Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Gagal Faham


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Grand opening Future Design Furniture resmi di buka. Acara yang menghadirkan banyak tamu undangan dari berbagai kalangan ini menyita banyak perhatian khalayak ramai. Selain karena di hadiri oleh orang nomor satu di Garut, grand opening mebel baru itu dimeriahkan juga oleh penampilan grup band lokal yang sudah menasional dan menjadi kebanggaan Garut.


Acara Grand Opening secara resmi dibuka dengan pemotongan nasi tumpeng dilanjutkan dengan pemotongan pita oleh owner Future Design Furniture Akhtar Farzan Wijaya, turut hadir unsur forkopimda dan partner kerja sama Future Design Furniture serta tamu undangan terhormat lainnya.


"Selanjutnya kami persilahkan kepada owner Future Design Furniture Bapak Akhtar Farzan Wijaya untuk menyampaikan sambutannya" MC yang memandu acara ini mempersilahkan Akhtar untuk menyampaikan pidatonya.


"Dalam acara grand opening ini, saya memperkenalkan mebel future design furniture ini sebagai mebel induk yang akan memberikan pelayanan yang maksimal dalam memenuhi kebutuhan furniture masyarakat Garut khususnya. Selama beberapa bulan ini mebel Future Design Furniture telah melakukan penjualan sampai ke luar kota dan bahkan ke luar negeri. Dan dengan bangga saya sampaikan bahwa semua bahan dan pengrajin di mebel future design furniture ini asli berasal dari Garut" riuh suara tepuk tangan mengapresiasi pidato yang Akhtar sampaikan. Tampak serius tapi santai, gagah dan penuh percaya diri dia berbicara.


"Saya berharap dengan adanya mebel future design furniture ditengah-tengah keramaian kota Garut ini bisa membawa dampak positif untuk masyarakat atau pun pelanggan setia yang mau belanja kebutuhan furniture sehingga bisa tercukupi dengan baik dan puas dengan pelayanan maupun kualitas barang yang dibelinya" lanjutnya dengan semangat dan tampilan senyum manis yang membuat kaum hawa gak bisa move on.


"Untuk sistem pembayarannya di mebel future design furniture ini bisa cash dan credit. Yang menariknya sangat mudah mendapatkan barang-barang disini cukup dengan uang Rp.99.000 bisa membawa pulang barang yang diinginkan dan angsuran bayar bulan depan" lagi-lagi pidato Akhtar mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah.


"Selain itu, dalam acara grand opening ini kami menggelar promo grand opening selama tiga hari ke depan dengan memberikan harga spesial pada produk-produk istimewa kami. Kami juga memberikan souvenir seperti alat-alat elektronik dan perabotan rumah tangga sebagai hadiah secara langsung bagi pelanggan kami dengan syarat dan ketentuan berlaku" tambahnya, tangannya menunjuk ke sebelah kiri yang terdapat meja dengan tumpukkan aneka hadiah langsung yang akan diberikan kepada pelanggan.


"Terakhir saya ucapkan terima kasih kepada pemerintah kabupaten Garut dan semua pihak yang telah membantu proses pendirian mebel future design furniture hingga hari ini bisa melaksanakan acara grand opening dengan meriah. Untuk ibu tercinta saya, Ibu Fatimah" Akhtar menjeda pidatonya, sedikit membungkukkan badannya menghadap Bu Fatimah yang duduk di deretan kursi paling depan tepatnya di samping kursi yang ditempatinya bersama jajaran para tamu VIP. Bu Fatimah mengulas senyum dan menganggukan kepalanya sebagai tanda betapa bangganya dia pada putranya yang kini telah berhasil bangkit kembali.


"Dan juga sahabat-sahabat yang saya banggakan, terima kasih atas semua support yang diberikan selama ini" Akhtar melambaikan tangan ke arah Ghifar dan Ahsan yang duduk di sebelah kanan podium tempatnya berpidato dan dibalas senyum penuh kebanggaan serta lambaian tangan dari mereka berdua.


"Dan yang paling istimewa saya ucapkan terima kasih untuk seseorang yang selalu bertahta di hati dan ingatan saya. Dia menjadi motivator penting dalam hidup saya. You are the owner of my heart" tepuk tangan dan teriakan histeris dari kaum Hawa menggema memenuhi seluruh gedung mebel tempat acara grand opening berlangsung. Seorang pengusaha muda yang digadang-gadang masih single jelas menyita perhatian banyak orang terutama kaum Hawa hari ini dalam sambutannya menyebutkan jika hatinya sudah ada yang memiliki.


