Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Akhir Kisah


__ADS_3

"Melupakan hanya soal waktu, cepat atau lambat, suka atau tidak, pada akhirnya semua akan lupa pada saatnya. Terima kasih sudah mengajarkan arti cinta yang tidak terbalaskan"


Liani menatap gerbang tinggi tempat dirinya mengamalkan ilmu selama beberapa tahun ini. Dia akan berangkat pagi ini, penerbangan akan dilakukan tepat pukul sebelas siang ini sesuai jadwal yang sudah diterimanya jauh-jauh hari.


Liani sengaja berangkat setelah shalat subuh, dia menyewa taksi online menuju hotel tempat Shanum menginap, ingin bersantai terlebih dahulu dengan baby twins.


Jarak yang tidak terlalu jauh antara yayasan dan hotel yang ditempati Shanum membuat Liani sampai dalam keadaan hari masih remang-remang, apalagi jalanan masih belum terlalu padat membuat perjalanan Liani lancar.


"Assalamu'alaikum, Neng aku sudah ada di lobi hotel. Aku menunggu di sini saja ya" Liani menelepon Shanum menjelaskan keberadaannya saat ini setelah terdengar Shanum menjawab salamnya,


"Baiklah aku tunggu di sini" Liani mendudukkan tubuhnya pada sofa yang ada di lobi hotel itu,


"Semangat bener yang mau pergi" Liani yang fokus pada layar pipih di genggamannya mendongak saat terdengar suara seseorang berbicara ditujukan padanya,


"Eh Bapak, sudah bangun Pak? menginap di sini juga?" Liani tersenyum ramah saat mendapati Ghifar sudah berada di hadapannya,


"Enggak, aku dari rumah dinas yayasan" jawab Ghifar melipat tangannya di dada dengan posisi tetap berdiri,


"Hah ..rumah dinas? Bapak dari sana?"


"Iya, kenapa?" tanya Ghifar santai,


"Tahu gitu saya nebeng tadi Pak, kan lumayan bisa hemat ongkos" jelas Liani dengan wajah sedikit memberenggut saat berbicara tentang ongkos,


"Emang kamu pikir kalau naik mobil aku enggak pake ongkos gitu?" ketus Ghifar, dia menggoda Liani seolah ingin menghiburnya.


"Ishh ... masa iya asisten bos masih minta bayaran, tujuannya sama juga kan?" jawab Liani tak kalah ketus,


"Tadinya mau diajak, tapi aku enggak mau kamu malu karena kalau kamu ikut pasti di mobilku berderai tuh air mata setelah meratapi gerbang yayasan" Ghifar menjelaskan alasannya mengapa dia tidak mengajak Liani


Ketika Liani menunggu taksi online pesanannya di depan gerbang komplek yayasan, saat itu Ghifar pun keluar untuk pergi menjemput Akhtar dan Shanum. Ghifar melihat dengan jelas bagaimana Liani menatap gerbang yayasan itu hingga menitikkan air mata.


Liani tertegun mendengar apa yang dikatakan Ghifar, dia menundukkan kepala tanpa bersuara membuat Ghifar menoleh dan melihat apa yang tengah dilakukan Liani, terlihat Liani menyeka ujung matanya yang tiba-tiba kembali menghangat mendengar penuturan Ghifar.


"Kalau kamu mau aku bisa membuatkan foto gerbang komplek yayasan dengan bingkai yang besar, atau kamu mau aku kirim foto ketua yayasannya?" kelakar Ghifar yang melihat Liani masih larut dalam kesedihannya,


"Hishh.....enggak segitunya juga kali, dasar" dengus Liani, setelah beberapa saat dia berhasil menguasai hatinya kembali.


