
Yayasan yang dihebohkan dengan berita viral yang dilansir banyak berita online menyita perhatian Akhtar. Dia mendengar desas desus orang-orang menyebut nama Shanum.
Tuutt......
"Ke ruanganku sekarang" Akhtar menghubungi seseorang melalui interkom yang ada di ruangannya. Saat ini dia sedang berada di kantor yayasan.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" perintah Akhtar.
"Assalamu'alaikum" tampak Ghifar sang asisten datang dengan menggenggam tablet yang biasa digunakannya untuk bekerja.
"Wa'alaikumsalam" jawab Akhtar, dia beralih dari kursi kerjanya menuju sopa.
"Duduklah, ada yang ingin aku tanyakan padamu" Akhtar menunjuk sopa tepat di hadapannya meminta Ghifar duduk di sana.
"Ada yang perlu saya kerjakan, Boss?" tanya Ghifar sopan. Saat bekerja Ghifar selalu tampil profesional, meskipun mereka adalah sahabat dekat tapi Ghifar tahu batasan.
"Ada kejadian apa di yayasan?" Akhtar bertanya dengan nada serius. Beberapa hari ini dia menghabiskan waktunya di perusahan dan baru hari ini dia bisa berada di yayasan.
Ghifar menarik napasnya dalam, dia sudah mengirs boss sekaligus sahabatnya itu pasti akan mempertanyakan hal ini.
Tanpa menunggu Ghifar segera membuka layar tablet yang sedang digenggamnya. Jari-jarinya menari lincah mencari sesuatu di layar tablet itu. Setelah menemukan hasil dari pencariannya, dia pun menyodorkan tablet itu kepada Akhtar.
Akhtar menerima tablet yang diberikan Ghifar, ekpresi wajahnya langsung berubah setelah melihat layar tablet yang disodorkan Ghifar tadi. Dia membaca berita di tablet itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Suasana ruangan menjadi hening. Ghifar yang biasanya bisa membaca ekspresi wajah Akhtar tapi kali ini diapun kesulitan. Ghifar tidak tahu apa yang akan dilakukan Akhtar selanjutnya.
"Brengsek!" umpat Akhtar, raut wajahnya menunjukkan dia sangat marah mengetahui hal ini.
"Astaghfirullah" ucapnya kemudian, Akhtar beristighfar dengan suara pilu.
"Siapa yang melakukan ini?" Akhtar bertanya dengan lirih, dia terus memandangi foto-foto yang terpampang jelas di halaman berita itu. Dia ingat betul itu adalah foto saat dirinya menemui Shanum di perkebunan teh.
Hari itu menjadi hari yang indah untuk mereka berdua, Akhtar merasa Shanumnya benar-benar sudah kembali. Setiap obrolan mereka selalu berujung tawa di bibir Shanum. Sejenak Akhtar pun melupakan realita tentang pertunangan dirinya dengan Raina. Dia bahagia melihat Shanum kembali ceria saat bersamanya setelah sekian lama keceriaan itu tak pernah muncul di hadapannya karena luka yang ditorehkannya begitu dalam.
"Aku sudah menyelidikinya dan semua bukti mengarah pada Raina. Kali ini dia sendiri melakukannya tanpa bantuan Suraya. Suraya benar-benar tidak mau terlibat karena dia sudah mendapatkan tujuannya"
Kasus yang menjerat Ayah Mas Ahsan murni hanya rekayasa, dalam hal ini ayah Suraya mempunyai peranan yang besar. Suraya meminta bantuan ayahnya untuk mencapai tujuannya mendapatkan kembali Ahsan. Dengan kekuasaan yang dimilikinya ayah Suraya mengatur semuanya begitu apik sehingga kasus yang menimpa ayah Mas Ahsan terkesan realistis."
"Tidak ada pilihan lain untuk Mas Ahsan selain menerima syarat yang diajukan ayah Suraya. Dia berjanji akan membebaskan ayahnya dan membersihkan nama baiknya kembali dengan syarat Mas Ahsan harus menikahi Suraya"
"Mas Ahsan cukup cerdas, sepertinya dia tahu tujuan Suraya selanjutnya. Dia membuat perjanjian dengan Suraya. Entah apa jelasnya isi perjanjian itu. Namun intinya Suraya berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu Bu Shanum, Boss." Ghifar mengakhiri penjelasannya.
