
Sebuah ruangan di rumah sakit yang sudah disulap menjadi ruang perawatan yang nyaman dengan furniture lengkap pun kini berantakan, pas bunga yang tertata rapi di atas meja yang dilapisi taplak itu pun kini berhamburan mengotori lantai. Ruangan itu adalah ruangan yang sudah disiapkan untuk perawatan Shanum, Akhtar tak lagi bisa menahan dirinya setelah mendengar semua informasi yang disampaikan Ghifar.
Rumah sakit swasta dengan fasilitas yang cukup lengkap dan pelayanan prima di Garut tempat Shanum dirawat saat ini ternyata adalah milik rekan bisnis Pak Furqan. Pak Furqan menelepon sang pemilik dan meminta agar diberikan pelayanan terbaik untuk menantunya, bahkan sang pemilik rumah sakit pun mendatangkan dokter spesialis dari rumah sakit pusat yang terlebih dahulu sudah bekerja sama dengan rumah sakit milik Pak Furqan.
Yasmin dan ketiga temannya menceritakan dengan jujur semua rencana mereka untuk menculik Shanum sebagai sasaran mencari perhatian Akhtar dan Pak Furqan. Tentunya sesudah sebelumnya mendapat ancaman dari Ghifar yang akan mendatangkan polisi untuk mengintrogasi mereka langsung agar berbicara jujur, hingga akhirnya Yasmin memilih berkata jujur pada Ghifar daripada pada polisi yang akhirnya akan membawa mereka ke panjara.
Rencana penculikan Shanum bahkan sudah disusun jauh-jauh hari dan di saat Yasmin mengetahui jika Akhtar sedang berada di Malaysia maka rencana itu pun direalisasikan dengan bantuan ketiga temannya.
"Tenanglah, Bro. Lebih baik sekarang lu fokus pada kesehatan Teh Shanum" Ghifar berusaha menenangkan Akhtar, begitupun Pak Furqan yang yang sudah mengetahui kebenarannya ikut merasakan kekesalan dan kemarahan terhadap Yasmin.
"Jangankan lu bro, gue aja yang dengar geram" gumam Ghifar dalam hatinya, namun dia tidak mau menambah rumit masalah jika dirinya mengatakan sejujurnya.
Akhtar sangat marah ketika mendengar bagaimana Shanum diperlakukan, selama berjam-jam Shanum ditahan tidak sedikit pun mereka memberi Shanum makan juga minum.padahal.istrinya itu sedang dalam keadaan hamil besar. Diagnosa dokter selain stres Shanum juga mengalami dehidrasi karena kekurangan cairan sehingga mengalami kontraksi palsu.
Setelah diberikan penanganan eksklusif Shanum akhirnya bisa tenang dan berisitirahat, keadaan detak jantung dua bayinya pun mulai stabil kembali. Shanum sempat kembali mengalami kontraksi palsu karena masih syok dan keadaannya masih lemah.
Akhtar sempat diperbolehkan untuk melihatnya ke dalam kamar tindakan, namun dia hanya bisa menatap sang istri yang terbaring lemah dengan perut buncitnya. Setelah mencium kening Shanum dengan durasi yang cukup lama, Akhtar pun mengusap perut sang istri dan menciumnya, air matanya bahkan tak mampu dia bendung lagi. Dan alangkah kagetnya dia ketika hendak meraih dan mencium tangan Shanum Akhtar melihat kedua pergelangan Shanum terluka, merah dan hampir melepuh. Setelah mendengar keterangan Ghifar Akhtar semakin marah saat tahu jika selama disekap Shanum dalam keadaan tangan terikat.
"Dia harus membayar semuanya" teriak Akhtar menggema di ruangan itu.
"Nak...." Pak Furqan merangkul Akhtar yang masih belum bisa meredam amarahnya.
"Sebentar lagi ibumu dan keluarga istrimu akan tiba, tenangkan dirimu jangan buat mereka semakin khawatir" Pak Furqan mengingatkan Akhtar sambil terus mengusap bahunya.
