Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Kamu Adalah Tema Setiap Uraianku


__ADS_3

'Melupakan itu hanya perihal waktu saja bukan? sudah bukan hal tabu lagi jika sudah nyaman dengan orang yang baru maka secara perlahan akan bisa ikhlas untuk melupakan sederet kisah lama. Sesederhana itu? Ya, sesederhana itu. Aku pasti bisa.' Shanum bermonolog dalam hatinya.


Sepulangnya dari taman Shanum tidak bisa menghentikan berisiknya pikiran tentang keputusannya. Dia terus menyugesti dirinya bahwa keputusannya melepaskan semua tentang Akhtar dan membuka hati untuk Ahsan adalah hal yang tepat.


'Kalau dirasa sudah tidak memungkinkan, ya sudah tidak usah dipaksa, melepaskan juga termasuk bagian dari perjuangan bukan?


Sambut yang datang, ikhlaskan yang pergi. Hargai yang berjuang dan lupakan yang menyakiti', batinnya.


"Yaa Allah, hilangkan dari hati ini cinta kepada seseorang, jika hanya menjatuhkanku dalam kesedihan", gumamnya lirih.


Shanum beranjak dari tempatnya bersujud, melipat sejadah tanpa melepaskan mukena. Dia meraih gawai yang sejak tadi bergetar.


Derrt...derrttt....derrttt....


"Assalamu'alaikum", Shanum menerima panggilan di gawainya.


"Wa'alaikumsalam" jawab seseorang di seberang telepon.


"Kamu kemana aja sih dari tadi ditelponin gak diangkat-angkat?" Liani mengungkapkan kekesalannya karena sudah lima kali menghubungi Shanum dan baru terhubung di panggilan keenam.


"Aku lagi shalat tanggung", jawab Shanum santai.


"Udah beres packingnya?" tanya Liani lagi.


"Packing apaan?", Shanum menggoda Liani dengan berpura-pura tidak mengerti maksud Liani.


"Iiiihhhh, Shanum yang bener ih, udah belum?"


"hahaha....udah-udah, gitu aja marah" ejek Shanum.


"Oke, Good!"


"Aku udah nyiapin semua amunisi untuk kita selama perjalanan, aku tahu kamu paling sering abai dengan urusan perut kalau sedang berkegiatan seperti ini. Aku enggak mau nanti Ibu marah karena maag kamu kambuh gara-gara telat makan kaya waktu itu. Pokoknya kamu pastikan semua perlengkapan pribadi kamu udah siap dan gak ada yang tertinggal, urusan isi perut itu biar jadi urusan aku." tutur Liani panjang lebar.


Dia mengingatkan Shanum seperti pesan Ibunya saat berkirim pesan perihal keripik talas. Liani pun tau jika sahabatnya itu selalu mengedepankan urusan pekerjaan ketimbang dirinya.


Perbincangan mereka di telepon terus berlanjut hingga adzan Isya berkumandang.

__ADS_1


***


Berdasarkan kesepakatan saat rapat terakhir jadwal keberangkatan ke Pangandaran yang semula dini hari berubah jadi lebih awal. Dengan pertimbangan agar bisa menikmati salah satu fenomena alam yang indah yaitu matahari terbit.


Panorama keindahan Pantai Pangandaran yang menjadi tempat terfavorit di Jawa Barat diburu para wisatawan baik lokal sampai Mancanegara.


Selain menikmati keindahan pantainya, ada wisata lain yang populer bagi pengunjung atau wisatawan saat datang ke Pantai Pangandaran, yaitu fenomena alamnya, terutama saat matahari terbit dan terbenam.


Total jarak tempuh Bandung-Pangandaran adalah sekitar 226 Kilometer (based on Google Maps) dengan rute normal Bandung-Cileunyi-Rancaekek-Nagrek-Malangbong-Tasikmalaya-Ciamis-Banjar-Pangandaran. Diperkirakan perjalanan akan memakan waktu enam (6) sampai tujuh (7) jam.


Panitia memutuskan keberangkatan akan dilakukan sekitar pukul 10 malam, menuju Pantai Timur Pangandaran dengan harapan sekitar Subuh sudah sampai dan dapat menikmati matahari terbit.


Seluruh peserta tour yang terdiri dari pengurus yayasan dan panitia kegiatan sudah berkumpul di lokasi titik kumpul. Dua buah bis sudah tampak terparkir siap membawa para penumpang menuju Pangandaran.


Shanum dan Rahma yang bertugas mengondisikan peserta dengan sigap mengabsen setiap peserta sesuai dengan nomor urut. Shanum bertugas di Bis 1 bersama Andi sementara Rahma dan dua anggota tim lainnya bertugas di Bis 2. Sedangkan Liani sibuk mengabadikan setiap momen keberangkatan dengan kameranya.


Penumpang Bis 1 adalah para pimpinan elit yayasan, Akhtar dan semua keluarganya termasuk Raina ada di dalam list penumpang bis tersebut. Shanum dengan profesional melaksanakan tugasnya, memastikan semua peserta sudah siap dan duduk nyaman di kursinya masing-masing.


Sebagai ketua yayasan Akhtar berada di urutan absen nomor satu dan duduk di barisan paling depan, diikuti orang tua dan kedua adiknya. Berada di posisinya saat ini menjadikan Akhtar dengan leluasa dapat memandangi semua aktivitas Shanum yang berdiri di depannya, dia berharap Shanumlah yang akan menjadi guide di Bis ini dan duduk di sampingnya.


