
Kesepakatan tiga orang wanita yang akan menjalankan secret mission membuat Liani memperpanjang masa cutinya. Dia memutuskan untuk tetap berada di Garut agar misinya segera selesai.
Liani akan meminta bantuan Ahsan untuk mempermulus rencananya. Dia berencana akan mengajukan cuti selama dua minggu dan mantap akan membantu Bu Hana dan Bu Fatimah untuk menggolkan misi mereka, kembali menyatukan Shanum dan Akhtar.
*
*
Senja menyapa, langit tak lagi sebiru seperti sebelumnya. Berganti jingga yang meneduhkan. Kumandang adzan maghrib menjadi alarm, waktu berkunjung mebel telah usai, papan kecil yang menggantung di pintu kaca depan mebel itu pun diputar menunjukkan tulisan close jika dilihat dari luar.
Shanum menarik napas dan membuangnya perlahan menghilangkan sedikit lelah setelah memastikan semua perabotan sudah diangkut oleh mobil bak yang dikemudikan Mang Ujang. Pak Imran dan Bu Hana sudah lebih dulu pulang bersama Indri dan tim yang lainnya setelah terlebih dahulu melaksanakan shalat maghrib. Tinggallah beberapa pegawai laki-laki yang membantunya mengangkut perabotan ke dalam mobil.
"Yogi, kamu pulang sama teteh aja, nunggu Bapak yang akan menjemput" Shanum menyodorkan sebotol air mineral kepada Yogi sepupunya yang tak lain adalah adik dari Indri. Dia membantu mengangkut perabotan. Terlihat lelah, keringat tampak bercucuran di pelipisnya.
"Maaf teh aku mau duluan, temen mau jemput. Jadwal rutin, kalau malem minggu sibuk masih ada malam senin" ucapnya dengan wajah jenaka. Shanum memutar bola matanya malas, mengerti dengan teman yang dimaksud sepupunya itu.
"Emang besok kamu gak ada kuliah? gak cape gitu? Mamang sama bibi tahu gak kalau kamu mau jalan? awas lho!" Shanum mencebikkan bibir meneror Yogi dengan banyak pertanyaan dan ancaman.
"Tahu dong Teh, udah izin sama Bapak tadi. Boleh katanya, asal pulangnya gak lebih dari jam sepuluh malam. Lagian aku juga mau pulang ke rumah Enin, lebih dekat dari kota. Besok jadwal kuliah habis dzuhur jadi bisa tiduran lagi habis subuh, hehe.." jawab Yogi mantap, dia sudah membuat planning dengan baik rupanya.
"Tugas-tugas kuliah, udah?" Shanum belum puas mengingatkan sepupunya itu dengan kewajiban utamanya.
"Sudah dong Teh, kan ada bebeb yang ngehandle" Yogi menjawab sembari mengerlingkan sebelah matanya yang dibalas dengan cebikan bibir oleh Shanum.
Tiiiiii.n...tiiiin...
Seorang pengendara kendaraan bermotor jenis matic membunyikan klakson dan melaju ke arah Shanum dan Yogi berbincang sambil melepas lelah. Saat ini mereka sedang duduk di teras mebel FDF setelah mengangkut semua perabotan ke atas mobil bak dan mobil pun melaju dengan mengangkut perabot dan beberapa pegawai laki-laki.
"Nah...itu dia bebebku, Teh" ujar Yogi senang, dia berdiri menyambut kedatangan seorang gadis yang mengendarai motor matic itu.
Dengan santun gadis itu pun menyapa mereka berdua, Yogi memperkenalkan Shanum sebagai kakak sepupunya. Shanum menyambut dengan baik. Dia berpesan agar ingat waktu dan tetap fokus pada kuliah mereka.
Yogi dan kekasihnya pun pergi setelah beberapa menit mereka mengobrol. Shanum kembali duduk di teras mebel itu menunggu pak Imran yang mengatakan akan kembali menjemputnya.
Beberapa kali dia melihat jam di gawainya, sudah lebih dari tiga puluh menit Shanum menunggu. Liani yang pamit akan pergi sebentar mencari nasi goreng bersama Ahsan belum juga kembali. Dia pun mencoba menghubungi Bapaknya, memastikan dimana posisinya saat ini.
