
Akhir pekan yang indah untuk pasangan suami istri yang akan segera menjadi orang tua itu. Akhtar memapah Shanum dengan hati-hati. Pagi ini setelah pemeriksaan dokter dengan hasil yang semakin membaik, Shanum diperbolehkan untuk pulang dan tetap harus melanjutkan kontrol ke dokter kandungan.
Shanum yang sudah merasa baik-baik saja sedikit risih saat melihat tatapan orang-orang yang berada di sepanjang lorong ruang rawat inap itu memandangnya. Akhtar memperlakukannya dengan hati-hati, bahkan awalnya Akhtar bahkan meminta perawat untuk menyiapkan kursi roda untuk istrinya itu, tapi Shanum menolak karena merasa dirinya sangat sehat saat ini.
Ghifar yang sengaja datang ke Garut tiap akhir pekan sengaja datang pagi-pagi sekali ke puskesmas tempat Shanum dirawat setelah menerima kabar jika Shanum sudah bisa pulang hari ini walau pun tanpa diminta.
"Sayang, serius mau pulang ke mebel?" Akhtar kembali bertanya pada Shanum, semalam mereka sudah mendiskusikannya jika hari ini mereka akan kembali ke mebel, sampai saat ini mereka masih tinggal di lantai dua mebel.
"Iya, kenapa?" tanya Shanum lembut, dia memegang tangan Akhtar yang sedang kerangkulnya.
"Enggak apa-apa, aku hanya mau kamu nyaman. Kalau mau pulang ke rumah ibu, ayo kita ke sana" Akhtar semakin mengeratkan rangkulannya.
"Tempat terindah dan ternyaman itu bukan di mana, tapi dengan siapa" Shanum menjawab dengan sedikit gombalan saat mereka sudah dekat dengan mobil yang akan membawa mereka pulang membuat Akhtar gemas mendengarnya. Tanpa melihat situasi, dia pun mencium pipi Shanum saat itu juga membuat istrinya itu membelalakan mata karena saat ini mereka masih berada di parkiran puskesmas.
"Aa..." pekik Shanum namun dengan nada pelan. Dia memegang pipi yang dicium suaminya tadi.
"Kenapa? lagi?" cup....Akhtar kembali mencium pipi istrinya yang saat ini semakin merona.
Shanum melihat ke kiri dan kanan, sementara Akhtar sudah membukakan pintu mobil di belakang kemudi untuk sang istri. Shanum pun segera masuk, sementara Akhtar dibantu Ghifar yang kembali keluar dari mobilnya memastikan lagi jika tidak ada barang-barang yang tertinggal.
"Boss, kalau mau mesra-mesraan jangan di depan jomblo dong. Jiwa jombloku semakin meronta ini" Ghifar berbisik karena takut terdengar oleh Shanum. Mereka berbicara saat mengecek barang-barang yang disimpan di bagian belakang mobil. Akhtar menutup pintu belakang mobilnya kemudian menoleh ke arah asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Makanya cepetan halalin, gentle dong! kalau cinta itu ungkapin jangan dipendam sendiri entar sakit sendiri lagi. Menikahi adalah pembuktian cinta yang sebenarnya." Akhtar menasehati Ghifar dengan gaya berpengalaman, lupa jika dirinya dulu juga masuk kategori pecinta dalam diam paling akut.
"Eummh....si bos mah bisa ae" Akhtar mencebikkan bibir saat mendengar petuah dari bossnya itu.
"Kayak dirinya gak pernah aja" Ghifar kembali mengejek bossnya,
Beneran gitu kan? eh....tapi level gue sekarang beda lagi Bro" Ghifar mengernyit, perkataan Akhtar yang menggantung membuatnya sedikit bingung.
"Maksudnya?" tanya Ghifar penasaran.
