Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Teror


__ADS_3

Rasa sepi kembali menyelinap di hatinya. Kepergian sang Ibu kembali menyisakan duka untuk Akhtar. Walau kali ini dia sendiri yang mengantar kepergian sang Ibu, dia pun tahu keberadaan sang Ibu, bisa berkomunikasi dengan lancar dan bisa menemuinya kapan saja. Tetapi tetap saja yang namanya perpisahan selalu menjadi sesuatu yang menyakitkan.


Ditatap setiap sudut rumahnya, dia tersenyum sendiri saat bayangan sang Ibu dengan rutinitas paginya di rumah itu melintas di pikirannya. Dua minggu yang indah untuk Akhtar, tinggal satu atap bersama sang Ibu membuat hari-harinya terasa lebih berarti.


Kepergiannya setiap pagi ada yang mengantar dan kepulangannya di sore hari ada yang menanti.


Dengan berat hati Akhtar akhirnya merelakan Ibunya untuk tinggal di Garut. Setelah sempat berdebat dengan sang Ibu, karena dia menolak mentah-mentah permintaan sang ibu untuk pindah ke Garut, Akhirnya Akhtar menyerah. Dia merelakan sang ibu untuk kembali ke kampung halamannya setelah Ibu Fatimah menceritakan semua alasannya mengapa dia mengambil keputusan ini.


Bu Fatimah juga menjelaskan tentang kedatangan Ayah dan Ibu sambungnya lengkap tanpa terlewat sedikit pun. Awalnya Akhtar marah, dia tidak terima perlakuan ibu sambungnya kepada sang ibu. Dia pun tidak habis pikir dengan kelakuan Ayahnya.


Hampir saja Akhtar kehilangan kendali, dia sempat bersikeras untuk menemui Ayah dan Ibu sambungnya untuk mencari keadilan, namun Bu Fatimah dengan penuh kesabaran dan kelembutan memberi pengertian kepada Akhtar agar jangan terbawa nafsu. Akhtar pun menurut, dia kembali bisa menguasai dirinya dan menuruti keinginan sang ibu.


Setelah semua peristiwa yang terjadi di yayasan, Ibu Fatimah memutuskan untuk kembali ke Garut. Dia pun hanya tinggal beberapa hari di rumah orang tuanya, dia pamit kepada kedua orang tuanya untuk mengisi waktunya dengan mengabdikan diri di sebuah pesantren milik sahabat yang juga masih saudara jauhnya.


Pameungpeuk....di sinilah kini dia berada.


Sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Garut tepatnya Garut Selatan. Keberadaan Ibu Fatimah di sini tidak hanya sekedar untuk mengisi waktu dengan berbagi ilmu, namun juga sebagai healing setelah semua hal yang dia alami akhir-akhir ini.


Keberadaan pesantren yang tidak jauh dari pantai membuat Ibu Fatimah sering menghabiskan waktunya dengan menikmati keindahan pantai itu.


Garut tidak hanya terkenal dengan kulinernya yaitu dodol Garut, salah satu pantai yang populer juga terdapat di Kabupaten Garut yaitu Pantai Sayang Heulang.


Pantai ini memiliki bentangan sekitar 3,5 km dengan hamparan pasir yang dihiasi batuan karang, air lautnya bersih dengan deburan ombak yang cukup kencang.


Pantai Sayang Heulang juga memiliki spot alam berupa hutan mangrove, pesona Pantai Sayang Heulang Garut sejak lama sudah menjadi pilihan wisata warga Garut dan sekitarnya.  


Kawasan wisata Pantai Sayang Heulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat memang cukup memesona. Luasnya hamparan karang yang menjorok ke daratan, menjadikannya sebagai salah satu pantai pesisir selatan Garut yang terbilang aman bagi pengunjung.


P‌antai ini diberi nama Pantai Sayang Heulang, karena dulunya di lokasi ini banyak sekali Burung Elang atau Heulang dalam bahasa sunda, dan sayang dalam bahasa sunda artinya sarang.


Sehingga dinamakanlah Sayang Heulang (Sarang Elang), namun sayang sekali saat ini burung-burung Elang yang ada diburu oleh manusia hingga punah dan tidak ada lagi.


"Semoga kamu betah di sini" suara seseorang mengalihkan pandangan Bu Fatimah yang sedang asik menatap hamparan laut biru di Pantai Sayang Heulang. Suasana sore yang cerah di tempat itu membuat penikmatnya lupa diri. Anteng dengan keindahan Alam ciptaan Allah yang Maha Dahsyat.


"Terima kasih kamu sudah mengajakku ke tempat seindah ini, Masyaa Allah luar biasa sekali" jawab Bu Fatimah pada orang itu.


