
Pagi yang sejuk, hamparan sawah menjadi view yang menyedapkan mata. Sejoli yang tengah bertaburan bunga di hatinya saat ini saling berpegangan tangan dengan eratnya. Menyusuri jalanan perkampungan yang mulai dilalui lalui beberapa orang untuk menuju tempatnya beraktivitas.
Sejak mengetahui jika Shanum hamil Akhtar selalu mengisi hari liburnya hanya untuk keluarga kecilnya. Semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan tak pernah dia bahas atau kerjakan di hari minggu. Baginya hari minggu adalah harinya dengan Shanum, tidak ingin apapun atau siapapun mengganggu kebersamaan mereka. Tak jarang keduanya sepakat untuk mematikan gawai.
Seperti pagi ini, saat matahari mulai menebar sinarnya Akhtar sudah bersiap untuk membersamai Shanum berjalan-jalan pagi. Sabtu sore mereka sepakat untuk menginap di rumah Bu Fatimah yang tidak jauh dari rumah nenek dan kakeknya. Mereka berencana jika paginya akan berjalan-jalan menyusuri pesawahan yang dulu pernah mereka susuri jika libur sekolah dan pulang dari asrama saat masih bersekolah di MTs.
Jika dulu saat remaja mereka melalui jalanan ini rame-rame, tidak berani jika harus berjalan berdua karena malu jika ketahuan berpacaran tapi berbeda dengan hari ini. Shanum melingkarkan tangan kirinya di pinggang Akhtar, sementara Akhtar merangkulnya bahunya dengan lembut. Sesekali dia pun membenarkan kerah switer yang membalut tubuh istrinya dengan perut yang membuncit membuat switer itu tidak bisa dikancingkan.
Usia kandungannya kini sudah memasuki bulan ke sembilan, menurut perkiraan dokter Shanum akan melahirkan sekitar tiga minggu lagi. Setiap pagi ba'da subuh sudah menjadi rutinitas Akhtar untuk membersamai sang istri berjalan pagi. Menurut dokter yang memantau perkembangan kehamilan istrinya salah satunya dengan memperbanyak berjalan terutama pagi hari akan membantu memperlancar proses kelahiran.
Akhtar dengan siaga membimbing Shanum menapaki jalan yang sedikit basah karena dihujani tetesan embun sisa semalam dari dedaunan pohon-pohon di samping kiri dan kanan jalan. Hamparan sawah yang mengapit jalanan pun membuat udara pagi di Garut masih terasa menusuk ke pori-pori.
Akhtar mengeratkan rangkulannya. Seperti biasa dia akan selalu bersikap posesif pada istrinya.
"Dingin, sayang?" tanyanya pada Shanum. Dia menoleh menatap wajah istrinya yang tampak sumringah menikmati pemandangan sekitar.
"Lumayan, A. Tapi jadi terasa hangat kalau bersama Aa" gombal Shanum membuat Akhtar tergelak dibuatnya.
"Istriku sudah bisa menggombal ya sekarang" Akhtar mencubit sedikit ujung hidung Shanum dan mendekatkan wajahnya seolah seperti hendak mencium istrinya itu. Membuat sang empunya refleks memalingkan wajahnya menghindar.
"Aa ih, malu" wajah Shanum tampak memerah, pasalnya Akhtar melakukan itu saat mereka berpapasan dengan dua orang yang berjalan dari arah berlawanan dengan membawa cangkul siap menuju sawah. Jelas, tingkah mereka menjadi perhatian dua orang tersebut.yang melihat mereka malu-malu dengan senyum terkulum.
"Biarin, kan halal" dalih Akhtar tak mau kalah. Dia kembali meraih dagu sang istri agar menoleh ke arahnya. Mereka pun saling melempar senyum dan berjalan pelan menyusuri tapak demi tapak jalan yang hampir tiga belas tahun yang lalu menjalan saksi indahnya cinta mereka di usia remaja.
