
Suraya mendongakkan wajahnya dia melihat satu persatu orang yang sedang melihatnya. Tatapannya berakhir pada Ahsan.
"Baiklah....." ucapannya terjeda, dia menatap Ahsan semakin dalam.
"Jika itu yang kamu inginkan, By. Siap-siap saja, itu hanya akan menjadi halusinasimu", ucapnya tegas.
"Raya!...." sentak Ahsan. Suasana kembali mencekam.
"Ehheumm.." Shanum berdehem memecah keheningan.
"Kak Ahsan, mohon izin aku untuk bicara", ucap Shanum dengan sopan dia meminta izin untuk berbicara kepada Ahsan untuk mencairkan suasana. Ahsan hanya menatapnya sendu seolah tahu apa yang akan Shanum katakan.
"Kak Suraya, terima kasih sudah datang dan memperjuangkan cinta Kakak untuk Kak Ahsan. Aku sangat mengapresiasi.", Shanum mengatakannya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Kak Suraya, aku mohon izin untuk berbicara empat mata dengan Kak Ahsan." Shanum menatap Suraya memberikan tatapan yang menenangkan.
Suraya mengangguk dan berlalu keluar, diikuti Liani dan Akhtar. Saat sudah berada di ambang pintu, dia berhenti. Membalikkan tubuhnya ke arah Ahsan dan berjalan mendekatinya, dia mendekatkan wajahnya ke telinga Ahsan.
"Gue harap kali ini lu gak jadi pria brengsek, Bro!" bisiknya di telinga Ahsan.
Kemudian Akhtar berlalu, sekilas menatap Shanum dan ternyata Shanum pun sedang menatapnya. Pandangan mereka bertemu, perasaan bersalah semakin menyeruak di hatinya saat menatap Shanum. Andai dulu dia lebih teliti, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
Shanum kembali menundukkan wajahnya, tak kuasa jika terlalu lama harus beradu tatap dengan Akhtar.
"Shanum..." ucap Ahsan. Shanum mendongak menatap Ahsan.
"Kakak, aku mengerti keadaan Kakak. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, dia datang dan pergi dengan sendirinya. Tanpa kita mampu menolak atau menahannya. Namun kadang kita harus mampu menentukan sikap, mau dibawa kemana setiap rasa yang kita miliki itu agar berada di tempat yang tepat."
Shanum menghela napas menjeda ucapannya, Ahsan masih setia mendengarkan.
"Sebenarnya, banyak yang ingin diucapkan tapi terasa sulit untuk aku ungkapkan. Intinya, aku pamit, maaf jika aku memilih mundur."
"Shanum, kenapa kamu berubah?" sela Ahsan dengan tatapan tajam, wajahnya memerah menahan marah saat mendengar Shanum berkata akan mundur.
"Jangan Kakak bertanya padaku kenapa aku berubah, jika tahu kalau Kakak yang membuatku berubah" jawab Shanum tegas.
"Kenapa Kakak tidak jujur jika pernah memiliki kisah masa lalu sepelik ini? Maaf jika kali ini aku ikut intervensi. Seandainya dari awal Kakak jujur mungkin aku tidak akan memberi harapan itu. Aku tahu Kak rasanya kehilangan orang yang sangat kita nantikan. Aku juga tahu rasanya ditinggalkan tanpa kabar. Aku tahu dalam hal ini Suraya salah karena pergi tanpa pamit dan tanpa kabar. Tapi kesalahannya masih bisa diperbaiki, berikan dia kesempatan untuk menebus semuanya untuk mengembalikan cinta pada tempatnya."
__ADS_1
"Cih..." Ahsan mendecih mendengar penuturan Shanum.
