
Seorang pria tampak sedang duduk seorang diri di sebuah taman. Anak-anak yang berlalu lalang di sekitarnya bermain dengan riang tidak lantas membuatnya merasa terganggu. Pandangan matanya hanya fokus tertuju pada sebuah foto yang menghiasi layar gawainya.
Dia menggeser layar gawai yang tiba-tiba mati karena terlalu lama dia diamkan, fokusnya benar-benar hanya menatap foto yang dijadikan walpaper gawainya itu. Kembali bibirnya mengulas senyum saat seseorang menyapanya dengan wajah tersenyum setiap dia membuka layar gawainya itu.
Foto itu adalah foto yang dia ambil secara diam-diam saat mereka menghabiskan waktu menikmati matahari terbit di Pangandaran. Dia ingat betul, hari itu dia pun mendapat pesan jika seseorang yang selama ini dia perjuangkan mulai memberinya lampu hijau.
Bahagia menyeruak di dadanya kala itu, dia merasa tidak sia-sia telah bersabar menantinya selama ini. Namun kebahagiaan yang baru seumur jagung itu kini harus dipertaruhkan dengan sesuatu yang sulit untuk dia hindari.
Ya, Ahsan akhirnya harus menentukan pilihan. Keadaan ibunya yang sakit-sakitan semakin hari semakin membuatnya khawatir karena kasus sang ayah yang tak kunjung ada solusi membuat dirinya akhirnya harus membuat keputusan.
Keputusan yang diharapkan akan membuat keadaan sang ibu kembali membaik dan sang ayah bebas dan bisa beraktivitas seperti biasa namun dia harus rela menggadaikan kebahagiaannya.
Hampir tiga bulan semenjak kasus yang menimpa sang ayah, Ahsan memutuskan untuk tinggal di Surabaya menemani ibunya. Setiap hari dia berusaha mencari cara agar sang ayah segera bebas dan kasusnya selesai. Sang ibu yang mengetahui kasus suaminya belum juga ada titik terang jadi terus kepikiran dan mulai sakit-sakitan.
Ahsan sungguh tidak tega melihatnya, dia tahu walaupun selama ini intensitas kebersamaan mereka sangat sedikit tapi itu karena sang ibu harus membersamai ayahnya yang selalu berpindah-pindah tugas.
Ahsan tahu ibunya adalah perempuan hebat yang tidak pernah membiarkan ayahnya berjuang sendiri. Dia selalu setia membersamai sang ayah saat bertugas di manapun. Menjadi anggota TNI adalah cita-cita ayahnya dari dulu, mereka mulai berpacaran sejak SMA dan sang ibu selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan ayahnya. Dia dengan setia dan penuh dedikasi mengabdikan hidupnya untuk menjadi istri yang baik bagi suaminya.
Ahsan salut untuk itu, maka dia tidak tega jika saat ini harus melihat ibunya menangis hampir setiap malam karena harus jauh dari belahan jiwanya. Begitupun sang ayah, terakhir Ahsan mengunjunginya di rumah tahanan dia melihat keadaan sang ayah sangat mengkhawatirkan, dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan bobot tubuhnya turun drastis sehingga membuatnya terlihat lebih kurus.
Mengetahui hal itu ibu Ahsan semakin tidak mampu menahan diri, dia semakin bersedih dengan apa yang terjadi pada suami tercintanya. Ahsan tidak bisa membiarkan hal ini terus berlarut-larut, dia dibersamai pengacara handal dan turun tangan langsung mencari bukti keterlibatan ayahnya dengan kasus yang selama ini menjeratnya.
Dari penyelidikannya dengan pengacara, Ahsan bisa menarik kesimpulan jika sang Ayah hanyalah korban dia dijebak, kenyataan yang sebenarnya ayahnya tidak terlibat apapun yang berhubungan dengan kasus itu.