Dia adalah Ibu Muslimah, sahabat yang bu Fatimah temukan saat beliau mengadu nasib di luar negeri. Bu Muslimah juga sempat menjadi tenaga kerja di luar negeri, kontraknya hanya dua tahun dan lebih cepat kembali ke tanah air. Berbeda dengan Ibu Fatimah yang terus memperpanjang kontraknya. Mereka menjadi menjadi dekat karena berasal dari daerah yang sama yaitu Garut.


Sesampainya di tanah air bu Muslimah mendirikan pesantren bersama almarhum suaminya yang merupakan cita-cita mereka. Bu Muslimah juga masih menjalin silaturahim dengan bu Fatimah melalui telepon.


Setelah kepergian suaminya beberapa bulan yang lalu kini Bu Muslimah harus berjuang sendiri meneruskan pengelolaan pesantren ini sebagai amanah dari sang suami, dibantu oleh anak-anaknya Bu Muslimah mengelola pesantren dengan baik, dan sekarang kehadiran sahabatnya yang ternyata juga masih saudara jauh sangat membantu Bu Muslimah dalam mengurus pesantren.


"Aku senang kalau kamu betah di sini", ucap Bu Muslimah. Bu Muslimah sudah tahu semua kisah hidup sahabatnya itu, dia pun turut iba sekaligus bangga melihat sahabatnya mampu bertahan bahkan menjadi pribadi yang lebih baik di balik terpaan semua masalah hidupnya.

__ADS_1


"Aku betah" balas Bu Fatimah singkat.


Bu Fatimah menjalani rutinitas barunya di pesantren dengan bersemangat, selain menjadi guru bagi anak-anak pesantren dia pun memberi pelatihan keterampilan pada masyarakat sekitar. Kehadirannya di pesantren telah membawa berkah tersendiri di sana. Santri yang mukim semakin banyak, dan kepercayaan para donatur pun semakin meningkat.


***


Sementara di Bandung...


Semenjak pertemuan terakhirnya dengan Akhtar di taman belakang komplek perumahan dinasnya, Shanum selalu menerima teror dari nomor yang tidak dia kenal. Berbagai peringatan dan ancaman kerap dia terima.


08xxxx.....


'Dasar cewek murahan'


'Dasar pelakor'


'Perempuan tidak tahu diri'


'Jangan mendekati Akhtar'


'Sadar diri, siapa kamu!'


'Jangan macam-macam, kamu tidak tahu akan berhadapan dengan siapa'


Rentetan pesan bertubi-tubi Shanum terima setiap harinya. Shanum tidak tahu maksud orang itu, awalnya dia pun mengabaikannya. Mengira itu hanyalah pesan salah kirim. Tetapi ternyata semakin lama pesan-pesan yang diterimanya semakin mengarah pada dirinya. Dia tahu dari siapa pesan-pesan itu.


Shanum memilih mengabaikan pesan-pesan itu. Memilih menjalani aktivitasnya seperti biasa, jam enam tiga puluh dia sudah berada di sekolah tempatnya mengajar dan kembali ke rumah dinas setelah melaksanakan shalat Ashar, kadang menjelang maghrib dia baru kembali. Aktivitasnya cukup padat di sekolah, selain mengajar Shanum juga dipercaya untuk menjadi pembina kegiatan kesiswaan.


Aktivitasnya yang padat membuatnya punya alasan untuk menghindar dari Ahsan yang sampai saat ini masih terus menemuinya. Shanum sudah memutuskan untuk tidak menjalin komunikasi lagi dengan Ahsan, dia sudah berjanji pada Suraya untuk melepas Ahsan seutuhnya.


Berbeda dengan Ahsan, dia tidak peduli dengan Shanum yang terus menghindar. Dia dengan gigih mencari berbagai peluang untuk bisa bersama Shanum. Terkadang Shanum pun tidak bisa mengelak jika kegiatan yayasan ternyata mempertemukan mereka.


Ahsan pun sering datang ke sekolah tempatnya mengajar dengan berbagai alasan, padahal pekerjaan dia dengan Ahsan sama sekali tidak berhubungan. Seperti hari ini, saat semua pekerjaannya di sekolah selesai dan bersiap untuk pulang Ahsan ternyata sudah menunggunya di luar.


"Assalamu'alaikum" ucapnya saat Shanum melintas di hadapannya. Ahsan sengaja menunggu Shanum di koridor kelas yang biasa dilewati Shanum saat akan pulang yang sudah tampak sepi.


Hal itu sontak mengagetkan Shanum yang sedang berjalan sendiri. Dia keluar paling akhir setelah membimbing kegiatan ekskul anak-anak didiknya.


"Kakak", sentaknya...


