
Pagi ini Shanum sudah siap dengan pakaian kerjanya. Jarum jam yang menempel di dinding rumah dinasnya masih menunjukkan pukul enam tepat.
Shanum mengamati setiap sudut rumah itu, hampir dua tahun dia menempati rumah dinas ini . Banyak kenangan yang terjadi di rumah itu. Dia tersenyum miris mengingat peristiwa yang dia alami semalam dan hari ini akan menjadi hari terakhirnya berada di rumah itu.
Semua barang-barang pribadinya sudah dia kemas serapi mungkin. Dia pun memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal. Semalam Liani membantunya berkemas. Kembalinya Shanum semalam menjadi hal yang ditunggu oleh Liani.
Liani tidak tidur dan terus memantau rumah Shanum. Ketika melihat lampu rumah dinas Shanum menyala, Liani langsung menemuinya. Keharuan sempat mewarnai pertemuan mereka, peristiwa hilangnya Shanum membuat Liani sangat kehilangan dan sangat mengkhawatirkannya.
"Assalamu'alaikum" Liani datang dengan pakaian yang sudah siap untuk pergi ke sekolah.
Hari ini Liani akan membersamai Shanum menghadap kepala sekolah untuk mengundurkan diri secara resmi. Semalam Shanum sudah menceritakan semuanya pada Liani. Tidak ada yang terlewatkan sedikit pun. Shanum menceritakannya dengan tenang, dia sudah bisa menguasai diri dan perasaannya kembali, meskipun sesekali Shanum terisak karena menahan tangis saat bercerita.
Liani tidak tahan untuk tidak menangis mendengar cerita sahabatnya. Dia benar-benar geram dengan kelakuan Suraya dan Raina. Ternyata pendidikan tinggi tidak menjamin baik tidaknya attitude seseorang.
Yang tidak kalah membuat Liani geram adalah saat Shanum mengatakan bahwa dia sudah memaafkan apa yang dilakukan Suraya dan Raina padanya. Shanum mengerti mengapa mereka berbuat seperti itu padanya. Semua yang mereka lakukan hanya bentuk perjuangan untuk menjaga miliknya agar tidak diganggu orang lain.
Shanum meminta pada Liani untuk tidak menceritakan semua yang terjadi padanya hari ini kepada siapapun. Biarlah dia menyelesaikan masalah ini sendiri, dia tidak ingin ada orang lain yang terlibat. Cukup dirinya yang menjadi sasaran kemarahan Suraya dan Raina.
"Wa'alaikumsalam" jawab Shanum lirih.
"Sudah siap?" Liani menghampiri Shanum yang sedang berdiri di ruang tamu mengamati setiap sudut rumah itu.
"Insyaa Alloh" jawab Shanum singkat.
"Aku yakin kamu kuat menghadapi semua ini, yang aku tahu seorang Shanum tidak akan larut dalam keterpurukan, saat terjatuh dia selalu punya cara untuk kembali bangkit segera" Liani menyemangati sahabatnya yang dia yakini keadaannya belum baik-baik saja saat ini.
Liani merasa iba, Shanum sahabat baiknya lagi-lagi menghadapi masalah yang sangat berat. Dia pikir rasanya Shanum tidak pantas mendapatkan cobaan seperti ini. Dia adalah orang baik, tapi kenapa ujian berat dan bertubi selalu datang menghampirinya.
Tapi kembali lagi pada hakikat , bukankah hidup dan mati itu sendiri adalah ujian. Liani menyadari bahwa setiap ujian datang untuk mendewasakan. Saat ini Shanum benar-benar sedang dibentuk untuk menjadi pribadi yang lebih kuat di masa yang akan datang.
Dia sendiri sangat sedih karena tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Shanum. Shanum pun menolak saat Liani menawarkan diri untuk mencoba membantunya melaporkan hal ini kepada dewan pengawas yayasan. Dia tidak ingin karir Liani pun berakhir seperti dirinya. Shanum tahu betul dia berhadapan dengan siapa dan apa yang akan dilakukan mereka jika dia melakukannya.
"Ayo" ajak Shanum.
__ADS_1
Shanum dan Liani berangkat menuju sekolah. Ruang kepala sekolah adalah tujuannya saat ini. Shanum berkali-kali menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Dia terus berusaha menetralkan perasaannya berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Untuk mempermudah proses pengunduran dirinya di tengah semester, Shanum memakai alasan yang logis dan mudah diterima. Menikah dan mengikuti suami adalah alasan yang tepat pengunduran dirinya saat ini. Dia tidak ingin mengundang kecurigaan dari siapapun.
Berita hilangnya Shanum semalam sudah menyebar seantero yayasan. Dia tahu pengunduran dirinya akan menimbulkan banyak spekulasi. Shanum pikir alasan menikah adalah alasan yang paling mudah diterima oleh siapapun.
