hingga akhirnya mereka sama-sama berhenti dan kembali saling menatap.
"ishh..." Akhtar mendecih, " Lu bisa ngalah gak sih? gue mau masuk nih", seru Akhtar dengan wajah kesal.
Ahsan diam, dia tidak menjawab. Mereka kembali saling menatap, kali ini dengan tatapan yang dalam dan cukup lama. Suasana hening sejenak, sedetik kemudian keduanya sama-sama tertawa.
"Hahahahahaha....." suara tawa mereka berdua menggelegar memenuhi seluruh ruang yang ada di rumah itu.
"Sakit?" tanya Ahsan meraba pipi Akhtar dengan lembut. Akhtar pun mengangguk, dia pun melakukan hal yang sama pada Ahsan.
__ADS_1
"Sakit?" tanyanya.
"Lumayan", jawab Ahsan sambil meringis.
"Maaf", Akhtar meminta maaf terlebih dulu, dia memeluk Ahsan dengan penuh kasih sayang dan dibalas Ahsan dengan pelukan yang tak kalah erat.
Pertengkaran semalam mengingatkan mereka pada kejadian di masa kecil, waktu itu mereka bertengkar karena salah paham masalah mainan dan tentu berakhir dengan damai karena sang Ibu yang melerai dengan penuh kelembutan hingga keduanya pun menghentikan aksi mereka dan menurut dengan perintah sang Ibu untuk duduk bersama dan saling bicara baik-baik dan ternyata keduanya hanya salah paham.
Pertengkaran pun berakhir dengan saling meminta maaf dan memaafkan. Mereka pun saling berpelukan dan kompak keduanya kemudian memeluk sang Ibu yang tersenyum menyaksikan mereka berdua.
"Akur selalu ya kalian, kalian adalah harta berharga Ibu dunia akhirat", pesan sang ibu di akhir pertengkaran mereka.
Sejak saat itu, mereka berjanji untuk saling menjaga dan melindungi agar tidak mengecewakan sang Ibu.
Dan malam tadi adalah pertengkaran kedua yang pernah mereka lakukan. Tapi kali ini mereka pun sama-sama tidak ingin sang Ibu tahu, karena jelas hal ini akan sangat membuatnya khawatir. Akhtar pun memilih tidak pulang dan menginap di rumah dinas Ahsan, karena sang ibu saat ini tinggal di rumah dinasnya. Begitu pun Ahsan yang membiarkan Akhtar tetap berada di rumahnya karena memang itu juga yang dia harapkan.
"Shanum"...keduanya bersamaan menyebut nama gadis yang mereka cintai.
''Haha...." keduanya kembali tertawa bersama.
" Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu. Aku tunggu, kita ke rumah dinas Shanum bareng sebelum Suraya bertindak macam-macam pada Shanum", tanpa kompromi mereka berdua pun kompak bertekad untuk melindungi Shanum.
Mereka berdua keluar bersamaan dari rumah dinas Ahsan dan langsung menuju rumah dinas Shanum dengan menggunakan mobil Ahsan.
Sesampainya di sana, mereka disuguhkan dengan pemandangan yang tak sesuai dengan ekspektasi mereka. Tiga perempuan yang mereka khawatirkan sedang beradu mulut atau saling jambak-jambakkan tampak sedang asik mengobrol dengan tawa Suraya yang terdengar sangat bahagia. Merasa lucu dengan tingkah Liani.
'ini semua gara-gara Bapak, kalau terjadi sesuatu dengan Shanum, tamat riwayat Bapak'. Pesan Liani terkirim pada Ahsan yang diakhiri dengan emot marah.
Pesan itu yang membuat Ahsan semakin panik saat menerima foto yang dikirim Liani. Dia membayangkan jika Suraya benar-benar menganiaya Shanum dan Shanum diam saja tanpa melawan, begitu pun dengan Akhtar yang tak kalah panik.
"Assalamu'alaikum", Ahsan mengucapkan salam saat sudah berada di ambang pintu. Serempak mereka bertiga pun menoleh.
"Wa'alaikumussalam" jawab mereka bertiga kompak. Liani yang tahu maksud kedatangan Ahsan pun nyengir kuda saat tatapan Ahsan seolah mengintimidasinya.
"Ahsan? Akhtar?" Suraya berdiri dari tempat duduknya. Dia heran melihat dua pemuda tampan yang berdiri di hadapannya kini terdapat lebam di pipi keduanya.
"Kalian berantem?" tanya Suraya dan dijawab kompak oleh mereka berdua.
"Tidak" jawabnya kompak.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Ahsan gugup pada Suraya, dia mengalihkan pembahasan mereka sebelumnya.
"Kamu nyakitin Shanum?" Akhtar menimpali.
Suraya mengernyitkan dahinya, heran dengan kedua pemuda di hadapannya yang tampak begitu sangat mengkhawatirkan Shanum.
__ADS_1
"Ya, tadinya aku pun berniat begitu, tapi ternyata Shanum terlalu baik untuk aku sakiti", ucapnya semakin membuat kedua pemuda itu panik.
"Shanum?" Ahsan mengalihkan fokusnya dan kembali melihat Shanum. Shanum hanya tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa", jawabnya singkat.