Sementara di dalam ruangan Akhtar beberapa kali melirik jam di pergelangan tangannya. Dia mendapat kabar dari Ahsan jika Shanum sedang menunggu jemputan Pak Imran di teras depan mebel. Liani baru saja menanyakan keberadaannya, dia langsung memberi tahu Ahsan tentang keadaan Shanum dan dengan sigap Ahsan menyampaikannya pada Akhtar. Ahsan sengaja mengajak Liani pergi berdua saat wanita yang selalu ada untuknya itu bilang akan menyampaikan sesuatu yang penting.
"Baiklah rekan-rekan semua, saya rasa untuk laporan malam ini cukup. Silahkan kirimkan semua file laporannya ke email saya. Nanti saya akan pelajari kembali. Sekarang, silahkan rekan-rekan bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing dan selamat beristirahat. Sampai jumpa besok. Kita akan kembali start jam 9. Terima kasih" Akhtar menutup rapat evaluasinya hari ini, pikirannya sudah tidak fokus. Membayangkan Shanum sendiri menunggu di depan"
Semua karyawan pun membubarkan diri setelah terlebih dahulu menerima uluran tangan dari Akhtar. Dia terbiasa melakukan hal itu kepada semua karyawannya setiap selesai rapat evaluasi. Hal itu dilakukannya sebagai wujud apresiasinya terhadap kerja keras para karyawannya.
Tidak menunggu lagi, dia pun segera beranjak dan pergi ke depan. Benar saja Akhtar melihat Shanum duduk di lantai teras menghadap area parkir samping gedung mebel. Dia sedang menerima telepon dari seseorang hingga tidak menyadari jika seseorang tengah berjalan mendekatinya.
Akhtar mengedarkan pandangannya, area parkir khusus karyawan kini sudah lengang pertanda jika semua karyawannya sudah pulang, tinggal satu motor yang terparkir di sana yaitu milik Mang Jaja, bagian keamanan yang bertugas jaga malam ini.
Samar-samar Akhtar mendengar percakapan Shanum dengan orang yang dipastikan jika si penelepon adalah seorang laki-laki.
"Iya, pasti kalau makan mah gak akan kelewat mandi juga kan biar mewangi sepanjang masa. Kamu juga, jaga kesehatan ya. Segera selesaikan tugas-tugasnya biar bisa cepet ke Garut"
"..."
"Iya, wa'alaikumsalam" pungkas Shanum mengakhiri teleponnya.
__ADS_1
Akhtar terpaku di tempatnya berdiri yang hanya berjarak sekitar satu meter di belakang Shanum sehingga dapat dengan jelas dia mendengar apa yang Shanum katakan di ujung percakapannya. Dia menyimpulkan jika Shanum baru saja bertelepon dengan Haqi, suaminya.
Shanum terhenyak, kaget saat memutar badannya mendapati Akhtar tengah berdiri di belakangnya. Menatap dia dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Pak Akhtar?" sapa Shanum. Akhtar masih bergeming, dia larut dalam pikirannya sendiri tentang apa yang baru saja dia dengar mengabaikan sapaan Shanum yang tampak mengernyit kebingungan.
"Pak!" Shanum kembali mengulangi panggilannya namun lagi-lagi Akhtar masih mengabaikannya.
"Hey" pekik Shanum yang kesal karena tidak juga mendapat respon dari Akhtar, dia hanya terus memandangi Shanum tanpa kata. Refleks Shanum pun menepuk lengan Akhtar yang membuat Akhtar pun sadar dari lamunannya.
"Eh, iya, iya...ada apa?" tanya Akhtar gugup,
"Ada apa....kamu yang ada apa?" ketus Shanum masih kesal dengan Akhtar.
"Maaf, maaf aku melamun. Ada apa?" susul Akhtar sedikit panik karena melihat Shanum yang menunjukkan wajah kesalnya.
"Makanya jangan ngelamun, entar kesambet tau rasa lho" canda Shanum.
"Aku sih emang udah kesambet, sama kamu" sela Akhtar yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hatinya.
"Ishh....malah melamun lagi" Shanum kembali dibuat kesal oleh tingkah Akhtar yang lagi-lagi melamun.
