
Shanum menggeliat, dia merasakan gangguan di tidur siangnya kali ini.
"Eumhh..." lenguh Shanum saat merasakan tangan seseorang menggenggam dua aset berharganya. Dia tahu Akhtar sedang menyalurkan kerinduannya karena dua hari harus pergi ke Bandung.
"Sudah pulang?" tanya Shanum dengan suara serak khas bangun tidur. Dia berusaha melepas genggaman tangan suaminya agar bisa bangun.
"Sebentar saja seperti ini, aku kangen" ucap Akhtar, dia enggan melepaskan genggaman tangannya dan semakin menyusupkan wajahnya ke tengkuk Shanum.
Shanum pun menghentikan pergerakannya, dia membiarkan suaminya melakukan apa yang diinginkannya. Melepas kerinduan karena dua hari harus berjauhan. Akhtar terpaksa harus pergi ke Bandung karena ada beberapa hal yang harus diselesaikannya terkait usaha furniturenya, Akhtar kembali membuka mebel cabang baru di Bandung untuk kedua kalinya.
"Aku kangen, aku gak mau jauh dari kamu, aku mau terus sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu" Shanum mengernyit mendengar rangkaian kalimat yang keluar dari lisan suaminya. Akhtar mengucapkan kata-kaya yang sedikit aneh di telinganya, bahkan dia berkata dengan nada yang tak biasa. Ada ketakutan dan kesedihan di dalamnya.
Shanum membalikkan tubuhnya, dia mendekap erat suaminya yang kini semakin nyaman karena wajahnya tepat ada di area favoritnya. Akhtar pun semakin erat memeluk Shanum walaupun sekarang ada yang mengganjal jika dirinya memeluk Shanum. Usia kandungan Shanum yang menginjak empat bulan membuat perutnya mulai membuncit. Dia sudah bisa merasakan perubahan bentuk tubuhnya, kini semakin berisi.
"Aa, dede bayinya eungap" Shanum melonggarkan pelukannya, dia merasa sedikit tidak nyaman karena Akhtar memeluknya begitu erat.
Sontak ucapan Shanum membuat Akhtar segera mengurai pelukannya, dia membulatkan mata saat ingat jika ada buah hati mereka di dalam perut sang istri. Akhtar pun beranjak bangun dari tidurnya, dia beralih menyentuh perut Shanum yang mulai membuncit itu. Akhtar mengusapnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang diselingi kecupan di perut Shanum.
"Maafkan yanda sayang, yanda lupa kamu sudah mulai besar sekarang untung saja bunda kamu mengingatkan. Yanda kangen banget sama bundamu, yanda juga kangen kamu" Akhtar kembali mencium perut Shanum sambil terus berbicara pada buah hati yang masih berada di rahim istrinya itu. Mereka sepakat, yanda dan bunda akan menjadi panggilan anak-anak mereka kelak.
"Maaf, aku gak menyambut Aa datang" Shanum perlahan bangun dari tidurnya, duduk menyandarkan tubuhnya di headboard tempat tidurnya.
Shanum tahu jika suaminya akan pulang hari ini, dia bahkan sudah bersiap untuk memasak makanan kesukaan suaminya, sayur lodeh. Tapi karena usia kandungannya yang masih terhitung muda, tadi pagi setelah pulang dari pasar kemudian mengecek karyawan dan keadaan mebel Shanum sempat kembali muntah-muntah hingga rasa lelah melandanya. Dia pun memutuskan untuk beristirahat dan ternyata kebablasan, Shanum tertidur saat adzan dzuhur akan menjelang itupun karena ulah suaminya.
Akhtar pun sedikit bergeser, dia kembali menciumi perut sang istri yang sudah tampak membuncit itu. Shanum tersenyum, merasa geli sendiri dengan tingkah suaminya.
"Sayang, usia kandunganmu kan sudah memasuki empat bulan. Kapan kita akan mengadakan syukuran? kemarin Ibu meneleponku mengingatkan untuk segera merencanakan acara empat bulanan" Akhtar ikut bersandar pada headboard tempat tidur, dia menarik tangan Shanum agar mendekat. Dengan nyaman Shanum pun kini sudah bersandar di dada bidang sang suami.
"Iya A, ibu juga meneleponku. Aku bilang aku akan bicarakan dulu dengan Aa" jawab Shanum, dia melepas lingkaran tangan kirinya dari perut Akhtar, beralih mengelus dada sang suami yang begitu bidang dan selalu menjadi tempat ternyaman untuk dirinya bersandar.
__ADS_1
"Sayang kamu jangan menggodaku sebentar lagi adzan dzuhur" Akhtar mengabaikan apa yang istrinya katakan, dia fokus memperhatikan tangan Shanum yang terus mengelus dadanya
"Menggoda apa?" sontak Shanum melepaskan diri dari pelukan Akhtar namun Akhtar dengan sigap menahannya, tetap mempertahankan posisi itu .
"Ini!" Akhtar menggenggam tangan Shanum yang mengelus dadanya, dia mencium tangan sang istri dengan mesra.