"Harusnya aku tidak pergi Yah" ucap Akhtar dalam sela isak tangisnya, air matanya sungguh tak mampu lagi dia tahan. Melihat kondisi sang istri yang terbaring lemah membuat rasa bersalah semakin menggebu di hatinya,
"Sudahlah Nak, ini cobaan dari Allah untuk kita semua, sekang kita maksimalkan ikhtiyar untuk kesehatan istri dan anakmu" Pak Furqan kembali mengingatkan sang putra,
"Bro, gawat!" seru Tama yang sejak tadi berada di lorong antara ruang tindakan dan ruang rawat. Dia bahkan tidak mengetuk pintu saat memasuki ruang yang di dalamnya terdapat Akhtar, Ghifar dan Pak Furqan.
"Ada apa?" Akhtar mendongak dengan mata yang sembab, menatap Tama yang tiba-tiba masuk dengan wajah paniknya,
"Dokter berlarian ke ruangan Shanum, sepertinya terjadi sesuatu dengannya"
Brakk....Akhtar yang bangun dengan cepat dari duduknya tak sengaja menendang meja yang ada di hadapannya, dia bergegas keluar ruangan itu dikuti Ghifar, Pak Furqan dan Tama.
"Suster, ada apa dengan istri saya?" Akhtar hampir menerobos pintu ruang tindakan tempat Shanum berada, untung saja seorang perawat yang bertugas berjaga pun sigap mencegah Akhtar agar tidak masuk dan tetap menunggu di luar.
"Bapak, maaf silahkan menunggu di sini. Dokter sedang melakukan tindakan, saya harap Bapak bisa tenang di sini" suster itu pun meminta pengertian dari Akhtar yang akhirnya mundur dan memilih duduk di kursi tunggu setelah Ghifar menuntunnya untuk duduk,
"Shanum, Ghif..." Akhtar menatap kosong dengan tatapan sendu, terlihat dengan jelas gurat kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan di wajahnya.
"Kita berdo'a Bro, Insya Allah mereka akan baik-baik saja. Teh Shanum wanita yang kuat" Ghifar terus berusaha membesarkan hati Akhtar, begitu pun dengan Pak Furqan yang tak beranjak sedikitpun dari sampingnya.
Sementara Yasmin dan ketiga temannya sudah diamankan oleh anak buah Pak Furqan beberapa saat setelah diintrogasi oleh Ghifar. Pak Furqan tidak ingin Akhtar semakin marah jika melihat Yasmin masih berada di sana. Oleh karenanya beliau berinisiatif untuk mengamankan Yasmin ke tempat yang aman.
__ADS_1
Di saat bersamaan rombongan keluarga Shanum dan Ibu Fatimah pun datang bersamaan. Bu Fatimah menjadi orang pertama yang berjalan menuju sang putra yang terlihat begitu rapuh.
"Akhtar, Nak...bagaimana keadaan istrimu?" Bu Fatimah merangkul Akhtar setelah Ghifar memberi ruang padanya untuk duduk di samping putranya, sementara Pak Furqan tetap berada di tempatnya mendampingi di sebelah Akhtar.
"Ibu....hiks..." Akhtar menahan isak tangisnya, tak ingin membuat sang ibu dan mertuanya semakin khawatir.
"Nak Akhtar bagaimana keadaan teteh?" tidak lama Pak Imran yang menuntun Bu Hana pun datang menghampirinya,
Akhtar mengurai pelukannya dengan sang ibu, beralih menyalami kedua mertuanya. Pak Furqan pun menyalami besannya dengan pelukan hangat.
"Bagaimana keadaan Teteh A?" karena tak kunjung ada jawaban atas pertanyaan suaminya, Bu Hana pun mengulang pertanyaan itu.
"Dokter sedang melakukan tindakan Bu" jawab Akhtar lesu,
"Apa teteh sudah mau melahirkan?" susul bu Hana yang masih terlihat panik dan belum puas dengan jawaban menantunya itu,
"Belum bu, dokter bilang tadi teteh stres dan dehidrasi sehingga menimbulkan kontraksi palsu" terang Akhtar masih berusaha tegar,
"Bro, lu sang sabar ya...kita semua di sini bantu do'a untuk keselamatan Shahum dan anak kalian" Ahsan yang datang bersama Liani pun akhirnya buka suara.
"Insya Allah Shanum wanita kuat Pak" Liani pun tak kalah memberi motivasi, walau pun dalam hatinya diapun sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.
