Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
POV Shanum


__ADS_3

PoV Shanum


Mengikhlaskan seseorang yang kita cintai bahagia dengan orang lain, adalah tingkatan tertinggi dari level mencintai yang aku alami. Inilah waktunya ujian dari ketulusan dan mencintai tanpa pamrih untukku.


Aku terus berusaha menerima ini sebagai takdir terbaik untuk cintaku dan hidupku. Aku turut bahagia dengan pertunangan Akhtar dan Raina. Semoga cinta mereka abadi sehidup sesurga, do'aku tulus.


Saatnya aku membuka hati, memberi kesempatan kepada seseorang yang selama ini selalu ada untukku. Aku tahu mungkin selama ini aku keterlaluan memperlakukannya, tapi sungguh selama hatiku masih tertaut dengan Akhtar aku tidak mau memberikan harapan sedikitpun untuknya. Kak Ahsan adalah pria yang baik, dia laik mendapatkan perempuan yang lebih dari aku segalanya.


Seiring waktu aku pun mulai menerima kehadirannya lebih dari sekedar teman. Kami sering menghabiskan waktu bersama, aku sudah tidak canggung lagi jika harus mengobrol berdua atau berjalan berdua di sela-sela kegiatan bersama yang kami ikuti.


Aku sadar di hatiku keberadaan Akhtar belum sepenuhnya hilang, tapi aku berusaha realistis dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menunjukkannya di hadapan Kak Ahsan. Walau bagaimanapun Kak Ahsan pria yang laik diutamakan dalam hidupku. Kenyamanan perasaannya menjadi prioritasku sekarang.


Aku menjalani hari-hariku dengan baik selama dua minggu ini, ketidakberadaan Akhtar di lingkungan yayasan membuatku lebih leluasa dalam beraktivitas. Aku pun merasa lebih dekat dengan Kak Ahsan, semua perlakuannya kepadaku terasa sangat istimewa.


Aku baru menyadari ternyata dia benar-benar tipe pria yang selalu mendahulukan kepentingan perempuannya, benar-benar calon imam idaman. Aku selalu dibuat tersanjung dengan semua perlakuannya.


Kak Ahsan bilang secepatnya dia akan menemui orang tuaku dan meminta izin untuk meminangku. Aku semakin memantapkan hati untuk menerimanya sebagai bagian yang tidak akan terpisahkan dalam setiap perjalanan hidupku. Aku berharap dia adalah yang terakhir dan menetap hingga akhir.


Semua berjalan baik-baik saja, detik-detik penghujung acara kami masih menjalin komunikasi dengan baik, saling berkirim pesan padahal jarak kami dekat bahkan berada di ruangan yang sama dan saling menatap.


Tapi itulah Kak Ahsan, dia selalu memastikan keadaanku baik-baik saja. Aku kembali bahagia menerima perhatiannya. Kehadiran dan semua perlakuannya benar-benar membantuku untuk ikhlas melihat kebahagiaan Akhtar bersama orang lain. Sampai hadirnya seseorang secara tiba-tiba membuat rasa bahagia di hatiku itu terbang melayang entah kemana.

__ADS_1


Aku tidak menyangka jika kabar yang beredar semasa kuliah tentang kekasih Kak Ahsan yang sedang berkuliah di luar negeri itu benar adanya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri seorang gadis cantik nan anggun dengan penampilan elegan serba branded yang seolah menunjukkan siapa dirinya tengah berdiri di atas panggung dengan mic digenggamannya. Dia dengan bangga memuji lelaki yang menjadi kekasihnya, menyanyikan lagu kenangan mereka dengan penuh penghayatan menunjukkan kepada semua irang yang hadir malam ini, betapa besar cinta gadis itu untuk kekasihnya.


Aku menikmati setiap lirik lagu yang dinyanyikan gadis itu sampai terbawa suasana. Sebuah lagu yang begitu memuja kekasihnya dan tak bisa jika harus tanpanya. Hingga kata-kata terakhir yang disampaikan oleh gadis itu menghujamku bagai anak panah yang melesat dan menancap sempurna di ulu hatiku.


'Terima kasih Hubby, kamu sudah setia menungguku dan sekarang aku sudah kembali untukmu. I miss you so much Muhammad Ahsanu Amala, priaku, cintaku...I'm come back'


Sakit, sakit yang tak berdarah namun luar biasa perih yang aku rasakan. Seketika tubuhku lemas, aku merasa kehilangan pijakan, kakiku tak mampu lagi menopang bobot tubuhku. Aku terduduk dengan lesu, pandanganku lurus ke arah gadis yang turun dari panggung dan melangkah menuju seseorang. Di hadapan semua orang dia memeluk lelaki itu tanpa segan, dan aku hanya bisa melihatnya tanpa mampu memalingkan sedikitpun pandanganku.


Aku kaget ternyata laki-laki yang sejak tadi dipuja puji dan dibanggakan oleh gadis itu adalah lelaki yang sama yang sudah memberiku kebahagiaan dan harapan hidup sehidup sesurga beberapa hari ini, dan setelah ini aku tak lagi merasakannya entah kemana perginya kebahagiaan dan harapan itu.