"Haha....kirain udah benar-benar move Bu Guru teh" goda Ghifar dengan logat sundanya,


"Huuhh ... " Liani menghembuskan nafasnya kasar,


"Yaah beginilah resikonya, sempat terikat tapi tidak tertali dan akhirnya tersakiti oleh rasa hati" gumam Liani pelan, namun Ghifar masih bisa mendengarnya dengan jelas. Dia menatap gadis dengan kerudung lebar itu dalam, ada rasa iba di hatinya. Mengapa gadis sebaik Liani harus juga merasakan sakitnya mencintai tanpa dicintai,


"Salah aku juga sih, terlalu mudah jatuh cinta hanya karena diperlakukan baik" lanjut Liani dengan tatapan kosong,


"Salah itu wajar, yang enggak wajar itu yang enggak mau belajar dari kesalahan" seperti biasa Ghifar selalu bisa membuat Liani tenang, gadis itu pun menoleh dan kembali menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Aunty...." untunglah Liani sudah bisa merubah raut wajahnya yang kembali ceria saat Shanum datang menggendong baby Izza dan di sampingnya Akhtar menggendong baby Izzu dengan sebelah tangannya karena satu tangannya merangkul bahu sang istri penuh sayang.


"Hay..hay..hay...baby twins....duuh aunty kangen banget" Liani memekik girang saat melihat mereka datang, dia menyongsong kedatangan Shanum dan langsung mencoba mencium baby Izza namun urung karena Akhtar menarik Shanum agar kembali mundur.

__ADS_1


"Ishh...Bapak, aku mau nyium baby Izza" sentak Liani yang tidak terima karena dilarang mencium bayi menggemaskan itu.


"Kata dokter jangan dicium-cium dulu, kalau mau gendong aja tapi hati-hati dan ingat jangan cium-cium" ketus Akhtar, jiwa posesifnya seketika muncul ketika hal itu berhubungan dengan anak dan istrinya.


"Ih Bapak, pelit amat. Mau nyium dikit juga" Liani keukeuh dengan keinginannya, Shanum hanya tersenyum melihat pertengkaran kecil antara suami dan sahabatnya itu, sementara Ghifar hanya geleng-geleng kepala.


"Makanya cepetan nikah bikin baby sendiri" Akhtar masih tak mau kalah, semenjak menikah dengan Shanum dia pun lebih akrab dengan Liani.


"Ckk....itu lagi, iya, iya nanti pulang dari luar negeri aku planningkan deh" ucap Liani santai, tapi terlihat wajahnya yang meredup saat mengatakannya,


"Planning.... eksekusi bu eksekusi" Akhtar masih betah menggoda sahabat istrinya itu,


"Neng, sepertinya suamimu semenjak jadi ayah jadi punya hobi baru deh, ngomporin hati orang" Liani akhirnya mengadu pada Shanum yang hanya bisa nyengir melihat kelakuan suaminya itu,


"Karena menikah itu nikmat, merubah yang haram menjadi halal, yang dosa jadi pahala dan merubah maksiat jadi pahala, iya kan sayang?" Akhtar meminta persetujuan Shanum akan pernyataannya sambil menaik turunkan alisnya. Shanum pun hanya menganggukan kepala sambil tersenyum menanggapi suaminya.


"Iya deh iya yang udah ngerasain nikmatnya menikah, congratulation deh buat kalian. Semoga selalu bahagia, sehidup sesurga" pungkas Liani mengakhiri obrolan mereka, pada akhirnya Liani pun sangat bahagia melihat sahabatnya kini telah menemukan kebahagiaannya setelah perjuangan panjang dan berliku yang mereka lalui.


Seiring dengan kedatangan Bu Fatimah dan Bu Hana yang akan turut ikut mengantar Liani ke bandara, mereka pun bergegas menuju parkiran hotel. Karena waktu masih cukup pagi, mereka memutuskan untuk sarapan di rest area.


☘️☘️☘️


Sementara di lain tempat, tepatnya di sebuah hotel tempatnya menginap, seorang pemuda tengah resah karena sejak tadi terlihat sedang menghubungi seseorang melalui gawainya dan sepertinya panggilannya tak kunjung terhubung.


Ahsan yang saat ini sedang berada di Yogya karena harus menghadiri acara malam penganugerahan yang diadakan oleh himpunan pengusaha muda kini sedang mondar-mandir seraya terus berusaha menelepon seseorang.


Nama Ghifar terpampang jelas di layar gawainya, panggilan pun berdering menandakan jika nomor yang dihubunginya aktif namun sayang setelah lima kali panggilan orang yang ditujunya tak kunjung menerima panggilannya.


Ahsan harus menghadiri acara tersebut karena dia masuk nominasi pengusaha muda sukses dengan inovasi yang diluncurkannya pada perusahaan yang kini dikelolanya dan dia pun berhasil meraih penghargaan bergengsi itu.


