Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 20: Welcome Baby Twins


__ADS_3

"Semoga tidak ada lagi perasaan mudah tertarik hanya karena diperlakukan baik" Liani bergumam dalam hatinya,


Sejak berada di rumah sakit, Ahsan sangat baik memperlakukannya. Seperti biasa, laki-laki itu bersikap seolah semua baik-baik saja tidak menyadari jika beberapa bulan ini dirinya mengabaikan wanita yang sebelumnya dia perlakukan istimewa hingga gadis itu penuh percaya diri merasa menjadi yang spesial. Namun kenyataan kembali menghantam dan menyadarkannya bahwa dirinya tidak seistimewa itu.


Liani terpekur sendiri di sebuah kursi taman di samping gedung rumah sakit tempat Shanum dirawat. Dia sungguh sedang menguatkan diri untuk memperkokoh tembok yang sengaja dia bangun agar perasaan yang susah payah dia tenggelamkan tidak kembali muncul hanya karena perlakuannya yang melenakan.


Bahkan setelah kedatangan Suraya semalam Ahsan masih saja bersikap seperti biasa laki-laki itu memperlakukannya, memastikan Liani tidur dengan benar dan nyaman. Ahsan bahkan membenarkan selimut yang menutupi tubuh gadis itu semalam, Liani tahu karena sebenarnya dia belum bisa tertidur.


"Ini minuman hangat, minumlah" seseorang yang sedang menari-nari di pikirannya ternyata sudah duduk di sampingnya, mengulurkan segelas besar minuman yang masih terlihat mengepul.


"Pak Ahsan" Liani terlonjak kaget dengan kehadiran Ahsan yang tiba-tiba, namun untunglah otak sadarnya tetap stay hingga sapaan formal tetap terlontar dari mulutnya untuk lelaki itu.


"Ckk" Ahsan berdecak mendengar Liani masih memanggilnya dengan sebutan itu sejak semalam, dia terlihat tidak senang mendengar Liani memanggilnya dengan panggilan formal itu.


"Kamu itu sebenarnya kenapa? kenapa masih memanggilku dengan sebutan formal seperti itu, heumm?" pertanyaan yang sama yang diajukannya semalam, namun kali ini dengan nada yang lebih lembut. Ahsan menatap lekat Liani dari samping, gadis itu masih mengarahkan pandangannya lurus ke depan.


"Kenapa, heum?" Ahsan menyentuh bahu Liani yang berbalut jaket yang semalam dibawakan Ghifar dari rumah Shanum. Dia terlonjak karena sentuhan itu., refleks menghindar dan memalingkan wajah ke arah Ahsan.


"Maaf" ucap Ahsan segera menjauhkan tangannya dari bahu Liani, sejenak pandangan mereka bertemu Liani hampir saja terlena. Dia pun segera kembali memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aku hanya mau tahu kenapa kamu berubah?" tanya Ahsan lembut dengan tatapan yang masih tertuju pada Liani.


"Karena Bapak berubah, saya pun memutuskan untuk berubah juga walaupun terlambat" Ahsan mengernyit mendengar jawaban Liani yang membuatnya sakin bingung,


"Aku berubah kenapa?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.


"Bapak...." Liani kembali menghentikan ucapannya saat dari kejauhan terlihat seorang wanita cantik berjalan ke arah mereka.


"Ahsan, ternyata kamu di sini?" pagi menuju siang ini Suraya kembali datang ke rumah sakit dengan membawa paper bag di tangannya.


"Kamu..."


"Aku membawakanmu sarapan, pasti kamu belum sarapan kan?" Suraya berdiri di dekat Ahsan, berbicara dengan lembut satu tangannya yang tidak memegang apa-apa meraih lengan Ahsan tanpa sungkan. Matanya sedikit melirik ke arah Liani yang menatap apa yang dilakukannya, seperti sengaja melakukannya untuk menegaskan posisinya bagi Ahsan di hadapan Liani.


"Pak, saya kembali ke dalam dulu. Bu, saya permisi" Liani berdiri dan pamit untuk meninggalkan tempat itu, saat ini tempat itu sudah tidak senyaman sebelumnya saat dia sendiri,

__ADS_1


"Li..." Ahsan berdiri tampak berusaha menahan kepergian Liani, namun lagi-lagi Suraya beraksi


"Eh mau kemana? tidak sarapan dulu? aku bawa banyak lho..." Suraya menarik tangan Ahsan supaya dia duduk kembali,


"Terima kasih Bu, saya sudah sarapan tadi di kantin" menekan kata kantin seolah mengingatkan Ahsan jika tadi pagi mereka pergi bersama untuk sarapan di kantin. Liani hanya tersenyum kecil melihat laki-laki itu menuruti apa yang diminta Suraya. Liani pun menganggukan sedikit kepalanya sebelum meninggalkan tempat itu.


"Pergi tak dihalangi, hilang tak dicari, beginilah jika mencintai tapi tidak dicintai kembali" batin Liani, dia pun melangkah menjauh dari dua insan yang sejujurnya membuat dadanya sesak.


"Seharusnya kamu tinggalkan saja manusia labil seperti dia" saat sudah cukup jauh dari taman tempat Ahsan dan Suraya berada Liani menghentikan langkahnya karena mendengar suara seseorang yang tak asing di telinganya.


"Pak Ghifar? dari mana Pak?" Liani balik bertanya, tak menghiraukan pernyataan Ghifar yang baru saja didengarnya.


