
Malam yang panjang untuk dua insan yang baru saja usai mereguk indahnya surga dunia. Shanum bersandar di dada bidang sang suami. Akhtar mengarahkan tangan kanan Shanum untuk melingkar di pinggangnya. Hingga istrinya kini berada di pelukannya, tak dibiarkan sedikitpun jarak hadir di antara mereka. Sama-sama polos keduanya bergelut di balik selimut tebal yang baru saja kembali ke tempatnya setelah sebelumnya entah terlempar kemana.
Shanum memejamkan matanya saat pandangannya bertemu Akhtar. Bayangan penyatuan yang baru saja terjadi kembali melintas di pikirannya.
"Kenapa? mau lagi?" Akhtar menggoda istrinya, membelai lembut pipi Shanum penuh kasih sayang.
"Apaan sih?" Shanum membuka matanya, berusaha kembali menetralkan pikiran yang seolah terbaca oleh Akhtar.
"Gak apa-apa, aku suka wajah kamu kayak tadi" satu kecupan kembali dia layangkan di puncak kepala Shanum, dibelainya rambut hitam yang tampak berantakan karena ulahnya. Tangannya naik turun perlahan merapikan rambut panjang itu.
"A, kenapa Aa masih bisa mencintaiku?" bukankan Aa sudah pergi jauh? Di luaran sana pasti bertemu dengan banyak wanita yang jauh lebih segalanya dari aku" di sela-sela istirahat setelah aktivitas panas mereka Shanum mengungkapkan isi hatinya, selama ini dia memendam sendiri kepenasarannya. Benarkah suaminya kini adalah Akhtar yang dulu mencintainya dengan tulus atau sudah terkontaminasi dengan lingkungan luar yang membuatnya berubah haluan.
Ingin sekali menyampaikan ini sebelum pernikahan, tapi mendengar tentang cerita Akhtar dari Ahsan yang mengatakan jika dia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun dengan alasan sudah memiliki kekasih membuatnya kembali memendam perasaan itu.
"Kenapa? kamu enggak percaya heummm? Akhtar merubah posisinya menjadi setengah duduk. Tubuh Shanum yang berada di rangkulannya pun dia angkat sedikit agar lebih nyaman.
"Mau tahu aja. Laki-laki seperti Aa tidak akan sulit untuk mendapatkan wanita seperti apapun. Kenapa masih mengharapkan aku? bukankah kisah kita dulu hanya sekedar cinta monyet?" jawab Shanum jujur. Dia mengira jika selama ini hanya dirinya yang masih menyimpan nama Akhtar di hatinya, membiarkannya tetap menjadi penghuni hatinya dan ternyata cinta dalam hatinya tidak sia-sia.
__ADS_1
"Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, namun ketika cinta itu telah jatuh pada satu pilihan maka selamanya akan aku jaga. Hakikatnya, Allah lah yang menitipkan cinta itu di hatiku. Jadi jika kamu mau tahu kenapa aku masih sangat mencintai kamu tanyakan saja pada pemilik hatiku, Dia yang sudah mengatur segalanya" jelas Akhtar dengan santai, dia meraih dagu Shanum agar mendongak, satu kecupan dia daratkan di bibir Shanum, kecupan yang ternyata tidak cukup hanya satu kali. Akhtar kembali menghujani wajah Shanum dengan banyak kecupan, kening , dua matanya, pipi dan kembali berujung di bibir sang istri. Kecupan yang semakin lama semakin menuntut dan berakhir di area favoritnya. Akhtar kembali meraup manisnya bibir sang istri dengan rakus namun tetap penuh kelembutan.
"Dan sekarang aku semakin tahu kenapa aku mencintaimu" Akhtar berkata di tengah jeda aktivitasnya. Diusapnya kepala sang istri dan dia pun melanjutkan aktivitasnya menikmati bibir sang istri, tidak menyadari perkataannya membuat Shanum penasaran.
"Kenapa?" tanya Shanum dengan nafas tersenggal, dia bertanya sesaat Akhtar telah melepaskan pagutannya.
"Karena aku bahagia bersamamu" lanjut Akhtar sejenak dan kembali melanjutkan aksinya yang terjeda karena pertanyaan Shanum.
"Sayang...." Akhtar memanggil dengan suara parau, matanya menatap lekat manik mata sang istri, tampak sudah kembali berkabut gairah. Shanum membalas tatapan Akhtar penuh cinta, dia tahu jika suaminya kembali menginginkannya.
"Sebentar lagi subuh, masih ada waktu buat tahajud juga. Sebaiknya kita segera membersihkan diri, kita tahajud bareng ya" ajak Shanum, dia berusaha mengalihkan fokus suaminya. Bagian intinya masih terasa tidak nyaman saat ini karena pergulatan sebelumnya.
