
Sudah tiga hari Akhtar tidak pulang ke rumahnya di komplek yayasan. Dia terpaksa menginap di hotel. Pertemuannya dengan rekan bisnis dari luar negeri ternyata tidak cukup satu hari. Keberadaan mereka di sini tidak hanya untuk melakukan pertemuan dengan CEO baru dari Bina Insani Group tetapi juga untuk memantau persiapan pembangunan hotel barunya.
Perusahaan Bina Insani Grup saat ini tengah mengembangkan sayap bisnisnya ke bidang perhotelan. Hotel mewah yang akan dibangun ini tentunya terwujud atas kerja sama yang dijalin Akhtar dengan beberapa investor dari luar negeri. Hal ini jelas menambah kesibukan Akhtar akhir-akhir ini.
Bagaimana tidak, sebagai CEO baru yang terhitung masih seumur jagung Akhtar telah berhasil membuat terobosan baru dengan mengembangkan sayap bisnisnya di dunia perhotelan. Sebelumnya perusahaan itu hanya bergerak di bidang kesehatan dan properti.
Akhtar sendiri yang langsung turun tangan menangani proyek ini. Hal ini tentunya sebagai pembuktian kepada Sang Ayah bahwa kompetensi dan kredibilitasnya di bidang bisnis tidak perlu diragukan lagi.
Kesibukannya menangani proyek pembangunan hotel ini membuat pikirannya dari Shanum sedikit teralihkan. Akhtar bekerja sangat keras agar bisa segera dapat menyelesaikan proyek ini dan kembali ke yayasan.
Berkali-kali dia mencoba menghubungi Shanum, namun pesannya sejak awal masih bercentang satu. Dia pun menghubungi asistennya untuk mencari tahu tentang Shanum.
Informasi terakhir yang dia dapat Shanum berada di rumah dinasnya. Hal itu terlihat dari keadaan rumah dinas Shanum yang berpenghuni. Ghifar, sang asisten melaporkan hasil temuannya mengenai keberadaan orang di rumah dinas Shanum.
Mendengar itu Akhtar pun lega, setidaknya Shanum saat ini berada di yayasan pikir Akhtar. Sementara Raina, semenjak malam itu dia tidak pernah menghubungi Akhtar. Berdasarkan informasi yang disampaikan orang suruhannya ternyata Raina berada di luar kota selama beberapa hari ini entah ada urusan apa gadis itu, Akhtar tidak tahu dan tidak mau tahu tentang gadis itu.
Di pikirannya saat ini adalah Shanum, dia ingin segera kembali ke yayasan untuk menemui Shanum. Wanita yang beberapa hari ini kembali membuat jantungnya berdetak kencang. Akhtar benar-benar merasa frustasi saat mengetahui informasi tentang hilangnya Shanum. Rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya.
Tidak jauh berbeda dari Akhtar, Ahsan pun merasakan kegundahan yang luar biasa. Kegiatan seminar yang dijadwalkan hanya berlangsung dua hari ternyata mengalami perubahan jadwal kegiatan.
Ini adalah hari ketiga Ahsan berada di luar kota untuk mengikuti seminar tersebut. Rencana awal seminar akan di adakan di dua daerah di kota tersebut, berhubung banyak permintaan untuk melaksanakan seminar di setiap daerah. Maka waktu yang dibutuhkan pun bertambah.
Saat ini Ahsan tengah kesal karena belum mendapatkan informasi apapun tentang Shanum. Dia sendiri terus menghubungi Shanum dan mengiriminya pesan. Sayang sekali gawai Shanum masih belum aktif. Dia pun mencoba menghubungi Liani tapi teleponnya tidak pernah diangkat dan pesannya pun tidak pernah dibaca.
Sementara orang yang membuat gundah dua pria tampan dan mapan itu kini tengah asik bermain bersama anak-anak di tempat sang ibu mengajar. Sudah tiga hari Shanum berada di Bogor, dia menceritakan perihal pengunduran dirinya kepada keluarganya karena alasan merasa lelah selalu jauh dari mereka. Apalagi saat mendengar sang adik yang dibawa oleh suaminya membuat Shanum memiliki alasan lebih kuat untuk tinggal kembali di Bogor bersama keluarganya. Semenjak SMP Shanum memang sudah tidak tinggal bersama keluarganya, dia tinggal di asrama.