Shanum yang menyadari Akhtar terus menatapnya membuat dia menjadi kurang fokus. Dia sampai salah menyebutkan nama yang diabsen, memanggil nama laki-laki dengan panggilan Ibu, hal tersebut sontak membuat semua orang tertawa.


Dulu Akhtar menjadi orang yang paling tahu semua tentang Shanum, dengannya Shanum selalu menjadi dirinya sendiri. Mereka selalu berbagi cerita tentang semua yang mereka alami.


Naura adik sambung Akhtar masuk ke dalam dan melewati Akhtar. Dia berhenti saat melihat Akhtar sedang tergelak.


"Kakak seneng banget ngetawain Bu Shanum", ujar Naura tepat di hadapan Akhtar.


Tawa Akhtar terhenti seketika mendengar perkataan Naura. Shanum yang mendengar itu pun melirik ke arah Naura. Dia tersenyum ramah saat pandangannya bertemu dengan Shanum.


"Aku seneng deh lihat Kakak tertawa seperti tadi, makin kelihatan gantengnya. Gitu dong Kak, kan keren aku jadi semakin berasa punya Kakak yang ganteng dan keren, hhihi......" Naura terus mengoceh mengomentari Akhtar disertai kekehan.


Akhtar pun memalingkan wajahnya saat tahu Shanum sedang menatapnya. Malunya bertambah saat ketahuan kalau dia pun sedang menertawakan Shanum. Shanum kembali menunduk melihat catatan penumpang bis 1 sambil mengulum senyum. Hatinya berbunga saat melihat Akhtar tertawa seperti tadi.


" Heummm..." Akhtar berdehem berusaha menetralkan kembali situasi.


Raina yang mendengar kegaduhan di depan, berdiri dari kursinya. Dia yang berada dua baris di belakang Akhtar berjalan ke depan karena melihat ada Naura di sana.

__ADS_1


"Naura, ada apa? rame banget", tanyanya pada Naura.


" Hahaha...." Naura masih tertawa karena melihat Akhtar yang salah tingkah saat ketahuan Shanum.


"Gapapa Kak, aku cuma lagi ngobrol aja sama Bu Shanum dan Kak Akhtar" jawab Naura.


Sekilas Raina melirik Shanum, yang dilirik menganggukan kepala dan tersenyum ramah menyapa Raina. Dia pun tersenyum membalas Shanum.


Raina beralih memandangi Akhtar yang kembali pada mode dingin saat dia datang.


"Mas, aku duduk di sini ya?" Raina duduk di kursi samping Akhtar yang tampak masih kosong.


"Di sini ada Ghifar yang akan duduk" jawab Akhtar dingin. Ghifar adalah sekretarisnya di yayasan, dia menjadi orang kepercayaan Ayahnya untuk membantu Akhtar dalam menjalankan tugasnya di yayasan. Ayahnya memilih Ghifar menjadi sekretaris Akhtar, karena mereka berdua sudah bersahabat sejak masih di Yogya.


Shanum yang sekilas melihat interaksi Akhtar dan Raina kembali menundukkan kepalanya. Akhtar melihatnya, dia menjadi salah tingkah.


"Nawnaw, ayo kamu duduk jangan berdiri aja menghalangi orang lain yang mau lewat", titah Akhtar pada Naura. Dia mengalihkan pembicaraannya dengan Raina.


"Iya Kak" jawab Naura patuh.


"Bu Shanum, permisi ya aku mau duduk dulu nanti kita ngobrol lagi, ayo Kak Raina kita balik ke habitat kita", Naura pamit mengajak Raina, dia tampak mengakrabkan diri dengan Shanum. Padahal Shanum hanya beberapa kali pernah bertemu dengannya itu pun hanya sebatas menyapa dengan senyuman dan anggukan.


Pengabsenan peserta bis 1 telah selesai, Shanum berjalan menyusuri lorong bis untuk memastikan kembali keadaan semua peserta.


Shanum berusaha mengontrol dirinya saat melihat Raina berpindah tempat duduk berdampingan dengan Akhtar, dia harus bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya. Sementara Akhtar belum menyadari bahwa Raina kembali duduk di sampingnya karena sejak tadi pandangannya tidak beralih dari Shanum.


Setelah selesai Shanum kemudian turun dan memberikan semua catatan penumpang kepada Andi dan teman lainnya.


Akhtar kecewa karena ternyata Shanum tidak menjadi guide di Bis 1. Akhtar mengalihkan pandangannya memandang kepergian Shanum dari jendela bis yang ditumpanginya.


"Mas", Raina memanggil Akhtar karena dia tak kunjung melihatnya.


Akhtar kaget saat mendapati Raina sudah duduk di sampingnya. Pantas saja raut muka Shanum langsung berubah, Akhtar melihat itu dan dia yakin penyebabnya adalah pasti karena Raina duduk di sampingnya.


Dia semakin yakin jika Shanum pun masih sangat mencintainya, hal ini tentu saja membuat Akhtar lebih bersemangat untuk memperjuangkan cintanya.


Akhtar mengabaikan panggilan Raina dan kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela bis menatap punggung Shanum yang semakin menjauh.

__ADS_1


'Shanum, hingga saat ini kamu masih menjadi tema dalam setiap uraianku, kamu selalu menjadi judul dalam setiap tulisan kehidupanku. Semoga kamu tidak keberatan jika aku selalu memintamu pada Rabb-ku agar ditakdirkan berjodoh denganmu', ucap Akhtar dalam hatinya.


***


__ADS_2