Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Saling Menguatkan


__ADS_3

Sepeninggalnya Shanum Ahsan terpekur sendiri.


Merutuki kecerobohannya yang dengan gamblang menyampaikan isi hatinya.


Selama ini beberapa kali Ahsan menyatakan cintanya pada Shanum, tapi tidak pernah sedalam itu.


Dia tahu Shanum tidak akan nyaman dengan apa yang telah dia lakukan tadi.


Ahsan sudah mengenal Shanum lama. Sejak Shanum masuk kuliah dan mereka sering terlibat dalam berbagai kegiatan di kampus.


Shanum adalah adik tingkat dua tahun di bawahnya.


Kebersamaannya dengan Shanum dalam berbagai kegiatan mulai membuatnya memiliki rasa lebih.


Ahsan adalah most wanted di kampus, banyak mahasiswi yang mendekatinya dan ingin menjadi kekasihnya.


Tidak sedikit mahasiswi yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan hanya karena ingin dekat dengan Ahsan.


Tapi Ahsan tampak tidak terpengaruh dengan semua itu. Pribadinya yang humble, santai menanggapi setiap yang dilakukan para mahasiswi untuk menarik perhatiannya.


Tapi ternyata sejuta pesona Ahsan tidak terlihat di mata Shanum. Shanum hanya menghormati Ahsan sebagai seniornya.


Tidak lebih, dia selalu bersikap professional ketika berkegiatan.


Hal itu yang membuat Ahsan penasaran, hingga diam-diam Ahsan selalu memperhatikan Shanum dan mencari tahu semua tentangnya.


Shanum Najua Azzahra, mahasiswi fakultas pendidikan penerima beasiswa.


Berasal dari Garut dan kini tinggal di Bogor.


Ayahnya seorang Guru Madrasah dan Ibunya Guru Taman Kanak-Kanak.


Anak pertama dengan dua adik, satu perempuan dan satu laki-laki.


Tinggal di asrama kampus dan aktif di organisasi kemahasiswaan di kampus.


Kegiatan lain yang dilakukan Shanum adalah menjadi guru privat.


Empat hari dalam seminggu setiap ba’da maghrib Shanum akan keluar dari asrama menuju tempatnya mengajar privat.


Fakta yang menarik menurut Ahsan. Membuatnya semakin ingin mengenal Shanum.


Ahsan tahu respon Shanum jika berhadapan dengan orang yang memaksa. Dia menyadari, pernyataannya tadi seolah memaksa Shanum untuk menerima kehendaknya. Ahsan sadar Shanum tidak akan menyukai itu.


Ahsan hendak beranjak dari kursinya berniat menyusul Shanum untuk meminta maaf.


Namun seseorang yang tadi bertelepon dengannya tadi datang menghampiri.


“Assalamu’alaikum”, salam Akhtar mengiringi kedatangannya.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam”, Ahsan menjawab sambil mengacungkan tangan kanannya melakukan toss.


Saling menanyakan kabar dan membahas berbagai hal tentang persiapan acara nanti malam, Akhtar dan Ahsan anteng dalam obrolan santai mereka siang itu.


“Aku harap nanti malam kamu datang dengan pasanganmu, San”, pinta Akhtar dengan nada pilu.


Ahsan mengernyit, heran dengan perubahan ekspresi wajah sahabat sekaligus saudara sepupunya itu.


Ya, Ahsan dan Akhtar adalah sepupu, Ayah mereka adalah saudara kandung. Mereka tumbuh bersama.


Saat kedua orang tua Akhtar belum bercerai, Ahsan tinggal bersama mereka karena orang tuanya sering harus berpindah pindah kota karena tugas Ayahnya yang seorang polisi.


Ahsan memilih menetap di Jakarta dan tinggal bersama pamannya, orang tua Akhtar.


Tak heran saat masih kecil banyak yang mengatakan mereka seperti kembar , padahal usia mereka terpaut dua tahun, Ahsan lebih tua dari Akhtar.


Ketika perceraian orang tua Akhtar terjadi, Ahsan pun menjadi orang yang paling sangat bersedih karena harus berpisah dengan Akhtar, dan kehilangan sosok ibu yang selama ini selalu menemani hari-harinya.


“ Hey….ada apa denganmu kenapa mendadak mellow begini?”, tanya Ahsan menatap heran. Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan sepupunya itu.


“Nggak apa-apa, aku cuma gak enak hati aja, nanti malam ayah mau memperkenalkan seseorang padaku, sementara kamu masih menjadi jones, hahaha….”, jawab Akhtar sambil tertawa berusaha mengembalikan suasana.


“Ckkk….” Ahsan berdecak mendengar jawaban Akhtar, menganggapnya sebagai kepedulian sekaligus ejekan.


Akhtar dan Ahsan bersekolah di SMA yang sama, tetapi mereka kembali terpisah ketika berkuliah.


Jarak yang memisahkan tidak lantas mengurangi kedekatan mereka. Mereka selalu bertukar kabar, saling bercerita tentang hari-hari mereka.