Tanpa harus menunggu lama, pengunduran diri Shanum pun diproses. Awalnya kepala sekolah menolak surat pengunduran dirinya, beliau berusaha membujuk Shanum untuk membatalkannya. Selama Shanum bergabung bersamanya di sekolah ini beliau sangat banyak terbantu. Beliau sangat menyayangkan harus melepaskan guru seperti Shanum.
Namun keputusan Shanum sudah bulat dia sedikit berbohong dengan mengatakan semuanya sudah dia pertimbangkan jauh-jauh hari dan hari ini adalah hari yang tepat untuknya mengundurkan diri.
Akhirnya setelah perdebatan panjang antara Shanum dan Kepala Sekolah, beliau tidak bisa lagi mencegah Shanum dan merelakan Shanum untuk resign dari sekolah yang beliau pimpin. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam dipastikan Shanum akan menerima surat balasan pengabulan pengunduran dirinya.
Shanum dan Liani meninggalkan ruang kepala sekolah dengan perasaan lega terutama Shanum karena pengajuan surat pengunduran dirinya diterima dan akan segera diproses. Mereka berpisah berjalan ke ruangannya masing-masing. Hari ini adalah hari terakhir Shanum mengajar di sekolah itu, dia berencana akan berpamitan kepada seluruh siswa yang diajarnya dan juga kepada semua guru.
Sementara di tempat lain....
Akhtar tampak kesal karena pagi ini dia harus mengikuti rapat penting di perusahaan. Dia merutuki dirinya sendiri karena semalam ketiduran saat menunggu Shanum. Akhtar dan Ahsan sama-sama tertidur dan tidak mengetahui kedatangan Shanum saat kembali ke yayasan. Kumandang adzan Subuhlah yang membangunkan mereka berdua.
Hal pertama yang mereka lakukan saat terbangun adalah langsung mengecek CCTV gerbang utama. Dari rekaman CCTV mereka melihat jika tepat setelah mereka terlelap, Shanum turun dari sebuah mobil yang tidak mereka kenali, dan yang membuat asumsi Akhtar dan Ahsan terkait hilangnya Shanum yang didalangi Raina dan Suraya semakin kuat karena beberapa saat sebelum kedatangan mobil yang membawa Shanum terlihat mobil Raina memasuki gerbang utama.
Begitu pun Ahsan, niat hati ingin segera menemui Shanum dan memastikan kabarnya ternyata hanya menjadi angan belaka. Dia harus mewakili universitas untuk mengikuti seminar selama dua hari di luar kota. Dan pagi ini dia pun harus segera berangkat.
***
Senja pun menjelang, Shanum sudah berada di rumah dinasnya. Dia menunggu malam tiba, Shanum sengaja akan keluar dari yayasan saat malam agar tidak mengundang kegaduhan karena kepergiannya. Dia pun ditemani Liani mengunjungi rumah-rumah dinas guru yang satu blok dengannya untuk berpamitan.
Semua merasa kehilangan dan sedih saat mengetahui Shanum akan resign. Mereka menyayangkan yayasan harus kehilangan guru sepotensial Shanum. Meskipun Shanum termasuk guru baru di yayasan dan ini adalah tahun kedua Shanum berada di sana tetapi keberadaannya sudah memberikan kontribusi yang besar untuk sekolah khususnya dan yayasan secara umum.
Dalam rentang waktu yang belum lama pengabdian Shanum telah membuahkan hasil. Selain sebagai guru berprestasi, Shanum pun dikenal sebagai even organizer dan pembina kesiswaan yang banyak membantu para siswa untuk meraih prestasi di berbagai ajang kompetensi. Tidak ada yang tidak tahu tentang Shanum, di tahun kedua keberadaannya di sekolah ini dia sudah menyumbangkan banyak prestasi untuk sekolah.
Shanum dan Liani tengah mengobrol di ruang tamu rumah dinas Shanum yang dinding-dindingnya sudah tampak kosong. Semua pajangan yang Shanum pasang untuk memperindah ruangan itu sudah dia kemas untuk dibawa ke Bogor. Tinggal sofa dan lemari kosong yang berada di ruang itu karena sejak awal memang sudah berada di sana. Yayasan memberikan rumah dinas kepada guru lengkap dengan perabotannya seperti sofa, rak, lemari pakaian dan kasur.
"Num, jangan lupakan aku ya" ucap Liani dengan intonasi sedih, saat ini mereka sedang menunggu kedatangan mobil yang akan membawa Shanum kembali ke Bogor dan mengangkut barang-barang bawaannya.
__ADS_1
"Insyaa Allah enggaklah...kita masih bisa bersilaturahim. Sekarang kan teknologi semakin canggih. Bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Aku yang harusnya bilang gitu sama kamu, kamu jangan melupakan aku." jawab Shanum tak kalah haru.
