Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Insecure


__ADS_3

Akhtar melajukan mobilnya perlahan menuju arah Garut Kota. Ghifar sudah meneleponnya sejak tiga puluh menit yang lalu menanyakan posisinya saat ini. Suasana jalanan yang ramai membuat Akhtar tidak bisa menambah kecepatan mengemudinya.


"Anak-anak panti sudah mau jalan menuju mebel, kamu sudah menghubungi Ghifar?" Bu Fatimah membuka suara saat mobil sudah melaju sekitar lima ratus meter meninggalkan warung nasi ibu.


Tatapan Akhtar lurus ke depan terlihat konsentrasi penuh menatap jalanan yang dilaluinya. Namun nyatanya dia sedang kehilangan fokus, pikirannya melayang entah ada di mana.


Merasa tidak mendapat jawaban membuat Bu Fatimah yang sedang menikmati perjalanan melihat ke jendela samping sontak mengalihkan pandangannya, melihat sang putra dari arah samping yang sedang asik dengan dunianya sendiri.


"Kalau kamu tidak bisa konsentrasi lebih baik menepi dulu" Bu Fatimah meraih lengan kiri Akhtar yang sedang mencengkram kemudi. Hal tersebut membuat Akhtar pun terlonjak, dia memelankan laju kendaraannya memandangi sang ibu yang entah berbicara apa.


"Ya Bu, ada apa?" tanya Akhtar dengan wajah bingungnya.


"Kamu sedang memikirkan apa? hati-hati lo, kamu lagi bawa mobil, Nak" nasehat Bu Fatimah, beliau menyalakan musik untuk menemani Akhtar saat mengemudi.


"Aku gak mikirin apa-apa ko Bu" elak Akhtar.


"Enggak mikirin apa-apa gimana orang ibu dari tadi nanya gak dijawab-jawab" sela Bu Fatimah, membuat Akhtar kikuk sendiri dibuatnya.


***


"Selamat ya atas bisnis kulinernya. Ibu bilang masakan di warung nasi kamu tiada duanya" Akhtar kembali membuka obrolan saat mereka berjarak dari yang lainnya. Ibu Fatimah sedang sibuk menunjuk aneka lauk yang masih ada sebagai tambahan pesanannya dilayani langsung oleh Indri, sementara Ceu Imas hilir mudik mengangkut pesanan catering untuk dimasukkan ke dalam mobil yang ditata oleh Akhtar.


Shanum menghentikan langkahnya saat mendengar Akhtar berbicara, dia yang mau kembali mengambil pesanan jadi urung karena tak enak jika kembali harus menghindar seperti tadi.


"Terima kasih, Pak" ucap Shanum yang kini sudah bisa menguasai keadaan dirinya setelah tadi sempat menenangkan diri di balik pintu karena pertemuan mendadaknya dengan Akhtar.


"Sepertinya sekarang panggilan itu sudah tidak berlaku. Aku bukan lagi ketua yayasan tempat kamu mengajar" jelas Akhtar dia berbicara tanpa menoleh, menyusun dengan rapi nasi box yang sudah diterima dari Ceu Imas ke dalam mobilnya.


"Maaf, hhe..." Shanum sudah mulai kembali berbicara dengan nada normal.


"Habis bingung, sudah terbiasa manggilnya gitu juga kan?" Shanum berusaha memberi alasan.


"Ah enggak, terakhir kita ketemu di kebun teh kamu manggil aku Aa. Bisa kan sekarang juga begitu?" pikiran Shanum melayang ke saat-saat dia menghabiskan waktu bersama Akhtar dan setelahnya dia pun teringat ancaman yang dilayangkan Raina untuknya. Hal tersebut sontak membuat Shanum merubah ekspresinya. Dia tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali apalagi mengingat jika saat ini Akhtar dan Raina sudah resmi menjadi suami istri.


"Kenapa? ouh ..ada yang marah ya. Maaf, aku lupa kalau suami kamu pasti tidak suka jika aku memintamu memanggilku seperti itu. Sorry." Akhtar mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk hurup V.


Deg...Shanum kembali harus merasakan hatinya teriris jika ada seseorang yang membicarakan tentang suaminya. Namun dia sedikit tenang Akhtar mengetahui jika suaminya masih ada setidaknya bisa menghindari kecemburuan Raina yang kini telah menjadi istri Akhtar, pikirnya.


