Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Malam Pertama (2)


__ADS_3

Selepas makan malam semua berkumpul di ruang tengah yang biasa digunakan sebagai ruang keluarga. Shanum dan Haqi kembali menjadi bulan-bulanan semua anggota keluarga mengingat mereka sebagai pengantin baru yang terus menjadi bahan olokan. Shanum hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sementara Haqi terlihat begitu mudah akrab dan berbaur dengan seluruh anggota keluarga Shanum.


Malam ini Haqi sengaja memilih menginap di rumah Shanum sebelum mereka besok berangkat ke Jakarta. Padahal perusahaan tempatnya bekerja di Bogor sudah memberikannya hadiah berupa fasilitas hotel mewah di Bogor. Sebelumnya Haqi sudah menyampaikan kepada orang tua Shanum jika setelah menikah Haqi akan langsung membawa Shanum ke Jakarta karena dia harus kembali mengurus usaha peninggalan almarhum ayahnya sesuai janjinya pada sang ibu. Ibu dan adik Haqi sendiri sejak sore tadi sudah pamit karena harus kembali lebih dulu ke Jakarta untuk mempersiapkan kedatangan mereka tentunya.


Obrolan santai mereka terhenti kala adzan Isya berkumandang. Semua orang tampak bersiap menuju mushala untuk melaksanakan shalat isya berjamaah. Shanum memilih shalat di rumah karena masih harus membantu keluarga yang lain beres-beres.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Semua orang sudah menunjukkan wajah lelahnya karena acara seharian ini. Bapak lebih dulu pamit untuk beristirahat meninggalkan mushala yang digunakan untuk berkumpul anggota keluarga laki-laki selepas shalat isya tadi. Disusul paman-paman Shanum dan juga Haqi yang sudah tampak menguap beberapa kali sejak tadi.


Memasuki kamar Shanum yang malam ini akan menjadi kamarnya juga, Haqi tidak mendapati keberadaan Shanum. Dia mendengar suara percikan air dari kamar mandi yang ada di kamar itu. Meyakini Shanum berada di dalam kamar mandi, Haqi memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tidak lama Shanum keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur serba panjang dan hijab instan yang masih melekat membungkus kepalanya. Haqi tersenyum melihatnya, perempuan yang kini telah resmi menjadi istrinya itu benar-benar membuatnya gemas sendiri. Dia masih merasa menjadi orang asing namun Haqi pun memakluminya mengingat pertemuan mereka yang belum lama bagi Shanum dilanjut dengan acara pernikahan yang terbilang mendadak.


Haqi paham jika butuh waktu untuk Shanum beradaptasi dengan keadaannya saat ini. Dia akan bersabar membersamai Shanum dalam menyesuaikan diri, memberikan ruang seluas luasnya untuk Shanum agar lebih mengenal dirinya. Walaupun sebenarnya apa yang Shanum alami saat ini berbanding terbalik dengan dirinya.


Haqi sudah lebih banyak tahu tentang Shanum. Diapun tahu jika Ahsan adalah bagian dari masa lalu Shanum. Shanum tidak mengetahui jika dirinya dan Ahsan adalah teman baik.


Mereka berasal dari universitas yang sama namun berbeda jurusan. Sejak kuliah tidak jauh beda dengan Ahsan, Haqi adalah termasuk secret admirer Shanum. Dia melihat Shanum pertama kalinya saat ospek, Haqi sudah sangat tertarik dengan kepribadian Shanum yang sederhana, sangat cuek dan apa adanya.


Sejak saat itu Haqi berusaha mencari tahu semua tentang Shanum. Waktu satu tahun cukup untuk Haqi meyakinkan diri bahwa dia benar-benar tertarik pada Shanum. Dia bermaksud ingin mendekati Shanum dan mengungkapkan isi hatinya. Namun maksudnya itu hanya sebatas niat ketika mengetahui bahwa Ahsan pun sedang mendekati Shanum.


Hal yang membuat Haqi semakin tertarik pada Shanum adalah saat mengetahui Ahsan menyatakan cintanya pada Shanum namun dia menolaknya. Selama ini begitu banyak mahasiswi-mahasiswi yang mendekati Ahsan bahkan mengantri untuk menjadi pacarnya. Tapi tidak dengan Shanum, dia sama sekali sepertinya tidak tertarik.


Haqi memilih mencintai dalam diam, dia tidak mau merusak persahabatannya dengan Ahsan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di luar kampus karena mereka tergabung dalam beberapa komunitas yang sama.