"Masih ada waktu satu setengah jam lagi sayang. Kita reka ulang adegan tadi ya" tanpa menunggu jawaban Shanum Akhtar kembali mengulang aksinya. Dia benar-benar menunjukkan keperkasaannya malam ini, setelah dua kali melakukan aksinya semalam dengan drama yang cukup menguras emosi di tahap pertama sesi main course menurutnya itu, kini Akhtar kembali mengakhiri petualangan malam pertamanya dengan mengajak Shanum mereka ulang kejadian sebelumnya di penghujung malam.
Shanum pasrah, dia tidak bisa menolak keinginan laki-laki yang telah sah menjadi pasangan halalnya itu. Sakit yang dirasakannya pun mulai terkikis dengan perlakuan lembut sang suami. Shanum kembali dibuat serasa melayang ke langit ketujuh.
Lain halnya dengan Shanum dan Akhtar yang tengah berbahagia malam ini. Ahsan yang sampai ke Bandung sekitar pukul sebelas malam, dia langsung menuju rumah dinasnya di yayasan setelah terlebih dulu mengantarkan Liani ke rumah dinasnya. Dia berusaha memejamkan matanya, namun hingga di penghujung malam nyatanya dia masih terjaga.
__ADS_1
Sikap Liani yang berubah seratus delapan puluh derajat saat di perjalanan membuatnya harus berusaha keras untuk mengembalikan mood wanita itu. Bukan tanpa alasan Liani berubah, saat perjalanan Garut Bandung yang baru setengahnya mereka lalui. Ahsan mendapat telepon dari sang ayah, Ahsan pun menepikan mobilnya dia memberi tahu Liani jika ayahnya menelepon dan dijawab anggukan kepala oleh Liani.
Dari percakapan bersama sang ayah yang memakan waktu kurang lebih lima belas menit itu Liani bisa mengambil kesimpulan jika ayah Ahsan memintanya untuk memaafkan Suraya dan meminta sang putra agar bersedia menemui Suraya. Ahsan sempat menolak, namun permintaan sang ayah seolah tidak bisa diganggu gugat, Ahsan pun akhirnya mengiyakan permintaan sang ayah untuk bersedia bertemu dengan Suraya.
Liani merasa tertampar dengan kenyataan itu. Persetujuan Ahsan untuk bertemu dengan Suraya membuat Liani mengambil kesimpulan jika selama ini dia hanya bertepuk sebelah tangan. Mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Seketika suasana hatinya pun berubah, pikirannya fokus pada urusan rasa dan hatinya yang berdampak pada perubahan sikapnya. Liani tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya dan rasa cemburunya.
Tidak ada lagi obrolan hangat di antara mereka selama perjalanan, Liani memilih tidur dengan alasan capek setelah seharian membantu acara pernikahan Shanum. Ahsan tidak bisa menolak, dia membiarkan Liani beristirahat selama perjalanan menuju Bandung dengan hati yang tidak tenang karena perubahan sikap Liani sesaat setelah dirinya mengakhiri teleponnya dengan sang ayah sangat kentara olehnya.
Sesampainya di halaman rumah dinas Liani, Liani pun langsung terbangun, dengan segera melepas seat belt dan segera turun dari mobilnya dengan buru-buru. Ahsan yang mengira Liani tidur pun ternyata salah. Dia tidak sempat membukakan pintu mobil untuk Liani. Gerakannya begitu cepat, dia hanya melongo di depan kemudi melihat tingkah laku Liani.
"Terima kasih, Mas. Maaf sudah merepotkan". Assalamu'alaikum" ucap Liani dari luar mobil. Dia segera berbalik menuju pintu pagar rumah dinasnya dan dengan segera memasukinya tanpa menunggu jawaban salam dari Ahsan.
"Li...." panggilan Ahsan yamg segera keluar dari mobilnya tidak digubris oleh Liani. Dengan langkah cepat Liani memasuki area rumah dinasnya setelah dengan buru-buru menutup kembali pagar rumahnya tanpa menghiraukan panggilan Ahsan.
Ahsan tidak bisa berbuat banyak. Malam semakin larut dia pun kembali memasuki mobilnya dan melaju menuju rumah dinasnya dengan perasaan yang hampa, merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
Hingga penghujung malam menjelang matanya masih terbuka. Pikirannya menerawang jauh, mengingat kebersamaannya dengan Liani, merasakan kembali hatinya yang hampa saat teringat jika saat ini wanita itu tengah berubah. sikapnya. Diapun beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi hendak mengambil air wudhu.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Ahsan menggelar sejadah di atas karpet yang terbentang di samping tempat tidur di kamarnya. Dia pun menunaikan shalat malam, menumpahkan segala perasaannya dalam munajat kepada Sang Khaliq, pemilik hati, jiwa dan raganya serta seluruh kehidupannya.