
"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh"
"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh"
Untuk pertama kalinya shalat berjamaah dilakukan Akhtar dan Shanum setelah resmi menjadi suami istri. Kesyahduan dirasakan keduanya, Shanum mengulurkan tangan untuk kedua kalinya. Disambut oleh Akhtar dengan senyum mengembang di bibirnya. Shanum pun mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, dibalas kecupan kening yang penuh kehangatan oleh Akhtar seolah mengalirkan rasa kasih dan sayang untuk istri tercinta.
Akhtar menangkup kedua pipi Shanum, ditatapnya netra mata sang istri dalam-dalam. Shanum mengalihkan pandangannya tak kuasa jika harus beradu tatap dengan jarak yang begitu dekat. Tak bisa dibayangkan pipinya yang semakin memanas pastilah sudah merona merah saat ini.
Akhtar tersenyum gemas melihat ekspresi sang istri yang salah tingkah dengan posisi mereka saat ini. Dia pun meraih dagu Shanum agar kembali melihat ke arahnya.
"Lihat aku sayang" Akhtar kembali menatap Shanum, kali ini tatapannya tertuju pada bibir pink alami yang tadi sore hampir saja disentuhnya.
"Boleh?" tanya Akhtar, dia mengajak Shanum mengobrol agar lebih rileks. Dari tubuhnya yang menegang Akhtar tahu jika istrinya gugup, pikirnya.
"Aa, keluarga menunggu kita untuk makan malam di bawah" Shanum menahan dada Akhtar yang kian mendekat, berusaha keluar dari situasi yang membuat jantungnya berdegup begitu kencang.
"Iya sayang aku tahu, dan aku ingin mencicipi ini dulu sebagai sesi appertizer"
"Maksud...." ucapan Shanum terjeda, Akhtar langsung membungkamnya dengan bibirnya. Satu kecupan sebagai pembuka berhasil membuat tubuh Shanum seperti tersengat listrik. Dia menempelkan bibirnya di bibir Shanum yang sejak tadi sudah menggodanya, semakin bibir itu banyak bicara semakin membuatnya gemas dan ingin mencicipinya.
Tubuh Shanum semakin menegang, Akhtar menempelkan bibirnya cukup lama membiarkan Shanum merasakannya, dia pun kembali mengecupnya perlahan mengecupnya lagi dan lagi. Lama-lama ciumannya menuntut, dilum at bibir Shanum penuh kelembutan, perlahan tapi pasti membuat Shanum semakin merasakan sensasi aneh yang membuat tubuhnya meremang. Shanum memejamkan mata, menikmati permainan suaminya. Dia pasrah, tak bisa menolak karena dirinya memang sudah halal untuk Akhtar.
Akhtar terus membuat Shanum nyaman dengan perlakuannya, tangannya menahan tengkuk Shanum agar ciumannya semakin dalam.
"Buka mulutnya sayang" Akhtar melepas sejenak pagutannya, dia meminta Shanum membuka mulutnya agar dirinya semakin leluasa mengakses setiap inci bagian dalamnya. Shanum pasrah, diapun mengikuti apa yang suaminya perintahkan.
Akhtar kembali mema gut bibir itu, kali ini semakin leluasa, aksesnya semakin terbuka Akhtar menciumi Shanum dengan rakus namun penuh kelembutan, berhasil membuat Shanum terbuai. Akhtar kembali melepas pagutannya, dia memberi kesempatan Shanum untuk menambah pasokan oksigennya. Perlahan Akhtar membuka mukena yang masih di pakai istrinya.
Akhtar kembali mengulang aksinya, kali ini lebih dalam lagi. Tangan kirinya masih menahan tengkuk Shanum, Akhtar menikmati setiap luma tannya yang semakin rakus namun penuh kelembutan itu. Membuat napas keduanya semakin memburu. Dia pun beralih pada leher jenjang sang istri, menyusuri setiap inci leher itu tanpa ada yang terlewatkan sehingga satu lenguhan berhasil lolos dari bibir Shanum, membuat Akhtar semakin bersemangat.
"Aa....." Shanum berkata dengan suaranya yang parau.
,
"Lepaskan sayang...jangan ditahan" Akhtar kembali memberi komando tanpa mengalihkan sedikit pun fokusnya dari aktivitas yang sedang dijalaninya, menyusuri leher jenjang sang istri. Leher yang selama ini terhijabi dengan baik, hingga dia pun tak menyangka jika di balik jilbabnya itu tersimpan keindahan alam yang luar biasa. Timbul keposesifan dalam dirinya tak ingin jika orang lain melihatnya.