Haqi melihat Shanum yang tampak salah tingkah, dia sedikit tergelak karena merasa lucu. Masih terasa seperti mimpi perempuan yang dia cintai dalam diam kini benar-benar ada di hadapannya, satu kamar dengannya dan telah sah menjadi istrinya.


"Dek..." panggilnya.


"Duduklah di sini" Haqi menepuk tempat tidur yang masih kosong agar Shanum duduk di sampingnya.


Shanum pun melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti karena melihat Haqi sudah berada di tempat tidur.


Selama berada di kamar mandi dia berusaha menetralkan perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Sungguh dia sangat takut melewati malam ini. Sebagai perempuan dewasa yang faham ilmu, Shanum tahu apa hak dan kewajibannya setelah menjadi seorang istri.


Termasuk memenuhi hak suami yang sudah seutuhnya berhak atas segala yang ada pada dirinya, tetapi sungguh andai boleh jujur Shanum belum siap untuk itu. Dan ternyata kekhawatiran dan rasa takutnya itu seolah didukung oleh semesta.


Shanum duduk tepat di samping Haqi dengan tetap mengambil jarak, dia menarik napasnya panjang berusaha untuk bersikap tenang dan kembali menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Dek, Abang...." ucapan Haqi terjeda karena Shanum langsung mendongak dan menatapnya tajam namun ada kekhawatiran di matanya, Haqi mengerti arti tatapan Shanum.


"Tenang Dek, Abang tidak akan meminta hak Abang malam ini, Abang akan menunggu Dek Shanum siap" ucapnya santai.


Shanum semakin menundukkan pandangannya, dia benar-benar malu.


"Kenapa?" tanya Haqi


"Maafkan aku, Bang" jawab Shanum lirih.


"Ssstttt....."Haqi menempelkan telunjuknya tepat di bibir Shanum, membuat Shanum kembali mematung dibuatnya.


"Abang mengerti apa yang Adek rasakan saat ini, tidak apa-apa tenanglah semua akan baik-baik saja. Abang hanya ingin mengatakan sesuatu pada Adek malam ini" jelas Haqi


"Adek sudah shalat isya?" tanya Haqi mengalihkan pembicaraan.


Shanum menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Haqi.


"Kalau begitu shalatlah, Abang akan menunggu di sini" titahnya.


"Aku sedang berhalangan Bang, barusan mau wudhu baru ketahuan" jawab Shanum jujur, dia bersusah payah untuk berkata jujur menahan malu dan rasa khawatir yang menyesakkan dadanya.


Shanum memberanikan diri menatap lekat wajah Haqi, dengan serius menelisik keadaan hati suaminya melalui raut wajahnya setelah mendengar kabar tentang keadaan dirinya. Dia menunggu apa yang akan dikatakan Haqi selanjutnya.


"Maaf Bang" suara Shanum memecah keheningan.


"Kenapa harus minta maaf, gak apa-apa Dek Abang mengerti. Kita tidak harus terburu-buru, mari kita saling mengenal lebih jauh tepatnya Adek yang belum mengenal Abang. Kalau Abang Alhamdulillah sedikit banyak sudah tahu tentang Adek" ucapnya membuat Shanum penasaran namun sedikit mengurai rasa bersalah Shanum.


Perkataan Haqi membuat Shanum kembali teringat pada peristiwa tadi siang. Interaksi Haqi dengan Ahsan dan Akhtar menunjukkan jika mereka saling mengenal dan cukup dekat. Tetapi Shanum masih enggan untuk menanyakannya, dia takut Haqi salah faham dengan apa yang akan dia tanyakan.


"Abang sudah mengenal aku sebelumnya?" akhirnya hanya pertanyaan itu yang keluar dari bibir Shanum.


Haqi tersenyum mendengar pertanyaan Shanum, dia menatap Shanum yang juga menatapnya penasaran menunggu jawaban darinya.


"Eumhh...kasih tahu gak ya????" tanyanya pada diri sendiri, menggoda Shanum yang terlihat semakin penasaran dengan gaya sok berpikir.


"Kamu mau tahu banget atau mau tahu aja?" godanya semakin membuat Shanum kesal.

__ADS_1


"Abang!" rengek Shanum


"Terserah Abang deh", Shanum menyerah, dia merajuk dan bersiap hendak beranjak dari posisinya saat ini.


"Eitthh...mau kemana?" cegah Haqi, dia menahan Shanum dengan memegang pergelangan tangan Shanum yang sudah bersiap untuk turun dari tempat tidur.


