Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 19: Pertarungan Takdir dan Do'a


__ADS_3

Serasa dihantam batu besar dan tak mampu untuk menghindar, Akhtar menatap tak percaya atas apa yang baru saja dia dengar. Penjelasan dokter yang begitu jelas di telinganya nyatanya mampu membuat dia seakan terhimpit batu besar di lubang nan sempit, gelap tak berdaya.


“Apa maksud dokter?” tanyanya lemah, setelah beberapa saat larut dalam gelapnya rasa dan pikir Akhtar akhirnya bersuara.


“Kami mohon maaf Pak, inilah yang harus kami tempuh. Keadaan Bu Shanum karena kelelahan dan dehidrasi membuat keadaan tubuhnya sangat lemah. Sementara trauma yang dialaminya pun menjadi pemicu paling dominan yang mempengaruhi bayinya yang saat ini juga begitu lemah. Dengan berat hati dalam melakukan tindakan ini kami harus memprioritaskan salah satu di antara keduanya. Silahkan segera Bapak putuskan kita tidak punya banyak waktu” Dokter perempuan yang menangani Shanum pun kembali menjelaskan perlahan dengan wajah sendu.


“Pak Akhtar anda harus kuat, ada tiga nyawa yang saat ini menunggu keputusan anda” Liani menjadi orang yang paling sadar dengan apa yang dikatakan dokter, hatinya yang merasa sesak karena kabar yang disampaikan dokter nyatanya masih membuat dia berpikir cepat dibanding Akhtar,


“Ada apa ini?” Ahsan dan Fauzan yang baru saja datang dari kantin terlihat khawatir melihat mereka berkumpul dengan suasana yang terlihat tegang,


“ Bro, ada apa?” Ahsan meraih bahu Akhtar yang masih bengong


“ In, ada apa?’ karena Akhtar tak kunjung bersuara, Fauzan pun mengulang pertanyaan yang sama dengan Ahsan pada Indri.


“ A Akhtar harus menandatangani surat pernyataan” jawaban Indri menggantung, dia menatap Akhtar yang mengambil berkas yang tadi diberikannya setengah dibanting pada perawat di sampingnya.


Akhtar memegang ballpoint dan map yang sudah terbuka itu dengan tangan yang bergetar, dia memejamkan matanya mencari kemantapan dari apa yang akan diputuskannya.


“Yaa Allah” ucapnya lirih saat matanya masih terpejam dan mendongakkan kepalanya, semua orang terpaku menunggu apa yang akan Akhtar putuskan. Mengerti jika Akhtar saat ini berada dalam pilihan yang sulit.


Srettttt……sebuah tanda tangan dia bubuhkan pada surat pernyataan itu setelah sebelumnya menceklis pilihan siapa yang akan diprioritaskan untuk diselamatkan.


“Maafkan aku sayang” ucapnya pilu, Akhtar tertunduk lesu dengan lutut yang semakin melemah, dia bersimpuh di lantai dengan tangis yang tertahan, berusaha agar suara tangisnya tidak terdengar siapapun. Sungguh membuat pilu siapapun yang melihatnya.


Di saat yang bersamaan kedua orang tua Shanum datang, Bu Hana terlihat buru-buru ingin segera sampai di ruang rawat sang putri setelah satu jam yang lalu mendengar kabar dari keponakannya Indri jika Shanum sudah sadar. Begitupun Bu Fatimah yang datang hampir bersamaan dengan Pak Furqan dan Ghifar.

__ADS_1


“Ada apa ini?” semua mata tertuju pada Akhtar yang masih duduk dilantai bersandar pada dinding yang memisahkan ruangannya dengan ruangan Shanum berada. Memeluk kaki dengan kepala yang menelusup di atas kedua lututnya, dia bahkan bertahan dengan posisinya ketika semua anggota keluarganya hadir di sana.


Liani yang mengetahui kronologis kejadian saat ini pun menceritakan semuanya, dia sesekali menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipinya kala menyampaikan berita tentang Shanum.


Semua orang tampak syok dengan berita yang baru saja mereka dengar. Bagaimana tidak, Satu jam yang lalu mereka mendapat kabar bahagia dengan sadarnya Shanum namun tak lama kembali dirundung duka atas apa yang menimpa orang kesayangan mereka.


Bu Hana tak kuat menahan bobot tubuhnya, penglihatannya semakin kabur dan tiba-tiba menggelap. Diapun tak sadarkan diri dan hampir saja ambruk di atas lantai namun ditahan oleh Pak Imran dengan sigap.


“Ibu” Fauzan yang berdiri tiga langkah dari Pak Imran berteriak cukup keras saat melihat Bu Hana pingsan.


“Uwa” Indri pun tak kalah berteriak,


Akhtar mendongakkan kepalanya mendengar kegaduhan di sekitarnya, dia pun berdiri dan membantu Pak Imran yang akan memangku Bu Hana dibantu Fauzan.


Selesai membantu ibu mertuanya yang dibawa ke salah satu kamar perawatan, Akhtar kembali ke tempatnya semula tanpa sepatah kata pun. Semua orang memakluminya.


"Ibu....." Akhtar tak mampu lagi menahan tangisnya, dia memeluk Bu Fatimah dan menumpahkan air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya.


