
Derrttt...Derrttt....Derrtt...
Getaran gawai di saku celana Akhtar mengganggu fokusnya.
Dia segera merogoh gawainya dan melihat di layar tertera nama Sang Ibu yang menelepon. Akhtar segera menerima panggilan masuk itu tanpa beralih dari tempatnya sehingga dengan jelas Shanum dapat mendengar percakapan Akhtar dengan orang yang meneleponnya.
"Assalamu'alaikum, Bu" Akhtar menyapa dengan ucapan salam pada sang ibu.
"..."
"Tapi Ibu gak kenapa napa kan?" tanyanya panik setelah mendengar penjelasan sang ibu.
"Baik, Bu. Sebentar lagi Akhtar ke sana. Ibu tenang ya" pintanya.
"..."
"Iya, Bu. Assalamu'alaikum" pungkasnya menutup percakapannya dengan sang Ibu di telepon.
Akhtar kembali menyimpan gawainya di saku celananya. Dia kembali mengalihkan fokusnya pada Shanum.
"Tadi Ibu yang menelepon" Akhtar memberi tahu Shanum siapa yang meneleponnya tanpa diminta.
"Ada sesuatu yang terjadi di rumah, jadi aku harus segera ke sana, sepertinya Ibu mengkhawatirkan sesuatu. Aku akan pulang untuk memastikannya."
Akhtar terus berbicara tentang keadaan Ibunya pada Shanum. Shanum hanya mengangguk memberi respon.
"Sebenarnya aku ingin sekali mempertemukanmu dengan Ibu, tapi sepertinya keadaannya belum tepat. Shanum, aku mohon beri aku......" ucapan Akhtar terjeda.
"Cukup A, " sela Shanum menghentikan perkataan Akhtar dengan panggilan yang sama seperti saat mereka remaja. Shanum hanya berani menyebut Akhtar dengan panggilan itu jika saat berdua saja.
"Aku kira tentang kita semuanya sudah jelas. Tolong Aa jangan membahas kembali hal apapun tentang apa yang pernah terjadi pada kita. Biarlah semuanya menjadi kenangan di hati kita masing-masing. Untukku mengenangmu adalah cara menikmati luka yang paling manis. Biarkan aku sendiri menikmatinya. Dan Aa bukalah lembaran baru bersama orang baru dan berbahagialah." pungkas Shanum mengakhiri pertemuan mereka.
Dia pun melangkah meninggalkan taman dan semakin menjauh dari Akhtar.
Akhtar hanya membisu, seakan tak ada lagi kata-kata yang bisa dia ucapkan. Mendengar closing statement dari Shanum membuat hatinya semakin diliputi rasa bersalah dan penyesalan yang semakin membuncah.
***
Semenjak acara pertunangannya dengan Raina, Akhtar meminta sang ibu untuk tinggal di rumah dinasnya. Ibu Fatimah tampak segan untuk menolak permintaan putranya itu. Walaupun waktu sudah membuatnya lebih ikhlas menerima semua takdirnya, tapi kecanggungan masih tampak di antara Bu Fatimah dengan mantan suami dan sahabatnya yang kini menjadi ibu sambung dari putranya. Akhtar senang saat ibunya bersedia memenuhi permintaannya.
Suasana pagi menjelang siang yang masih terasa sejuk di rumah yang halamannya cukup rindang itu tampak sepi karena Akhtar memang sudah berada di kantor yayasan. Sementara sang Ibu lebih betah menghabiskan waktunya di halaman belakang rumah itu.
Akhtar sengaja membuat kebun mini di halaman belakang rumahnya. Dia tahu sang ibu akan kesepian saat ditinggal olehnya ke kantor. Dia dengan penuh perhatian menyiapkan semua hal yang menjadi kesukaan ibunya itu.
Aneka tanaman hias berjejer rapi menghiasi halaman minimalis lengkap dengan berbagai peralatan berkebun mini yang sengaja Akhtar siapkan agar sang ibu tidak kesulitan saat merawat tanaman-tanaman itu.
Ibu Fatimah tampak asik membersihkan rumput-rumput kecil yang tumbuh di sekitar tanaman hiasnya, dia pun dengan telaten mengelap daun-daun yang tampak kotor, menyingkirkan daun-daun yang mulai layu kemudian menyiramnya.
__ADS_1
Sudah hampir dua minggu Bu Fatimah berada di komplek itu, selama itu pula sang mantan suami beberapa kali menyuruh orang untuk meminta Bu Fatimah menemuinya, namun Bu Fatimah selalu berhasil menghindar dengan berbagai alasan.
Semua itu tentunya tanpa sepengetahuan Akhtar putranya, karena orang suruhan suaminya itu sepertinya sengaja datang tepat pada saat Akhtar sudah pergi ke kantor. Bu Fatimah tidak ingin menambah pikiran Akhtar, dia pun tidak memberitahukan hal itu pada sang putra.