"Baiklah hadirin semua, paling terakhir saya ucapkan selamat berbelanja di mebel future design furniture dan nikmatilah berbagai penawaran istimewa dari kami. Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh" pungkas Akhtar mengakhiri pidatonya dengan ucapan salam dan diiringi riuhnya tepuk tangan semua orang yang hadir di sana.


Akhtar pun turun dari podium, beberapa tamu VIP menyalaminya sebagai tanda ucapan selamat atas pencapaiannya. Dia pun kembali ke tempat duduknya. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang sejak dia di atas podium tidak menunjukkan batang hidungnya.


Sementara di area food court Shanum terlihat sibuk memeriksa semua stand makanan yang sudah disiapkan. Dia memastikan setiap tim siap untuk bekerja dan melayani para tamu dengan baik. Seragam tim catering berwarna mint yang Shanum beli secara mendadak menjadi pembeda mereka dengan hadirin yang lainnya.


Indri berteriak histeris saat mendengar kalimat yang Akhtar ucapkan untuk seseorang yang dia sebut sebagai pemilik hatinya. Shanum menghentikan sejenak langkahnya, menoleh ke belakang melihat Indri yang sedang bertepuk tangan girang dan berdiri agak jauh darinya. Dia pun kembali melangkahkan kakinya mengabaikan Indri yang masih berteriak histeris saat Akhtar turun dari podium.


Indri menghentikan langkahnya mengekori Shanum mengecek semua stand makanan yang beberapa menit lagi akan di buka. Dia terpesona dengan penampilan Akhtar di atas panggung dan bertepuk tangan serta berteriak histeris bersama tamu undangan lainnya saat mendengar pernyataan romantis owner FDF itu untuk pemilik hatinya. Setelahnya dia pun celingak celinguk mencari Shanum yang sejak tadi diikutinya namun kini telah menghilang dari pandangannya.


"Teteh, kenapa cepet amat sih jalannya? aku nyari-nyari dari tadi" gerutu Indri saat menemukan Shanum sedang berada di stand dimsum. Dia memeriksa ulang semua peralatan dan kondisi makanan yang akan disajikan.


"Lagian siapa suruh heboh sendiri, udah tahu lagi cek and ricek, malahan teriak-teriak" jawab Shanum yang memilih melanjutkan kegiatannya memeriksa satu persatu stand makanan daripada menunggu Indri berteriak-teriak gak jelas menurutnya.


"Iih....teteh mah gak asik, tadi tuh ya aku nyimak Aa Akhtar yang sedang berpidato. Lihat teh keren banget kan?" Indri memperlihatkan layar gawai yang menampakkan foto Akhtar saat berada di atas podium yang dia ambil saat Akhtar memulai pidatonya.

__ADS_1


Penampilan akhtar dengan kostum smart-casual membuat dia terlihat santai namun tetap menampakkan kesan formalnya. Meskipun baju yang Akhtar pakai tidak seformal seperti memakai jas, namun tidak sedikitpun mengurangi kharisma dan aura kepemimpinannya.


Shanum yang mendengar penuturan Indri terusik hatinya untuk melirik gawai yang layarnya dipenuhi foto Akhtar. Dia bisa melihat lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu tampak semakin gagah dan kharismatik saat berada di atas podium.


"Tadi tuh heboh banget Teh waktu babang Akhtar bilang terima kasih untuk seseorang yang selalu bertahta di hati dan ingatan saya. You are the owner of my heart....aaahhhh...meleleh hati neng bang" Indri menirukan perkataan Akhtar dengan gayanya yang lucu dan penuh canda.


Shanum hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Indri. Ada sesuatu yang menohok di hatinya saat mendengar jika benar Akhtar mengatakan kalimat itu. Sejak tadi dia memang tidak fokus pada keberlangsungan acara di depan. Perhatian Shanum terpusat sepenuhnya pada food court yang sebentar lagi akan dibuka.


"Neng........" Liani datang tiba-tiba setengah berlari. Sejak tadi dia membantu Bu Hana yang sedang menyiapkan stand hidangan utama.


