Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Pertemuan


__ADS_3

Drrrttt…..Drrrrrt…..Drrrrrt…..


Getaran gawai memutuskan pandangan Shanum terhadap Ahsan. Shanum dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha mengembalikan kesadarannya.


Sungguh hal ini belum pernah terjadi padanya, menunjukkan sisi lemahnya di hadapan orang lain.


Berbeda dengan Ahsan yang tidak terpengaruh sedikit oleh keadaan di sekitarnya, ia anteng menatap Shanum dengan tatapan hangat yang seolah mengalirkan rasa cintanya.


“Angkat, Kak!’’ akhirnya Shanum bersuara, mengingatkan Ahsan untuk mengangkat teleponnya.


Ahsan melirik gawai yang sejak tadi bergetar, terlihat nama Akhtar memanggilnya.


“Assalamu’alaikum,” ucap Ahsan saat mengangkat teleponnya.


“…..”


“Aku sedang di ruang rapat, ada panitia yang bikin onar aku harus menghukumnya,” Ahsan menyeringai menatap Shanum saat mengatakan itu.


Shanum membesarkan matanya, kesal mendengar yang Ahsan katakan.


“…..”


“Baiklah aku segera ke sana, Assalamu’alaikum”, Ahsan mengakhiri pembicaraannya di telepon.


“Aku sudah ditunggu di depan, kamu mau ikut denganku?” , tanya Ahsan.


“Sebenarnya aku ingin mengenalkanmu pada seseorang, tapi aku ingin mengenalkanmu sebagai calon bidadariku, apakah kamu sudah siap?”, ucap Ahsan melanjutkan pertanyaan masih dengan senyum menyeringainya.


Shanum mendelik, lagi-lagi Ahsan berbicara hal yang sangat sensitiv untuknya saat ini.


“Aku tidak cukup percaya diri untuk itu, Kak” jawab Shanum tegas, dia sudah kembali bisa menguasai dirinya lagi.


Cukup kali ini dia menunjukkan sisi lain dari dirinya. Saatnya kembali menjadi Shanum Najua Azzahra yang pantang untuk mengeluh apalagi meratapi keadaan.


Selama ini Shanum sudah sering berhadapan dengan berbagai masalah pelik dalam hidupnya. Dia dibentuk dari proses yang menyakitkan, jika tiba saatnya dia jatuh dia tidak akan panik, karena sudah pasti tahu betul caranya untuk berdiri.


Ahsan mengernyit mendengar jawaban Shanum.


“Maksud kamu apa, Num? tanya Ahsan melemah.


“Tidak Kak, sudahlah….silahkan Kakak duluan, aku juga akan kembali ke timku”, jelas Shanum yang tak bisa diterima begitu saja oleh Ahsan.


“Shanum?” panggil Ahsan dengan intonasi meninggi.


“Kakak, ayo kita keluar!” Ajak Shanum, dia melangkah lebih dulu meninggalkan Ahsan yang masih diam di tempat, tidak puas dan masih menerka maksud jawaban Shanum.


Ahsan tersadar, Shanum sudah menjauh. Dia pun segera beranjak dan menuju ke aula tempat acara berlangsung.


Malam semakin larut, jarum jam di tangan Shanum sudah menunjukkan pukul sepuluh.


Tamu undangan sudah berangsur meninggalkan tempat.


Acara inti sudah selesai, dua jam selanjutnya adalah acara hiburan yang diperuntukkan khusus keluarga besar yayasan.


Shanum masih betah di backstage, dengan kertas dan ballpoint tak lepas dari tangannya. Dia memastikan kembali semua acara yang sudah terlaksana dan yang akan segera digelar. Dia melihat pengisi acara hiburan sudah siap di atas pentas.


Ini adalah acara bebas, semua keluarga besar yayasan bergabung dari mulai guru dan karyawan sekolah TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi dan seluruh staf yayasan berkumpul bersama.


Menikmati alunan musik dari band lokal yang sudah disiapkan panitia untuk menghibur mereka. Semua panitia sudah berkumpul di aula untuk turut serta menikmati hiburan karena tugas utama sudah selesai.


Aula mulai riuh dengan tepuk tangan dan teriakan menyambut band yang mulai mendendangkan sebuah lagu. Semua bersuka cita, malam ini menjadi malam yang indah untuk semua.


Tak terkecuali untuk Shanum, dia masih mampu menampakkan senyum manisnya di hadapan orang lain, menunjukkan kalau dia pun turut berbahagia.

__ADS_1


Terlepas dari kekecewaan yang ia rasakan setelah mengetahui suatu kenyataan beberapa jam yang lalu.


*Memalsukan senyuman jauh lebih mudah daripada menjelaskan kenapa kita bersedih Tetap kuat, Shanum. Ceritamu masih panjang!*, bisiknya lirih.


Shanum melangkah dengan pasti, keluar dari backstage menuju tempat dimana rekan-rekannya berada.


“Bu Shanum, di sini!", seseorang yang satu tim dengannya melambaikan tangan, dia sudah lebih dulu berada di sana. Shanum tersenyum dan berjalan ke arah temannya tersebut.


“Duduk sini, Bu”, dia mempersilahkan Shanum duduk di kursi kosong di sampingnya.


“Bu Rahma, lihat Bu Liani enggak ?”, tanya Shanum pada temannya sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan Liani ke seluruh area yang terjangkau penglihatannya.


“Di sana, Bu.”, tunjuk Bu Rahma ke arah depan.


Shanum berdiri, melihat keberadaan Liani.


