
"Sayang, kamu beneran gak ingat siapa dia?" tanya Akhtar setelah mereka sampai di halaman rumah sang ibu.
"Tidak A, aku gak ingat sama sekali. Kalaupun kami satu sekolah dulu aku rasa karena siswa yang banyak mungkin membuatku lupa. Apalagi kami tidak pernah bertemu setelah selesai SMA, tadi dia bilang gitu kan?" jawab Shanum masuk akal.
"Serius kamu gak ingat? tapi tadi dia menyebutkan segudang prestasi kamu dengan fasih lho Yang" Akhtar masih berusaha menyebutkan fakta-fakta dari apa yang ditemukannya beberapa saat yang lalu dengan wajah yang masih kurang bersahabat.
"Aa, masa SMA ku sangat indah karena aku menyibukkan diri untuk meraih prestasi-prestasi itu tanpa ada hal lain yang menjadi prioritasku, apalagi tentang percintaan karena di hatiku sudah terpatri rapi sebuah nama sejak aku pertama kali mengenal cinta"
"Kalaupun dia pernah hadir dalam hidupku, itu adalah masa lalu dan masa lalu tidak akan pernah bisa kita tapaki kembali. Prioritasku saat ini adalah menata masa depan, dan Aa adalah masa depanku. Bersamamu akan ku jalani hidup lebih baik menuju masa yang lebih indah"
"Aa tahu kenapa Allah menciptakan mata kita di depan?" Akhtar menggelengkan kepala menatap sang wanita pujaan hati yang kini telah menjadi istrinya dan tengah mengandung anaknya.
"Karena Allah menyuruh kita untuk melihat masa yang akan kita jelang, yaitu masa depan kita. Sesekali bolehlah kita menengok ke belakang untuk memastikan barangkali ada pelajaran yang bisa kita ambil uuntuk menata masa depan"
Jawaban Shanum sukses membuat senyuman terbit di bibir Akhtar. Wajahnya mulai kembali menampilkan senyum yang membuatnya terlihat semakin tampan.
"Nah gitu dong, senyum, kan makin ganteng" kelakar Shanum menggoda suaminya.
"Kamu yah, selalu mudah membuat hatiku kembali berbunga" jawab Akhtar tak kalah romantis, dia bahkan melayangkan satu kecupan di pipi Shanum yang saat ini sedang berdampingan dengannya.
"Eheumm" deheman Bu Fatimah sukses menghentikan aksi Akhtar yang masih berusaha menggoda Shanum dengan ingin menciumnya.
"Ibu" Akhtar menjadi salah tingkah karena ternyata sang ibu sudah berdiri tidak jauh dari tempat duduk mereka.
"Apa? mau tanya sejak kapan ibu berdiri di sini?" tanya bu Fatimah dengan mengulum senyumnya.
"Hehe....memangnya sejak kapan ibu berdiri di situ?" tanya Akhtar penasaran.
"Sejak kalian memasuki gerbang rumah, berdebat, beromantis-romantis dengan kata-kata dan sampai kamu yang agresif menciumi istrimu, tidak tahu tempat" cibir Bu Fatimah panjang lebar membuat Akhtar semakin salah tingkah, begitupun Shanum yang tampak semakin tersipu wajahnya karena malu ketahuan oleh sang mertua.
"Maafkan kami, Bu" ucap Shanum lirih membuat Akhtar mengalihkan pandangannya ke arah istrinya itu.
"Sayang kenapa minta maaf, ibu kan cuma bercanda, iya kan Bu?" Akhtar mendekap Shanum ke dalam pelukannya.
Bu Fatimah yang melihat reaksi menantu kesayangannya seperti itu jadi kaget sendiri.
"Sayang, maaf Ibu gak bermaksud melarang. Justru ibu senang melihat keromantisan kalian. Ibu bahagia melihat kalian seperti ini" jelas bu Fatimah mengklarifikasi ucapan sebelumnya. Bu Fatimah pun mendekat dan beralih mendekap bahu Shanum.