"Dulu kamu kalau jalan suka di sebelah sana, sayang" Akhtar menunjuk jalan di sebrangnya. Saat ini mereka tengah berhenti di sebuah bangku di bawah pohon yang biasa digunakan untuk menunggu angkutan ojeg.
"Iya" Shanum menatap arah yang ditunjuk Akhtar dengan senyum merekah di bibirnya. Ingatannya melayang ke masa itu, masa yang indah untuknya. Kehadiran Akhtar sebagai murid baru di madrasah tempatnya menuntut ilmu tidak menyangka akan menjadi penyemangatnya dalam belajar dan mengukir prestasi. Shanum ingat, pertama kali mereka dibersamakan dalam kegiatan Pramuka. Akhtar bergabung menjadi pengurus tepat di semester dua setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler itu sejak semester sebelumnya.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" Akhtar menelisik wajah istrinya yang masih anteng menatap arah yang ditunjuknya tadi dengan senyum yang belum lepas di bibirnya.
"Aa ingat kita satu pos saat penjelajahan?" tanya Shanum tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sangat ingat, dan saat itulah aku pertama kali berinteraksi langsung denganmu setelah selama satu semester memendam rasa" Akhtar menjawab jujur, dia ingat di awal masa jabatannya menjadi pengurus Pramuka mereka mengadakan perjusami, perkemahan Jumat, Sabtu, Minggu yang diikuti oleh seluruh siswa kelas 7 dan 8. Saat itu Akhtar sebagai panitia dan bertugas menjaga pos bersama Shanum pada sesi penjelajahan.
"Benarkah?" Shanum menoleh, perkataan terakhir Akhtar membuatnya penasaran.
"Iya. Sejak masuk di kelas delapan aku sudah tertarik dengan gadis tercerewet di kelas. Selalu punya argumen yang tepat untuk menyanggah pendapat teman-temannya yang dipikirnya kurang tepat. Selalu bisa mempertahankan argumennya dengan segala data dan teori serta sebab akibat yang akan ditimbulkannya. Kamu tahu, sayang ? aku sungguh selalu terpesona setiap kali kamu berbicara" pikiran Akhtar pun menerawang ke masa dimana dia menjadi murid baru di sana. Hatinya yang hampa karena perpisahan orang tuanya seolah terhangatkan karena rasa yang hadir untuk gadis yang disebutnya cerewet itu.
"Tapi seingat aku, awal-awal masuk Aa enggak pernah ikut berkomentar kalau kita lagi diskusi. Aku bahkan gak ingat kalau ada murid baru" Shanum pun mengungkapkan apa yang diingatnya. Akhtar termasuk murid yang pendiam saat awal-awal datang ke sekolahnya bahkan cenderung lebih suka menyendiri. Shanum sering melihat usaha beberapa teman lelakinya untuk mengajak Akhtar agar bergabung bersama mereka tapi Akhtar selalu menolak.
"Itu karena aku masih menata hati. Saat itu keadaan keluargaku sedang tidak baik-baik saja. Ibu memutuskan untuk pergi bekerja ke kota dan meninggalkan aku di sini. Sebelumnya aku memang jarang berkunjung ke Garut, hal itu membuatku perlu adaptasi yang cukup lama untuk kerasan tinggal di sini dan menerima jika Ayah dan Ibu telah berpisah" Akhtar menunduk saat mengatakan itu, mengingat masa-masa itu ada kesedihan yang kembali menyeruak dalam dadanya.
__ADS_1
Shanum menoleh, mengalihkan pandangannya ke arah suaminya yang duduk di sampingnya. Dia raih tangan Akhtar, menggenggamnya erat seolah memberi kekuatan meyakinkan jika kini semuanya baik-baik saja. Dia menatap lekat suami yang juga menatapnya, memberi senyum menenangkan juga tatapan mata yang meneduhkan.