"Ishhh..... kirain apa" Shanum memukul dada suaminya pelan.
"Habis shalat ya, boleh?" Akhtar menatap lekat Shanum sambil menaik turunkan alisnya dan hanya dibalas kekehan oleh Shanum.
Allahu Akbar, Allahu Akbar..... kumandang adzan dzuhur pun mulai bergema.
*
*
Sesuai kesepakatan acara syukuran empat bulanan Shanum akan dilaksanakan di kediaman orang tua Shanum. Ibu Fatimah menjadi orang yang paling antusias untuk melaksanakan acara ini. Dia bahkan mengundang santri-santri dari pesantren yang dulu menjadi tempatnya untuk healing karena masalah yang timbul di antara dia dengan mantan suami dan sahabatnya.
Begitupun Pak Furqan, Akhtar memberi tahu ayahnya bahwa akan mengadakan syukuran empat bulanan kehamilan Shanum. Setelah pertemuan mereka di pesta pernikahannya, hubungan Akhtar dan Pak Furqan semakin membaik. Informasi yang diberikan Ahsan dan Ghifar tentang keadaan keluarga ayahnya yang sebenarnya membuat Akhtar turut iba. Dia pun berusaha menekan egonya, melupakan semua hal yang sudah dilakukan sang ayah pada ibu dan dirinya. Dia sadar jika apa yang dilakukan sang ayah bukan sepenuhnya keinginannya. Sekarang Akhtar ingin hadir tidak hanya sebagai anak untuk Pak Furqan tapi juga sahabat yang siap diajak berbagi suka dan duka dan akan selalu ada di saat dirinya terluka.
Kepergian Akhtar ke Bandung bukan hanya untuk mengecek persiapan pembukaan cabang baru mebelnya. Malam hari usai bertemu dengan rekan kerjanya Akhtar mendapat kabar dari Ghifar jika keadaan sang ayah sedang kacau. Dia sangat membutuhkan dukungan semangat saat ini, Akhtar pun bergegas menemui beliau di tempat yang sudah disiapkan Ghifar sebelumnya.
Akhtar benar-benar syok mendapati kenyataan yang tengah dialami sang ayah. Wanita yang dipilih sang ayah untuk menemani hidupnya bahkan rela melepas cinta pertamanya ternyata membohonginya. Pak Furqan menikahi Bu Sopia karena Bu Sopia mengaku sedang mengandung anak Pak Furqan. Ketidaksengajaan Pak Furqan yang menginap di rumah dinas saat bekerja lembur tanpa dikunci dan bangun dengan keadaan sudah ada bu Sopia di sampingnya menjadi bukti jika mereka telah tidur bersama. Pak Furqan sebenarnya tidak ingat apapun, dia merasa tidak melakukan apa-apa malam itu. Namun dua bulan kemudian Bu Sopia datang kepadanya dan meminta pertanggungjawaban agar Pak Furqan menikahinya.
Akhtar sempat geram mendengar penuturan sang ayah saat itu. Dia membayangkan betapa dalam kesakitan yang dialami sang ibu karena pengkhianatan yang dilakukan orang-orang terdekatnya. Suami yang sangat dicintainya dan sahabat yang sangat disayanginya.
Pak Furqan yang sempat menyembunyikan pernikahannya dengan Bu Sopia dari Bu Fatimah dan keluarganya. Dia melakukan itu karena tidak ingin kehilangan Bu Fatimah, walau bagaimana pun Bu Fatimah adalah wanita yang sangat dicintainya, cinta pertamanya. Tetapi waktu akhirnya mengungkap semuanya.
Dan saat ini, Pak Furqan kembali harus menelan pil pahit dari kenyataan yang belum lama diketahuinya. Yasmin, putri pertamanya dari Bu Sopia mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor darah. Saat diperiksa ternyata golongan darah Pak Furqan berbeda dari sang putri. Dari sana Pak Furqan pun mulai menaruh curiga. Dia pun melakukan sesuatu hingga akhirnya mendapati kenyataan jika Yasmin ternyata bukan putrinya. Hasil DNA sudah membuktikan kebenarannya.
__ADS_1
Pak Furqan sangat frustasi, dia merasa sangat tertipu. Harus kembali menyesal, karena telah melepaskan berlian demi batu kerikil.
Akhtar dapat memahami penyesalan yamg dialami sang ayah. Andai mampu, rasanya Pak Furqan ingin memutar waktu agar bisa kembali menikmati rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah dengan Bu Fatimah. Hal itu membuat Akhtar semakin ingin cepat pulang dan segera bertemu dengan istri yang sangat dia rindukan, dalam hatinya berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan Shanum hingga Jannah-Nya.
Akhtar menyimpan rahasia ini sendiri. Dia berencana akan menceritakannya pada Shanum setelah selesai acara syukuran empat bulanan kehamilan istrinya.