Suasana kembali hening, Akhtar masih mencerna semua penjelasan Ghifar. Dia tidak habis pikir bisa-bisanya dua gadis berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga terhormat itu melakukan hal keji untuk memenuhi apa yang mereka inginkan. Dan yang sangat dia sesalkan target utama mereka adalah gadis yang sangat dia cintai.
"Huuuhh...." Akhtar membuang napasnya kasar. Dia memijit pelipisnya pelan karena tiba-tiba merasa pusing, permasalahan yang dihadapi oleh dirinya dan Ahsan benar-benar semakin kompleks. Terlibat cinta pada gadis yang sama dan kini harus sama-sama melepas gadis itu karena keadaan yang tak bisa dihindari.
"Ahsan sudah mengetahuinya?" Akhtar mulai kembali bersuara namun masih dengan ekspresi datarnya.
"Sepertinya sudah karena berita ini tidak hanya mengguncang dunia pendidikan di Bandung tapi juga beberapa kota mengingat Bu Shanum adalah salah satu guru berprestasi tingkat nasional tahun kemarin. Jadi...." ucapan Ghifar tiba-tiba berhenti karena mendengar bunyi panggilan dari gawai Akhtar yang diletakkan di meja tepat di hadapannya.
Akhtar mengambil gawainya, terlihat nama Ahsan yang meneleponnya.
"Assalamu'alaikum" sapa Akhtar saat menerima panggilan itu.
"Wa'alaikumsalam. Brengsek lu ya, kemana aja lu? ngapain aja kerjaan lu ? gue bilang jaga Shanum, jaga Shanum" teriak Ahsan di ujung teleponnya, dia benar-benar marah saat mengetahui pemberitaan negatif yang beredar tentang Shanum. Akhtar sampai menjauhkan gawai dari telinganya karena teriakan Ahsan.
__ADS_1
"Gue minta sekarang lu beresin tunangan lu. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Shanum gue gak tahu apa tindakan yang akan gue lakuin masih bisa ditolerir atau tidak. Assalamu'alaikum" Ahsan menutup teleponnya sepihak tanpa menunggu jawaban dari Akhtar. Akhtar hanya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Akhtar pelan, karena Ahsan sudah terlebih dahulu menutup sambungan teleponnya.
Akhtar paham sebesar apa kemarahan Ahsan namun dia tahu posisi sepupunya itu tidak jauh berbeda dengan dirinya. Maju kena mundur kena.
"Tarik semua pemberitaan itu. Atur pertemuanku dengan Raina" perintah Akhtar pada asistennya.
"Baik, Boss" dengan sigap Ghifar merespon perintah bossnya, dia pun beranjak dari tempat duduknya.
"Satu lagi..." ucap Akhtar menghentikan langkah Ghifar yang sudah hampir mendekati pintu. Dia berbalik dan menunggu perintah lanjutan dari atasannya.
"Pastikan tempat pertemuanku dengan Raina aman dan leluasa" lanjut Akhtar dengan nada ketus saat menyebut nama Raina.
"Hah?" Ghifar melongo saat mendengar perintah atasannya itu. Dia merasa ambigu dengan perintah bossnya.
Akhtar mengerti jika pikiran asistennya itu traveling kemana-mana.
"Apa? pastikan tempatnya aman dan leluasa untuk bicara" jelasnya membuat Ghifar tergelak.
"Kirain, Boss..." selanya.
"Kirain apa? jangan macem-macem kamu" ancam Akhtar.
"Oke, oke....haha...kirain mau minta disiapin kamar president suite boss....haha..." Ghifar masih terus tertawa menggoda bossnya.
"Sialan, Lu" umpat Akhtar sambil melempar pulpen yang dipegangnya ke arah Ghifar.
"Haha...." Ghifar menghindar dan segera berlalu keluar ruangan dengan masih diiringi gelak tawa karena berhasil menggoda boss sekaligus sahabatnya itu.
Akhtar menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran mewah. Dia menyerahkan kunci mobilnya kepada security untuk diparkirkan di tempat seharusnya. Dia memang sudah menjadi pelanggan VIP di restoran ini.
Akhtar melangkah memasuki sebuah ruangan yang tampak luas dan mewah. Ruangan privat room yang sengaja disiapkan Ghifar sesuai permintaannya. Di ruangan itu hanya ada satu meja makan dan satu set sopa untuk bersantai.
