
Hati Shanum berdesir saat mendengar bisikan Ahsan yang tepat berada di sampingnya. Bisikan yang sangat dia nantikan pasca keterpurukannya karena penantian yang berakhir kecewa.
Dia berharap Ahsan mampu menjadi penyembuh dari semua luka batin yang dibuatnya sendiri. Sepertinya tidak akan sulit untuk mencintai seorang Ahsan, asalkan dia mau membuka hatinya, pikir Shanum. Tapi itu dulu, saat Suraya belum ada di antara mereka.
Kehadiran Suraya seratus delapan puluh derajat mengubah visi hidup Shanum tentang percintaan. Semua visi yang sudah dia rangkai dengan susah payah bersama Ahsan berakhir tanpa eksekusi dan hanya sebatas halusinasi.
Shanum menjauh beberapa langkah, dia kembali mengingat kenyataan yang saat ini dialaminya. Dia sudah berjanji pada Suraya untuk menjauh dari Ahsan. Shanum harus menjaga interaksinya dengan Ahsan agar jangan sampai terjadi kembali kecelakaan rasa.
Keesokan harinya Shanum bersiap-siap untuk kembali ke Bandung, berbagai macam oleh-oleh sudah disiapkan ibunya untuk Liani dan terkhusus untuk Ahsan yang disinyalir oleh hampir semua anggota keluarganya sebagai calon suami Shanum.
Travel yang akan membawa Shanum kembali ke Bandung sudah siap membawanya. Berkali-kali Liani menelepon menanyakan keberadaan Shanum. Sepertinya dia sudah tidak sabar menanti oleh-oleh yang sudah ibu Shanum siapkan khusus untuk dirinya.
Pukul tiga sore Shanum sudah tiba di yayasan, biasanya setiap kepulangannya dari Bogor Ahsan akan menyambutnya di gerbang tapi kali ini tidak. Shanum kembali ke Bandung tanpa sepengetahuan Ahsan, dia pun meminta Liani untuk tidak memberi tahunya jika Ahsan bertanya.
Shanum tidak mau lagi mendapat pesan-pesan yang penuh tekanan dan ancaman. Jelas hal itu sangat membuatnya tidak nyaman. Walau pun Shanum tahu identitas sang pengirim tapi dia tidak terbiasa memiliki musuh dalam kehidupan sehari-harinya.
Kedatangan Shanum ternyata sudah diketahui oleh Raina dan Suraya. Suraya yang mendapatkan informasi dari orang suruhannya bahwa Ahsan datang ke Bogor beberapa hari yang lalu murka, dia sudah kehabisan kesabaran dan merencanakan sesuatu di luar dugaan.
Begitu pun dengan Raina, tanpa Akhtar ketahui Raina pernah membuka aplikasi pesan di gawai Akhtar saat mereka makan siang dan Akhtar pamit ke toilet. Dia melihat banyak sekali pesan terkirim untuk seseorang yang Raina yakini dia adalah Shanum. Dari nomor yang dia dapat dari Suraya, Raina yakin kontak di gawai Akhtar yang dinamai Sweetheart adalah Shanum.
Tidak beda dengan Suraya, Raina pun murka. Dia marah pada Akhtar dan mengancamnya akan melaporkan kelakuan Akhtar kepada ayah dan ibu sambungnya karena sudah berani menyakiti hatinya dengan berselingkuh dengan Shanum, itulah tuduhan Raina. Padahal orang yang dikirimi Akhtar pesan sama sekali tidak membalas pesan itu.
Akhtar tidak mengelak, saat Raina meminta penjelasan padanya perihal pesan-pesan yang dia kirim pada Shanum. Dia menjawab semua pertanyaan Raina dengan santai. Tidak ada sedikit pun keraguan di wajah Akhtar saat menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Raina.
"Jadi benar perempuan yang sejak dulu jadi kekasih kamu adalah Guru itu?" tanya Raina dengan ekspresi kesal.
"Ya", jawab Akhtar santai.
"Terus kenapa kalian berpisah?" tanyanya penasaran.