Walau pun dia sudah tidak ada perasaan apapun terhadap mantan suaminya itu, tapi Bu Fatimah tidak ingin ada kesalahfahaman terutama dengan istri baru suaminya itu yang tidak lain adalah mantan sahabatnya sendiri. Dia tidak mau istri mantan suaminya itu berprasangka macam-macam karena suaminya menemui dirinya. Apalagi sikap dan kata-kata Sopia yang tak mengenakkan saat pertemuan terakhir mereka di pesta pertunangan Akhtar.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu berkali-kali mengusik keasikannya yang sedang merawat tanaman. Ibu Fatimah beranjak untuk mencuci tangan dan melepas semua perlengkapan berkebun yang menempel di tubuhnya. Dia bersemangat untuk membuka pintu karena mengira yang datang adalah putranya Akhtar.
"Sebentar" teriaknya saat hampir mendekati pintu depan rumah itu.
"Assalamu......" ucapan salam Bu Fatimah terhenti seketika saat melihat orang yang berdiri di depan pintu yang tengah dia buka bukanlah putranya.
"Asaalamu'alaikum" ucap orang itu.
Dia adalah Furqan Wijaya, Ayah Akhtar. Mantan suaminya itu sudah beberapa kali menyuruh orang mendatangi Bu Fatimah dan memintanya agar menemui mantan suaminya tersebut.
"Wa'alaikumsalam" jawab Bu Fatimah lirih, dia menundukkan pandangannya menghindari beradu tatap dengan mantan suaminya.
Kali ini Bu Fatimah tidak bisa menghindar, orang yang selama beberapa hari ini dia hindari sudah ada di hadapannya.
"Tidak menyuruhku masuk?" ucap Pak Furqan.
"Maaf, Akhtar sedang tidak di rumah. Jika ingin menemuinya silahkan ke kantornya saja." jawab Bu Fatimah berusaha menghindar.
"Sepertinya tidak ada lagi yang harus dibicarakan di antara kita" elak Bu Fatimah. Beliau masih berusaha menghindar.
"Aku akan masuk dan kita bicara di dalam, masuklah lebih dulu." ucap Pak Furqan pada Ibu Fatimah, dia membalikkan badannya dan memberi intruksi pada dua orang yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
Entah apa yang dikatakannya kepada dua orang itu, hanya dia begitu terlihat tegas dan penuh wibawa.
Pak Furqan kemudian melangkah memasuki rumah yang pintunya sudah terbuka itu. Dia sengaja sedikit membuka pintu rumah itu karena tahu Ibu Fatimah akan tidak nyaman jika pintu itu dia tutup.
"Duduklah", ucapnya karena Bu Fatimah masih berdiri menatapnya penuh kekhawatiran. Bu Fatimah pun duduk di kursi yang berada di dekatnya berdiri.
"Tenanglah, aku tidak akan lama. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini sudah aku siapkan, aku menunggu waktu yang tepat untuk bisa menyampaikan ini." Pak Furqan mulai menyampaikan maksud kedatangannya saat ini.
"Fatimah, maafkan atas keegoisanku waktu itu. Sungguh selama ini hidupku sangatlah tidak tenang karena memikirkan dosa-dosaku padamu. Aku tau kesalahan yang ku lakukan sangatlah membuatmu sakit hati dan kecewa, mungkin jika Akhtar tahu semuanya dia pantas jika membenciku."
Pak Furqan menjeda ucapannya setelah menyebut nama putranya Akhtar, ada perasaan sesak yang menerjang dadanya. Sementara Bu Fatimah masih setia mendengarkan.
"Maafkan aku Fatimah, maaf...hiks" Pak Furqan kemudian tersedu setelah mengatakan permintaan maafnya kepada Bu Fatimah. Dia semakin menundukkan wajahnya, tak kuat lagi menahan air mata yang selama bertahun-tahun dia sembunyikan di balik kegagahannya.
Tidak ada yang tidak mengenal seorang Furqan Wijaya, seorang pengusaha sukses di berbagai bidang, hingga mampu mendirikan Bina Insani Grup yang awalnya hanya perusahan biasa, kini menjadi perusahaan yang paling ternama di negeri ini. Tetapi sayang, tidak banyak yang tahu di balik semua kesuksesannya itu ada luka batin yang selama ini hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Fatimah membisu, dia tidak tahu harus berkata apa melihat kondisi mantan suaminya saat ini. Pikirannya kembali menerawang ke beberapa tahun silam dimana dia pertama kali di pertemukan oleh seorang teman dengan laki-laki yang kini ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Memutuskan untuk menerima pinangan laki-laki tampan yang cerdas dan sederhana itu, memulai kehidupan baru dalam bahtera rumah tangga. Berbagai halang rintang berhasil mereka hadapi bersama hingga pada akhirnya sang suami kehilangan pegangan dan harus terjerumus ke dalam lembah ambisi yang meninggikan egonya, hingga akhirnya Fatimah menyerah tak sanggup melanjutkan perjuangannya dalam biduk rumah tangga karena sang suami telah membagi hati dan cintanya.
Fatimah menghela napasnya dalam, dia tidak tahu apa sebenarnya masalah yang dihadapi oleh Pak Furqan. Fatimah hanya melihat ada perasaan bersalah dan penyesalan yang begitu besar di dalam diri laki-laki yang kini sudah berstatus mantan suaminya itu.