Liani yang awalnya akan pergi ke rumah Shanum dengan Ghifar untuk membawa perlengkapan bersalin urung karena ban mobil yang dikendarai Ghifar bocor. Alhasil, Pak Furqan dan Akhtar berangkat ke rumah sakit duluan dengan mobil Akhtar yang dikemudikan Ghifar karena Pak Furqan yang memintanya, sementara Fauzan menemani anak buah Pak Furqan untuk menjemput Bu Fatimah dan keluarga Shanum dan Liani tetap diminta untuk mengambil perlengkapan melahirkan Shanum dengan ditemani Ahsan.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" Akhtar sigap berdiri saat mendengar pintu ruang tindakan terbuka.
"Mohon maaf, dengan berat hati harus kami sampaikan. Bu Shanum mengalami kontraksi yang sangat hebat, kondisi tubuhnya yang lemah membuatnya tidak siap sehingga menyebabkan tekanan darahnya tinggi dan beliau mengalami pendarahan. Saat ini sedang dilakukan transfusi darah, tapi stok darah golongan A plus di rumah sakit hanya sedikit saya harap ada anggota keluarga yang bisa mendonorkan darahnya untuk bu Shanum" penjelasan dokter membuat semua orang terlihat semakin panik, Akhtar bahkan sudah tak mampu berkata-kata lagi.
"Dokter lakukan yang terbaik untuk istri saya" Akhtar memegangi tangan dokter dan memohon dengan nada memelas, air matanya sudah tak mampu dia bendung lagi.
"Tenanglah Pak, kami sedang berusaha sebaik mungkin. Bapak bantu do'a ya" dokter itu pun berusaha menenangkan Akhtar,
"Golongan darah saya A plus dok, dokter bisa mengambil darah saya" Tama yang sejak tadi hanya diam memperhatikan saat semua anggota keluarga Shanum datang akhirnya buka suara,
"Saya juga A plus dokter" Fauzan pun angkat bicara,
"Kalau begitu, silahkan kalian berdua ikuti perawat ini" dokter menyuruh perawat untuk memeriksa kondisi tubuh Tama dan Fauzan, apakah layak untuk mendonorkan darahnya atau tidak.
Semua kembali menunggu dengan harap-harap cemas, tak lupa dengan lafal do'a yang terus terucap dari lisan semua orang untuk keselamatan Shanum dan anaknya.
Sementara di salah satu sudut lorong rumah sakit itu, Liani duduk seorang diri dengan mendekap tas kecil berisi barang-barang pribadi milik Shanum, agak jauh dari kerumunan keluarga Shanum. Dia menerimanya dari seorang perawat yang datang menghampirinya. Air mata terus membasahi pipinya tak tertahankan. Mengingat semua kenangan indah dengan sahabatnya itu. Terus melafalkan do'a untuk keselamatan sahabat dan bayi yang dikandungnya.
"Sebaiknya kita berdo'a" suara yang tak asing di telinga Liani pun berhasil menghentikan tangisnya, dia dengan cepat mengusap air mata di pipinya,
"Pak" sapa Liani pada laki-laki yang kini telah duduk di sampingnya, dia adalah Ahsan.
__ADS_1
"Pak?" Ahsan mengulang sapaan Liani dia melirik dan menatap Liani dengan tatapan heran kenapa panggilan gadis itu tiba-tiba berubah, selama dalam perjalanan mengambil perlengkapan melahirkan Shanum hingga sampai di rumah sakit tak ada percakapan apapun di antara mereka, keduanya anteng dengan pikirannya masing-masing.
Liani mengabaikan tatapan heran Ahsan dia masih membersihkan sisa air mata di sudut matanya dengan tisu, tidak menoleh sedikitpun ke arah Ahsan.
"Kamu kenapa?" tanya Ahsan akhirnya mengungkapkan keheranannya yang sejak awal bertemu Liani di Garut merasakan jika sikap gadis itu berubah.
"Saya sedih Pak, Shanum sahabat saya sedang berjuang antara hidup dan mati. Saya sedih tidak bisa melakukan apa-apa untuknya selain berdo'a, hiks..." Liani kembali terisak dengan sedikit didramatisir, mengalihkan pertanyaan Ahsan yang sebenarnya sangat difahaminya.