"Lalu bagaimana dengan perasaanku saat ini? kamu tidak memperhitungkannya? Aku sudah jatuh cinta pada wanita lain selain Suraya, dan kamu harus tahu jika jatuh cinta itu bukanlah hal yang mudah untukku. Sekarang aku hanya ingin memperjuangkan kebahagiaanku, dan bahagiaku adalah bersamamu Shanum. Tolong kamu ingat itu, jangan hanya terus memikirkan perasaan orang lain sementara aku dan kamu sendiri remuk redam karenanya." Ahsan berkata dengan intonasi yang meninggi. Suasana hening sejenak.
"Aku tahu, terima kasih untuk cinta yang begitu besar untukku dan maaf aku tidak bisa membalasnya. Entah waktu yang belum tepat atau aku yang salah tempat." jawab Shanum lirih.
"Shanum, ayolah....kamu jangan seperti ini, mari kita berjuang bersama. Jangan hanya karena dikecewakan satu orang kamu menutup hati ke semua orang. Aku tahu, orang yang selama ini kamu tunggu adalah Akhtar. Sepupuku itu memang manusia bodoh yang sudah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu. Dan aku ingin menjadi obat untuk setiap luka yang sudah dia torehkan di hatimu. Aku tidak peduli jika hanya menjadi pelarian untukmu." Ahsan berbicara dengan sangat lantang. Dia tidak menyadari jika tiga orang yang keluar dari ruangan ini berada di teras rumah dan mendengar semua perkataannya.
Degg ....Shanum terkejut dengan apa yang Ahsan katakan barusan, dia tidak menyangka Ahsan mengetahuinya.
"Kamu tidak perlu kaget dan tidak perlu bertanya dari mana aku mengetahui semuanya. Satu yang harus kamu ketahui, aku sangat mencintaimu dan sampai kapanpun niatku hanya ingin bersamamu dan....."
"Bukan satu orang Kak, tapi dua orang." bantah Shanum
Akhtar mengerjap, menghentikan tiba-tiba ucapannya, tidak menyangka Shanum akan menyelanya seperti itu.
"Dan aku tidak bisa jika harus menjadi orang ketiga yang terlibat dalam sebuah hubungan. Walau bagaimanapun Kak Suraya lebih pantas menjadi pendamping Kakak. Maaf, aku tidak bisa memperjuangkan apapun sesuai dengan apa yang Kakak harapkan. Mumpung kita belum terlalu jauh melangkah, mari kita akhiri semua ini. Pergilah dengan kebahagiaanmu, aku akan berusaha membiasakan diri." ucapnya lirih.
Ahsan kehabisan kata-kata, dia tahu Shanum akan selalu punya alasan untuk mengelak, jika tentang urusan kata-kata dan menyembunyikan perasaan dia memang jagonya.
"Kakak...." Shanum memanggil Ahsan dengan lembut.
"Sekuat apapun digenggam jika bukan takdir kita pasti akan lepas juga, jadi mengikhlaskan lebih baik daripada tersakiti", Shanum berbicara lemah lembut berharap Ahsan lebih bisa menerima keputusannya.
"Sampai kapan kamu akan begini?" tanya Ahsan
"Maksud Kakak?"
"Sampai kapan kamu akan terus merelakan orang yang mencintai kamu bersama orang lain, dulu Akhtar dan sekarang aku. Sampai kapan kamu akan terus mengalah dan terus tersakiti?"
"Kakak, setiap orang pasti ada jodohnya, seperti penjual pasti ada pembelinya. Begitupun usaha pasti akan ada hasilnya. Sampai saat ini Allah masih menghendaki aku untuk terus berusaha dan aku akan terus berusaha memperbaiki diri agar pada saatnya tiba aku layak menjadi pendamping seseorang yang tepat" Shanum menjawab dengan tenang, senyum tipis terbit dari bibirnya saat mengatakan itu.
"Mari kita saling mendo'akan. Semoga kita jatuh cinta dengan cara yang baik, berjodoh dengan orang yang baik, menikah dengan niat yang baik dan berrumah tangga dengan tujuan yang baik. Agar kebahagiaan selalu menghampiri kita."