Walau pun perusahaan itu adalah perusahaan milik pamannya yang tak lain adalah ayah dari Akhtar, tetapi Ahsan sungguh memiliki integritas yang tinggi dalam menjalankan amanahnya.


Totalitas tanpa batas mungkin itu adalah slogan yang tepat untuknya semenjak dipercaya sang paman untuk mengelola perusahaan miliknya. Sampai dia pun lupa jika ada seseorang yang selalu menunggu kabar darinya, seseorang yang tidak pernah menuntut apapun kecuali waktunya dan kini seseorang itu akhirnya menyerah karena merasa tidak berharga lagi.


"Astaghfirulloh, kenapa semua orang susah sekali dihubungi sih?" Ahsan terus menggerutu karena tiga orang yang dihubunginya tak kunjung menjawab panggilan maupun pesannya. Dia baru sempat membuka email yang masuk kemarin dari stafnya di yayasan terkait laporan keadaan yayasan termasuk data keadaan pendidik akhir bulan ini. Dan betapa terkejutnya Ahsan saat melihat nama Liani terpampang dalam daftar pendidik yang mengundurkan diri.


Akhtar memang sengaja menonaktifkan gawainya setelah menerima kabar dari Ghifar jika Ahsan sejak tadi menghubungi Ghifar, dia yakin jika Ahsan pun akan menghubunginya. Akhtar mengira sepertinya apa yang akan disampaikan sepupunya itu adalah perihal Liani.


Ghifar pun sengaja tidak mengangkat panggilan Ahsan yang masuk ke gawainya, dia baru akan mengangkatnya setelah memastikan Liani sudah benar-benar pergi. Sedangkan orang ketiga yang Ahsan hubungi adalah Pak Arif yang merupakan kepala sekolah tempat Shanum mengajar yang juga gawainya tidak aktif.


Bukan tanpa alasan mereka berdua melakukannya. Selama ini meskipun terlihat tidak peduli tapi Akhtar turut memperhatikan apa yang terjadi antara Ahsan dan Liani begitupun dengan Ghifar.


Akhtar pun sempat mengingatkan sepupunya itu untuk bisa mempertahankan apa yang hampir digenggamnya, minimal memberikan Liani kepastian.


Tapi kesibukannya sebagai direktur utama menggantikan ayahnya sepertinya sudah membuat Ahsan lupa untuk membuat komitmen itu, dia terlalu percaya diri jika wanita itu terlalu penyabar dan sangat mencintainya. Hingga dia lupa setiap orang memiliki keterbatasan.


Apalagi akhir-akhir ini kehadiran Suraya menjadi salah satu pemicu Ahsan seolah melupakan Liani, dengan dalih urusan yayasan Suraya tampak gencar kembali mendekati mantan kekasihnya itu tanpa laki-laki itu sadari dan jelas itu mempengaruhi hubungannya dengan Liani.


"Beberapa orang memang harus dihantam rasa kehilangan terlebih dahulu agar mata dan hatinya terbuka" gumam Akhtar dalam hatinya setelah melihat layar gawai Ghifar yang ditunjukkan padanya, terlihat Ahsan terus melakukan panggilan.


Akhtar yang duduk di samping kemudi hanya saling melirik dengan Ghifar, saling memberi kode jika kali ini sepertinya misi mereka berhasil untuk memberikan sedikit pelajaran pada sahabat mereka itu.

__ADS_1


"Benar kata pepatah, terkadang kamu harus menghilang. Supaya kamu mengetahui seberapa penting hadirmu untuknya" batin Ghifar.


Sekitar pukul sepuluh pagi mobil yang dikemudikan Ghifar sudah sampai bandara, masih ada waktu satu jam untuk Liani terbang dan digunakan oleh Liani dan Shanum untuk saling melepas rindu dan do'a yang terus terlisankan untuk kebaikan Liani di sana. Mereka berdua tidak akan bertemu selama dua tahun ke depan.


"Kamu hati-hati di sana ya, jaga diri baik-baik. Luruskan niat, semoga yang terbaik selalu menghampirimu" Shanum tak kuasa menahan air matanya begitupun dengan Liani. Mereka pun menangis bersama sambil berpelukan erat.