"Suami kamu apa kabar?" Akhtar kembali berbasa basi, dia benar-benar sudah mampu bersikap biasa saat berhadapan dengan Shanum, tidak mudah memang menahan gejolak rasa yang bergemuruh dalam dada namun dengan usaha yang keras dan tekad yang kuat Akhtar mampu mengendalikan hatinya. Berhasil berdamai dengan masa lalunya dan siap membuka pintu pertemanan antara dirinya dengan Shanum dan keluarganya.


"Baik" jawab Shanum singkat, dia memalingkan wajahnya saat menjawab tak ingin raut kesedihan setiap mengingat Almarhum suaminya terlihat oleh Akhtar.


"Menyukai itu wajar, yang gak wajar itu memaksa memiliki" gumam Akhtar yang tidak terdengar oleh Shanum. Dia menatap lekat wajah Shanum dari balik kaca mobil saat memasukan box terakhir yang diterimanya dari Ceu Imas.


'Ada beberapa orang yang ditakdirkan untuk kita cintai, namun tidak ditakdirkan untuk kita miliki' gumam Shanum dalam hati. Dia masih berdiri menunggu Akhtar yang sedang merapikan box nasi di bagian belakang mobilnya, memastikan semua pesanan sudah sesuai.


"Salam buat suami kamu, ingat kita berteman. Kamu jangan canggung, oke" Akhtar kembali memberi penegasan jika saat ini mereka sekedar berteman. Dia tidak ingin Shanum terus menghindar saat bertemu dengannya.


Iya" Shanum mengangguk pasrah saat Akhtar mengatakan itu, tak ingin mendebat. Tersenyum membalas Akhtar yang tersenyum menatapnya saat mengatakan itu. Biarlah waktu yang menentukan segalanya, dia pun akan berusaha membatasi diri dalam pertemanan yang dimaksud Akhtar


Suasana menjadi hening, keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Bunda...." panggilan anak kecil dengan suara yang khas menghentikan lamunan mereka berdua. Dengan sigap Shanum mengambil Humairah dari gendongan sepupunya dan segera menggendong. Gadis kecil itu tampak menelisik seseorang yang ada dihadapannya.


"Halo, Anak cantik...siapa namanya?" tanya Akhtar kembali berbasa-basi. Kehadiran Humairah di antara mereka semakin membuat Akhtar yakin untuk mengubur dalam-dalam perasaannya untuk Shanum.


"Hmairoh" jawab Humairah dengan suara yang belum jelas khas anak kecil tersenyum ramah menyapanya.


Semua reka adegan itu kini kembali terpampang jelas diingatannya. Ada kelegaan saat dia sudah bisa kembali bertemu Shanum dan mengobrol banyak hal dengannya. Senyuman pun tersungging di bibir tegasnya menandakan jika hari ini keadaan hatinya sedang baik-baik saja.


"Gimana Ghifar sudah dihubungi?" Bu Fatimah membuyarkan lamunan Akhtar tentang reka adegan kebersamaannya dengan Shanum beberapa saat yang lalu.


"Sudah Bu, sudah. Ghifar sudah menyiapkan semuanya dan akan menyambut kedatangan mereka" jawab Akhtar tampak gugup. Bu Fatimah dibuat geleng-geleng kepala melihat sang putra.


***


H-3 grand opening FDF (Future Design Furniture) Shanum menerima kiriman undangan dari seorang kurir. Disusul telepon Bu Fatimah yang kembali memastikan pesanan catering dalam porsi besar yang pernah disampaikannya pada Indri namun Indri lupa kembali menyampaikan perihal itu kepada Shanum karena terlalu asik dengan topik lain dalam perbincangannya dengan Bu Fatimah waktu itu, yaitu tentang si ganteng kalem yang telah membuatnya tak bisa mingkem saat menatapnya. Bu Fatimah meminta agar Shanum dan Indri bersedia terlibat langsung pada acara tersebut.


Shanum tidak bisa berjanji, mengingat waktu yang singkat sementara diperlukan persiapan yang matang untuk menerima tawaran itu. Dia hanya akan mengusahakan, perlu diskusi dengan sang ibu sebagai koki utama untuk menerima tawaran fantastis ini. Seribu porsi dengan menu istimewa, plus appertizer dan dessert dalam porsi yang sama.


Setelah berdiskusi panjang lebar dengan memikirkan berbagai kemungkinan dan alternatif solusinya sang ibu menyetujui untuk menerima tawaran ini namun itu artinya mereka harus tutup warung karena mempersiapkan semuanya. Shanum pun pamit untuk beristirahat. Menikmati malam, mengistirahatkan raga yang lelah karena seharian beraktivitas.