Wajar jika saat ini Akhtar belum bisa move on, Ahsan tahu sedalam apa cinta saudara sepupunya itu untuk kekasih hatinya.


Walaupun dia sendiri tidak tau gadis seperti apa yang telah mencuri dan meluluh lantahkan hati sepupunya itu.


“Mulai sekarang, berhenti mengharapkan yang tak pasti dari seseorang”, nasehat Ahsan serius.


“Jangan menyakiti diri sendiri hanya karena berharap pada hal yang tak pasti’, sambungnya.


“Cara terbaik untuk bisa merelakan sesuatu adalah dengan meyakini bahwa apapun yang datang pasti akan pergi”, pungkasnya.


Ahsan menjeda nasehatnya dengan menghela napas panjang, karena sejujurnya apa yang ia katakan berlaku juga untuk dirinya sendiri.


“Aku tahu, tapi ini sangat sulit”, Akhtar menjawab menundukkan pandangan seolah menahan sesuatu yang hendak keluar dari sudut matanya.


“Aku pun sedang berusaha untuk baik-baik saja, mulai sekarang kujalani semampunya, kunikmati seadanya dan kusyukuri segalanya”, Akhtar tersenyum getir.


*menjalani cinta yang tak pernah sampai, menikmati mencintai dalam diam dan mensyukuri aku bahagia walau hanya dengan memikirkannya*, lanjut Akhtar dalam hatinya.


“Syukurlah, setidaknya semua memang harus diusahakan”, tukas Ahsan.


“Rania gadis yang baik, cobalah buka hatimu dan berikan dia kesempatan untuk masuk ke dalamnya”,

__ADS_1


“Mintalah selalu petunjuk yang Kuasa, Dialah yang mampu membolak balikkan hati manusia”,


“Sudahlah, jangan terlalu larut dalam patah hatimu, nanti malam ada acara yang penting untukmu. Kau harus tampil dengan baik, Brother.” Pungkasnya.


Akhtar mendongak, menatap sepupunya itu dengan tajam.


“Kenapa?”, tanya Ahsan heran.


“Sepertinya nasihatmu juga harus aku copy paste dan sampaikan padamu juga”, jawab Akhtar datar.


Akhtar tahu kalau sepupunya itu pun sedang dalam pengejaran cinta.


Mencintai wanita yang sudah jelas-jelas selalu menolaknya.


Mereka memang selalu bercerita dengan apa yang mereka alami. Tetapi tak pernah saling mengungkapkan siapa yang mereka cintai.


“Hahaha……”, Ahsan tertawa keras mendengar perkataan Akhtar, hatinya pun membenarkan perkataan sepupunya itu.


“Kadang memang aneh, sudah tau mencintai orang yang salah, tapi tetap saja bertahan.”


“Jangan sampai kau diperbudak kemauanmu, logikamu mati dihantam egomu sendiri.”


“Dan luka adalah sesuatu yang pantas untuk kau rayakan nanti.” Lagi Ahsan menasehati sepupunya itu.


“Dan kembali ku copy paste, itu berlaku untukmu juga, Brother”, telak Akhtar.


“Tidak Bro, aku masih punya kesempatan untuk mendapatkannya. Selama janur kuning belum melengkung, jalanku menuju pelaminan bersamanya masih terbuka lebar.”


“Aku hanya masih harus menambah sabarku, memaksimalkan ikhtiyarku, dan semakin melangitkan do'a-do'aku, mengikuti alur dan menikmati setiap prosesnya."


"Memang sulit mencintai seseorang yang belum selesai mencintai seseorang di masa lalunya.”


“Berbeda denganmu, rasa yang kau miliki untuknya sudah salah. Berhentilah sebelum lebih jauh terjerumus pada cinta yang salah”, balas Ahsan.


Sejenak suasana hening, tapi kemudian……


Hahaha……mereka berdua tertawa, menertawakan perjalanan cinta mereka yang masih tak berujung sesuai ekspektasi.


Saling menatap, Akhtar dan Ahsan melempar senyum untuk saling menguatkan.


“Dewasa itu lucu ya! Dimana hati menangis tersedu, tapi bibir dipaksa untuk tersenyum lugu”, ucap Akhtar dan diangguki oleh Ahsan.


*Ya Rabb, jagalah hati ini dari berharap pada sesuatu yang tidak Engkau tuliskan untukku.*, bisik Akhtar dalam hatinya.


Mereka mengakhiri obrolan, Ahsan tampak buru-buru berjalan ingin segera meninggalkan kantin.


“Hey, mau kemana? sepertinya buru-buru sekali. Apa ada sesuatu yang urgent?, tanya Akhtar heran.


“Hhe….iya, ada sesuatu yang harus aku luruskan. Sorry ya aku buru-buru, sampai jumpa nanti malam”

__ADS_1


“Sukses buat acaranya”. Jawab Ahsan setengah berteriak karena ia mengatakannya sambil berlari ke arah aula.


Akhtar hanya melambaikan tangannya, menatap kepergian Ahsan yang semakin menjauh.


__ADS_2