"Maaf, maaf" Akhtar menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, malu karena ketahuan lagi-lagi dia melamun.
"Kamu belum pulang?" tanya Akhtar kembali ke mode seriusnya.
"Masih menunggu Bapak, sepertinya masih di jalan" jawab Shanum.
"Mobil aku dipakai Bapak ngantar ibu dan sepupu-sepupu yang perempuan"
"Jadi kamu sendiri di sini?" Shanum mengangguk tanda mengiyakan.
"Kalau begitu aku akan antar kamu, sebentar aku ambil dulu kunci mobil ke dalam" Akhtar berbalik segera.
"Gak usah, kasihan Bapak nanti nyari-nyari" Shanum mencegah Akhtar yang hendak melangkah. Akhtar pun berbalik kembali menghadap Shanum.
"Coba kamu telepon dulu, sekarang dimana posisi Bapak. Kalau masih dekat dengan rumah, lebih balik Bapak kembali saja aku yang akan mengantar kamu. Kasihan Bapak kalau harus bolak balik" Ahsan memberi solusi pada Shanum.
Shanum pun kembali menelepon Pak Imran, namun tak kunjung mendapat jawaban. Dia pun beralih hendak menghubungi sang ibu. Namun sebelum Shanum mengklik nama kontak, sang ibu sudah lebih dulu menghubunginya.
"Assalamu'alaikum, Bu" Shanum segera menjawab panggilan itu.
"Wa'alaikumsalam. Teh, Ibu baru sampai rumah. Tapi ban mobil teteh kempes, paling nunggu mang ujang yang jemput teteh pake mobil kolbak. Enggak apa-apa? Mang Ujang masih di jalan katanya" Bu Hana menjelaskan kondisinya saat ini.
"Ouh ...ya udah gak apa-apa Bu, biar teteh naik gojek aja"
"Iya udah kalau begitu, hati-hati di jalan ya. Assalamu'alaikum" pungkas Bu Hana menutup sambungan teleponnya dan dijawab ucapan salam oleh Shanum. Dia pun mematikan gawainya.
"Gak bisa jemputkan?" tebak Akhtar setelah mendengar percakapan Shanum dengan Bu Hana di telepon dan di jawab anggukan kepala oleh Shanum.
"Saya mau order gojek saja" ucap Shanum saat melihat Akhtar yang akan pergi mengambil kunci mobilnya.
"Aku yang antar, kamu tunggu sebentar di sini" Akhtar pun setengah berlari memasuki gedung mebel untuk mengambil kunci mobilnya.
__ADS_1
Suasana hening sangat terasa di dalam mobil, padahal sudah sepuluh menit yang lalu mobil melaju meninggalkan kawasan mebel yang sudah lengang karena waktu semakin merangkak naik menuju malam.
Sempat terjadi perdebatan sebelum mobil melaju. Shanum yang akan membuka pintu mobil bagian belakang dicegah oleh Akhtar. Akhtar meminta Shanum untuk duduk di depan, bukan tanpa alasan Shanum memilih duduk di kursi belakang. Kebersamaan mereka beberapa jam yang lalu di lantai dua cukup membuat Shanum merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah lagi dia rasakan.
Sejak mengetahui tentang kebenaran kabar jika Akhtar dan Raina tidak jadi menikah dan status Akhtar yang masih sendiri saat ini membuat hati dan pikirannya sering bertolak belakang. Antara ingin membuka hati dan sadar diri dengan statusnya sebagai seseorang yang pernah menikah. Shanum yakin Akhtar bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari dirinya dengan status yang setara tentunya.
"Tadi suami kamu?" suara Akhtar akhirnya memecah keheningan. Dia bertanya tanpa menoleh, pandangannya lurus menatap jalanan yang dilaluinya.
"Hah, suami?" Shanum mengernyit heran mendengar pertanyaan Akhtar.
"Iya, tadi kamu lagi telponan sama suami?" Akhtar mengulangi pertanyaannya.
Sejenak Shanum berpikir, mengingat-ingat terakhir telepon dari siapa yang dia terima.