Liani berada di meja paling depan dekat meja VIP karena dia masih harus bergabung dengan tim dokumentasi yang masih fokus mengabadikan setiap momen acara tersebut.


Shanum tidak terlalu fokus dengan acara hiburan itu, hanya sesekali dia melihat ke arah panggung, dia anteng dengan gawainya berbalas pesan dengan sang adik.


Hingga suara yang ia kenal tiba-tiba mengusiknya.


“Lagu ini saya persembahkan khusus untuk seseorang yang istimewa di hati dan hidup saya. Allahlah yang menanamkan rasa cinta di hati kita, jadi jangan bertanya padaku kenapa aku mencintaimu.”


Ahsan sudah berdiri di atas pentas dengan mic di genggaman, dia berbicara dengan lantangnya.


Disambut riuh tepuk tangan dan teriakan terutama dari guru-guru dan karyawan wanita yang masih single, mereka berteriak histeris sambil mengacungkan jari jempol dan telunjuk yang disilangkan ke arah Ahsan.


Termasuk Liani, dia terlihat lebih heboh karena tahu orang yang dimaksud Ahsan.


Shanum hanya geleng-geleng kepala melihat Ahsan yang tampil percaya diri di atas panggung.


Hal itu sudah biasa dia lihat saat kuliah dulu, setiap selesai kegiatan di akhir evaluasi dan pembubaran panitia Ahsan sering bernyanyi bersama teman-temannya, bermain gitar adalah hobinya.


Kulepas semua yang kuinginkan


Tak akan kuulangi


Maafkan jika kau kusayangi


Dan bila kumenanti


Pernahkah engkau coba mengerti


Lihatlah aku di sini


Mungkinkah jika aku bermimpi


Salahkah tuk menanti


Takkan lelah aku menanti


Takkan hilang cintaku ini


Hingga saatkau tak kembali


Kan kukenang di hati saja.


Kau telah tinggalkan hati yang terdalam


Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa


*Yang terdalam (Noah)*

__ADS_1


“Untukmu seseorang yang berinisial S, aku mencintaimu dengan jiwa dan melihatmu dengan hati, aku di sini dan tinggal untukmu” lagi-lagi, kata-kata Ahsan membuat riuh seisi gedung.


Ahsan turun dari panggung, kembali ke mejanya bersama Akhtar dan teman-temannya. Akhtar dan teman-temannya menyambutnya dengan berhigh five, memuji sepupunya itu yang selalu mampu menghipnotis para wanita dengan kata-katanya.


“Keren, Bro” puji Akhtar.


“Sure!”, jawab Ahsan dengan jumawanya.


Hahahahah…..mereka tertawa bersama dan kembali melihat ke arah panggung yang sudah dikuasai oleh penyanyi-penyanyi dadakan.


Ditemani secangkir kopi dan hidangan-hidangan yang sudah tersedia di meja VIP mereka menikmati malam ini.


“Aku ke toilet dulu ya”, Akhtar berdiri dari kursinya.


“Oke”, jawab mereka serempak.


Disaat yang bersamaan Shanum pun beranjak hendak keluar untuk sekedar mencari angin.


Dia berjalan ke arah pintu samping aula, arah yang sama dengan Ahtar karena toilet berada di dekat pintu samping aula itu.


Jarak mereka cukup jauh, mereka berjalan ke arah yang sama dengan tujuan yang berbeda.


Dari arah berlawanan, tiba-tiba seseorang berteriak memanggil nama Shanum.


“Shanum, Bu Shanum, Bu Shanum Najua…”, tampak Liani berlari ke arah Shanum sambil berteriak memanggil-manggil nama Shanum.


Sontak teriakan Liani menghentikan langkah Shanum, begitupun dengan Akhtar yang mendengarnya karena Liani memanggil nama Shanum dengan cukup keras untuk mengimbangi suara musik di aula tersebut.


Shanum membalikkan badannya, dan melambaikan tangan menunggu kedatangan Liani.


“Aku nyariin kamu”, ucap Liani dengan nafas masih terengah-engah karena berlari.


“Aku lihat kamu masih sibuk, aku mau keluar cari angin, gerah disini. Satu jam lagi acara off”, balas Shanum.


“Kamu udah makan?”, tanya Liani lagi.


“Aku enggak lapar”, jawab Shanum.


Mereka berjalan ke arah pintu keluar. Tanpa mereka sadari seseorang mendengar percakapan mereka dan terus mengikutinya.


“Num, kamu dengar tadi Pak Ahsan bernyanyi?” Liani memulai kembali obrolan.


Belum sempat Shanum menjawab, tiba-tiba seseorang mengucapkan salam kepada mereka.


“Assalamu’alaikum,” ucapnya.


“Wa’alaikumsalam”, Jawab Shanum dan Liani kompak.


Mereka serempak menengok ke sumber suara, tampak seorang pria nan gagah tengah berdiri di hadapan mereka.


Liani bahkan membulatkan matanya dengan mulut terbuka, karena tahu siapa orang yang di ada di hadapan mereka.


“Boleh saya bergabung?”, tanyanya.


“Pa…Pa…Pak Akhtar!”, ucap Liani terbata, saking kagetnya didatangi orang sepenting Akhtar yang sejak tadi hanya bisa dia lihat dari kejauhan kini tepat berada di hadapannya.


Sementara Shanum masih membisu.


“Iya, perkenalkan saya Akhtar.” Akhtar menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan senyuman manisnya.


Liani menyambutnya dengan melakukan hal yang sama, dia menyikut Shanum karena masih tak bereaksi.


Shanum melirik Liani, kemudian melakukan hal sama.

__ADS_1


....*


__ADS_2