"Buat gue level mencintai yang paling tinggi itu adalah bikin istri gue hamil, hahaha...." Akhtar tertawa lepas, dia berhasil membuat asistennya semakin geram. Shanum sampai menoleh ke belakang saat mendengar tawa suaminya yang cukup keras.
"Sialan" gerutu Ghifar yang semakin hari semakin kesal dengan kelakuan bossnya yang selalu pamer kemesraan di hadapannya. Dia sampai meninju bahu Akhtar pelan.
__ADS_1
"Sekarang dia masih dijagain orang boss" suara Ghifar lirih.
"Kalau gitu pepet di sepertiga malam, tempuh jalur langit. Tugas kita mengangkat tangan, selanjutnya biar Allah yang turun tangan" pungkas Akhtar dia pun segera berlalu memasuki mobilnya tidak ingin sang istri terlalu lama menunggu.
"Ada apa A?" Shanum yang penasaran kenapa suaminya bisa tertawa lepas pun bertanya.
"Hahaha...." tawa Akhtar kembali menggema saat Ghifar masuk mobil dan duduk di kursi belakang kemudi dengan wajah kesal.
"Aa, kenapa?" Shanum yang pertanyaannya diabaikan Akhtar pun kembali bertanya.
"Ghifar pingin hamilin anak orang, tapi yang halal katanya.." Akhtar berkata dengan wajah tanpa dosa sambil terkekeh, dia memainkan alisnya naik turun saat beradu tatap dengan Ghifar yang semakin terlihat kesal.
Mobil pun melaju pelan menuju arah Garut kota, menyusuri jalan Bayongbong. Shanum sudah menelepon sang ibu jika dia akan mampir sebentar sebelum kembali ke mebelnya.
*
*
*
Liani turun dari bis Bandung Garut, dia mengedarkan pandangannya mencari angkutan kota menuju rumah Shanum. Bermaksud mau menjenguk sahabatnya itu di puskesmas, tapi kabar terakhir yang didapatnya melalui pesan Shanum mengabarkan jika dirinya sudah akan pulang pagi ini.
"Assalamu'alaikum" Liani memasuki pintu ruangan samping mebel yang khusus disediakan untuk karyawan atau tamu yang ingin berkonsultasi perihal produk yang ada di mebel.
"Wa'alaikumsalam" seorang gadis berkerudung abu-abu dengan seragam biru donker bertuliskan mebel FDF menjawab salam Liani.
"Teteh, temannya Bu Shanum ya?" tanya gadis itu ramah pada Liani. Dia berdiri, keluar dari balik mejanya dan menyambut Liani.
"Iya" jawab Liani singkat namun tak kalah ramah, terakhir tiga bulan yang lalu dia ke Garut saat pernikahan Shanum dan Akhtar. Sudah banyak yang berubah dari mebel ini, pasti sentuhan tangan dingin Shanum yang membuatnya terlihat lebih nyaman.
"Silahkan duduk teh, Bu Shanum bilang masih di perjalanan mungkin sekitar setengah jam lagi sampai" jelas gadis itu, Liani pun mengangguk dia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Sejak keberangkatannya dari yayasan ba'da shalat subuh, banyak panggilan dan pesan masuk ke gawainya. Panggilan tak terjawab dan pesan dari Ahsan mendominasi. Liani sengaja menonaktifkan gawainya selama perjalanan, dia terakhir berkirim pesan dengan Shanum saat dirinya sudah berada di bis menuju ke Garut.
Sementara Ahsan, saat ini dia tengah mondar-mandir di ruang tengah rumahnya. Puluhan kali menghubungi Liani namun tak kunjung terhubung, banyak pesan yang dikirimnya menanyakan keberadaan gadis itu namun tak kunjung terbalas bahkan masih ceklis satu berwarna abu-abu.
__ADS_1
Setelah shalat subuh dan memberikan kajian rutin di masjid besar yayasan, Ahsan segera menuju rumah dinas Liani tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Hari Sabtu di minggu kedua setiap bulannya, Ahsan punya jadwal mengisi kajian ba'da subuh di masjid yayasan.