Sudah dua puluh menit dia merebahkan tubuhnya, namun mata masih enggan terpejam. Shanum pun beranjak dari tempat tidurnya, membuka pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon. Dia duduk termenung seorang diri di balkon kamarnya yang berada di lantai dua itu. Pemandangan sawah di malam hari dengan kerlap-kerlip lambu di kejauhan membuat suasana malam semakin indah. Suara kodok yang bersahutan seakan menjadi musik alam yang mengantarkan manusia pada ketenangan malam sebagai waktu yang tepat untuk beristirahat.


Namun berbeda dengan Shanum, malam ini dia sulit sekali untuk terlelap. Pikiran Shanum menerawang ke beberapa hari saat pertemuannya dengan Akhtar. Semua reka adegan percakapan dirinya dengan Akhtar berputar kembali di memorinya. Shanum menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Akhtar bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka, dia bahkan menekankan jika mereka adalah teman. Apakah itu artinya Akhtar sudah melupakan semuanya. Shanum menyadari merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun entah apa itu.


"Kenapa dia tidak datang bersama Raina ya?" Shanum terus menduga-duga berbagai kemungkinan alasan kenapa Akhtar tidak datang dengan Raina. Bayangan kejadian masa lalu yang dilakukan Raina padanya membuat dirinya bergidik. Ngeri sendiri saat mengingat semua itu.


"Astaghfirullahal'adzim" Lafal istighfar terucap dari lisannya, tersadar jika ada yang salah dengan pikirannya. Sudah tidak pantas memikirkan seorang laki-laki yang sudah berkeluarga.


Shanum melangkahkan kakinya, mengunci pintu dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ungkapan do'a dan harapan terucap lirih dari bibirnya, perlahan dia menutup mata yang sudah tampak sayu.


***


Pagi menjelang, raja siang mulai menampakkan diri. Bersiap menerangi alam raya, menemani segenap insan beraktivitas menjalani kehidupan sesuai perannya masing-masing.


Sepakat, hari ini warung akan mulai tutup. Dua hari akan dimaksimalkan oleh Shanum dan tim untuk persiapan. Shanum sudah membuat list kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk proyek besar perdananya ini. Hari ini semua akan bekerja sesuai pembagian tugasnya masing-masing. Shanum sudah menghubungi beberapa pedagang penyedia stok bahan makanan langganannya, mereka bersedia mengirim pesanan sampai ke rumah sehingga menghemat waktu untuk berbelanja. Semua bahan berkualitas super premium dipesan oleh Shanum. Seribu porsi dengan menu istimewa disiapkan untuk acara akbar itu.


Indri bertugas untuk berbelanja ditemani oleh Ceu Imas dan diantar oleh Mang Ujang, salah satu adik ipar Pak Imran yang mengelola penggilingan padi bersamanya ikut membantu. Dengan menggunakan mobil bak terbuka mereka pergi ke pasar. Ibu ditemani bi isah menyiapkan bumbu-bumbu yang sebagian sudah ada di rumah. Pak Imran pun tak kalah sibuk, setelah shalat subuh dan mengajar mengaji di masjid dekat rumah beliau segera mengecek ketersediaan beras di pabrik dan akan langsung dibawanya ke rumah.


Sementara Shanum sambil menemani Humairah bermain sedang memberikan pengarahan kepada sepuluh orang pekerja baru yang akan membantu dalam pelayanan selama acara berlangsung. Mereka bukan orang lain, pekerja dadakan itu adalah sepupu-sepupu Shanum yang sebelumnya sudah pernah terlibat dalam beberapa proyek catering skala kecil sehingga hari ini Shanum hanya tinggal memberikan penguatan agar pelayanan yang diberikan membuat puas para tamu.


Waktu menunjukkan sudah pukul sepuluh. Shanum menghentikan aktivitasnya saat mendengar ucapan salam terdengar dari pintu depan. Dia pun meminta sepupu-sepupunya untuk beristirahat dan membantu ibu di belakang. Salah satu sepupunya membawa Humairah karena Shanum kedatangan tamu.


Shanum membuka pintu dan alangkah terkejutnya dia karena orang yang bertamu adalah Liani, sahabatnya yang sudah beberapa bulan ini tidak saling berhubungan.


Liani tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dia memekik senang memanggil nama Shanum dan berhambur memeluknya. Kebiasaan mereka jika mengekspresikan kebahagiaan adalah dengan saling berpelukan dan meloncat-loncat. Mereka tidak sadar jika saat ini ada dua lelaki tampan yang sedang tersenyum melihat euforia pertemuan yang sedang mereka rayakan.