"Terima kasih, kamu memang yang terbaik. Kamu tahu sayang, kehampaan yang aku miliki ternyata tidak bertahan lama setelah tiba-tiba seorang gadis cerewet menyampaikan tausiyahnya saat shalat dzuhur berjama'ah. Aku terkesan dengan isi tausiyahmu saat itu. Aku pun terkesan dengan cara penyampaianmu yang tidak menggurui namun lebih ke mengajak. Hingga sejak saat itu aku selalu terpesona setiap kali kamu berbicara" Akhtar menjeda ucapannya, dia menelisik wajah sang istri yang menunjukkan rasa herannya.
"Kamu gak percaya?" tanya Akhtar memastikan.
"Entahlah, aku lupa" jawab Shanum santai, sekilas dia mengalihkan pandangannya pada orang-orang yang lewat di hadapannya dan menjawab sapaan mereka.
"Parunten (permisi)"
"Mangga (silahkan)" jawab Shanum dengan senyum ramah menanggapi sapaan mereka. Dia pun merubah posisi duduknya sedikit menghadap suaminya.
"Sayang, pegal?" tanya Akhtar melihat gerakan Shanum.
"Enggak" jawab Shanum singkat
"Memangnya apa yang aku katakan waktu itu?" Shanum penasaran kalimat apa yang diucapkannya sehingga membuat Akhtar terkesan.
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" Akhtar menggoda sang istri.
"Eumhhh" Shanum tampak berpikir, dia meladeni kejailan suaminya. "Mau tahu aja sih" jawab Shanum sambil mengulum senyum melihat ekspresi suaminya yang cemberut karena merasa apa yang akan disampaikannya tidak terlalu penting.
"Hahaha..." Shanum tidak bisa menahan tawanya lagi, dia berhasil menggoda suaminya.
"Kamu akan diuji dengan apa yang kamu cintai, kamu juga akan diuji dengan apa yang kamu takuti. Tapi Allah tidak akan menempatkan kamu pada situasi yang tidak bisa kamu atasi.
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا....
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Berprasangka baiklah selalu kepada Allah dalam setiap keadaan dan libatkan Allah dalam setiap langkah yang ditempuh. Bertawakallah kepada Allah, lakukan apa yang yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah menentukan bagian-Nya."
Akhtar mengulang kata-kata Shanum beberapa tahun silam. Semuanya masih teringat jelas di ingatannya. Bagaimana tidak, dia bahkan mencatat dalam buku catatan pribadinya, membuat salinannya dengan tulisan yang besar dan di tempelkan di dinding kamarnya saat dia tinggal di rumah neneknya.
"Oya?" Shanum mengernyitkan dahinya, sama sekali tidak ingat jika dirinya ketika kultum menyampaikan kalimat itu dan tak percaya jika apa yang disampaikannya memberi kesan yang mendalam untuk seseorang. Fakta yang baru dikerahuinya.
"Sejak saat itu, kamu benar-benar mengalihkan duniaku, Yang" Akhtar mengusap lembut pucuk kepala Shanum yang terbalut hijab, dia pun membenarkan kerah switer yang dipakai istrinya. Waktu masih sangat pagi sehingga hawa dingin masih sangat terasa saat itu.
"Semangatku bangkit lagi, aku mulai giat belajar, mau berbaur dengan teman-teman hingga memilih tinggal di asrama dan aktif di pramuka untuk mengetahui lebih jauh tentangmu. Aku sudah jatuh hati, dan itu adalah cinta kedua kalinya yang aku rasakan untuk wanita setelah ibuku" Akhtar berbicara dengan tenang, dia mengecup tangan Shanum yang menggenggam erat tangannya.
Kebahagiaan memenuhi dada Shanum, rasanya tidak sia-sia penantian dan pengharapannya selama ini nyatanya tidak bertepuk sebelah tangan. Pantas saja jika selama kurun waktu lebih dari sewindu rasa itu tak pernah berubah. Walau sempat beberapa orang hadir memasuki hidupnya tapi tak ada yang mampu menggeser Akhtar dari hatinya.