Tangan kirinya memangku sang istri yang sudah berubah posisi menjadi terbaring di pangkuannya. Sementara tangan kanannya mulai menjelajah area dada Shanum. Satu kancing gamis sang istri sudah berhasil dia buka.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu kembali terdengar namun tidak diindahkan oleh kedua insan yang sedang berbalut gairah itu. Pintu pun kembali diketuk.
Tok...tok...tok...
"A, ada yang mengetuk pintu" Shanum lebih dulu berhasil mengembalikan kesadarannya, dia menahan tangan Akhtar yang hampir membuka kancing kedua gamisnya.
"Ckk..." Akhtar berdecak, dia pun membantu sang istri kembali ke posisinya semula.
"Mukenaku mana?" Shanum mencari atasan mukena yang entah dilempar kemana oleh Akhtar,
"Ini" Akhtar menyodorkan atasan mukena itu dan membantu sang istri memakainya, dia membiarkan Shanum berlalu dari pangkuannya untuk membuka pintu setelah sebelumnya satu kecupan kembali dia layangkan di bibir yang kini sudah menjadi candunya. Sementara dia merapikan perlengkapan shalatnya yang acak-acakan karena ulahnya.
"Teteh, ditunggu semuanya di bawah untuk makan malam" Indri datang meminta Shanum untuk segera bergabung. Kedua keluarga besar plus keluarga mami Ratna akan makan malam bersama sebelum mereka pulang ke tempatnya masing-masing. Bu Fatimah sudah mengatur semuanya, dia berharap kebersamaan ini dapat semakin mengeratkan jalinan kekeluargaan di antara mereka
Shanum mengangguk "Iya, sebentar teteh pakai kerudung dulu. Nanti teteh nyusul" ucap Shanum, Indri pun mengangguk dia kembali menuju lantai bawah lebih dulu setelah memastikan Shanum akan menyusulnya.
"Sayang, siapa?" Akhtar melipat sejadah yang digunakan sang istri dan menyimpannya di tepi ranjang.
"Indri nyusul, kita ditunggu di bawah katanya" Shanum melepas mukena dan meraih jilbabnya,
__ADS_1
"Yang tadi baru appertizer, saatnya menyiapkan amunisi untuk sesi selanjutnya Yang" bisik Akhtar di telinga Shanum saat dia sedang memakai jilbabnya. Kecupan pun kembali di layangkan di pipi sang istri. Shanum membulatkan matanya, dia merapikan kembali jilbabnya karena bagian samping yang jadi tidak rapi gegara ulah sang suami.
Kedatangan sepasang pengantin baru pun disambut riuh oleh seluruh anggota keluarga. Akhtar memegang tangan Shanum erat semenjak mereka keluar kamar sampai tiba di meja besar yang sudah disiapkan pihak hotel untuk makan malam seluruh keluarga besar.
"Cie...cie...panganten anyar, nempel teruuuus.." sorak Indri yang disambut riuhan huuh dari semua yang menunggu.
"Isi amunisi dulu bro, biar gak mogok di jalan" Ahsan menimpali setelah Akhtar menarik kursi untuk Shanum dan beralih duduk di kursi kosong di samping sang istri tepat berdampingan dengan Ahsan, semakin membuat Shanum memerah menahan malu. Sedangkan Akhtar hanya tersenyum meresponnya dengan wajah biasa saja.
"Berabe kalau mogok di jalan mah, entar larinya ke ubun-ubun" Adam adik ipar Shanum yang saat tepat berhadapan dengan Akhtar pun memuluskan aksi Ahsan menggoda pasangan pengantin ini.
"Widih expert berbicara euy, pantes aja udah inves lagi" Ghifar tak mau kalah turut mengambil bagian, kali ini Adam menjadi sasarannya. Semua orang pun tertawa mendengar celotehan Ghifar. Laki-laki itu terlihat pendiam namun di saat berbicara membuat semua orang tergelak.
"Bener, bikin nagih. Makanya kalian cepetan nikah biar ngerasain tuh nikmatnya surga dunia" Adam yang digoda malah semakin menjadi-jadi, memanasi mereka yang masih berstatus single apalagi jomblo seperti Ghifar, yang jiwa jomblonya semakin meronta saat mendengar serangan balik Adam.
"Ssstttt.....ada anak di bawah umur, belum waktunya ngomongin yang kayak gituan" Rida bersuara menunjuk ke arah Fauzan dan Indri dengan dagunya, keduanya hanya nyengir mendengar obrolan tingkat tinggi khusus orang-orang dewasa itu.