"Maafkan aku dan jangan bosan do'akan selalu aku ya" Liani dan Shanum pun saling melepas pelukan mereka, sebelumnya Liani sudah berpamitan dengan Bu Hana dan Bu Fatimah yang hanya mengantar sampai pintu ruang tunggu keberangkatan. Dua nenek muda itu kembali ke parkiran membawa baby twins ditemani Ghifar sementara Shanum dan Akhtar mengantar Liani sampai ke dalam.


"Semoga Kak Ahsan tidak menyesali keputusannya melepas wanita sebaik Liani" ucap Shanum pada suaminya, sesaat setelah melepas kepergian Liani. Mereka berdua saling berpegangan tangan menatap pesawat yang dinaiki Liani dari jendela kaca besar bandara.


"Dia sudah menyesalinya sayang, sepertinya sekarang dia sedang meratapi kesalahannya" jawab Akhtar tanpa menoleh,


"Maksud Aa?" Shanum terperanjat mendengar jawaban suaminya,


"Sudahlah sayang, biarkan sepupuku itu dewasa dengan keadaan yang akan dihadapinya ke depan. Jika kehilangan harus menjadi perantara dirinya sadar akan berharganya Liani mungkin itu lebih baik"


"Jadi...." ucapan Shanum terjeda saat Akhtar memberi kode untuk tidak melanjutkan ucapannya,


"Kalau memang mereka jodoh, maka Allah akan menjaga hati mereka masing-masing. Kali ini biarkan do'a dan takdir mereka bertarung di langit" lanjut Akhtar,


Shanum hanya tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan suaminya, dia pun manggut-manggut setuju dengan pernyataan suaminya itu.


"Aa tidak takut nanti Kak Ahsan kecewa sama Aa karena tidak memberitahukan perihal kepergian Liani?" tanya Shanum,


"Tidak, yang dibutuhkan saat kecewa bukan hanya sabar tapi akan lebih baik adalah sadar. Jika dengan kehilangan membuat dia sadar dan menjadi lebih baik kenapa tidak kita berlaku tega padanya. Semoga setelah ini dia bisa lebih menghargai apa yang dimilikinya. Bukankan mempertahankan itu lebih sulit daripada meraihnya" jawab Akhtar mantap, dia pun mengeratkan rangkulan tangannya di bahu Shanum


"Terima kasih Aa, aku bangga padamu. Terima kasih juga sudah mencintaiku sebesar ini. Cintamu mengajarkanku banyak hal.Tentang ketulusan, kepedulian, menjaga komitmen, juga tentang bagaimana menghargai dan memperlakukan cinta. Cintamu membuatku ada dan berarti. Terima kasih telah menjadi bagian dari jiwaku" ucap Shanum tulus,


Akhtar mengarahkan tubuh Shanum ke arahnya, kini mereka pun saling berhadapan.


"Sayang, mencinta itu serupa dengan air laut, pasang surut akan selalu ada. Namun kamu harus ingat jika air laut tidak pernah berubah rasa. Dan seperti itulah cintaku padamu, tetap sama seperti dulu bahkan semakin bertambah hanya kamu seorang yang aku lihat. Seiring waktu aku bahkan jatuh cinta berkali- kali pada wanita yang sama yaitu kamu, Shanum Najua Azzahra" Akhtar pun melayangkan satu kecupan hangat dan dalam di kening Shanum, yamg diterima Shanum dengan memejamkan matanya.


Sementara di dalam pesawat, Liani tampak menyeka sudut matanya. Pandangannya mengarah pada langit biru dengan awan putih yang terlihat dari jendela pesawat yang dinaikinya.


"Kak Ahsan, selamat tinggal. Terima kasih telah membuatku belajar dan membuatku mengerti batas kemampuan diri. Sehingga harus selalu sadar diri jika ingin kembali mencintai" batin Liani.


The End


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Novel ini benar-benar tamat ya....


sampai jumpa tiga tahun kemudian bersama baby Izza dan Izzu yang akan menjemput aunty Liani di novel terbaru "Di Bawah Langit Jingga".


Novel khusus yang tentang perjuangan Liani kembali merasakan indahnya jatuh cinta dan seperti apa Kak Ahsan berjuang dalam penyesalannya.


Ini dia penampakan Kakang Izzu dan Ceuceu Izza yang sudah siap untuk menjemput aunty Liani ke bandara.

__ADS_1




__ADS_2