Shanum terhenyak kaget saat mendapati jika di belakang Liani ada dua orang lelaki yang selama ini dia selalu menjaga imej di hadapan kedua lelaki itu. Begitu pun Liani, imejnya sebagai guru yang lemah lembut sepertinya hilang dalam sekejap. Dia lupa jika dia datang bersama dua lelaki itu.


Shanum perlahan mengurai pelukannya, raut wajahnya seketika menegang saat melihat mereka berdua sedang berdiri dengan membawa paper bag di tangannya masing-masing terkesima menyaksikan atraksinya dengan Liani barusan.


"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu datang sama mereka?" bisik Shanum di telinga Liani.

__ADS_1


"Sorry, aku lupa. Pikiranku terlalu fokus sama kamu. Di mobil aja dadaku sesak gak bisa bersuara gara-gara semobil bareng mereka" balas Liani yang juga berbisik namun bisa terdengar oleh Ahsan dan Akhtar. Dan mereka berdua pun hanya tersenyum kedua wanita itu berbisik-bisik.


"Aku gak nyangka ya, ternyata guru alim terlemah lembut di SMA Bina Insani aslinya begini" Ahsan memecah keheningan yang terjadi sesaat. Dia mencebikkan bibirnya mengejek Liani dan Shanum.


"Assalamu'alaikum" Akhtar melerai ketegangan dengan mengucapkan salam sambil tergelak. Dia pun tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat kelakuan absurd mereka berdua. Gamis dan kerudung yang lebar hampir menutupi seluruh tubuhnya tidak lantas menghalangi mereka untuk berekspresi dengan gerakan yang leluasa.


"Wa'alaikumsalam" jawab Shanum dan Liani yang hanya bisa nyengir kuda mengingat keabsurdan mereka di hadapan dua lelaki itu.


Shanum pun mempersilahkan semuanya masuk, dia menyiapkan minuman dan makanan untuk dinikmati oleh tamu istimewanya itu. Kegaduhan yang mereka timbulkan menarik perhatian orang-orang yang sedang bekerja di warung Shanum. Shanum pun memberi tahukan kedatangan Liani kepada ibu dan bapaknya, mereka senang karena bisa bertemu kembali dengan Liani sahabat putrinya itu terutama Ibu yang sampai menitikkan air mata terharu saat bertemu kembali dengan Liani.


Perbincangan hangat di antara mereka pun terjadi. Berbagai topik kekinian menjadi bahasan, termasuk persiapan grand opening mebel Akhtar. Dua sahabat yang baru bertemu kembali itu mendominasi obrolan. Sejak kelakuan asli mereka terciduk, sudah tidak ada lagi jaim-jaiman (jaim\=jaga imej). Shanum dan Liani tampil menjadi dirinya sendiri, tidak peduli Akhtar dan Ahsan yang berkali-kali mengernyitkan kening melihat tingkah asli mereka berdua saat bersama.


Bawaan kalem dan serius namun santai yang menjadi tampilan dua wanita di hadapan mereka sepertinya salah besar setelah melihat kenyataan hari ini. Namun, di hati Akhtar sangat senang melihat Shanum hari ini, tampil apa adanya dan menjadi dirinya sendiri. Jujur, hatinya berbisik jika dia lebih menyukai Shanum yang hari ini. Namun sedetik kemudian pertanyaan Ahsan membuat dia kembali beristighfar dalam hatinya.


"Eheummmm, Num ....Haqi gak di sini?" Ahsan berusaha masuk ke obrolan dua sahabat yang sejak tadi mengabaikannya.


Deg, sontak pertanyaan Akhtar menghentikan obrolan Shanum dan Liani. Raut muka Shanum berubah seketika, kegugupan sangat kentara di wajahnya. Liani pun yang lupa bahwa Shanum sudah menikah merasa diingatkan.


"Eh iya ya aku lupa kalau kamu udah punya suami, suami kamu mana Num?" imbuh Liani menegaskan pertanyaan Ahsan.


Shanum terdiam beberapa saat, dia bingung tidak siap harus menjawab apa. Ketiga orang di hadapannya tampak menunggu, jawaban apa yang akan diberikan Shanum.


"Masih di Jakarta?" Ahsan melanjutkan pertanyaannya, dia meraih toples kacang yang berada di pangkuan Liani dengan santai menunggu jawaban Shanum sambil memakan kacang.