Sontak semuanya mengatupkan bibir, mereka kebablasan. Bahkan lupa jika di sana juga ada para orang tua yang hanya tersenyum terkulum mendengar obrolan anak-anaknya, mereka pun pernah muda.
Bu Fatimah, tersenyum bahagia melihat putra semata wayangnya kini telah menemukan kebahagiaannya. Ucapan syukur tak henti-henti dia ucapkan dalam hati selama prosesi akad atas semua kebahagiaan yang Allah berikan untuk putra dan juga dirinya. Di usianya yang hampir senja, harapan selalu ada untuk orang-orang yang yakin.
Begitu pun Bu Hana dan Pak Imran, mereka lega kino putri sulungnya telah menemukan kebahagiaannya, semoga mulai saat ini kebahagiaan itu terus menyertai sang putri, do'a mereka dalam hati. Tidak ketinggalan, Mami Ratna dan Hasna yang saling melempar senyum. Turut merasakan kebahagiaan dari keluarga besar ini. Bersyukur menjadi bagian dari mereka dan berharap semoga sang putra yang telah lebih dulu menghadap Illahi mendapatkan kebahagiaan yang sama di sana. Alfatihah dia gumamkan dalam hatinya untuk sang putra tercinta.
Di samping Pak Imran yang diapit Fauzan tampak Pak Furqan juga tersenyum bahagia melihat kebahagiaan putranya. Namun tidak bisa dibohongi di balik senyumnya di menyimpan sesuatu yang hanya dia dan Allah yang tahu. Tersirat pula penyesalan di netranya, sesekali beliau pun mencuri-curi pandang pada mantan istrinya entah apa yang dipikirkannya.
Bu Fatimah menyadari jika sejak duduk bersama melingkar di meja itu mantan suaminya selalu mencuri-curi pandang ke arahnya. Namun dia mengabaikan, berusaha bersikap biasa-biasa saja. Kehadiran Pak Furqan sendiri ke pernikahan sang putra cukup memberi jawaban jika ada sesuatu yang terjadi dalam rumah tangganya. Akhtar sempat menanyakan ketidakhadiran Ibu dan adik-adik sambungnya, Pak Furqan menjawab jika mereka ada keperluan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Padahal sepengetahuan Bu Fatimah, Sopia tidak pernah dengan sengaja membiarkan suaminya bertemu dirinya sendirian, dia selalu mengekor jika suaminya terindikasi akan bertemu Bu Fatimah.
Makan malam telah usai, Mami Ratna dan Hasna pamit lebih dulu untuk kembali ke Jakarta dengan supir keluarga karena besok Hasna ada rapat penting tak lupa dia pun menitipkan Shanum pada Akhtar dan meminta izin agar Akhtar mengijinkan Shanum untuk tetap menjadi bagian keluarganya. Tentu dnegan senang hati Akhtar mengizinkannya.
Pak Furqan pun pulang bersama Ghifar, diiringi mobil Ahsan yang membawa Liani kembali ke Bandung. Pak Imran dan keluarga pun pamit, mereka menaiki mobil yang biasa dipakai Shanum, kali ini dibawa oleh Fauzan. Disusul mobil Adam yang hanya berdua dengan sang istri karena Humairah yang dipangku oleh Indri ingin ikut ke mobil yang dinaiki sang nenek setelah drama karena ingin bersama Bunda Shanum.
Tinggallah Shanum dan Akhtar, mereka berdiri di pelataran hotel. Akhtar merengkuh pinggang Shanum yang menjauh setelah bersalaman dengan semua anggota keluarganya.
"Kalau gak di tempat umum enggak malu dong?" Akhtar malah menggoda sang istri.
"Ishhh...." Shanum berlalu lebih dulu memasuki hotel dia meninggalkan Akhtar yang masih tergelak karena berhasil menggodanya.
"Sayang, tunggu!" Akhtar pun berlari menyusul Shanum yang sudah beberapa langkah menjauh darinya. Mereka pun kembali berjalan beriringan, Akhtar menggenggam erat tangan sang istri tidak dibiarkan kembali mendahuluinya.
Klek... setibanya di kamar Akhtar langsung mengunci pintu. Shanum menuju kamar mandi untuk berwudhu karena adzan isya sudah lewat beberapa menit yang lalu, disusul Akhtar yang sudah lebih dulu menggelar sejadah untuk mereka shalat.
Setelah shalat isya yang diiringi shalat sunnah rawatib ba'da isya, Akhtar mengajak sang istri untuk kembali menunaikan shalat sunnah dua rakaat sebelum mereka melaksanakan ibadah rumah tangga yang lainnya, di akhiri dengan salam takzim dari Shanum dan kecupan mesra di kening balasan Akhtar.