Walau masih dipenuhi rasa penasaran kedua orang tua Shanum memilih percaya dengan alasan kepulangan yang disampaikan putri sulung mereka. Mereka senang akhirnya Shanum kembali ke rumah.
Adik Shanum Farida yang baru saja menikah dibawa oleh suaminya. Dia harus meninggalkan ruman keluarganya karena suaminya sudah menyiapkan rumah untuk mereka tinggali. Berjarak sekitar tiga puluh menit perjalanan dari rumah kedua orang tuanya, Farida mengikuti keinginan suaminya yang sudah jelas sangat didukung oleh kedua orang tuanya.
'Setelah menikah memang sebaiknya tinggal terpisah dari orang tua agar proses pendewasaan selama berumah tangga benar-benar dirasakan oleh keduanya karena menikah itu ibadah dan belajar terlama' nasehat Shanum pada adik perempuannya.
Shanum bersyukur setelah kepergian adiknya dirinya bisa menggantikan untuk menemani kedua orang tua mereka. Fauzan adik bungsunya sudah jarang di rumah, sambil menunggu ajuan lamaran pekerjaannya di salah satu rumah sakit di Bandung, saat ini dia juga sedang bekerja di coffee shop milik temannya.
Mengingat Fauzan yang sedang mengajukan lamaran ke salah satu rumah sakit di Bandung Shanum pun teringat pada Suraya. Dia mengatakan kalau dia mengetahui jika adiknya sedang mengajukan lamaran kerja ke rumah sakit tempatnya bekerja. Itu artinya rumah sakit itu adalah rumah sakit milik keluarga Akhtar.
Shanum menarik napasnya panjang, dia sebenarnya sudah tidak ingin berhubungan dengan orang-orang yang membuat dirinya terlibat dalam lingkaran kerumitan hidup orang-orang kaya. Pengalamannya mengenal Akhtar dan Ahsan sudah cukup memberinya banyak pelajaran. Tapi tidak mungkin jika Shanum melarang adiknya jika nanti dia diterima.
Semenjak datang ke Bogor Shanum langsung mengganti nomor teleponnya. Dia benar-benar ingin menghilangkan jejak tentang orang-orang di masa lalunya.
"Akhirnya aku berada di fase lost contact dengan seseorang yang dulu selalu bikin aku tertawa", gumam Shanum. Pikirannya menerawang pada kebersamaannya dengan Ahsan.
Sejak Shanum mengenal Ahsan dia menyadari jika Ahsan memang selalu membuatnya tertawa. Ahsan selalu ada untuknya, walaupun Shanum sudah berusaha menghindarinya tapi Ahsan tidak menyerah.
Ahsan saat ini tengah berada dalam perjalanan pulang menuju Bandung. Hatinya berbunga-bunga membayangkan pertemuannya dengan Shanum nanti. Jam segini biasanya Shanum masih berada di sekolah. Dia berniat akan langsung menuju sekolah tempat Shanum mengajar.
Ahsan berkali-kali menghubungi Shanum, tapi tidak juga terhubung. Pesan yang dia kirim sejak beberapa hari yang lalu pun masih bercentang satu warna abu yang menandakan pesan belum terkirim.
Ahsan frustasi sendiri, selama perjalanan dia tidak bisa duduk dengan tenang. Pikirannya tertuju pada Shanum. Kekhawatiran kembali menyelimuti hatinya. Takut kejadian serupa yang pernah menimpa Shanum beberapa hari yang lalu kembali terulang.
__ADS_1
Dia pun mencoba menghubungi Liani sahabat dekat Shanum, terhubung tetapi tidak kunjung diangkat. Ahsan semakin kesal, ditambah Suraya yang terus menghubunginya membuat dia semakin geram.