Shanum hanya memutar bola matanya malas, dia kesal karena dari tadi Haqi terus menggodanya.


"Jangan marah dong, nanti cantiknya hilang" ujar Haqi malah semakin menggoda Shanum.


"Aku tidak merasa cantik, kalau sekarang terlihat tidak cantik memang awalnya juga enggak cantik" sela Shanum merendah, dia tidak cukup secure untuk dibilang cantik.


"Uluh..uluh..uluh...beneran marah ini?" Haqi segera menarik Shanum agar mendekat kepadanya tetapi Shanum masih enggan beranjak dia semakin mengokohkan pertahanannya untuk tetap berjarak dengan Haqi.


"Maaf, maaaaaaff....banget. Abang cuman bercanda, biar kita bisa lebih mengakrabkan diri" Haqi berusaha menjelaskan karena melihat Shanum yang benar-benar menunjukkan kekesalannya.


"Maaf ya, jangan marah ya, Abang enggak sanggup kalau Adek marah hidup Abang hampa jadinya" ucapnya jujur


"Eumhh...gombal" balas Shanum dengan senyum yang tertahan karena mendengar gombalan receh Haqi. Dia tidak menyangka laki-laki yang selalu bertampang serius ini berselera humor juga.


"Dek, malam ini Abang mau berbicara jujur sama Adek" Haqi mulai berbicara serius. Dia mengubah posisi duduknya menyamping dan bersandar pada sandaran tempat tidur. Kini posisi mereka duduk berdampingan, sama-sama bersandar pada sandaran tempat tidur.


"Abang sudah mengenal Adek sejak kuliah. Kita berasal dari kampus yang sama tetapi berbeda jurusan"


"Jujur selama ini Abang diam-diam menunggu Adek, diam-diam Abang memperjuangkanmu. Abang pun diam-diam mendo'akanmu agar menjadi jodoh Abang. Abang percaya sejauh apapun Adek pergi, jika memang Allah menghendaki kita berjodoh kita pasti akan dipertemukan di waktu yang tepat"


"Abang memilih mencintaimu dalam diam karena Ahsan adalah sahabat Abang, Dek. Abang tahu dia sangat mencintaimu dan sedang berusaha memperjuangkanmu saat itu. Abang tidak mau hubungan baik kami rusak. Makanya Abang memilih mencintaimu dalam diam dan menikungnya di sepertiga malam, hehe..." Haqi menceritakan tentang hubungannya dengan Ahsan di akhiri kekehan, dia merasa bangga dengan pencapaiannya.


"Abang sempat berniat mendekatimu dan mengungkapkan isi hati Abang ketika tahu kamu menolak Ahsan. Tapi ternyata Ahsan sangat gigih, dia memang pejuang sejati. Pantang menyerah sebelum janur kuning melengkung dan tenda biru berdiri di depan rumahmu" Haqi kembali tergelak saat mengingat perjuangannya meredam rasa demi persahabatannya, dia pun bangga memiliki sahabat yang pantang menyerah seperti Ahsan.


"Abang pernah hampir putus asa saat mengetahui dari Adam jika kamu sudah dilamar Ahsan dan kamu menerimanya. Hampir saja Abang menyerah, namun lagi-lagi kuasa Allahlah yang menentukan segalanya. Allah dapat mengubah situasi tanpa harapan, menjadi momen terbaik dalam hidup"


"Menikahimu adalah momen terbaik dalam hidup Abang, Dek. Memilikimu adalah keajaiban dalam hidup Abang. Terima kasih, terima kasih kamu telah menjadi kejutan dari do'a-do'a yang tak lelah Abang langitkan. Kun Fayakun-Nya yang selalu Abang andalkan untuk dapat menjadi imammu", pungkas Haqi.


Shanum mendengarkan semua perkataan Haqi dengan seksama, dia mencerna setiap kata yang dia dengar. Mencoba mendalami dan memahami bagaimana Allah mengatur skenario hidupnya.


Malam itu... akhirnya mereka habiskan dengan saling bercerita. Tentang Haqi yang menjadi secret admirer Shanum, tentang persahabatannya dengan Ahsan dan juga bagaimana dia bisa mengenal Akhtar.

__ADS_1


Malam pertama yang cukup indah untuk dua orang yang baru dipertemukan dalam ikatan suci pernikahan.


Menikah....mendekatkan yang jauh, merubah yang haram menjadi halal, yang dosa menjadi pahala, dan merubah maksiat menjadi ibadah.


__ADS_2