Shanum beranjak untuk menyiapkan baju ganti untuk sang suami, tapi dia bingung harus menyiapkan baju apa dan ragu jika tiba-tiba harus mengambil baju dari koper milik suaminya. Akhtar sepertinya mengerti kebingungan Shanum, dia pun berjalan menuju tempat Shanum.berdiri di dekat kopernya.
"Biar aku sendiri yang nyiapin sayang, kamu persiapkan saja dirimu" Akhtar kembali berbicara dekat di telinga Shanum, sambil mengecup sekilas pipi sang istri yang selalu merona saat dia goda.
Shanum pun mengambil baju gantinya, dia bersiap menuju toilet. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti, Akhtar menyergap pinggangnya.
"Mau kemana?" Akhtar sudah siap dengan kaos putih dan celana pendek.
"A...ku mau ganti baju dulu" jawab Shanum terbata.
"Di sini saja, kenapa harus di kamar mandi?" tanya Akhtar tanpa melepaskan pelukannya.
"Malu, A"
"Kenapa masih malu, kita sudah halal sayang. Gantilah di sini aku mau melihatnya" Akhtar berkata dengan santainya, dia semakin mengeratkan pelukannya.Tidak tahu jika sang istri semakin meremang dibuatnya.
Derrttt... Derrrtt...Derrttt....
__ADS_1
Getar gawai di atas nakas di samping tempat tidur, sedikit melonggarkan pelukan Akhtar.
"Ada telepon A, angkat dulu siapa tahu sangat penting" Shanum memprovokasi Akhtar agar menerima telepon itu.
"Siapa sih, ganggu aja" ucapnya sedikit kesal, Akhtar pun mengurai pelukannya, tentu kesempatan baik untuk Shanum bisa berganti baju dengan leluasa.
"Ya sudah, aku angkat telepon dulu ya. Kamu bersiaplah" Shanum pun segera berlalu menuju kamar mandi untuk berganti.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, Shanum mengedarkan pandangannya. Akhtar terlihat sudah berada di atas ranjang king size dengan seprai dan selimut putih. Matanya masih fokus pada gawainya.
Shanum mengendap-endap berjalan menuju ranjang, dia menundukkan pandangannya malu dengan apa yang dipakainya saat ini. Daster tanpa lengan yang berdesain simpel dengan panjang di atas lutut, fiks memperlihatkan bahu dan betis mulus yang selama ini begitu terjaga, serta rambut yang dicepol menampakkan leher jenjangnya.
Akhtar mengalihkan pandangannya saat sudut matanya melirik Shanum yang mendekati tempat tidur. Dia perhatikan dengan seksama apa yang dilakukan istrinya. Shanum menunduk tidak tahu jika suaminya tengah mengamati, dia segera menaiki ranjang king size itu dan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di atas ranjang.
Hal itu tentu saja membuat Akhtar gemas, dia menyimpan gawai setelah sebelumnya menonaktifkannya, tak ingin ada lagi yang mengganggu. Menghadap sang istri yang sudah akan memejamkan matanya.
"Heyy....bangun, enak aja tidur" Akhtar menarik selimut yang menutup hampir seluruh tubuh istrinya. Sontak Shanum pun terkaget, menahan tawa karena presiksinya jadi kenyataan Akhtar pasti akan marah. Tangannya yang akan menahan selimut agar tetap di tubuhnya kalah cepat dengan tangan suaminya.
Akhtar melongo, menatap keindahan di depan matanya. Tatapannya tak lepas dari tubuh sang istri yang terbaring dengan gaun yang minim menurutnya, apalagi bagian bawahnya tersingkap saat selimut yang menutupi tubuh Shanum ditarik mendadak olehnya menampakkan paha mulus yang membuat Akhtar tak melepaskan tatapannya, tatapan yang memuja.
Dia pun tidak membiarkan kesempatan ini begitu saja, dengan cepat mengungkung tubuh sang istri tanpa membebani agar tak bisa lagi menghindar. Akhtar kembali menatap netra sang istri dengan lembut, tatapan yang membuat Shanum terbuai.
"Sayang, waktunya sesi main course sekarang" Akhtar memulai aksinya dengan mengecup bibir pink yang telah menjadi candu untuknya. Melu matnya perlahan dengan penuh kelembutan. Perlahan tapi pasti membuat napas keduanya semakin berburu.