"Iya" jawab Shanum singkat, dia memalingkan wajahnya saat menjawab pertanyaan Ahsan. Tak ingin perubahan raut mukanya terlihat oleh yang lain. Ahsan dan Liani yang asik menikmati kacang dari toples yang dibawa Ahsan tidak fokus dengan jawaban Shanum. Mereka berdua tidak melihat perubahan raut muka Shanum.


Berbeda dengan Akhtar, dia yang sejak awal perbincangan mereka selalu mencuri-curi pandang pada Shanum melihat dengan jelas perubahan raut wajah itu. Akhtar menangkap sesuatu yang sepertinya disembunyikan oleh Shanum, namun dia tidak mau terlalu intervensi terhadap kehidupan rumah tangga Shanum.


Kebersamaan mereka berempat pun terhenti karena Akhtar dan Ahsan harus melaksanakan shalat jumat. Bersama Pak Imran mereka berdua pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah shalat jumat.


Tinggallah Shanum dan Liani di ruang tamu itu.


"Kelihatannya kamu lebih dekat dengan Kak Ahsan, ada sesuatu ya?" Shanum bertanya dengan menaik turunkan alisnya membuat Liani tersipu malu karena ketahuan oleh Shanum jika dirinya saat ini memang lebih dekat dengan Ahsan.


"Cie....cie...."timpal Shanum semakin menggoda Liani saat melihat wajahnya merona.


"Kamu bener, beberapa bulan ini kami memang lebih dekat. Sejak skandal tentang Raina terungkap dan disusul dengan terungkapnya rahasia Suraya Kak Ahsan meminta putus dan meninggalkan Suraya. Sejak saat itu dia jadi sering curhat sama aku" jelas Liani pada Shanum dengan malu-malu.


Shanum mencerna penjelasan Liani, dia baru tahu jika Ahsan dan Suraya tidak jadi menikah dan telah lama berpisah. Namun bukan hanya itu yang membuatnya penasaran, perkataan Liani tentang skandal Rainalah membuatnya lebih penasaran.


"Aku gak ngerti dengan maksud kamu tentang skandal Raina dan rahasia Kak Suraya, Li" Shanum akhirnya mengungkapkan kepenasarannya.


"Kamu gak tahu ya kalau Raina itu ternyata memiliki kekasih di luar negeri dan pergaulan mereka pun tidak sehat"


Liani pun menceritakan dengan detil tentang terbongkarnya skandal Raina hingga menyebabkan Akhtar kecelakaan tepat pada hari pernikahan mereka hingga koma berbulan-bulan dan harus berobat ke luar negeri. Begitupun akhir kisah Ahsan dan Suraya yang sama-sama berakhir tragis setelah rahasia Suraya dengan kekasih gelapnya terbongkar ke publik. Tidak hanya itu, Liani pun menceritakan bagaimana Ahsan tertekan dan terpaksa harus menyetujui bertunangan dengan Suraya karena ayahnya terjerat kasus yang berat dan ternyata itu semua akal-akalan ayah Suraya atas permintaan putrinya agar Ahsan bersedia bertunangan.


Shanum terdiam, lidahnya seakan kelu tak mampu berucap apa-apa. Tangannya mengepal menahan sesuatu yang bergemuruh dalam dadanya saat mendengar semua cerita Liani.


"Jadi Akhtar?..." pertanyaan Shanum menggantung. Dia meraih gelas di atas meja dan meminum isinya habis.


"Jadi mereka gak jadi menikah, Num. Kak Ahsan juga sangat menyayangkan keterlambatan informasi yang Akhtar terima tentang Raina. Andai dia tahu sebelum kamu menikah, mungkin saat ini kalian sudah menikah Num. Kak Ahsan bilang dia sangat menyayangi Pak Akhtar, dia lebih dari sekedar sepupu untuk Kak Ahsan. Dia sangat menginginkan Pak Akhtar bahagia dengan wanita yang dicintainya, dan itu adalah kamu. Namun sayang kamu sudah menjadi istri orang, Num" Liani menjelaskan panjang lebar semua yang dia dengar dari Ahsan. Tidak ada satu pun yang terlewat, semuanya dia ceritakan pada Shanum.

__ADS_1


Shanum pun hanya terpaku, diam seribu bahasa. Tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Andai kamu tahu keadaanku saat ini, Li. Justru membuat aku semakin insecure. Dan level insecure yang paling tinggi adalah merasa enggak pantas untuk siapapun. Itulah yang aku rasakan saat ini" Shanum berbicara sendiri dalam hatinya.


__ADS_2