__ADS_1
"Terima kasih" Shanum menatap sendu sang suami, pancaran matanya jelas menunjukkan betapa dia sangat mencintai suaminya. Begitupun Akhtar pandangannya tak lepas dari wajah cantik istrinya, tatapannya begitu dalam, betapa dia bersyukur karena memiliki pendamping seperti Shanum.
Obrolan mereka tentang masa-masa remaja hidup di asrama dengan ribuan suka dan dukanya masih berlanjut hingga matahari semakin merangkak cahayanya sempurna menghangatkan bumi.
Perjalanan pun dilanjutkan. Tukang bubur langganan mereka dulu di pertigaan jalan antara rumah ibu dan kakek neneknya menjadi persinggahan terakhir. Memilih menepi untuk sarapan
"Zahra?" tiba-tiba seseorang menyapa saat Shanum tengah sendiri menikmati santap pagi dengan menu bubur ayam itu. Akhtar pamit sebentar menuju toilet masjid yang berada tidak jauh tukang bubur.
Shanum mendongak, mendengar ada yang menyebut namanya dia menghentikan makannya. Melirik ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada orang lain yang duduk di bangkunya.
"Saya?" Shanum balik bertanya, dia menatap lekat orang yang memanggilnya, yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya. Seorang laki-laki berperawakan tinggi tegap, dengan pakaian olah raga, keringat tampak mengucur di pelipisnya menandakan jika dia sudah berolah raga membuat aura ketampanannya semakin bertambah.
"Shanum Najua Azzahra kan? XII IPA 1 SMA Negeri xxx Garut, ketua OSIS, duta baca, siswa teraktif dan berprestasi dua tahun berturut-turut" ungkap pria itu mengurai tentang Shanum di masa SMAnya. Di 'saat yang bersamaan Akhtar datang, dia mendengar dengan jelas semua yang dikatakan pria itu. Setelah sejenak terdiam mendengar perkataan pria itu, Akhtar segera mendekati Shanum.
"Sayang, enak buburnya?" tanpa menoleh pria yang sedari tadi menatap semua gerakannya Akhtar bertanya pada istrinya.
Posisi Shanum yang duduk di balik meja dengan tinggi sedada membuat laki-laki itu tidak melihat jika Shanum tengah mengandung. Kedatangan Akhtar dengan panggilan mesranya membuatnya terhenyak.
"Heumm" Shanum mengangguk dia menoleh ke arah suaminya yang sudah duduk di sampingnya.
"Aa makan sekarang?" tanyanya berbasa-basi dia mendekatkan mangkuk bubur ke hadapan Akhtar.
"Zahra, kamu sudah menikah?" pertanyaan itu terlontar dari pria yang tadi menyapanya, menghentikan perbincangan suami istri itu.
"Siapa dia, sayang?" Akhtar menyela perkataan pria itu dengan bertanya pada Shanum tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri. Shanum menggelengkan kepalanya, tanda dia pun tidak tahu siapa pria yang sejak tadi berada di hadapannya.
"Kamu lupa siapa aku?" tanya pria itu menunjuk dirinya.
"Maaf saya benar-benar tidak ingat dan perkenalkan ini suami saya" Shanum akhirnya membuka suara saat melihat aura kecemburuan mulai menyergap sang suami. Sejak tadi tatapannya tak lepas darinya.
"Oke, kalau begitu perkenalkan...." pria itu menyodorkan tangan kanan mengajak Akhtar bersalaman yang disambut Akhtar dengan ekspresi wajah datar.
"Aku Tama, Pratama Ardan XII IPA 1. Juara bertahan lomba KIR SMA xxx Garut yang tersisih oleh Shanum Najua Azzahra" jelas pria itu membuat Akhtar memicingkan matanya.
Shanum melongo mendengar apa yang dikatakan pria itu. Ingatannya mundur ke beberapa tahun silam. Teringat kembali peristiwa yang sudah dia lupakan, bahkan terhapus dari ingatannya.
*
*
*
__ADS_1
Teman-teman, novel ini akan benar-benar segera tamat. Mohon vote-nya ya, biar jadi amunisi buat Shanum melahirkan...😊😊🙏