Pesan balasan yang dikirim Liani membuat pikirannya semakin tidak karuan.
'Gak apa-apa'
"Apa-apaan ini, dari banyak pesan yang aku kirim hanya ini balasan dia?" gerutu Ahsan, namun wajahnya semakin terlihat khawatir. Dia yakin pasti saat ini Liani marah karena janji yang tidak ditepati olehnya untuk menjemput Liani, apalagi tidak ada kabar mengapa dia sampai tidak datang.
"Arrrgghhhh...kenapa gue bisa lupa" teriaknya, Ahsan mengacak-ngacak rambutnya sendiri, frustasi.
Semalam dia mencari Liani ke rumah dinasnya namun nihil dan pagi ini keadaan rumah itu masih sama seperti semalam. Tirai rumahnya masih tertutup dan lampu luar rumah masih tampak menyala.
Ahsan kembali ke rumah dinasnya, dia segera membersihkan diri dan bersiap menuju tempat pertemuan. Hari ini dia ada pertemuan penting terkait kerja sama yayasan dengan beberapa perguruan tinggi negeri yang ada di Indonesia.
Ahsan benar-benar kehilangan konsentrasi selama mengikuti pertemuan itu. Pikirannya melayang memikirkan keadaan Liani. Sampai menjelang siang, dia belum juga mendapat pesan balasan dari gadis itu. Saat acara berlangsung matanya lebih sering melirik gawainya, berharap ada pesan masuk dari Liani.
Tepat pukul dua belas dipungkas dengan makan siang bersama pertemuan berakhir dengan kesepakatan kerja sama yang akan menguntungkan semua pihak dalam hal pengembangan kualitas pendidikan.
Ahsan memutuskan untuk segera kembali ke yayasan, tujuan utamanya adalah rumah dinas Liani berharap gadis yang membayangi pikirannya sejak semalam saat ini sudah berada di rumah dinasnya. Hari Sabtu sekolah hanya menyelenggarakan ekstrakurikuler, sepengetahuan Ahsan Liani tidak terlibat dalam kegiatan ekskul apapun.
Nihil, perkiraannya salah. Rumah dinas itu masih tetap tak berpenghuni. Seketika wajahnya lesu, kehilangan jejak Liani membuatnya benar-benar kehilangan semangat. Ahsan kembali mengecek room chatnya bersama Liani, tetap sama pesan-pesan yang dikirimnya masih ceklis satu berwarna abu-abu.
"Sayang, kamu kemana? jangan buat aku cemas" Tiba-tiba saja Ahsan bergumam memanggil Liani dengan panggilan sayang. Dia pun terhenyak saat menyadari apa yang diucapkannya, namun kemudian senyum tipis terbit di wajahnya.
Ahsan memutar balik mobil yang dikemudikannya kembali menuju rumah dinas dengan pelan. Aktivitas di yayasan siang ini cukup lenggang karena memang akhir pekan.
'Ketidakberadaannya tanpa kabar padahal belum genap dua puluh empat jam ternyata membuat hatiku terasa hampa' batin Ahsan sambil melajukan mobilnya perlahan.
Ting ....
Bunyi notifikasi pesan masuk mengusik keheningan. Ahsan mematikan mesin mobilnya yang sudah terparkir di halaman kantor yayasan. Batal keluar dari mobil, segera dia meraih gawai yang berada di jok samping kemudi. Matanya berbinar saat mengetahui pengirim pesan adalah Liani.
'Maaf kalau membuatmu cemas'
'Aku pergi tanpa pamit ke Garut'
__ADS_1
'Menerima kabar , Shanum sakit'
Tanpa pikir panjang Ahsan segera menancap gas lagi, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Keluar dari gerbang utama yayasan, mobilnya melesat membelah jalanan menuju Garut.