
Sudah dua minggu ini Akhtar tidak fokus dalam menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Di yayasan setumpuk berkas menunggu untuk kaji dan disetujui olehnya. Jangankan ditandatanganili dan segera terrealisasi dilirik saja tidak.
Ghifar sang asisten menjadi orang yang paling merasakan dampak langsung dari keadaan sahabat sekaligus atasannya itu. Tidak ada satupun pekerjaan yang benar seratus persen di mata Akhtar seminggu ini. Bahkan kekeliruan tanda baca yang ada dalam surat kontrak kerja karyawan perusahaan saja menjadi sumber masalah yang besar bagi Akhtar.
Ghifar merapikan kertas kerja yang baru saja disodorkan Akhtar kepadanya. Dia menatap lekat punggung kursi yang diduduki Akhtar. Akhtar langsung membalikkan kursi kerjanya membelakangi Ghifar sesaat setelah menandatangani berkas yang dibawa Ghifar. Setelah perbaikan sebanyak tiga kali akhirnya Akhtar pun membubuhkan tanda tangannya di atas berkas yang harus dikirim sesegera itu tanpa membacanya kembali.
Ghifar sedikit lega karena satu persatu pekerjaannya hari ini mulai terselesaikan dengan baik walau terjadi keterlambatan. Dia melepas jas yang membalut tubuhnya dan menggulung lengan baju kemeja yang dipakainya.
"Bro..." panggilnya pada Akhtar. Saat ini Ghifar sedang memposisikan dirinya sebagai sahabat.
Akhtar menoleh, dia memutar kursi kerjanya seratus delapan puluh derajat. Dan kini mereka berdua sudah duduk saling berhadapan.
Akhtar menyunggingkan bibirnya, sedikit tersenyum melihat penampilan sahabatnya itu. Dia pasti sangat lelah hingga melepas jas dan menggulung lengan baju kemejanya saat masih jam ngantor.
"Bicaralah, ini sudah hampir dua minggu kamu seperti ini. Selama dua minggu ini aku bisa menahan diri untuk bersabar menghadapimu tapi entahlah jika harus lebih lama lagi" ucap Ghifar dengan nada serius namun penampilan lebih santai.
"Aku merindukan Shanum!" ucap Akhtar singkat.
"Ishhhh....sudah kuduga pasti gara-gara moodboosternya mogok" ejek Ghifar.
"Bro, sudah hampir dua minggu aku tidak menerima kiriman foto dia. Nomor adiknya juga tidak aktif, terakhir dia bilang akan mengikuti pelatihan selama seminggu di luar kota jadi tidak bisa mengirimkan kabar atau foto Shanum. Gue bisa memaklumi untuk seminggu itu, tapi ini sudah hampir dua minggu, Bro. Gue udah hampir gila karena merindukan dia" ungkap Akhtar jujur pada asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Kenapa gak lu temuin aja lagi dia ke sana?" usul Ghifar.
"Raina akan mengetahuinya, Bro. Lu tahu kan matanya dimana-mana" balas Akhtar putus asa.
"Sekarang harapan gue satu-satunya hanya Fauzan. Dia mendukung banget gue sama kakaknya. Dia bilang sejak dulu Shanum tidak pernah menulis nama laki-laki di buku diarinya selain nama gue, Bro. Keren kan cewek gue?" Akhtar mengatakannya dengan senyum menghiasi bibirnya.
Ghifar mencebikkan bibirnya ketika mendengar Akhtar menyebut Shanum ceweknya.
"Iya keren, yang gak keren itu Lu yang maen percaya aja sama satu sumber info tanpa kembali menguji validitasnya. Heran gue, selama gue mengenal lu perasaan lu adalah orang yang selalu teliti dan penuh pertimbangan dalam segala hal. Kenapa urusan ginian lu jadi bego. Alhasil nyesek sampe sekarang" sindir Ghifar.