Acara syukuran dilaksanakan pagi hari. Semua keluarga sudah hadir, keluarga jauh dan juga sahabat Shanum dan Akhtar yang berada di luar Garut pun sudah berkumpul. Mereka datang semalam, agar bisa menghadiri acara syukuran empat bulanan kehamilan Shanum dengan tepat waktu. Penghujung pekan di tambah libur nasional hari Seninnya menjadi waktu yang pas untuk mereka datang ke Garut. Tidak hanya untuk menghadiri syukuran itu, mereka pun berencana untuk sekalian berlibur selama beberapa hari berada di Garut.
Bukan tanpa alasan Akhtar dan Shanum mengadakan acara ini. Dalam ajaran agama Islam, waktu empat bulan kehamilan adalah waktu ditiupkannya ruh pada janin yang dikandung seorang ibu. Di waktu itu pula Allah menetapkan takdir-takdir seorang manusia.
"Sesungguhnya setiap orang di antaramu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi segumpal darah, (empat puluh hari kemudian), kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula (40 hari berikutnya). Kemudian diutuslah kepadanya malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya menuliskan empat hal; ketentuan rejekinya, ketentuan ajalnya, ketentuan amalnya, dan ketentuan celaka atau bahagianya …” (HR. Bukhari dan Muslim)
Akhtar dan Shanum menganggap sakral momen itu, sehingga di momen yang berharga itu mereka berdua ingin banyak do'a yang terpanjat untuk buah cinta mereka yang pertama.
Acara syukuran berjalan dengan khidmat, dimulai dari pembukaan oleh salah satu ustadz dari pesantren yang sudah didaulat oleh ibu Fatimah untuk menjadi pemandu acara. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an bersama-sama terutama surat-surat yang berhubungan erat dengan harapan sekaligus do'a orang tua untuk anaknya kelak dan dilanjutkan dengan ceramah dan do'a bersama.
Pada bagian akhir sesi syukuran Akhtar pun berkesempatan untuk menyampaikan sambutan dan ucapan syukur atas kehadiran semua keluarga dan sahabat-sahabat yang turut hadir untuk mendo'akan calon anak mereka. Acara pun berakhir tepat menjelang adzan dzuhur, semua tamu dan keluarga selanjutnya dipersilahkan untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah disiapkan Bu Hana dengan sangat antusias.
Liani yang datang sendiri kemarin sore, dia tampak sibuk membantu para pekerja warung nasi ibu untuk melayani para tamu. Kemarin dia mengabari Shanum jika akan langsung datang ke rumah orang tua Shanum dan menginap di sana. Shanum sempat heran kenapa Liani datang sendiri, biasanya Ahsan akan menemani.
Beberapa bulan yang lalu Liani pun datang ke Garut sendiri, dan benar saja Ahsan menyusul rupanya sedang terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Shanum mengira urusan mereka sudah selesai karena saat berada di Garut selama dua hari waktu itu, Shanum melihat hubungan Liani dengan Ahsan sudah kembali membaik.
Dia pun bisa mengerti ketidaknyamanan Liani, yang mengetahui jika Ahsan kembali berhubungan dengan Suraya. Walau pun hanya sebatas bertemu untuk saling meminta maaf dan berlanjut sebagai teman. Namun jujur Liani mengatakan pada Shanum jika dia cemburu dan merasa kecewa tapi dia sadar diri.
Liani tidak punya cukup alasan untuk mengungkapkan perasaan itu karena selama ini pun dia merasa bukan siapa-siapa untuk Ahsan. Kedekatan mereka mungkin hanya dianggap sebatas teman oleh Ahsan, sampai sejauh ini Ahsan belum pernah menyatakan jika dirinya mencintai Liani.
Ahsan yang duduk melingkar dengan kumpulan bapak-bapak sesekali melirik ke arah Liani. Semalam dia datang ke Garut sendiri, dia sempat kesal karena Liani sudah lebih dulu pergi tanpa menunggu bahkan tidak memberitahunya. Setelah Ahsan mengakhiri rapatnya dengan jajaran pimpinan yayasan dia menghubungi Liani agar bersiap, setelah shalat Isya dia akan mengajak Liani untuk pergi ke Garut. Gawainya tidak aktif membuat Ahsan harus pergi ke rumah dinas Liani untuk memastikan dan betapa kagetnya dia saat mendapat informasi dari guru tetangga rumah dinas Liani, jika wanita itu sudah pergi ke Garut sejak siang.
Sementara di lain sudut, Hasna yang biasanya datang dengan mami Ratna dan bertiga dengan supirnya kali ini tidak. Bima, kekasih yang dalam waktu dekat akan melamarnya ternyata turut serta. Dia memaksa ikut karena ingin berkenalan dengan mantan kakak ipar kekasihnya yang menurut cerita Hasna sudah dianggap seperti kakak kandungnya sendiri. Dia sedang menawari Bima yang tampak sibuk memainkan gawainya untuk makan. Bima beralasan jika dia sedang berbalas pesan dengan rekannya urusan pekerjaan.
__ADS_1
Interaksi kedua sejoli itu pun tidak lepas dari pantauan sepasang mata yang sejak acara dimulai sudah menajamkan pandangannya. Ghifar mencuri-curi pandang ke arah Hasna dan Bima. Dia merasakan dadanya seakan sesak saat melihat interaksi mereka berdua.