Ahsan dibersamai pengacara dengan semangat menyerahkan bukti-bukti yang mereka temukan pada saat persidangan. Jika melihat bukti yang ada rasanya sudah cukup untuk membebaskan sang ayah dari berbagai tuduhan yang ditujukan padanya. Seharusnya hal itu bisa membuat ayahnya bebas dan mengembalikan nama baiknya. Tapi ternyata ayahnya belum bisa sepenuhnya bebas. Dia bisa bebas namun bersyarat. Ahsan geram dengan keputusan itu, tetapi dia pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.
Ahsan tidak putus asa dia pantang untuk menyerah. Sang Ibu selalu menjadi alasannya untuk terus berjuang mencari keadilan untuk ayahnya. Sepupunya Akhtar sempat menawarkan beberapa kali bantuan untuk membantunya begitupun dengan Ayah Akhtar tetapi Ahsan selalu menolak dengan halus. Selama ini dia sudah banyak dibantu oleh Akhtar, pengacara hebat dengan bayaran sangat mahal yang saat ini membersamainya pun adalah utusan Akhtar.
Hingga suatu hari sebuah pesan yang menawarkan bantuan untuk benar-benar membebaskan sang ayah masuk ke gawainya. Awalnya dia tidak tahu siapa yang mengirimkan pesan itu, dengan penuh kepenasaran dia menghubungi pemilik nomor tersebut karena takut hanya orang iseng yang memanfaatkan keadaan.
"Assalamu'alaikum" ucap Ahsan saat panggilannya terhubung.
"Wa'alaikumsalam" seseorang menjawab.
"Maaf, ini dengan siapa ya? tadi Bapak mengirim pesan pada saya?" tanya Ahsan sopan, saat mendengar suara orang yang menerima teleponnya dia mengetahui ternyata yang mengiriminya pesan adalah seorang laki-laki.
"Saya teman ayahmu, datanglah ke rumah. Saya kirimkan alamatnya sekarang" jawab orang tersebut.
Setelah mengakhiri percakapannya di telepon dengan ucapan salam. Ahsan segera mengambil kunci mobilnya dan berangkat menuju alamat yang diterimanya melalui pesan whatsapp.
Ahsan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, karena keadaan lalu lintas yang cukup padat siang itu.
Tiga puluh menit kemudian, Ahsan tiba di halaman sebuah rumah yang tampak mewah. Dia menemui security yang menjaga rumah itu.
"Assalamu'alaikum" sapa Ahsan sopan.
"Wa'alaikumsalam" jawab security itu.
"Ada yang bisa dibantu, Mas?" tanyanya lagi.
"Saya Ahsan, saya mendapat telepon dari seseorang dan meminta saya untuk datang ke alamat ini" Ahsan menunjukkan alamat yang dikirim orang itu.
"Benar Mas, ini rumahnya. Sebentar ya Mas, saya konfirmasi dulu ke dalam" pamit security, dia masuk ke pos jaga dan tampak menghubungi seseorang melalui saluran telepon yang menempel di dinding pos jaga.
"Maaf Mas, Mas sudah ditunggu oleh Bapak dan silahkan ikut saya, saya akan antar", setelah menyimpan kembali gagang telepon ke tempat semula, dia segera keluar dan memberitahu Ahsan supaya ikut dengannya.
Ahsan pun mengangguk dan mengikuti security rumah tersebut. Sepanjang jalan menuju pintu utama rumah itu, Ahsan terus mengedarkan pandangannya. Dia benar-benar tidak tahu siapa pemilik rumah ini dan apa hubungannya dengan ayahnya.
"Silahkan Mas!" seru security itu saat sudah sampai di depan pintu utama rumah yang sudah terbuka.
"Terima kasih" ucap Ahsan sedikit menganggukkan kepalanya.
Dia pun memasuki rumah itu dengan perlahan. Pandangannya kembali diedarkan ke seluruh bagian rumah yang baru saja dia masuki.
Deg....Ahsan terkejut saat melihat foto keluarga yang berukuran besar terpajang di dinding ruang utama rumah itu. Dia sangat mengenali seseorang yang berada di sana. Seseorang yang pernah bertahta di singgasana hatinya selama bertahun-tahun, namun singgasana hatinya itu runtuh karena keegoisan wanita yang dicintainya.