Ghifar tahu jika dulu sempat terjadi kesalahfahaman antara Akhtar dan Shanum hingga Akhtar memutuskan untuk menerima perjodohannya dengan Raina. Dan di saat yang bersamaan ternyata Akhtar mendapati kenyataan jika ternyata Shanum masih setia menunggunya.
Akhtar menarik napasnya dalam-dalam, raut mukanya berubah sendu ketika mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, dalam hatinya dia pun membenarkan ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1
Akhtar mengusap layar gawainya, dia menatap foto yang menjadi walpaper penghias layar gawainya. Terpampang jelas foto Shanum sedang dikelilingi anak-anak TK di perkebunan teh. Fauzan yang mengirimnya, dia mengambil foto itu saat mengantar kakaknya untuk membimbing outbond anak-anak TK tempatnya mengajar.
Akhtar kembali menekan nomor Fauzan, namun masih juga tidak aktif. Akhtar jadi kesal sendiri. Satu sisi dia ingin nekad menemui Shanum untuk mengobati kerinduannya namun di sisi lain dia pun tidak ingin terjadi apa-apa pada Shanum. Akhtar tahu Raina akan lebih nekad menyakiti Shanum jika ketahuan dirinya menemui Shanum.
Pemberitaan tentang dirinya dan Shanum berhasil ditarik dari peredaran, namun Raina tetap tidak tinggal diam. Ancaman untuk menyakiti Shanum semakin santer dia buktikan, dia bahkan melibatkan Ayahnya untuk memastikan ancamannya itu terwujud jika Akhtar tidak menepati janjinya.
Raina mengancam akan menghancurkan karir Shanum sebagai guru sampai dia tidak akan pernah diterima lagi mengajar di mana pun. Kekuasaan yang dimiliki ayahnya sangat besar di Kementerian sehingga tentu hal itu mudah untuk menyabotase karir Shanum dari dunia pendidikan.
Gila memang, Akhtar bergidik ngeri sendiri membayangkan ancaman Raina. Raina mengancam karir Shanum di dunia pendidikan untuk mewujudkan ambisi pribadinya. Bagi Akhtar dunia pendidikan adalah dunia yang harusnya bersih dari berbagai hal yang mengarah pada ketidakbenaran apalagi yang bersifat untuk kepentingan pribadi.
Akhtar merinding sendiri membayangkan seperti apa karakter wanita yang terpaksa harus dinikahinya itu. Raina yang selalu memaksakan kehendak dan mewujudkan setiap keinginannya tanpa peduli apapun caranya akan dia tempuh.
Di saat Akhtar terlena dengan lamunannya memikirkan sesuatu yang belum terjadi untuk masa depan tiba-tiba gawainya berbunyi menandakan ada notifikasi pesan masuk.
Ting.....
Dia kembali mengusap layar gawainya dan membuka pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar di kontaknya.
Deg.....jantung Akhtar rasanya seperti tidak berdetak bahkan dunia rasanya berhenti berputar. Raut wajahnya menunjukkan jika dia telah menerima kabar yang tidak mengenakkan.
Akhtar bergeming, dia mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu. Matanya terus tertuju pada layar gawainya, berkali-kali dia membaca pesan yang baru saja masuk ke aplikasi whatsappnya seolah tak percaya dengan informasi yang disampaikan si pengirim pesan.
'Assalamu'alaikum, Kak. Aku Fauzan adiknya Teh Shanum. Teh Shanum hari ini menikah!'
Akhtar mendongak menatap Ghifar yang tampak khawatir melihat perubahan raut muka sahabatnya itu.
"Ada apa?" Ghifar mengulangi pertanyaannya.
"Shanum Ghif, Shanum....." lirih Akhtar.
Mata Akhtar mulai berembun saat beradu tatap dengan Ghifar.
"Ada apa dengan Shanum?" tanya Ghifar panik.
"Hari ini Shanum menikah!" ucapnya pelan. Seiring dengan nadanya yang merendah, tangisnya pun akhirnya pecah. Akhtar memalingkan wajahnya saat air matanya mulai berjatuhan begitu saja.
__ADS_1
Sementara di Bogor...