Ahsan mengabaikan panggilan Suraya, dia sudah mengetahui jika ternyata dalang dibalik menghilangnya Shanum hari itu adalah Suraya. Tadinya Ahsan akan langsung membuat perhitungan dengan Suraya, tapi melihat Shanum kembali dalam keadaan baik-baik saja emosinya sedikit mereda. Rencana menemui Suraya pun ditunda karena harus memperpanjang kegiatan seminarnya.
Tepat pukul dua belas siang Ahsan sampai di komplek yayasan. Tempat pertama yang ditujunya adalah komplek pendidikan SMA Bina Insani. Adzan Dzuhur berkumandang tepat saat Ahsan sampai gerbang sekolah. Dia pun bergegas menuju mesjid sekolah untuk melaksanakan shalat Dzuhur.
Ahsan mengedarkan pandangannya di sekitar mesjid. Selepas shalat berjamaah dan ritual dzikirnya, dia keluar dan duduk di teras mesjid. Pandangannya terus tertuju pada pintu keluar Akhwat berharap Shanum segera muncul. Namun setelah dua puluh menit berlalu dia tak kunjung menemukan Shanum.
Ahsan memutuskan untuk ke kantin, saatnya jam makan siang. Ahsan mengira sepertinya Shanum sudah berada di kantin untuk makan siang.
Sesampainya di kantin Ahsan kembali mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Shanum. Di meja yang biasa ditempati Shanum, Ahsan hanya melihat Liani dan beberapa guru lainnya.
Dengan semangat empat lima Ahsan berjalan menuju meja tempat Liani berada. Liani yang melihat kedatangan Ahsan terkejut. Dia sudah mengira hal ini akan terjadi. Liani memutar otak mempersiapkan jawaban dari berbagai pertanyaan tentang Shanum yang mungkin akan Ahsan lontarkan padanya.
"Assalamu'alaikum" sapa Ahsan saat sudah berada di dekat meja Liani dan kawan-kawannya.
"Wa'alaikumsalam" semua serempak menjawab.
"Pak Ahsan!" seru Liani gugup, dia sedikit menganggukkan kepala saat bertatapan dengan Ahsan.
"Shanum mana?" tanya Ahsan to the point.
"Hah?" Liani gelagapan saat ditanya tentang keberadaan Shanum di hadapan teman-temannya.
Dia memandangi teman-temannya satu persatu seolah mencari saran dia harus menjawab apa. Sontak semua orang yang berada di meja itu terdiam. Mereka saling beradu tatap dan semua berakhir dengan menatap ke arah Liani.
"Sebaiknya sampaikan yang sebenarnya" bisik Bu Rahma di telinga Liani. Mereka tahu tentang kedekatan Ahsan dan Shanum. Semua orang pun mengangguk setuju. Liani lega keputusannya untuk mengatakan keadaan sebenarnya mendapat dukungan teman-temannya.
"Pak, bisa kita bicara di meja lain?" tanya Liani pada Ahsan.
" Oke, kamu ikut aku." jawab Ahsan, dia berjalan mendahului Liani.
Liani menarik napasnya panjang dia berdiri dari kursinya dan berjalan mengikuti Ahsan. Teman-temannya pun menyemangati Liani.
Liani sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Ahsan. Ahsan membawanya ke teras belakang kantin. Dia memberitahu petugas kantin jika dia akan memakai area itu karena ada hal penting.
"Ada apa?" Ahsan memulai pembicaraan dengan nada serius.
Melihat reaksi Liani saat dirinya menanyakan keberadaan Shanum, Ahsan sudah mengira jika sudah terjadi sesuatu.
"Saya hanya akan menyampaikan bahwa Shanum sudah tidak ada di sini, dia sudah bukan menjadi bagian dari yayasan ini. Beberapa hari yang lalu dia resmi mengundurkan diri" Liani menyampaikan informasi tentang Shanum dengan lantang kepada Ahsan. Dia berharap Ahsan cukup puas dengan apa yang disampaikannya.
Duaarrrrr......
Serasa ada dentuman keras yang memekikan telinga Ahsan saat mendengar bahwa Shanum mengundurkan diri.
"Apa? Shanum mengundurkan diri?" Ahsan mengulangi pernyataan Liani dengan lirih setelah beberapa detik dia dibuat diam oleh berita yang didengarnya.