Tubuhku seakan membeku, hatiku tak merasa dan hanya diam yang mampu ku lakukan. Aku seakan terjebak pada gelapnya cinta dan tak tahu harus kemana melangkah setelah ini.


Untunglah Liani yang duduk disampingku segera menyadarkanku saat ternyata Kak Ahsan sudah berdiri di hadapanku. Dia berusaha menjelaskan, tapi belum sempat aku meresponnya gadis itu pun sudah berada di hadapanku, berdiri tepat di samping Kak Ahsan dan dengan mesranya bergelayut manja di lengan Kak Ahsan.


Dengan ramahnya dia memperkenalkan dirinya padaku dan teman-teman yang duduk satu meja denganku. Tanpa sungkan, dia memperkenalkan diri sebagai calon istri dari Kak Ahsan. Tanpa disadari wajahku rasanya seketika memanas, dengan sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak menunjukkannya di hadapan semua orang.


Liani yang paham akan perubahan sikapku, menggenggam tanganku erat seolah memberiku kekuatan dan benar saja aku merasa mendapatkan energi baru. Dengan tegarnya aku menerima uluran tangan gadis itu disertai senyum ramah. Dia pun demikian, aku sungguh merasa tidak berhak jika harus cemburu. Dia lebih pantas untuk menjadi pendamping Kak Ahsan dari sisi manapun.


Terkadang memilih pergi adalah keputusan yang tepat, bukan karena ego tapi lebih tepatnya untuk sebuah harga diri.


Aku menoleh ke arah Liani, terlihat wajahnya memerah menahan amarah. Aku tahu sahabatku itu pasti merasakan hal yang sama denganku, kecewa.

__ADS_1


Selama ini dia yang selalu mendukungku untuk menerima Kak Ahsan. Dia yang selalu meyakinkanku bahwa Kak Ahsan adalah laki-laki yang pantas untukku setelah aku terluka karena penantianku yang berujung dengan perayaaan luka.


Tapi nyatanya sama saja. Kak Ahsan yang diharapkan dapat menjadi penyembuh setiap lukaku, justru dia sendiri menambah luka pada seseorang yang sedang berjuang mencari cara untuk sembuh sepertiku.


Kulihat tatapan mata Liani menunjukkan rasa bersalah yang begitu besar yang dirasakannya. Setelah kepergian Kak Ahsan yang tepatnya dibawa paksa oleh gadis itu, Liani mendekatiku. Dia menggenggam erat kedua tanganku. memanggilku dengan lirih.


"Num," ucap Liani dengan mata berkaca-kaca.


Aku yang sejak tadi berusaha menyembunyikan wajahku dengan menunduk kemudian mendongak. Ku lihat Liani seperti yang akan menangis. Aku menarik napas dalam berusaha menetralkan suasana hatiku, aku tersenyum kepadanya dan mendekatkan wajahku ke telinganya.


"Aku melihat dan mendengar semuanya, ini menyakitkan. Tapi aku baik-baik saja, aku sudah terbiasa dengan itu", bisikku di telinga Liani yang hanya dibalas Liani dengan tatapan sendu dan air mata yang akhirnya menetes di pipinya. Aku tersenyum dan menghapus air mata di pipinya.


Pada akhirnya aku harus mampu menerima, apapun itu, baik buruknya, bahagia maupun sedihnya. Kita memang punya keinginan tapi Semesta punya kenyataan.


***


Tepat pukul dua belas malam, pesta pun berakhir. Aku menyelesaikan tugasku sebagai panitia, berkoordinasi dengan tim dan mengakhirinya dengan ucapan hamdalah karena acara berjalan lancar dan sukses.


Aku dan Liani pun pulang menuju rumah dinas masing-masing. Hingga pesta berakhir aku tidak bertemu lagi dengan Kak Ahsan, entahlah dia ada dimana saat ini, rasanya aku lebih baik tidak peduli keberadaannya sekarang jika tidak ingin sakit di hatiku bertambah. Aku berusaha menyelesaikan semua tugasku dengan profesional.


Waktuku terlalu berharga jika harus digunakan untuk meratapi nasibku malam ini. Qadarulloh, semuanya sudah ditetapkan olehNya. Kehadiran gadis itu menyadarkan aku bahwa aku tidak boleh mencintai siapapun terlalu dalam, karena yang sejalan belum tentu searah.

__ADS_1


Tidak ada yang perlu disesali karena semua yang terjadi adalah cara Allah untuk mendewasakan diri hingga pada akhirnya aku dapat memahami bahwa setiap yang terjadi memiliki alasan tersendiri. Baik buruknya tergantung prasangka kita.


Tetap berbaik sangka adalah pilihan terbaik. Semoga tidak ada lelah yang sia-sia, hingga kebahagiaan menjadi akhir cerita hidupku.


__ADS_2