"Itu karena aku yang salah paham, mengira dia sudah menikah dan ternyata aku salah. Dia masih menungguku dengan setia. Sayangnya aku terlambat mengetahui kenyataan itu, aku sudah tidak bisa mundur dari perjodohan ini. Kecuali....." ucapan Akhtar terhenti, sorot matanya tajam menatap Raina.
"Kecuali apa?" tanya Raina heran.
"Kecuali kalau kamu bersedia mundur dan membiarkan aku kembali bersama Shanum" ucap Akhtar lantang.
__ADS_1
Raina memutar bola matanya malas.
"Jadi kamu terpaksa menerima perjodohan kita?" tanya Raina lagi.
"Ya", Ahsan menjawab tegas.
"Kamu tidak mencintai aku?" nada bicara Raina mulai melemah, dia terlihat sedang menahan tangis.
"Maaf Ray, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Allah yang menggenggam hatiku, dia yang menumbuhkan cinta di hatiku. Jadi jangan tanya padaku kenapa aku tidak mencintaimu dan hanya mencintai Shanum" jelas Akhtar lugas.
Raina melengos mendengar Akhtar menyebut nama Shanum, sekuat tenaga menahan kesal di hatinya.
"Aku hanya berusaha jujur padamu, sejak awal aku sudah ingin mengatakannya tapi aku mencari waktu yang tepat untuk itu. Dan sekarang mungkin sudah waktunya kamu mengetahui semuanya. Shanum adalah kekasihku tapi aku tidak bisa memilikinya karena sudah terlanjut berkomitmen dengan ayahku untuk menerima perjodohan denganmu."
"Aku pun kaget saat mengetahui jika perempuan yang Ahsan incar selama ini adalah Shanum, aku mengira dia masih menunggu Suraya. Setelah mengetahui ternyata Ahsan sangat mencintai Shanum aku sedikit lega, setidaknya meninggalkan Shanum bersama orang yang tepat. Aku yakin Ahsan akan bisa membahagiakan Shanum."
"Tapi ternyata cinta yang sudah dianggapnya selesai ternyata belum oleh Suraya. Aku tidak menyangka Suraya akan kembali, memasuki kehidupan Ahsan sekehendaknya dan menghancurkan rencana Ahsan. Aku tidak bisa membiarkan ini, aku tidak bisa membiarkan Shanum kembali terluka setelah luka dan kekecewaan yang aku berikan sebelumnya untuk dia."
"Aku harap kamu mengerti Ray, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Maaf aku tidak bisa mencintaimu dan izinkan aku kembali bersama Shanum" Akhtar dengan panjang lebar mengungkapkan isi hatinya.
Pengalaman sang ayah yang lebih memilih tidak jujur dan berakhir dengan perpisahan dengan sang ibu membuat Akhtar berkomitmen pada diri sendiri untuk selalu terbuka dan jujur dengan perasaannya sesakit apapun itu. Dia berharap Raina bisa legowo dan dan bijak memutuskan kelanjutan hubungan mereka untuk ke depannya.
Raina terdiam, perlahan dia menghapus air mata yang menetes di pipinya. Pandangannya kembali menatap Akhtar dengan dalam, tatapannya yang sayu menunjukkan betapa hatinya kecewa saat mengetahui orang yang sangat dicintainya ternyata tidak pernah mencintainya.
"Tidak pernahkah kamu mencintaiku sebentar saja?" tanya Raina lirih.
Sejak dulu dia sudah mengejar cinta Akhtar, segala cara dia lakukan tapi cintanya tak pernah terbalas, tak pernah sedikit pun Akhtar meliriknya.
"Maaf Ray" jawab Akhtar tegas.
"Baiklah kalau begitu. Kalau memang aku tidak bisa memiliki hatimu tak mengapa, setidaknya aku akan memiliki ragamu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan kamu apalagi membiarkan kamu kembali bersama guru itu. Tidak akan, tidak akan pernah." Raina berbicara dengan penuh penekanan, dia tampak tidak bisa menguasai emosinya. Napasnya naik turun, wajahnya tampak memerah menahan amarah.
Akhtar menghela napasnya, dia tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi Raina. Kejujurannya tidak membuat Raina menyadari bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan. Sepertinya harapannya untuk berpisah baik-baik dengan Raina hanya sebatas harapan.