"Dududuh...kebiasaan kamu, nanti jatuh lo ini piring" Shanum yang sedang menghitung persediaan piring kecil yang tersaji di meja stand dimsum pun terhenyak menahan piring dengan kedua tangannya karena takut jatuh. Liani datang tiba-tiba dan langsung memeluknya dari samping.


"Sorry, sorry, sorry....hehe.." ucap Liani dengan wajah tanpa dosanya.


"Persiapan hidangan utama sudah oke?" tanya Shanum.


"Sudah dong neng, makanya aku nyari kamu. Eh neng, tahu gak tadi kan ada Ibunya Pak Akhtar nyariin kamu. Aku bilang kalau kamu sedang memeriksa stand dessert, kemudian Ibu datang karena mendengar ada yang nyari kamu. Tahu gak apa yang terjadi?" Liani mengubah panggilannya menjadi neng karena mendengar bi isah dan ceu imas menggantung ucapannya, membuat Indri jadi gemas karena penasaran.


"Apa yang terjadi, Teh?" tanya Indri penasaran. Indri sudah mengenal Liani sebagai sahabat kakak sepupunya itu. Dia yang mudah akrab tidak sulit untuk bisa dekat dengan Liani.


"Hissshh...Teh Liani nakal!" ujar Indri merajuk karena Liani mempermainkannya.


"Ternyataa......mereka berdua itu temenan Neng, mereka satu almamater dari PGA dulunyakatanya" jelas Liani dengan mata membulat, sangat antusias menyampaikan berita itu.


"Benarkah?'' Shanum tak kalah kaget saat mendengar berita dari Liani. Dia pun menoleh mencari keberadaan sang Ibu. yang tak tampak di sekitaran meja menu utama.


"Tuuh...mereka di sana!" teriak Liani menunjuk Bu Fatimah dan Bu Hana yang tampak sedang asik mengobrol di meja VIP.


Acara utama sudah selesai, seluruh tamu undangan dibarisan terdepan yang menandakan jika mereka tamu VIP sedang berfoto bersama. Beberapa wartawan lokal terlihat hadir dan mengabadikan momen bersejarah ini. Akhtar yang menjadi selebritis saat ini, menjadi incaran para pemburu berita. Namun sabar dan ramah Akhtar melayani permintaan foto para pemburu berita juga tamu undangan.


Sang MC mempersilahkan para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Shanum sibuk mengawasi semua stand makanan, dia memastikan semua tim bekerja dengan baik, melayani dengan sepenuh hati. Ini adalah proyek pertamanya dia tidak ingin pelanggannya kecewa karena tamunya tidak puas dengan hidangan-hidangan dan pelayanan yang diberikannya. Nama baik warung nasi ibu menjadi taruhannya saat ini.


Saat ini Shanum berada di posisi yang seharusnya ditempati oleh ibu Hana, namun Bu Hana tampaknya masi asik mengobrol dengan Bu Fatimah.


"Aku gak nyangka kalau selama ini aku menyukai masakan kamu, Han" Bu Fatimah sangat bahagia saat mengetahui jika Shanum adalah putri dari teman seangkatannya.

__ADS_1


"Iya Alhamdulillah" jawab bu Hana singkat


"Terus kenapa waktu reuni kamu gak bilang kalau makanan yang aku bawa itu dapet pesen dari warung nasi kamu?"


"Enggak ah Fatim, aku malu. Biar aja teman-teman tahu sendiri. Kamu juga sekarang kan jadi tahu sendiri, hhehe..." kilah Bu Hana merendah diakhiri dengan kekehan.


Mereka pun tenggelam dalam obrolan yang semakin seru. Masing-masing menceritakan tentang kehidupan masing-masing. Bu Hana prihatin mengetahui jika rumah tangga sahabatnya itu ternyata harus berakhir karena kehadiran orang ketiga. Bu Hana pun menceritakan perjalanan hidupnya setelah tamat sekolah. Pertemuan terakhir mereka adalah saat Bu Fatimah menikah dengan Pak Furqan dan tak lama dirinya pun menyusul dinikahi oleh Pak Imran.


Dan mereka baru kembali di pertemukan saat reuni pada bulan Ramadhan itu pun tidak lama karena Bu Fatimah yang harus segera melanjutkan perjalanan ke Pameungpeuk. Sekarang untuk kali kedua mereka kembali dipertemukan, namun pertemuan kali ini dirasa sangat spesial oleh keduanya. Ternyata selama ini mereka sudah sangat dekat namun tidak saling tahu.