"Bukan itu, maksudku kenapa kamu memanggilku Pak?" jelas Ahsan dengan nada sedikit ketus,
"Tidak ada maksud apa-apa, memangnya kenapa Pak? Bapak kan atasan saya memang sudah seharusnya saya memanggil Bapak demikian" Liani semakin memperjelas panggilannya saat ini, selama beberapa minggu ini dia berhasil memantapkan hati untuk mengubur harapan lebihnya pada Ahsan, walau bagaimanapun sikap yang Ahsan tunjukkan semenjak dirinya didaulat jadi ketua yayasan dan sejak kembalinya Suraya cukup membuatnya sadar diri untuk tahu posisinya di hati Ahsan.
"Ckk...." Ahsan berdecak mendengar alasan Liani, dia merubah posisi duduknya menjadi miring dan menghadap Liani yang semakin menundukkan kepalanya,
"Maksud kamu apa bilang seperti itu , heum?" suara Ahsan berubah terdengar lebih lembut, dia meraih dagu Liani agar mau melihatnya,
"Lepaskan Pak" Liani menepis tangan Akhtar yang sudah berada di dagunya,
"Untuk sekarang sewajarnya saja, mungkin yang kemarin terlalu berlebihan" tegasnya.
"Apanya yang sewajarnya? apanya yang berlebihan?" Akhtar balik bertanya pada Liani, dia masih tidak peka dengan alasan perubahan Liani, bahkan terlihat kesal saat Liani menepis tangannya.
"Saya Pak, saya yang berlebihan dengan perasaan saya terhadap Bapak. Padahal Bapak hanya bersikap sewajarnya. Dan sekarang saya pun ingin sewajarnya saja" Liani akhirnya mengungkapkan apa yang ada di hatinya selama ini,
"Maafkan saya pernah berharap lebih pada Bapak dengan perasaan saya. Setiap pesan yang Bapak kirim terlalu membuat saya bahagia, hingga akhir akhirnya membuat saya merasakan indahnya jatuh cinta. Namun ternyata saya yang terlalu baper, selama ini bapak mengirimi saya pesan hanya mengetiknya dengan jari tapi saya malah membacanya dengan hati" Liani terkekeh di akhir ucapannya,
Ahsan menggelengkan kepalanya, merasa tidak terima dengan ucapan Liani.
"Kamu salah, Li...aku...." ucapan Ahsan terjadi saat seseorang tiba-tiba memanggil namanya,
"Ahsan" seorang wanita cantik yang tak lain adalah Suraya datang dan berjalan ke arahnya, Liani mendongak melihat siapa yang datang. Refleks dia pun berdiri dan mundur beberapa langkah menjauh dari Ahsan.
"Suraya? darimana kamu tahu aku di sini?" tanya Ahsan heran, dia langsung berdiri membalikkan tubuhnya menyambut Suraya dan mengabaikan pembicaraannya dengan Liani. Ahsan bahkan tidak menyadari jika Liani sudah mundur perlahan menjauh darinya,
"Aku tadi ke kantor yayasan, kebetulan aku jaga malam di klinik. Iseng main ke kantor kamu tadinya mau ngajak ngopi bareng, tapi kata penjaga kamu pergi dengan Omm Furqan ke Garut dan aku mendapatkan alamat rumah sakit ini dari Omm Furqan, dari tadi aku telepon kamu gak aktif" jelas Suraya panjang lebar, diapun meraih lengan Ahsan, namun segera Ahsan menepisnya apalagi mengingat jika dirinya sedang bersama Liani saat ini.
"Maaf" ucap Suraya pelan, dia tak bisa mengontrol kebiasaannya jika bersama Ahsan padahal sudah sering Ahsan mengingatkannya,
"Kamu lagi ngapain di sini sendirian? bagaimana keadaan Shanum?" tanya Suraya heran,
"Aku tidak sendiri, aku bersama...." Ahsan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Liani, tadi dia masih bersamanya tapi entah kemana perginya sekarang gadis itu.
Sementara dari balik tembok yang membatasi lorong rumah sakit dengan ruang lainnya Liani tak mampu menahan air matanya, hatinya masih terasa sakit ketika melihat Ahsan bersama Suraya,
"Pilihanku tepat, bukannya aku menyerah aku hanya lelah jika harus bertahan namun tidak pernah dipedulikan" ucapnya pelan.
__ADS_1