Mereka berdua berpelukan, menandakan keduanya sama-sama merakan kehilangan akibat perpisahan ini.
"Andai Suraya tidak hadir di antara kalian, tentu saat ini kamu dan Pak Ahsan sedang mempersiapkan pernikahan kalian, ngapain sih dia datang tiba-tiba dan mengacaukan semuanya. Padahal Pak Ahsan sudah jelas-jelas menolaknya, dulu dia sendiri kan yang ninggalin Pak Ahsan tiba-tiba. Dan sekarang dia seenaknya saja datang dan mengklaim dirinya sebagai kekasih Pak Ahsan."
"Dia gak mikir apa... gimana sakitnya Pak Ahsan waktu ditinggalin sehari sebelum pertunangannya dan sekarang saat dia sudah menemukan kebahagiaan dengan kamu tiba-tiba dia datang dan mengacaukan semuanya. Ada ya orang seegois itu, dasar gak tau diri, gak punya malu apa?" cerocos Liani. Dia terus mengumpat Suraya yang dianggapnya sangatlah keterlaluan.
"Hussh...kamu ini jaga kalau ngomong. Gak baik ghibahin orang sampe segitunya lagi." Shanum mengingatkan Liani.
"Kesel aku tuh sama dia, kesel, kesel pake bangettttt...." Liani jadi gemas sendiri.
Shanum hanya geleng-gelang kepala melihat tingkah Liani.
"Jika luka harus dibayar dengan luka, sakit dibalas dengan sakit, dan benci dibalas dengan benci pula. Lantas apa bedanya aku dengan mereka?" tanya Shanum pada Liani.
Liani tercenung mendengar pertanyaan Shanum. Dia menatap sahabatnya dalam, dalam hatinya dia memuji sahabatnya yang selalu berprasangka baik terhadap semua hal yang menimpanya. Dia bangga memiliki sahabat seperti Shanum.
"Jiwa yang besar dan hati yang lapang memang tidak semua orang punya. Tetapi kita bisa memilikinya dengan memaafkan tanpa diminta dan mendo'akan kebaikan tanpa sepengetahuannya" lanjut Shanum.
"Aku berdo'a semoga apa yang mereka harapkan Allah mudahkan untuk terwujud", pungkas Shanum.
Liani meresapi setiap kata-kata yang Shanum ucapkan. Hatinya menghangat dia merasa beruntung telah Allah pertemukan dengan orang baik seperti Shanum.
Pukul sembilan malam situasi sudah mulai sepi. Beberapa rumah di komplek dinas guru SMA Bina Insani terlihat sudah gelap, tanda sang penghuni rumah sudah mematikan lampu dan menghentikan aktivitasnya untuk bersiap tidur.
Shanum menghubungi nomor gawai sopir yang sudah dipesannya. Dua puluh menit kemudian terdengar suara deru mobil berhenti tepat di depan pagar rumah dinas Shanum. Dia segera membuka pintu dan mendapatkan seorang laki-laki turun dari mobil itu untuk membantu Shanum memasukan barang-barang ke dalam mobilnya.
Shanum dan Liani berpelukan saat tiba waktunya untuk berpisah. Dengan berat hati Shanum akhirnya harus meninggalkan tempatnya bekerja, mengamalkan ilmu yang di dapatnya selama bersekolah, di tempat inilah Shanum benar-benar menemukan jati dirinya sebagai pendidik. Dia tidak hanya berkesempatan membagikan ilmunya tetapi juga mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih kompeten.
Tidak semua orang seberuntung dirinya bisa bekerja di tempat ini. Selama ini dia sudah berusaha menjaga nama baik dirinya dan tempatnya bekerja. Totalitas tanpa batas benar-benar nyata adanya bagi Shanum. Menempatkan kepentingan pekerjaan di atas kepentingan dirinya sendiri.
Namun ternyata takdir berkata lain. Sekuat apapun digenggam yang bukan takdir kita pasti akan lepas juga. Dia harus rela menepikan semua impiannya ketika berhasil bekerja di tempat ini. Semua akan ikhlas pada waktunya.
__ADS_1
Air mata menjadi saksi perpisahan Shanum dan Liani. Lambaian tangan Shanum dari dalam mobil yang kian menjauh menjadi pertanda bahwa perpisahan itu benar-benar terjadi. Dan Shanum resmi tidak lagi menjadi bagian dari yayasan yang telah membesarkan namanya.
"Tetaplah berbaik sangka, semoga tak ada lelah yang sia-sia. Semoga setelah ini kebahagiaan menjadi akhir ceritaku. Selamat tinggal yayasan Bina Insani Kamil, terima kasih telah menjadi bagian dari perjuangan hidupku, aku bangga pernah menjadi bagian darimu." gumam Shanum dalam hatinya saat mobil yang membawanya melewati gerbang utama meninggalkan komplek yayasan.