"Jadi anak kamu semuanya ada tiga?" tanya Bu Fatimah setelah mendengar penuturan Bu Hana tentang keluarganya dan dijawab anggukan oleh Bu Hana.


"Iya, aku juga sudah punya seorang cucu yang sangat menggemaskan" jawab Bu Hana dengan binar bahagia menghiasi wajahnya saat membayangkan sang cucu yang saat ini ditinggal bersama adik iparnya.


"Kamu beruntung Han, aku punya satu anak cowok malah masih cuek aja belum ada tanda-tanda mau menikah. Dia malah masih asik dengan dunianya sendiri, pernikahan anak kamu membuatnya benar-benar patah hati. Heran, patah hatinya sama satu orang tapi ko menutup dirinya ke semua orang dia tuh" Bu Fatimah menggerutu saat menceritakan sang putra.


"Maksud kamu apa anakku bikin anak kamu patah hati? tanya bu Hana dengan wajah bingungnya.


"Jadi kamu gak tahu kalau anak-anak kita pernah jadi sepasang kekasih?" Bu Fatimah balik bertanya dan hanya dijawab gelengan kepala oleh Bu Hana.


"Huuhh...." Bu Fatimah membuang napasnya kasar, dia meraih minuman yang ada dihadapannya dan meminum isinya yang tinggal sedikit sampai hampir habis.


"Sejak beranjak remaja Shanum memang sudah tidak tinggal bersamaku. Dia tinggal di asrama dan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan selalu tampak kuat. Dia gak pernah mengeluhkan tentang apapun yang dia alami padaku, dia selalu tampil ceria jika di hadapanku. Kadang aku suka nangis sendiri Fatim jika mengingat betapa kuatnya anak sulungku itu, mampu bertahan dalam masa-masa sulit yang keluarga kami alami saat itu" Bu Hana menghela napas menjeda ucapannya.


"Sampai sekarang, dia paling gak pernah menunjukkan kesedihan atau masalah yang sedang dialaminya. Ini saja usaha warung nasi semua dia lo yang mengatur, Alhamdulillah kerja kerasnya membuahkan hasil. Sekarang warung nasi ibu sudah kakoncara (terkenal) di seluruh Garut mah" Bu Hana menceritakan perihal Shanum dengan sesekali mengusap air mata yang sudah tidak terbendung di sudut matanya.


"Aku juga sangat menyukai dia, Neng Zahra memang mantu idaman. Beruntung laki-laki yang menjadi suaminya dan ibu yang menjadi mertuanya. Coba aja dulu Akhtar jadi nikah sama neng Zahra" puji Bu Fatimah pada Shanum dengan nada menyayangkan akan kisah cinta mereka yang harus berakhir karena keadaan.


"Alhamdulillah, sampai sekarang ibu mertua dan adik iparnya sangat baik. Hampir setiap malam selalu bervideo call" Bu Hana sudah lebih tenang saat mengobrolkan tentang hubungan baik Shanum dengan ibu mertua dan adik iparnya padahal suaminya sudah lama meninggal.


"Anak-anak kamu memang shalehah-shalehah. Aku yakin kamu dan kang Imran mendidiknya dengan baik" Bu Fatimah memuji tulus.


"Alhamdulillah, Fatim. Aku sangat bersyukur. Kamu juga memiliki seorang putra yang shaleh, baik dan membanggakan. Lihatlah sekarang dia sudah bisa berdiri di kakinya sendiri. Kita mah orang tua tinggal mendo'akan" balas Bu Hana membalas genggaman tangan Bu Fatimah.


"Iya, aku sampai pingin jodohin anak aku sama adiknya Neng Zahra. Boleh gak kalau mereka kita pertemukan diam-diam? siapa tahu mereka saling tertarik. Gak dapet kakaknya adiknya pun jadi, hahaha....." Bu Fatimah mengakhiri obrolannya tentang rencana perjodohan putranya dan putri Bu Hana dengan candaan dan gelak tawa karena merasa lucu dengan gurauan receh yang baru saja dia lontarkan.

__ADS_1


Bu Hana mengernyitkan kening, heran sekaligus bingung dengan permintaan Bu Fatimah yang meminta adiknya Shanum dijodohkan dengan putranya.


__ADS_2