"Fatimah, aku hanya ingin memberikan berkas ini padamu. Ini adalah hakmu dan Akhtar. Selama ini aku sudah mempersiapkannya dan menyimpannya dengan baik. Aku ingin memberikannya langsung kepadamu. Aku harap kamu mau menerimanya. Setidaknya dengan menerima ini aku tidak lagi dihantui perasaan bersalah karena telah mengabaikanmu dan Akhtar di masa lalu. Tolong terima ini Fatimah",
Pak Furqan mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya. Dia menyerahkan map yang dia pegang kepada Ibu Fatimah.
Dengan tangan bergetar, Ibu Fatimah menerima map itu.
"Apa ini, Kang?" tanyanya penasaran.
"Bukalah!" titah Pak Furqan.
Ibu Fatimah membuka map yang baru saja diterimanya. Dia membaca setiap lembar kertas yang ada dalam map itu. Ibu Fatimah mengernyit, untuk apa Pak Furqan memberikan semua itu atas namanya dan Akhtar.
Map yang baru saja diterima Bu Fatimah berisi surat aset-aset berharga yang Pak Furqan dirikan khusus untuk anak dan mantan istrinya tersebut. Ada beberapa butik atas nama mantan istrinya dan perusahaan mebeuler atas nama putranya.
Dulu saat awal pernikahan mereka, Bu Fatimah sempat menerima jasa menjahit pakaian di rumahnya. Sepulangnya mengajar sebagai guru honorer di salah satu sekolah swasta, Bu Fatimah menyalurkan hobinya menggambar model baju dan menjahitnya sendiri hingga akhirnya banyak orang di kampungnya yang tertarik dengan baju-baju hasil desain Ibu Fatimah.
Pak Furqan sangat terbantu dengan usaha Bu Fatimah tersebut sehingga perlahan kehidupan ekonomi keluarga mereka membaik. Jika hanya mengandalkan gaji dirinya yang hanya seorang guru honorer rasanya masih sangat kurang.
Sejak saat itu mereka sering merajut mimpi jika suatu hari Bu Fatimah menginginkan memiliki butik sendiri yang menjual semua karya-karyanya. Ternyata ingatan itu masih tersimpan jelas di memori Pak Furqan.
Tanpa sepengetahuan istrinya dia pun melebarkan sayap bisnisnya ke ranah fashion. Tentu saja saat ini bisnis tersebut dikelola oleh perusahaan rekanannya agar tidak terendus keberadaannya oleh sang istri. Begitupun dengan beberapa perusahaan mebeuler yang diklaim kepemilikannya atas nama putranya sengaja ia serahkan pengelolaannya kepada orang-orang kepercayaannya di luar Bina Insani Grup agar sang istri tidak mencurigainya.
Pak Furqan sengaja melakukan ini untuk menebus kesalahannya di masa lalu kepada dua orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
Ibu Fatimah sontak menyimpan kembali map tersebut di atas meja dan mendorongnya ke arah Pak Furqan.
"Maaf Kang, saya tidak bisa menerima ini. Ini bukan hak saya, Akang sudah tidak berkewajiban apapun kepada saya", ucapnya.
Pak Furqan sudah menduga ini akan terjadi, dia tahu betul tipe perempuan seperti apa yang ada di hadapannya ini. Fatimah yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan. Selalu merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, tidak pernah menuntut apapun padahal sudah menjadi haknya.
"Fatimah, sudah ku katakan jangan menyiksaku dengan perasaan bersalah yang terus menghantuiku. Aku tahu kalau aku adalah laki-laki brengsek yang tidak tahu diri, tolong jangan membuatku merasa lebih buruk lagi dengan menolak semua ini. Aku mohon terimalah Fatimah." Pak Furqan memohon dengan tulus.
"Jelaskan perlahan pada Akhtar kalau aku tulus memberikan semua ini. Aku belum sanggup jika harus mengatakannya langsung pada putra kita. Sejak dulu kau paling mampu menaklukkan kami berdua, dengan kesabaran dan kelemahlembutanmu."
"Di sana sudah dilengkapi Kartu yang bisa kau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu, semua keuntungan dua perusahaan itu masuk ke rekening kartu-kartu itu" Pak Furqan menunjuk amplof yang ada di dalam map, dia memohon dengan tulus.
"Hah....." Bu Fatimah tersenyum kecut mendengarnya.
"Jika sejak dulu aku mampu menaklukanmu, mungkin Akang tidak akan pernah berpaling" ujar Bu Fatimah masih dengan senyuman kecutnya.
Deg....Pak Furqan tersentak, jawaban mantan istrinya itu membuat ulu hatinya serasa sakit, sakit karena telah menyia-nyiakan perempuan sebaik mantan istrinya itu.
"Maafkan aku, Fatimah", gumamnya lirih.
__ADS_1
Perdebatan pun tidak terelakkan. Ibu Fatimah bersikeras menolak pemberian mantan suaminya itu, sementara Pak Furqan keukeuh dengan kehendaknya. Hingga akhirnya beliau pun meninggalkan kediaman anak dan mantan istrinya itu.