Seorang wanita cantik berhijab merah sudah menunggunya di sana. Dia sudah datang lebih dulu ke tempat yang dijanjikan oleh Ghifar atas perintah Akhtar. Dia sangat antusias menerima permintaan tunangannya. Sampai saat ini dia masih kesulitan jika ingin bersama dengan Akhtar karena kesibukan Akhtar yang tak berujung walaupun hanya sekedar untuk makan bersama, namun Akhtar selalu punya alasan untuk menolak.
Raina menampilkan senyum termanisnya saat melihat Akhtar membuka pintu memasuki ruangan itu. Dia berdiri untuk menyambut tunangannya itu, namun Akhtar hanya sedikit menganggukan kepalanya dan mempersilahkan Raina kembali duduk di tempatnya.
"Assalamu'alaikum" ucap Akhtar saat memasuki ruangan. Dia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Raina. Posisi mereka terhalang meja bundar dengan diameter yang cukup lebar.
"Wa'alaikumsalam, sayang" jawab Raina masih dengan senyum manisnya dan dibumbui panggilan mesra saat menjawab salam Akhtar.
"Apa kabar, Mas? aku kangen lho..." lanjut Raina dengan nada yang manja.
Akhtar hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Raina.
"Sudah pesan makanan?" tanya Akhtar mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah, kamu juga katanya sudah dipesankan sama Mas Ghifar" jawab Raina.
Tidak lama pelayan pun datang membawa pesanan mereka. Akhtar fokus dengan makanan yang ada di hadapannya. Pagi tadi dia belum sempat sarapan dan makan siang pun sedikit terlambat karena tanggung harus menerima tamu yang datang ke yayasan.
Tidak ada pembicaraan apapun di antara mereka. Raina sesekali memandangi Akhtar yang tampak fokus dengan makanannya.
"Eheumm" Raina berdehem untuk memecah keheningan di antara mereka, namun tidak lantas membuat Akhtar mengalihkan fokusnya. Dia menikmati makan siangnya yang terasa sangat enak di lidah, entah efek lapar atau karena memang benar-benar enak.
Melihat Akhtar tak juga merespon Raina jadi kesal sendiri. Dia pun menghabiskan makanannya dengan hati yang dongkol.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, meja mereka kini sudah kembali bersih karena pelayan sudah membereskannya.
"Langsung saja, aku hanya ingin menanyakan tentang berita yang saat ini beredar di beberapa portal berita online" Akhtar menjeda ucapannya, dia menelisik raut wajah Raina yang mulai terlihat salah tingkah.
"Apakah itu ulah kamu?" lanjutnya.
Raina semakin salah tingkah saat Akhtar melayangkan pertanyaan itu. Wajah gugupnya sangatlah kentara di mata Akhtar. Dia semakin yakin jika dalang di balik pemberitaan-pemberitaan itu adalah Raina. Gadis yang beberapa bulan yang lalu resmi menjadi tunangannya.
"Jawab!" perintah Akhtar tegas namun masih dengan suara yang tidak terlalu keras.
Raina semakin ketakutan, dia menundukkan wajahnya menghindari tatapan tajam Akhtar yang menghunus sampai ke ulu hatinya.
"A...a...ak..aku...tidak tahu menahu tentang berita itu" jawab Raina bohong.
"Benarkah?" sela Akhtar tak percaya dengan jawaban Raina.
"I...iiiya..." jawabnya lagi semakin terlihat gugup.
"Raina, aku beri kamu kesempatan sekali lagi. Jawab jujur atau aku tunjukkan sesuatu yang akan membuat kamu tidak bisa mengelak?" ancam Akhtar.
Raina mendongakkan kepalanya. Dilihatnya wajah Akhtar yang menunjukkan ekspresi yang tidak seperti biasanya. Ekspresi itu biasanya Akhtar tunjukan saat berhadapan dengan klien yang ketahuan bermain curang dalam bisnis mereka dan Akhtar tidak akan mentolerir itu.
Raina menarik napas dalam, dia mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara di hadapan Akhtar.
"Iya, aku yang melakukannya. Aku yang meminta media-media itu mempublish berita itu. Kenapa? ada yang salah? bukankah benar beberapa hari ke belakang Mas menemuinya dan kalian melewati hari yang menyenangkan berdua. Aku menyuruh orang untuk terus mengawasi guru itu. Aku tidak percaya jika dia benar-benar akan pergi. Setelah tidak berhasil menggoda Kak Ahsan, aku yakin dia akan menggoda kamu juga Mas dan ternyata itu benar. Kamu meluangkan waktu untuk menemuinya, meluangkan waktu khusus untuk menemui dia ke Bogor dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan dia dari pada aku yang jelas-jelas sudah jadi tunangan kamu padahal sebentar lagi akan kita akan menikah. Kamu tega, Mas. Dia pasti tidak rela Mas lebih memilih aku daripada dia. Iya kan?" Raina mengakui perbuatannya dia berbicara dengan napas yang terengah-engah dan dada yang naik turun karena menahan amarah.