"Kenapa lagi-lagi aku harus kehilangan wanita yang sangat aku cintai, Num?" tanya Ahsan dengan suara parau.
"Benarkah kali ini aku akan kehilangan kamu? ujian ini terlalu berat untukku Num, berat."
__ADS_1
"Kakak akan mendapatkan wanita yang tepat, dia sudah kembali, dia juga wanita yang dulu sangat Kakak cintai. Aku tahu bagaimana Kakak begitu mengistimewakan Suraya. Percayalah Kak, ujian yang datang dari Allah itu untuk menguatkan. Termasuk ujian perpisahan. Aku yakin setelah ini cinta kalian akan semakin kuat.." ucap Shanum tulus.
"Shanum Najua Azzahra...!" sentak Ahsan
"Kakak...", lirih Shanum kemudian menundukkan wajahnya, dia kaget karena Ahsan seperti membentaknya.
Ahsan sadar, dia berkata terlalu keras.
"Ma...af Num, maaf..bukan maksudku membentak kamu. Aku cuma mau kamu berhenti memikirkan orang lain. Kapan kamu akan memikirkan kebahagiaanmu sendiri, Num? Aku tahu adikmu akan segera menikah dan Ibumu sebenarnya menginginkan kamu yang lebih dulu menikah." Ahsan kembali mengatakan fakta yang Shanum sembunyikan, dia pikir itu bukanlah hal yang harus diketahui oleh orang lain.
"Kakak?..."
"Apa? kamu mau bertanya darimana aku tahu? gak perlu, semua tentang kamu aku tahu. Jadi biarkan aku menjadi bagian dari hidupmu dan akan membersamaimu menjalani semuanya, hatiku rasanya sakit melihat kamu menghadapi semua masalah hidupmu sendiri, Num." Pinta Ahsan memelas.
"Cukup Kak, semuanya sudah aku jelaskan. Mari kita akhiri semuanya dengan baik-baik. Terima kasih sudah menjagaku dari segala bentuk kekhawatiran, terima kasih sudah setia menemani dalam perjuangan hidupku, terima kasih sudah berusaha memberikan yang terbaik"
"Aku tahu selama ini Kakak yang selalu membantuku dalam berbagai kesulitan. Aku tahu mungkin tidak ada yang lebih baik dari Kakak dalam mencintaiku. Berterima kasih, hanya itu yang bisa aku lakukan, semoga Allah membalas semua kebaikan Kakak."
"Kita mengawalinya dengan baik dan aku pun ingin mengakhirinya dengan baik pula, mari kita kembali ke jalan masing-masing. Aku melanjutkan perjalananku dan Kakak melanjutkan perjalanan Kakak."
"Itu keputusanku, selanjutnya selamat berbahagia dengan Suraya, do'aku menyertai." pungkas Shanum mengakhiri percakapannya dengan Ahsan.
Dia beranjak dari tempat duduknya, membuka kembali pintu rumah dinasnya yang tadi ditutup oleh Akhtar orang yang terakhir keluar dari rumah itu untuk membiarkan mereka berdua berbicara.
Di depan pintu, Liani sudah membentangkan tangannya untuk memeluk Shanum. Shanum hanya menggelangkan kepala dengan senyum merekah di bibirnya namun tak urung diapun menerima pelukan Shanum.
Akhtar dan Suraya pun melihat adegan itu.
"Kamu tidak akan berubah pikiran?" bisik Akhtar di dekat Suraya.
"Apa maksudmu?"
"Ckk.." Akhtar berdecak.
"Jika maksudmu aku yang akan mundur, kamu salah. Ini adalah permulaan, jika Shanum bisa memegang janjinya untuk benar-benar melepas Ahsan maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi jika sebaliknya, lihat saja apa yang akan terjadi."
"Suraya, jangan macam-macam kamu!", pekik Akhtar namun masih dengan suara yang cukup pelan. Suraya hanya menampilkan senyum miringnya.
__ADS_1