Sejak saat itu, Raina tak sedikit pun membiarkan Akhtar tenang. Raina selalu mengekori Akhtar kemana pun Akhtar pergi. Saat mereka tidak bersama, dia selalu menghubungi Akhtar dan memastikan keberadaannya. Akhtar sampai kewalahan dengan berbagai rajukan dan ancaman Raina.
__ADS_1
Untunglah ada sang Ibu tempat Akhtar mengadu, dia mengungkapkan semua kegelisahannya. Setiap malam dia menceritakan apa yang dialaminya setiap hari dan dengan senang hati sang ibu pun mendengarkan setiap keluhan sang putra.
Akhtar tidak bisa membayangkan jika dirinya terus berada di posisi seperti ini. Sikap Raina yang semakin hari semakin posesif membuat ruang gerak Akhtar semakin terbatas.
***
Kedatangan Shanum kembali ke yayasan membuat dua wanita cantik yang sedang melindungi cintanya itu kembali merasa terancam. Orang suruhan Suraya dengan sigap melaporkan semua gerak gerik Shanum semenjak turun daei travel. Dia mengirimkan foto-foto itu ke gawai Suraya.
Suraya yang sudah mengetahui kedatangan Shanum hari ini sengaja datang ke yayasan lebih awal. Dia bahkan meninggalkan prakteknya di rumah sakit hanya untuk melancarkan aksinya. Suraya kini sudah berada di ruangan Raina dan memantau CCTV yang secara khusus Raina pasang beberapa hari ke belakang untuk memantau kegiatan Shanum.
"Ray, target sudah hampir sampai ke rumah dinasnya. Saatnya kita beraksi" ucap Suraya pada Raina. Mereka sudah menyiapkan semuanya untuk melancarkan aksi mereka.
Shanum sudah sampai di depan rumah dinasnya. Ketika Shanum hendak membuka pintu pagar. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di belakangnya. Shanum pun menoleh ke arah pengemudi mobil itu. Tidak terlihat karena kaca mobil yang gelap. Tidak lama kemudian kaca mobil itu terbuka. Tampak seseorang yang sudah sangat Shanum kenal, dia kemudian memerintahkan Shanum untuk masuk ke dalam mobil itu.
"Masuk!" perintahnya tegas.
Shanum terlonjak kaget saat mengenali orang itu. Dia menatap Suraya tanpa merespon perintahnya.
"Masuk!" ulang Suraya dengan intonasi yang masih sama.
"Mau apa kalian?" tanya Shanum penasaran.
"Kamu akan mengetahuinya setelah ikut dengan kami. Sekarang masuk ke dalam mobil atau kami seret paksa?" timpal seseorang yang berada di samping sang pengemudi dan Shanum pun mengetahui siapa dia. Dia adalah Raina tunangan Akhtar.
Shanum mengabaikan barang-barang bawaannya, dia kemudian masuk ke dalam mobil itu tanpa banyak bertanya lagi.
Di dalam mobil Shanum masih terdiam, dia menatap dua orang di jok depan yang terlihat dingin. Shanum masih mempelajari situasi dia tidak ingin salah bertindak, dia tidak mau gegabah.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju arah ke luar komplek yayasan. Semakin lama mobil semakin menjauh, Shanum tidak tahu dia akan di bawa kemana. Di tengah perjalanan, akhirnya Shanum memberanikan diri untuk bicara.
"Kakak, kita mau kemana?" tanya Shanum lembut.
Suraya yang sedang mengendarai mobil pun melirik Shanum dari kaca spion depannya.
"Nanti pun kau akan tahu, yang jelas kali ini aku tidak main-main, akan ku buktikan kalau pesan-pesan yang kukirim padamu bukan hanya ancaman semata. Kau sudah terlalu lancang bermain denganku Shanum. Sekarang sebaiknya kau diam jangan mengganggu konsentrasiku menyetir. Kau tidak mau kita kecelakaan kan?" jawabnya ketus.
__ADS_1
Shanum mulai ketakutan, hatinya mulai resah dia melihat keseriusan dari ucapan Suraya. Hanya berdo'a yang bisa Shanum lakukan saat ini semoga Allah selalu menjaganya dan melindunginya dari orang-orang yang berniat jahat padanya.