"Aku benci dia yang terus membayang-bayangi kamu. Aku tahu kalian pernah terlibat kisah cinta di masa lalu tapi kan itu dulu Mas, dulu..., kini dia hanya masa lalumu Mas dan akulah masa depanmu" ucap Raina, dia berbicara lebih tenang dibanding dengan tadi.
"Aku mencintai kamu, Mas. Aku sangat mencintai kamu bahkan dari dulu di hatiku hanya ada kamu, tapi kamu selalu mengabaikannya" Lanjut Raina, dia terlihat mengusap air mata yang menetes di pipinya.
Akhtar menenangkan pikirannya, hatinya berbisik menghadapi Raina harus cerdas. Dia paling pintar memutar balikkan keadaan seolah dia yang menjadi korban.
"Aku adalah tunangan kamu, kita sudah bertunangan. Tapi sadarkah kamu jika perbuatanmu justru mencoreng nama baikmu sendiri?" tanya Akhtar pada Raina. Dia berbicara penuh kelembutan.
"Andai aku benar berselingkuh dengan Shanum dan kamu mengungkapnya ke publik, tidakkah kamu berpikir alasanku lebih memilih berselingkuh dengan wanita lain karena apa? tidakkah kamu berpikir bahwa itu berarti aku tidak mencintai kamu dan cintamu hanya bertepuk sebelah tangan? tidak bisakah kamu bersandiwara agar kita terlihat baik-baik saja sehingga membuat orang berpikir bahwa kita pasangan serasi dan saling mencintai? bukankan itu lebih mengangkat harga dirimu sebagai perempuan?"
Deg...pertanyaan Akhtar telak membuat Raina kehilangan harga dirinya, dia berpikir dengan beredarnya berita itu dia telah gagal mempertahankan Akhtar dan itu artinya dia yang kalah selama ini.
"Aku tahu sebelum ini kamu dan Suraya yang menculik dan mengancam Shanum dengan ancaman yang keji. Aku tidak menyangka jika kamu bisa senekad itu" Akhtar membeberkan apa yang dilakukan Raina dan Suraya kepada Shanum.
Raina semakin gugup, dia kaget ternyata Akhtar mengetahui perbuatan-perbuatannya dengan Suraya kepada Shanum.
"Aku hanya ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku" Raina berusaha membela diri.
"Haruskan dengan cara menjijikan seperti itu?" tanya Akhtar lagi.
"Dia memang pantas menerimanya" Raina kembali membela diri.
"Memangnya apa salahnya?" susul Akhtar,
"Karena dia sudah menggoda kamu, Mas. Mas Ahsan juga aku tidak bisa terima jika sesuatu yang sudah menjadi milikku diganggu orang" bela Raina setengah berteriak. Untung saja saat ini mereka berada di privat room sehingga tidak mengganggu pengunjung lainnya.
"Dia yang menggoda aku?" Ahsan balik bertanya dan dijawab Raina dengan anggukan kepala.
"Tidak salah? Apakah kamu tidak melihat jika selama ini yang mengejar dia itu aku, karena dia adalah cinta pertamaku. Selama bertahun-tahun aku menjaga hatiku hanya untuknya, aku tidak mah mencintai yang lain. Cukup dia, dia sudah cukup untukku. Tidakkah kamu melihat itu? hahh?" Akhtar berbicara dengan intonasi yang meninggi.
"Ya...aku tahu, aku tahu kalau di matamu selalu ada cinta saat melihat dia dan aku benci itu. Aku cemburu karena tidak pernah menerima semua itu darimu, aku tidak akan membiarkan kamu bersamanya. Aku akan terus mempertahankan kamu bagaimanapun caranya. Kamu adalah milikku Mas, milikku. Dan lihat saja apa yang akan aku lakukan selanjutnya pada guru itu jika kamu terus menemuinya. Aku pastikan kamu akan menyesal Mas, akan menyesal. Camkan itu!" Raina beranjak dari tempat duduknya, dia pergi setelah mengakui perbuatannya dan berakhir dengan ancaman untuk Shanum.
__ADS_1