"Dari taman" jawab Ghifar singkat,


"Ouh..." Liani hanya membulatkan bibirnya,


"Eh tunggu, Bapak dari taman itu?" Liani baru menyadari jika mereka dari tempat yang sama,


"Iya Bu Guru.... dan saya berada di sana sejak anda sendiri sampai datang Pak Ahsan dan selanjutnya datang Ibu Suraya dan berhasil membuat anda pergi dari sana" Ghifar menjawab panjang lebar, menjelaskan kronologis keberadaannya di taman itu.


"Bapak...." ucapan Liani menggantung,


"Iya, aku mendengar semuanya" sambung Ghifar telak, membuat Liani membulatkan mata dan menutup mulut dengan kedua tangannya,


"Terus bapak merasa kasihan pada saya?" Liani terlihat sendu saat mengatakannya,


"Kenapa ibu bertanya seperti itu?" Ghifar pun kembali menghentikan langkahnya karena Liani menghadangnya,


"Karena saya terlihat menyedihkan" Liani menundukkan kepalanya, merasa rendah diri.


Semalam Ghifar juga melihat jika Liani pergi saat sedang bersama Ahsan karena kedatangan Suraya, dan pagi menuju siang ini dia pun kembali mengalami kejadian yang sama dengan semalam. Menjadi orang yang tersingkirkan setelah kedatangan Suraya dan naasnya Ahsan membiarkannya pergi begitu saja.


"Sudah saya katakan, sebaiknya ibu tinggalkan saja manusia labil seperti dia" imbuh Ghifar tegas,


"Iya, saya akan melakukannya. Tidak ada kepastian juga untuk saya berada di sisinya, sekarang saya hanya menunggu Shanum pulih dan bertemu dengan keponakan-keponakanku yang lucu" jelas Liani gemas sendiri, ekspresi wajahnya kembali berubah ceria saat mengatakan tentang keponakan-keponakannya, maksudnya anak-anak Shanum.

__ADS_1


"Saya akan dukung" ucap Ghifar kembali berjalan mendahului Liani menuju ruang tunggu operasi,


"Bapak sendiri sudah speak up belum?" pertanyaan Liani menghentikan langkah Ghifar,


Liani sedikit banyak tahu jika laki-laki di hadapannya pun memiliki nasib yang tak jauh beda dengan dirinya, bahkan lebih parah menurutnya. Mencintai seseorang yang sudah bertunangan, Hasna mantan adik ipar Shanum adalah perempuan yang berhasil menarik perhatian Ghifar, pria yang terkenal dingin dengan lawan jenis itu ternyata bisa jatuh cinta juga. Namun sayangnya saat ini Hasna wanita yang disukai Ghifar itu sudah bertunangan dengan kekasihnya yang sudah menjalin hubungan hampir lima tahun lamanya.


"Jangan hanya dipendam Pak, coba aja ungkapkan. Bukankan laki-laki punya tenaga dan keberanian berlipat dibanding perempuan?"


"Atau Bapak selamanya mau mencintai jodoh orang? hehe...." Liani terkekeh di akhir kalimatnya, kalimat yang sebenarnya juga sangat cocok untuk dirinya,


"Dan laki-laki punya kekuatan untuk tetap baik-baik saja dikala kasih itu tak sampai dibanding wanita" jawab Ghifar telak,


"Termasuk harus bersama yang lain walau di hati masih ada seseorang?" Liani kembali meluncurkan pertanyaan menohok pada Ghifar,


"Setidaknya kami masih tetap bisa melanjutkan hidup dengan baik tanpa terlihat rapuh," Ghifar melanjutkan langkahnya setelah mengatakan kalimat itu,


"Hey, jadi maksud Bapak saya terlihat rapuh begitu?" pekik Liani, saat ini mereka berada di lorong yang menghubungkan ruangan Shanum dirawat dengan ruangan operasi,


Ghifar hanya melirik sekilas, mencebikkan bibir dan mengangkat bahunya. Dia pun kembali melanjutkan langkah menuju ruang operasi.


*


*


*


"Oa.....oa.......oa........" suara tangisan bayi yang saling bersahutan memecah keheningan ruang tunggu rumah sakit,


Kaget dan haru bahagia bercampur terlihat jelas di wajah semua orang. Mendengar tangisan bayi yang saling bersahutan mereka yakin anak kembar Shanum lahir dengan selamat.


"Alhamdulillah" kalimat indah pun terucap serempak dari lisan semua orang, Bu Hana, Pak Imran, Bu Fatimah, Pak Furqan, Indri dan juga Fauzan yang berada di ruang tunggu membersamai Akhtar. Mereka saling pandang, saling menularkan kebahagian dengan sorot mata yang berbinar karena mendengar tangisan dua orang bayi yang diyakini anak-anak Shanum,


Namun sedetik kemudian senyum semua orang terlihat surut saat semua mata tertuju pada Akhtar yang masih dengan wajah datarnya. Kali ini bahkan terlihat sangat menyedihkan, kesedihan, ketakutan dan kekhawatiran jelas terlihat di wajah Akhtar.


"Bayi..... mereka selamat?" gumam Akhtar pelan, pikirannya kembali mengingat ketika dia menandatangani surat pernyataan itu, dia yakin kalau dirinya memilih Shanum untuk menjadi prioritas penyelamatan dokter pada operasi itu, tapi kenapa saat ini terdengar suara tangis bayi? Apakah keduanya selamat atau Shanum....

__ADS_1


"Shanum...." ucapnya pelan dengan air mata yang kembali mengalir membasahi pipinya,


__ADS_2