"Aku kemari awalnya memang begitu By, aku gak terima kamu menolakku dan bilang ingin menikahi Shanum. Aku bilang ke Shanum kalau kamu itu adalah milikku dan cuma milikku." Ucap Suraya jujur, dia pun kembali ke tempat duduknya di samping Shanum.
Ahsan dan Akhtar yang mendengarkannya terbelalak, bisa-bisanya Suraya mengatakan semua itu pada Shanum yang jelas-jelas akan membuat Shanum sakit hati karena merasa dibohongi. Sementara Shanum dia hanya melengos ketika Suraya menyebut Ahsan dengan panggilan Hubby.
Sejujurnya di hatinya masih ada rasa sakit dan kecewa, setiap wanita mungkin akan merasakan perasaan yang sama juka berada di posisinya sekuat apapun dia. Siangnya dibuat bahagia hingga rasanya seperti melayang sampai ke langit ke tujuh, tapi kemudian saat malam tiba dia dihempaskan begitu saja bahkan sampai ke dasar bumi dengan kenyataan yang menyakitkan.
Tapi Shanum tetaplah Shanum, tawanya diperlihatkan sementara lukanya dia pendam.
"Kamu..." suara Ahsan terjeda. Dia bingung dengan pikirannya sendiri melihat Suraya yang biasa-biasa saja dan Shanum yang tampak tenang. Ahsan kemudian melirik ke arah Akhtar yang hanya direspon dengan gerakan bahu yang menandakan dia pun tidak tahu.
"Shanum, aku serius dengan niatku. Secepatnya aku akan ke Bogor menemui orang tuamu, dan kita akan segera menikah", Ahsan kembali meyakinkan Shanum. Shanum diam tidak merespon apapun sementara Akhtar kali ini dia melengos saat mendengar Ahsan akan menikahi Shanum.
"Eh enggak bisa dong, By. Kamu harus nikahnya sama aku", sela Suraya.
"Suraya, please!" Akhtar menoleh ke arah Suraya.
"Semalam aku sudah bilang, kalau di antara kita sudah selesai. Kamu dulu memilih pergi sehari sebelum acara pertunangan kita, tanpa pamit. Kamu bisa bayangkan bagaimana perasaan aku kan saat itu? Perasaan aku hancur sehancur-hancurnya. Aku tidak mengira kamu akan setega itu padaku, setelah apa yang kita lewati sebelumnya." Ahsan berkata dengan lirih namun penuh penekanan, membuat rasa bersalah tiba-tiba menyeruak di hati Suraya, dia menundukkan wajahnya mendengar semua yang Ahsan katakan.
Sementara tiga orang lainnya yang berada di ruangan itu membisu, mereka pun menjadi iba mendengar penuturan Ahsan.
"Sejujurnya sejak kamu pergi aku trauma dengan yang namanya hubungan cinta. Aku tidak mau jatuh cinta lagi, aku benci perempuan, dia suka datang tiba-tiba kemudian menyakiti tanpa aba-aba."
"Tapi kehadiran Shanum perlahan mengobati traumaku, dia hadir di saat yang tepat, apa yang dia katakan dalam setiap kajiannya tentang cinta dan kehidupan telah membuka pikiranku, mengingatkanku bahwa apa yang terjadi adalah sudah menjadi ketentuan-Nya dan ketentuan Allah adalah yang terbaik walau kadang harus ditempuh dengan air mata."
"Shanum salah satu aktivitis di kampus kami, dia aktif dengan komunitas dakwahnya. Diam-diam aku suka mengikuti kajiannya, hingga perlahan aku merasakan jatuh cinta kembali, tapi cinta yang kurasakan jauh berbeda dengan ketika aku mencintaimu dulu Raya."
"Shanum membuatku merasakan cinta yang luar biasa yaitu tentang ketulusan, kesabaran dan kemampuan melihat orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya."
"Aku sudah lebih dulu jatuh cinta pada Shanum, dan aku pun berusaha mengelak. Tetapi semakin hari perasaan itu semakin mendominasi. Hingga suatu hari aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku padanya, tapi aku ditolak."
Ahsan menjeda ucapannya sejenak mengambil napas menetralisir perasaannya yang semakin terbawa suasana. Semua orang pun diam mendengarkan semua curahan hati Ahsan. Shanum tidak menyangka jika Ahsan menjadi stalkernya selama kuliah.
"Berkali-kali aku mengungkapkan cinta dan berkali-kali pula aku ditolak. Tapi anehnya penolakan Shanum justru membuatku semakin semangat untuk memperbaiki diri agar lebih pantas berdampingan dengannya."
Akhtar menunduk saat mendengar itu, dia merasa pernyataan Ahsan begitu menohok.
"Beberapa hari yang lalu, Shanum bersedia memberi kesempatan untukku. Kesempatan itu tidak akan aku sia-siakan, aku akan segera datang menemui orang tuanya untuk menghalalkannya. Jadi Raya, aku mohon tolong biarkan aku bahagia dengan Shanum. Aku sudah lama menunggu saat-saat itu", Ahsan melirik Suraya yang tampak masih menunduk. Dia berkata dengan memelas, berharap Suraya menerima keputusannya.
Semua orang terdiam, tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suara. Suasana kian mencekam. Semua menatap ke arah Suraya.
__ADS_1
Suraya mendongakkan wajahnya dia melihat satu persatu orang yang sedang melihatnya. Tatapannya berakhir pada Ahsan.
"Baiklah....."