"Apa kabar, Nak?" suara bariton seorang pria yang bertubuh tinggi tegak, membuyarkan lamunan Ahsan. Dia pun menoleh ke sumber suara, dan ternyata dugaannya benar. Orang yang mengiriminya pesan adalah ayah Suraya, mantan kekasihnya.
"Omm..." Ahsan mengurai keterkejutannya dan berusaha menetralkan kembali ekspresi wajahnya.
__ADS_1
"Silahkan duduk" Ayah Suraya mempersilahkan Ahsan untuk duduk dan kini mereka sudah berhadapan.
"Omm, apa kabar?" Ahsan membuka perbincangan mereka.
"Baik, kamu?" Ayah Suraya bertanya balik dengan pertanyaan yang sama, menanyakan kabar Ahsan.
"Alhamdulillah baik, Omm", jawab Ahsan sendu.
"Bagaiman kabar ayahmu?" tanya Ayah Suraya langsung pada inti pertemuan mereka.
"Begitulah Omm...sekarang Ayah sudah berada di rumah tapi masih wajib lapor dan wartawan masih terus berdatangan ke rumah menanyakan berbagai kebenaran tuduhan yang ditujukan pada Ayah" jawab Ahsan jujur.
Keadaan rumahnya akhir-akhir ini selalu di penuhi wartawan yang berdatangan silih berganti. Dia pun kadang menjadi geram saat ada wartawan yang keukeuh meminta izin bahkan setengah memaksa untuk mewawancarai sang ayah.
Ayah Suraya pun manggut-manggut mendengar cerita Ahsan.
"Omm akan membantu Ayahmu bebas sepenuhnya dan mengklarifikasi berita yang saat ini beredar untuk membersihkan kembali nama baik ayahmu"
Mendengar penuturan Ayah Suraya mata Ahsan berbinar, dia sangat bersemangat mendengarnya. Ini tentu akan menjadi berita bahagia untuk kedua orang tuanya.
"Benarkah, Omm?" Ahsan memastikan kebenaran ucapan Ayah Suraya dan dijawab anggukan oleh beliau.
"Terima kasih Omm, terima kasih. Terima kasih atas kebaikan Omm, saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa, tetapi yang pasti kebaikan Omm tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup" Ahsan mengucapkan terima kasih yang begitu dalam, dia meraih tangan Ayah Suraya dan menciumnya berkali-kali.
Ayah Suraya pun mengulas senyum melihat respon Ahsan seperti itu. Dia kembali menyuruh Ahsan untuk duduk di tempat semula.
"Duduklah" ucapnya
"Baik Omm, maaf saya terlalu excited mendengarnya" balas Ahsan dengan menampilkan wajah yang penuh dengan senyuman.
"Omm mengerti, kamu akan sangat bahagia jika melihat Ayahmu kembali bebas dan Ibu mu sehat. Makanya Omm memutuskan untuk membantumu menyelesaikan kasus Ayahmu"
"Jika kebahagiaanmu adalah melihat kedua orang tuamu bahagia, maka Omm pun sama. Omm akan sangat bahagia ketika melihat istri dan anak Omm bahagia, karena saat ini merekalah keluarga terdekat Omm"
Ahsan mulai menyimak pembicaraan Ayah Suraya dengan seksama, dia sedikit mengendurkan senyum di wajahnya karena melihat Ayah Suraya berbicara serius.
"Omm akan bahagia ketika melihat istri tercinta Omm bahagia dan kebahagiaan istri Omm hanyalah satu, yakni melihat putri kami satu-satunya bahagia"
"Jika kamu tadi bilang tidak tahu apa yang bisa kamu berikan untuk membalas kebaikan Omm, maka sekarang Omm yang akan memintanya sendiri. Omm akan segera membantu Ayahmu bebas sepenuhnya dan mengembalikan nama baiknya. Tapi Omm pun meminta padamu agar bersedia menikahi putri Omm, Suraya"
Jedaarrrrr......... seperti suara petir yang tiba-tiba menyambar di telinga Ahsan. Dunia seakan berputar memutar kilas balik semua kejadian yang menimpa Ayahnya sejak beberapa bulan yang lalu. Semuanya melintas di pikiran Ahsan bagaikan kepingan-kepingan puzzle yang mulai otaknya rangkai sendiri.