Setelah merasa cukup menikmati manisnya bibir itu, petualangannya beralih ke leher jenjang sang istri, kembali dia menyusuri setiap inci leher jenjang itu. Tangannya kini sudah tak diam, di genggamannya sudah ada dia gunung yang begitu menggoda. Dia meremas kedua gunung kembar itu dengan lembut, bibirnya masih tak lepas menyusuri leher dan semakin turun ke dada. Satu lenguhan loloh dari bibir Shanum, dia sudah berusaha menahannya namun sensasi yang Akhtar berikan membuatnya serasa melayang ke langit ke tujuh.
Akhtar semakin bersemangat, sejenak menghentikan aksinya, dia bangun dengan menggunakan lutut sebagai tumpuan membuka kaos putih yang melekat ditubuhnya, hingga menampakkan dada bidang yang membuat Shanum memejamkan matanya.
Akhtar pun tak membiarkan sang istri lengah, dia pun beralih menuntun sang istri untuk bangun, dia lepas semua yang melekat pada tubuh istrinya.
Tanpa sehelai benang pun keindahan itu begitu nyata di matanya, membuat gairahnya semakin tertantang. Dengan sigap Akhtar kembali mengungkung tubuh indah itu, dia sentuh semua bagian tubuh sang istri dengan penuh kelembutan. Sapuan bibirnya di area gunung kembar mampu membuat Shanum mendesah berkali-kali, dia melu mat puncak gunung kembar itu bergantian tangannya sudah merambah lembah yang sudah membasah, permainan tangannya di area inti Shanum membuat Shanum serasa semakin melayang dibuatnya.
"Aa....." Shanum memanggil suaminya dengan suara parau, mata sayunya menatap sang suami yang mendongak menghentikan sejenak aktivitasnya merambah gunung kembar itu, Akhtar melemparkan senyum manisnya, melihat sang istri begitu mendamba.
Akhtar pun melucuti semua yang menempel di tubuhnya tanpa kecuali. Shanum memalingkan wajahnya saat melihat sang suami sudah tak memakai apapun. Pusakanya sudah tampak siap memasuki sarangnya.
Akhtar perlahan memasuki sarang itu, Shanum meringis menahan sesuatu yang terasa mulai mengganjal di area intinya. Tangannya meremas punggung sang suami. Akhtar tampak kesulitan saat menerobos milik sang istri, dia pun menghentikan aksinya saat melihat buliran air mata jatuh dari sudut sang mata sang istri.
"Sakit, A..." Shanum berucap pelan di tengah-tengah pergulatan mereka.
"Sayang kamu?" Akhtar menatap heran pada istrinya. Ini memang hal baru untuknya tapi tidak dengan istrinya. Shanum sudah pernah menikah, dan Akhtar pikir ini hal yang biasa untuk istrinya. Tapi melihat ekspresi kesakitan di wajah sang istri membuat Akhtar berpikir.
"Sayang, ini pertama kalinya?" Shanum mengangguk menjawab pertanyaan Akhtar.
"Serius? kamu belum pernah melakukannya?" Shanum kembali menggelengkan kepalanya pelan, dia masih meringis merasakan sesuatu yang mulai terasa perih di area intinya.
Senyum terbit di bibir Akhtar, dia berasa memenangkan jackpot, menikahi janda namun ternyata masih perawan.
"Ya, aku memang janda, janda tapi perawan" Shanum berkata seolah bisa menebak pikiran sang suami. Senyuman semakin lebar terlukis di bibir Akhtar. Hatinya semakin berbunga-bunga, kebahagiaannya bertambah berkali-kali lipat setelah mengetahui kenyataan ini.
"Kalau begitu, tahan ya Sayang" Akhtar kembali melancarkan aksinya, dia menghentakkan pelan bokongnya membuat Shanum hampir menjerit namun segera dibungkam oleh Akhtar, memagutnya dengan rakus namun tetap penuh kelembutan sampai sang istri tenang dan dapat menerima perlakuannya dengan nyaman.
Shanum pasrah, perlakuan Akhtar selanjutnya mampu membuat sakitnya perlahan menghilang berganti dengan kenikmatan surga dunia yang tak dapat terlukiskan dengan kata-kata.
Lampu kamar yang temaram semakin menambah keintiman keduanya. Pergulatan pun semakin memanas, tubuh keduanya sudah berpeluh padahal pendingin ruangan pun berfungsi dengan baik. Pengalaman pertama untuk keduanya, namun cinta dan gairah menuntun keduanya tenggelam dalam kenikmatan luar biasa, ibadah rumah tangga dengan pahala yang luar biasa pula.
Malam merangkak semakin larut, udara dingin pun semakin terasa namun tidak untuk kedua insan yang semakin tenggelam dalam sesi main course versi sang suami.
__ADS_1