"Aku tahu Ibu, aku cuman mau Ibu marahin Aa aja, dia emang suka seenaknya sendiri suka gak tahu tempat hehe..." jawab Shanum dengan kekehan.
"Oh gitu ya?" sahut Bu Fatimah
"Tapi kamu suka kan sayang?" Akhtar malah semakin erat merangkul leher Shanum, bersiap kembali menghujani wajah Shanum dengan ciumannya.
"Aa...." pekik Shanum terus berusaha menghindar.
"Kalau masalah itu ibu sendiri gak bisa mencegah Neng, sepertinya titisan ayahnya semuanya tumpah ke suamimu" jelas Bu Fatimah
"Maksud ibu?" tanya Shanum penasaran, Akhtar pun perlahan melonggarkan pelukannya tertarik dengan jawaban sang ibu.
__ADS_1
"Setelah menikah, ayah suamimu itu adalah laki-laki terromantis yang seperti baru ibu kenal. Sebelumnya dia seperti tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada ibu ataupun wanita lain. Acuh, datar irit bicara tapi setelah menikah dia berubah seratus delapan puluh derajat menjadi suami yang romantis, perhatian dan pengertian"
"Dia tidak segan-segan menunjukkan cinta, kasih sayang dan perhatiannya dimanapun dan dalam keadaan apapun pada ibu. Tidak peduli ada siapa saja, di matanya sepertinya hanya ibu yang dia lihat. Mungkin itu yang menyebabkan Sopia iri hingga akhirnya terobsesi untuk memiliki ayah suamimu"
Bu Fatimah mengatakan semua itu dengan mata yang berbinar, namun binar mata itu berubah menjadi sendu ketika kalimat terakhir dia ucapkan. Bu Fatimah membuang nafasnya kasar seolah membuang sesuatu yang tak ingin ada di pikirannya.
Shanum menyimak dengan baik apa yang dikatakan ibu mertuanya itu. Dia mengerti mengapa sampai saat ini ibu mertuanya itu lebih memilih hidup sendiri. Sepertinya nama ayah mertuanya masih menjadi raja penguasa hatinya.
Berbeda dengan Shanum, mendengar penuturan sang ibu Akhtar justru sedang berpikir inikah saatnya dia mengatakan kebenaran tentang keadaan ayahnya saat ini atau.....
"Bu, ada yang mau aku sampaikan tentang ayah" Akhtar berkata hati-hati, dia tidak ingin sang ibu merasakan ketidaknyamanan dari pembicaraan ini.
Bu Fatimah dan Shanum beralih menatapnya, menunggu kelanjutan cerita yang akan disampaikan Akhtar.
"Boleh, Bu?" tanya Akhtar memastikan kembali dan ternyata dijawab anggukan kepala oleh Bu Fatimah.
Akhtar pun menceritakan semua tentang ayahnya berdasarkan informasi yang dia terima dari sang ayah langsung maupun dari Ahsan dan Ghifar yang selama ini dia minta untuk mengawasi keadaan sang ayah. Akhtar pun menceritakan jika Yasmin saat ini tengah dalam pencarian karena berusaha mencari ayah kandungnya sendiri. Dia begitu terpukul setelah mengetahui jika dirinya bukan anak kandung ayah Akhtar.
Akhtar pun menceritakan jika saat ini ayahnya sedang menunggu hasil tes DNA dengan Naura putri kedua mereka. Pak Furqan hanya ingin memastikan sejauh mana pengkhianatan yang dilakukan Bu Sopia. Sementara Bu Sopia saat ini tengah berada di rumah sakit, beliau harus dirawat karena beberapa hari yang lalu ditemukan pingsan oleh salah satu asisten rumah tangganya. Sudah hampir satu tahun Pak Furqan dan Bu Sopia pisah rumah.
Bu Fatimah syok mendengar kenyataan ini, bahkan Shanum pun tak kalah kaget mendengar apa yang baru saja disampaikan suaminya. Dia tidak menyangka Bu Sopia bisa melakukan semua itu.