"Shanum Bu" suaranya tercekat oleh isak tangisnya,


"Kamu sabar ya Nak, percayalah kita masih bisa memaksimalkan ikhtiyar dengan do'a. Allah tidak pernah tidur, Dia mengatur semuanya dengan sebaik-baik ketentuan-Nya" Bu Fatimah pun tak kuat menahan tangis dan rasa takutnya, namun sebagai seorang ibu dia pun harus menguatkan sang putra yang saat ini begitu rapuh.


"Aku tidak mau kehilangan Shanum Bu, aku juga tidak mau kehilangan bayi-bayi kami Bu" Akhtar berbicara di sela-sela tangisnya, terdengar pilu bahkan terlihat sangat menyedihkan.


"Kita berdo'a Nak, minta sama pemilikNya, sejatinya manusia tidak ada yang benar-benar saling memiliki kita hanya saling dititipi. Berserahlah pada yang di atas, Dialah kuasa atas segala jalan hidup kita" Bu Fatimah mengusap lembut punggung putra semata wayangnya diiringi lantunan kata-kata motivasi, walaupun sebenarnya dirinya pun diliputi kekhawatiran yang luar biasa besar, namun di hadapan sang putra Bu Fatimah harus tetap tegar.

__ADS_1


"Bertahanlah Nak, kamu harus kuat untuk istri dan anak-anakmu" Pak Furqan yang duduk di samping Akhtar bersebrangan dengan mantan istrinya itu pun turut menguatkan sang putra. Setelah menengok keadaan Bu Hana di ruang rawatnya, Pak Furqan mengikuti Bu Fatimah untuk turut memberikan dukungan pada sang putra.


"Maafkan Ayah juga, semua ini terjadi karena Yasmin. Maafkan ayah tidak memperhitungkan hal ini, ayah kira anak itu sudah dewasa namun nyatanya masih melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang hanya untuk mendapatkan perhatianmu dan ayah"


"Atas nama Yasmin ayah minta maaf, tadi dia bersikeras ingin menemuimu bahkan sampai memohon pada Ghifar agar diizinkan bertemu denganmu untuk meminta maaf tapi ayah tidak mengizinkannya" Pak Furqan berbicara dengan menundukkan kepala, dia sungguh sangat merasa bersalah atas apa yang menimpa menantunya itu.


"Harusnya akang memberi efek jera pada putri akang itu, biar dia sadar apa yang telah dilakukannya telah mengorbankan banyak jiwa" mendengar Pak Furqan yang meminta maaf atas nama Yasmin Bu Fatimah tersulut emosinya, dia sangat kesal ketika tahu jika dalang penculikan Shanum adalah Yasmin, putri dari mantan suami dan sahabatnya sendiri.


"Iya Fatimah aku tahu" jawab Pak Furqan lesu dengan masih menundukkan kepalanya,


"Aku tidak tahu harus marah atau tidak, sungguh kehilangan Shanum adalah hal yang paling aku takuti saat ini" Akhtar kembali terisak membayangkan sang istri saat ini tengah berjuang dengan bertaruh nyawa,


"Shanum pasti akan marah kalau dia tahu aku merelakan putra-putri kami menjadi yang kedua, tapi sungguh aku tak sanggup jika harus kehilangan Shanum Bu" Akhtar menutup wajah dengan kedua tangannya, dia tak bisa membayangkan jika dirinya harus kehilangan Shanum.


Keputusan Akhtar saat akan menandatangani surat pernyataan itu adalah memilih sang istri untuk diselamatkan, hatinya sesak mengingat betapa bahagianya Shanum karena akan menjadi seorang ibu.


"Derajat seorang ibu tiga tingkat lebih tinggi dibanding ayah adalah karena seorang ibu Allah mampukan untuk merasakan tiga hal yang tidak dirasakan seorang ayah yaitu mengandung, melahirkan dan menyusui dan aku sedang menikmati tingkatan pertama A, aku bahagia bisa mengandung anak-anakmu" adalah kalimat yang diucapkan Shanum dalam percakapan mereka ketika Akhtar berada di Malaysia, dan saat ini kembali berdengung di telinganya.


Dia selalu mengatakan pada suaminya jika dirinya baik-baik saja dan selalu bahagia menjalani masa mengandungnya, memberi ketenangan pada Akhtar saat dia harus meniggalkan sang istri.


"Sabar Nak, kita berdo'a pada Allah " Bu Fatimah kembali mengusap bahu sang putra dengan air mata yang terus mengaliri pipinya.


Ada sesuatu yang menghangat di dada Akhtar saat dia menyadari jika yang tengah berada di samping kanan dan kirinya adalah kedua orang tuanya, dia merasa menemukan kembali sesuatu yang dulu pernah dimilikinya, dan hari ini dia kembali merasakannya.


"Saingan terberat dari semua harapan, keinginan dan perjuangan manusia adalah takdir. Tapi yakinlah Allah pun memberi kita kesempatan untuk merubahnya dengan do'a"

__ADS_1


Tidak hanya Akhtar yang merasa hatinya diliputi kehangatan mendengar kalimat yang dilontarkan Bu Fatimah, tapi juga Pak Furqan. Di tengah masalah rumah tangga yang sedang dihadapinya, kekecewaan dan penyesalan yang berpadu tiada ujung terselip harapan untuk bisa kembali merasakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah seperti dulu bersama Bu Fatimah.


"dan do'aku adalah semoga Allah memberiku kesempatan untuk bisa kembali bersamamu dalam ikatan pernikahan yang sakinah, mawaddah warahmah seperti dulu, Fatimah" gumam Pak Furqan dalam hati.


__ADS_2