Dari mulai penangkapan sang Ayah yang tiba-tiba, tuntutan yang tidak masuk akal sampai keputusan sidang yang dirasa kurang logis. Ahsan merangkai semuanya menjadi satu kesimpulan bahwa ayahnya hanya dimanfaatkan seseorang untuk mencapai tujuannya.
Satu jam berlalu, Ahsan keluar dari rumah itu dengan langkah lunglai menuju mobilnya. Wajahnya lesu berbanding terbalik dengan ketika dia mendengar kabar baik tentang Ayahnya.
Ahsan melajukan mobilnya pelan, pikirannya masih melayang kemana-mana. Dia memarkirkan mobilnya di sebuah taman yang tampak ramai oleh anak-anak yang sedang bermain. Dia keluar dari mobilnya dan berjalan menuju sebuah kursi kosong di pinggiran taman.
Ahsan menjatuhkan bokongnya di atas kursi kayu di taman itu. Merogoh gawai yang ada di saku celananya, dia nyalakan layar gawainya dan menatap sebuah foto yang menghiasi layar depan gawainya itu.
Ahsan larut dalam lamunannya, fokusnya hanya tertuju pada foto di layar gawainya. Seorang pengamen mendatangi Ahsan dan menyanyikan sebuah lagu di hadapannya.
"Maaf, Mas...selamat sore. Sendiri aja Mas?" sapa pengamen itu, Ahsan tidak menjawabnya pandangannya masih fokus pada layar gawai yang ada di genggamannya.
"Izin ngamen ya, Mas...sebuah lagu spesial saya persembahkan untuk Mas yang sedang menikmati senja dalam kesendirian" ucap pengamen itu.
"Sebuah lagu berjudul hati-hati di jalan dari Tulus spesial untuk Mas" pengamen itu menyampaikan prolognya yang disambut petikan gitar sebagai intro lagu itu.
Perjalanan membawamu
Bertemu denganku, ku bertemu kamu
Sepertimu yang kucari
Konon aku juga s'perti yang kaucari
Kukira kita asam dan garam
Dan kita bertemu di belanga
__ADS_1
Kisah yang ternyata tak seindah itu
Kukira kita akan bersama
Begitu banyak yang sama
Latarmu dan latarku
Kukira takkan ada kendala
Kukira ini 'kan mudah
Kau-aku jadi kita
Kasih sayangmu membekas
Redam kini sudah pijar istimewa
Entah apa maksud dunia
Tentang ujung cerita, kita tak bersama
Semoga rindu ini menghilang
Konon katanya waktu sembuhkan
Akan adakah lagi yang sepertimu?
Kukira kita akan bersama
Begitu banyak yang sama
Latarmu dan latarku
Kukira takkan ada kendala
Kukira ini 'kan mudah
Kau-aku jadi kita
Kau melanjutkan perjalananmu
Ku melanjutkan perjalananku
Uh-uh, hu-uh-uh
Kukira kita akan bersama
Begitu banyak yang sama
Latarmu dan latarku
Kukira takkan ada kendala
Kukira ini 'kan mudah
Kau-aku jadi kita
Kukira kita akan bersama
Hati-hati di jalan
Sumber: Musixmatch
Alunan lagu yang dibawakan pengamen itu mengalihkan fokus Ahsan, dia mendengarkan dengan seksama setiap lirik yang dibawakan oleh pengamen itu. Sebuah pesan dia ketik di aplikasi whatsappnya.
'Aku kalah, titip Shanum!'
Pesan pun terkirim pada seseorang yang ditujunya.
__ADS_1
"Shanum, kukira kita akan bersama, namun nyatanya unjung cerita kita adalah kita tak bersama", gumam Ahsan lirih.