"Iya Pak, dia memutuskan untuk resign karena suatu alasan. Pihak sekolah juga tidak bisa mencegah karena alasan Shanum dapat diterima oleh pihak yayasan", Liani kembali menjelaskan.
__ADS_1
"Memangnya apa alasan pengunduran diri Shanum? Aku rasa tidak semudah itu untuk mengundurkan diri dari yayasan ini." Ahsan bertanya penuh selidik.
Setahu Ahsan tidak mudah untuk mengundurkan diri begitu saja dari yayasan. Harus ada prosedur yang ditempuh oleh yang bersangkutan, dan hal itu tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi kenapa Shanum bisa semudah itu mendapat persetujuan pengunduran dirinya.
"Mengenai hal itu, Bapak sebaiknya langsung mengetahuinya dari bagian kepegawaian di yayasan, atau....Bapak bisa bertanya langsung kepada Kepala Sekolah" Liani berusaha membatasi informasi yang akan dia sampaikan.
Dia takut tidak bisa menjaga amanah Shanum tentang alasan sebenar pengunduran dirinya yang sebenarnya.
Tanpa basa-basi Ahsan meninggalkan Liani begitu saja. Dia bergegas keluar dari area kantin. Tujuannya saat ini adalah ruang kepala sekolah SMA Bina Insani tempat Shanum mengabdi.
Ahsan memeriksa kontak di gawainya, dia mencari nama seseorang yang akan ditujunya.
"Assalamu'alaikum" sapa Ahsan saat teleponnya terhubung.
"..."
"Dimana posisimu sekarang?
"..."
"Oke, aku akan segera ke sana, jangan dulu kemana-mana. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan. Assalamu'alaikum." Ahsan menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari orang yang diteleponnya.
Ahsan menelepon Malik, dia adalah sahabatnya yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di SMA Bina Insani.
Tok..tok..tok...
"Assalamu'alaikum" ucapnya saat memasuki ruang kerja Malik, kepala sekolah SMA Bina Insani tempat Shanum mengajar.
"Wa'alaikumsalam" jawab Malik. Dia langsung menyambut kedatangan sahabatnya itu dengan ramah.
Mereka berdua duduk di sofa yang berada di ruangan Malik.
"Kenapa kamu mengizinkan Shanum mengundurkan diri?" Ahsan langsung menodong Malik dengan pertanyaan inti yang ingin dia tanyakan.
"Shanum?, Bu Shanum?" Malik balik bertanya orang yang dimaksud Ahsan
"Iya, kenapa kamu mengizinkan dia mengundurkan diri?" Ahsan kembali mengulangi pertanyaannya.
"Eummh...karena dia memiliki alasan yang bisa diterima yayasan, aku hanya perantara dalam hal ini. Aku pun sudah membujuk Bu Shanum agar mengurungkan niatnya dan mencabut kembali surat pengunduran dirinya. Tetapi dia beralasan bahwa keputusan itu sudah dipertimbangkannya sejak lama. Aku pun tak bisa menolak dan mengajukannya ke pihak yayasan."
"Dan ternyata kurang dari dua jam surat penyetujuan pengunduran diri Bu Shanum diterima dan disetujui. Aku juga enggak tahu tumben-tumbenan diproses cepet, biasanya paling cepat satu minggu surat persetujuan itu keluar. Dalam hal ini aku benar-benar tidak berwenang, aku tidak memiliki kapasitas untuk itu, keputusan akhir murni ada di bagian kepegawaian yayasan." Malik menjelaskan panjang lebar kepada Ahsan.
"Memangnya apa alasan pengunduran dirinya?" tanya Ahsan penasaran.
Malik beranjak dari tempat duduknya, dia mengambil sebuah map dan menyerahkannya kepada Ahsan.
Tidak menunggu lama Ahsan langsung menerima map itu dan membukanya.
Alasan Pengunduran Diri:
__ADS_1
Akan menikah dan mengikuti suami.
Deg....Ahsan merasa ada sesuatu yang menghantam hatinya.