"Sedang apa Kakak di sini?" tanya Shanum


"Aku sengaja menunggumu, aku rindu" jawab Ahsan jujur.

__ADS_1


Shanum melengos, selama ini dia sudah berusaha menghindari Ahsan kalaupun ada


pekerjaan yang mempertemukan mereka Shanum pun sangat berusaha menghindari hal-hal yang bersifat pribadi dengan Ahsan, apalagi menyangkut kebersamaan dan rencana mereka sebelumnya.


"Sudahlah, Kak" ucap Shanum lirih.


"Shanum, aku tidak tahu kesepakatan apa yang sudah kamu buat dengan Suraya. Tetapi yang jelas aku masih akan memperjuangkan cinta kita." ucap Ahsan tegas.


Shanum menghela napas, dia menghentikan langkahnya.


"Kakak, keputusan aku sudah bulat. Tolong hormati itu" balas Shanum tak kalah tegas.


Dia berjalan lebih cepat meninggalkan Ahsan yang masih diam berdiri di tempatnya.


Tidak hanya Ahsan yang masih terus mencoba memperjuangkan cintanya, setelah mengetahui kenyataan tentang Ahsan dan Suraya Akhtar pun kembali gencar melakukan aksinya. Dia selalu mengirimi Shanum pesan setiap hari. Shanum hanya membacanya tanpa pernah membalasnya. Dia teguh dengan pendiriannya menganggap kedua laki-laki itu tidak ada di sekitarnya.


Shanum memilih fokus dengan kesibukannya di sekolah. Selain karena menghindari dua laki-laki yang terus mendekatinya, Shanum pun lebih sering menghabiskan waktunya di sekolah untuk mengalihkan pikirannya tentang sang adik.


Bulan depan adalah hari pernikahan adiknya, kabar yang mengatakan bahwa keluarga calon suami adiknya meminta mereka mempercepat hari pernikahannya telah sampai ke telinga Shanum.


Shanum hanya bisa mendo'akan semoga semuanya dilancarkan, dia pun meyakinkan kedua orang tuanya kalau dirinya tidak apa-apa jika harus didahului nikah. Bapaknya bisa menerima dan mengerti keputusan Shanum tapi berbeda dengan Ibunya, kabar terakhir yang dia terima dari adik bungsunya adalah Ibu dibawa ke puskesmas karena sudah dua hari tidak enak badan. Shanum pun memutuskan libur akhir bulan ini dia akan pulang ke Bogor.


Menjelang Magrib Shanum tiba di rumah dinasnya, dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa di ruang tamu rumah dinasnya. Keadaan rumah masih gelap, dia memilih memejamkan matanya menikmati kesendirian dalam kegelapan.


Ting....bunyi notifikasi pesan masuk ke gawainya.


'Aku kira pembicaraan terakhir kita sudah jelas. Jika kamu masih membiarkan Ahsan menemuimu aku pastikan karirmu tamat di yayasan ini!'


Sebuah pesan yang dikirim Suraya membuat Shanum tersentak. Lama Shanum memandangi gawainya, dia bingung mau membalas apa. Selama ini dia selalu menghindar dari Ahsan. Tapi Ahsan tetaplah Ahsan yang tidak lelah memperjuangkan cintanya, dia tidak peduli walau setiap hari Suraya mengalirinya perhatian, namun tidak lantas membuat hatinya berpaling dari Shanum.


Shanum berkali-kali mengucapkan istighfar, mengingat semua masalah yang tengah menghadangnya. Semua seakan datang bertubi-tubi. Sempat terlintas di pikirannya bagian mana yang salah dari dirinya hingga masalah begitu bertubi-tubi datang. Kebahagiaan dan ketenangan seakan tak juga berpihak padanya.


Keinginannya sederhana, bisa bekerja dengan tenang. Menabung untuk memberangkatkan haji kedua orang tuanya. Memantaskan diri agar kelak mendapat jodoh yang tepat untuknya. Dia sudah tidak berharap apapun pada Akhtar maupun Ahsan, biarlah mereka menjadi bagian dari perjalanan hidupnya yang berakhir menjadi kenangan. Tapi ternyata pada kenyataannya hidupnya tidak sesederhana itu.


"Astaghfirullah" , Shanum mengusap wajahnya.


"Maafkan aku Yaa Rabb, ampuni dosa-dosaku", ucapnya lirih.


Ting...


'Kali ini aku tidak main-main, pilihan ada padamu. Tinggalkan tempat ini, mengundurkan diri baik-baik, atau diberhentikan dengan tidak hormat',


Pesan kedua Suraya kembali masuk ke aplikasi whattsappnya. Shanum kembali kaget dengan pilihan yang diberikan Suraya.

__ADS_1


"Ya Allah...." gumam Shanum lirih.


__ADS_2