"Ouh...hhe.." Shanum hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Akhtar. Sejenak Akhtar menoleh, melihat sekilas senyum yang tersungging di bibir Shanum. Manis, batinnya.
"Masih di Jakarta?" Akhtar masih berusaha memecah kecanggungan di antara mereka dengan pertanyaan tentang Haqi. Tetapi lagi-lagi hanya dibalas anggukan oleh Shanum. Dia pun kembali terdiam, bingung mau membahas apa lagi.
Suasana di dalam mobil kembali hening, kedua insan yang masih memiliki rasa yang sama itu pun larut dalam pikiran masing-masing. Akhtar bingung topik apa yang harus dia bahas dengan Shanum saat ini. Sementara Shanum, sedikit bernapas lega, dia mulai menetralkan suasana hatinya setelah mengetahui jika Akhtar ternyata masih mengetahui jika dia masih bersuami.
"Kamu sudah bertemu teman-teman SMP kita selama di sini?" Akhtar kembali memulai perbincangan dan direspon antusias oleh Shanum. Akhtar tersenyum lebar saat umpannya kini mengena, ternyata bahasan tentang kenangan masa sekolah mereka di Garut menjadi topik yang tepat untuk jadi bahan perbincangan.
Mereka pun mengobrol semakin akrab selama perjalanan. Akhtar bahkan mengabaikan saat ada panggilan masuk dari Ahsan di gawainya. Dia sengaja mensilentkan gawainya agar perbincangan mereka selama perjalanan tidak terganggu. Ahsan berkali-kali menghubungi Akhtar, namun Akhtar benar-benar mengabaikannya. Bahkan beberapa pesan yang Ahsan kirim pun hanya dilirik sekilas oleh Akhtar.
Tiga puluh menit berlalu, mobil yang Akhtar kendarai pun sampai di halaman rumah orang tua Shanum. Akhtar memohon maaf tidak bisa mampir karena waktu sudah malam, ada beberapa laporan yang harus dia cek malam ini terkait hasil penjualan mebelnya hari ini.
Akhtar pun melajukan mobilnya, saat terlihat Shanum.sudah memasuki pintu rumahnya. Ada senyum mengembang di bibir Akhtar saat meninggalkan tempat itu.
Waktu yang semakin merangkak malam membuat jalanan lenglang membuat Akhtar melajukan mobilnya dengan cepat. Hanya dua puluh menit dia pun sudah sampai di halaman mebelnya. Sejenak Akhtar meraih gawainya dan menyalakan layar gawai yang beberapa saat yang lalu dia abaikan sebelum dia keluar dari mobilnya.
Akhtar berdecak saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Ahsan. Bermaksud akan menghubungi balik sepupunya iyu namun tiba-tiba notifikasi pesan masuk kembali berbunyi dari gawainya setelah dia mengembalikan mode silent dengan mode dering. Dia membelalakan matanya seolah tak percaya dengan pesan yang dikirim sepupunya itu.
'Bro, angkat dong, gue ada berita penting nih'
'Bro, lo lagi dimana sih, ayo buruan angkat telepon gue, ada kabar duka dan kabar bahagia atau apalah namanya, yang pasti ini penting buat lo'
'Bro?'
'Bro?'
'Bro?'
'Akhtar!"
'Ternyata Haqi sudah meninggal sejak beberapa bulan yang lalu, dia mengalami kecelakaan dan meninggal setelah koma selama satu minggu di rumah sakit di Jakarta. Jadi Shanum saat ini single, Bro"
Pesan beruntun yang Ahsan kirimkan membuat napas Akhtar tercekat di tenggorokan, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Berkali-kali dia mengulangi membaca pesan terakhir yang Ahsan kirim untuknya. Entah perasaan apa yang kini dirasakan oleh Akhtar, semuanya tidak mampu terlukiskan dengan kata-kata apapun. Pikirannya mengatakan turut berduka dan iba terhadap takdir yang menimpa wanita pujaannya itu. Namun hatinya merasa jika ada secercah harapan untuknya.
Akhtar mengalihkan layar gawainya ke daftar kontak, dia menelepon Ahsan cepat.
"Dimana lo?"
"GUE TUNGGU LO SEKARANG JUGA DI MEBEL, SEKARANG!!!"
__ADS_1