Halaman rumah Shanum sudah disulap menjadi tempat pesta yang mewah. Singgasana pengantin bernuansa mocca dipadu dengan warna softpink tampak megah dan elegan.
Semua persiapan sudah rampung, deretan anggota keluarga sudah bersiap menyambut tamu rombongan calon pengantin pria dan keluarga yang menurut informasi akan sampai sekitar sepuluh menitan lagi.
Shanum menatap wajahnya nanar di cermin besar yang disediakan penata rias di kamarnya. Balutan gaun putih berkilauan swarovski dengan kerudung berwarna senada terjuntai menutupi dada menjadi pilihan baju pengantin Shanum hari ini.
"Siap?" Liani datang tiba-tiba menghentikan petualangan Shanum di alam lamunannya.
"Heumm..." jawab Shanum.
'Kami ucapkan selamat datang kepada calon mempelai pengantin pria beserta rombongan di kediaman calon mempelai pengantin wanita. Selanjutnya dipersilahkan untuk menempati tempat duduk yang telah disediakan'
Suara pemandu acara terdengar jelas di telinga Shanum. Dia menarik napasnya panjang dan membuangnya cepat, seolah mengeluarkan keresahan yang masih menyelimuti hatinya.
"Aku berdo'a semoga ini menjadi keputusan yang tepat untukmu. Yakinlah semua yang tertakdir sudah tertakar dengan sempurna dan tidak akan pernah tertukar", ucap Liani menenangkan Shanum. Dia dapat melihat masih ada keraguan di mata Shanum.
"Jika cinta pertamamu menorehkan luka, Insya Allah cinta terakhirmu menghadirkan surga" lanjut Liani.
"Insya Allah Li, seiring waktu semua akan ikhlas pada waktunya" ucap Shanum sedikit menganggukkan kepalanya.
"Ikhlas bukan hanya perkara bagaimana kamu rela melepas sesuatu, tapi juga bagaimana kamu mampu menjalani hidup dengan hal-hal yang tak lagi berjalan semestinya. Hiduplah dengan baik setelah ini", Liani kembali mengingatkan sahabatnya. Dia hanya ingin Shanum bahagia dengan pernikahannya.
"Terima kasih Li, kamu adalah sahabat terbaikku. Insyaa Allah selama Allah yang menjadi tujuan, semua akan baik-baik saja. Allah akan menguatkan aku untuk melewati ini semua. Without Allah I am nothing" Shanum memotivasi dirinya sendiri.
'Alhamdulillah, tiba saatnya pada acara inti dari seluruh rangkaian acara hari ini yaitu prosesi akad nikah. Untuk calon mempelai pengantin pria dipersilahkan menempati tempat yang sudah disiapkan untuk melaksanakan prosesi akad. Selanjutnya kami persilahkan kepada petugas dari Kantor Urusan Agama untuk memandu acara'
Suara pembawa acara kembali terdengar jelas di telinga Shanum dan Liani. Shanum semakin terlihat tegang, dia meremat jari-jari tangannya yang sejak tadi ditautkan. Liani pun memeluk Shanum dari samping, mengusap-usap bahu Shanum mencoba mengalirkan ketenangan untuk sahabatnya.
'Ananda Baihaqi Abdillah bin Muhammad Surya (Almarhum) saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Shanum Najua Azzahra dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat ditambah seratus gram perhiasan emas dan uang tunai sebesar seratus juta rupiah, tunai.'
'Saya terima nikahnya dan kawinnya Shanum Najua Azzahra binti Imran dengan maskawin yang tersebut, tunai karena Allah.'
"Huuuhhh....." Shanum menghembuskan napasnya, matanya mulai berembun. Dia mendongakkan kepalanya, menahan sesuatu agar tidak keluar dari sudut matanya.
__ADS_1
Akad, lima menit yang merubah segalanya. Yang merubah bakti seorang wanita dari Ibu yang melahirkannya dan ayah yang selalu menjaganya kepada laki-laki asing yang datang dan memintanya tiba-tiba.