Suasana hening, mereka bertiga asik dengan pikirannya masing-masing. Akhtar dan Shanum saling pandang, menunggu reaksi bu fatimah yang masih anteng diam dengan tatapan yang menerawang. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Bu" Shanum mendekati ibu mertuanya, dia memeluk bahu bu Fatimah berusaha memberikan dukungan.
"Sudahlah, itu adalah urusan ayahmu. Ibu cukup tahu saja, antara ibu dan ayahmu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi kecuali itu menyangkut kamu. Kalau kamu mau membantu ayahmu menyelesaikan masalahnya, bantulah karena itu kewajibanmu sebagai anaknya. Fokus Ibu saat ini adalah menata masa depan, di usia ibu yang sudah senja ini ibu ingin bahagia dan memiliki kenangan indah bersama kalian. Anak, menantu dan cucu-cucu Ibu. Semoga Allah masih memberikan ibu waktu untuk merasakan itu semua" Bu Fatimah berkata dengan bijak, dia sungguh sudah menepikan semua rasa sakit dan kecewanya kepada mantan suami dan mantan sahabatnya itu.
"Aku tahu ibuku adalah wanita hebat" Akhtar beranjak dari tempat duduknya, mendekati dua wanita yang tengah saling merangkul. Shanum mengerti, dia mengurai rangkulannya dan memberi ruang pada suami dan ibu mertuanya.
Akhtar pun memeluk sang ibu begitu erat, dibalas oleh Bu Fatimah tak kalah erat. Shanum bahagia melihatnya, suaminya begitu menyayangi ibunya. Rasa bangga menyeruak di dadanya, memiliki lelaki yang sangat mencintainya dan juga sangat menyayangi ibunya.
"Terima kasih Nak, dari dulu kamu adalah sumber semangat dan kebahagiaan ibu" bu Fatimah berkata lirih dalam pelukan sang putra.
Perlahan Akhtar mengurai pelukannya, dia menoleh pada sang istri yang duduk tak jauh dari mereka berpelukan.
"Sayang" Akhtar memanggil Shanum dengan lembut
"Ya?" jawab Shanum dengan senyum tetap merekah di bibirnya turut bahagia dengan kedekatan ibu dan anak itu.
"Kemarilah!" Shanum pun berdiri pelan, mengingat perutnya yang sudah menginjak sembilan bulan membuatnya agak kesulitan ketika hendak berdiri maupun duduk.
"Kamu juga wanita hebat yang aku miliki" Akhtar membuka lengan kirinya memberi kode pada Shanum agar memeluknya dan dengan senang hati Shanum berhambur ke dalam pelukan suaminya.
Derrttt.....derrrtt.......derrrttt....
Getaran gawai di saku cardigan Shanum membuyarkan semuanya. Bu Fatimah melepas pelukannya.
"Terima kasih, kalian adalah harta ibu yang paling berharga" ucap Bu Fatimah penuh haru, dan dibalas dengan anggukan dan senyum bahagia oleh Akhtar dan Shanum, tidak lupa calon nenek itu pun mengucap perut sang menantu dan mengecupnya.
__ADS_1
"Angkatlah, sepertinya ada yang menghubungimu Neng, ibu akan siapkan makanan untuk kita" ucap bu Fatimah sambil berlalu ke dapur.
Shanum pun merogoh saku cardiagannya, dia melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Liani sahabatnya.
"Siapa sayang?" Akhtar membimbing Shanum agar duduk nyaman di kursi, Shanum pun menurut.
"Liani A, ada tiga panggilan masuk dari Liani" jawab Shanum sejenak mengalihkan pandangannya dari layar gawainya, menatap.sang suami dan menjawab pertanyaannya.
"Kalau begitu coba hubungi lagi, siapa tahu ada yang penting" usul Akhtar dan dijawab anggukan kepala oleh Shanum.
"Assalamu'alaikum" setelah panggilan ketiga barulan panggilannya pada Liani terhubung.
"wa'alaikumsalam, Neng" jawab Liani di sebrang telepon sana.
"Maaf tadi aku sedang ngobrol sama ibu, kebetulan aku sekarang lagi di rumah ibu"
"Ibu?..." Liani menjeda ucapannya karena langsung dijawab oleh Shanum.
"Ibu Fatimah, kemarin kita sengaja datang dan nginep di sini" jelas Shanum.
"Kamu apa kabar?" Shanum mengalihkan pembicaraan dia merubah posisi duduknya menjadi bersandar agar lebih nyaman. Akhtar sang suami siaga tentu tidak membiarkannya dia baru saja dari dalam kamar mengambil bantal agat sang istri bisa bersandar dengan nyaman.
"Terima kasih, sayang!" ucap Shanum pelan setelah Akhtar membantunya bersandar dengan nyaman.
"Aku sedang tidak baik-baik saja Num, banyak hal ingin aku ceritakan ke kamu tapi tidak melalui telepon. Saat ini ada yang harus aku selesaikan dulu di yayasan dan setelah ini selesai aku akan segera datang ke tempatmu. Intinya, aku menyerah Num. Mulai sekarang aku akan menata masa depanku sendiri" Liani berkata dengan nada suara yang tak biasa, Shanum tahu pasti telah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. Apapun itu Shanum berharap Liani dapat melaluinya dengan baik.
Malam menjelang, Akhtar dan Shanum masih berada di rumah Bu Fatimah. Mereka berdua sepakat ba'da subuh baru akan kembali ke kota untuk memulai aktifitas.
Seperti biasa rurinitas sebelum tidur mereka berdua adalah sesi saling mendengarkan. Walaupun sebenarnya Akhtar lebih sering menjadi pendengar. Dengan senang hati dia selalu menyediakan dua telinga untuk mendengarkan keseharian yang telah dilalui sang istri, begitupun sebaliknya.
"Sayang, Ghifar menelepon" Kali ini Akhtar yang memulai pembicaraan menjelang tidur. Bu Fatimah sudah lebih dahulu memasuki kamarnya untuk beristirahat setelah sebelumnya mereka makan malam dan menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga.
"Kenapa Ghifar A?" tanya Shanum antusias.
"Dia minta izin mendekati adik iparmu Hasna" jawab Akhtar to the point membuat Shanum terhenyak kaget dengan informasi yang baru saja disampaikan suaminya itu.
"Maksudnya?" Shanum kembali bertanya meminta penjelasan daei pernyataan sang suami.
"Hasna kan sudah punya tunangan A, Bima" lanjut Shanum.
"Heumm, Ghifar bilang dia bukan pria yang baik . Banyak hal negatif yang dilakukan Bima di belakang Hasna, Ghifar tidak mau Hasna hanya menjadi korban. Apalagi gadis seperti Hasna adalah mangsa empuk untuk Bima" jelas Akhtar sesuai kabar yang diterimanya dari sahabat sekaligus asistennya itu.
"Terus sekarang Mas Ghifar mau ngapain? mau merebut Hasna dari Bima gitu? atau ....." pertanyaan Shanum terjeda karena sang suami lebih dulu menjelaskan maksud Ghifar sebenarnya.
"Ghifar hanya ingin menjaga Hasna, sebagai orang yang dekat dengan kita dia turut peduli pada adik iparmu itu. Kalau pun pada akhirnya Hasna dan Bima tetap berjodoh tak masalah untuknya. Katanya, dia hanya minta izin untuk memaksimalkan ikhtiyar meraih masa depan sesuai harapannya tanpa melebihi batas-batas yang sudah jelas ada ketentuannya" Shanum hanya manggut-manggut mengerti dengan penjelasan sang suami.
"Sudahlah, jangan pikirkan orang lain. Sekarang lebih baik kita bersiap-siap" seru Akhtar
"Bersiap untuk apa?" tanya Shanum yang tidak mengerti dengan kode sang suami.
__ADS_1
"Katakan bersiaplah pada debay kalau Yanda mau menjenguknya" jawab Akhtar dengan senyum miringnya.
Malam panjang dua insan yang diliputi kebahagiaan itu pun baru saja dimulai.