
"Semua sudah siap Boss, grand opening akan kita adakan seminggu lagi. Insya Allah semuanya akan siap saat waktunya tiba" Ghifar mengakhiri laporannya hari ini melalui ujung telepon.
Sejak Akhtar memutuskan resign dari perusahaan dan yayasan, Ghifar sahabat sekaligus asistennya yang kini sudah jadi mantan memutuskan untuk turut resign. Namun sayang surat pengunduran dirinya ditolak oleh Pak Furqan. Beliau dengan sangat memohon kepada Ghifar untuk membantunya menjalankan kembali perusahaan dan yayasan sepeninggal putranya.
Pak Furqan akui kehilangan Akhtar benar-benar membuatnya sangat kerepotan. Beberapa investor bahkan hendak mengundurkan diri ketika mengetahui jika Akhtar tak lagi menjadi pemimpin perusahaan. Namun dengan bantuan Ghifar akhirnya para investor berhasil diyakinkan bahwa keadaan perusahaan akan baik-baik saja setelah Akhtar mengundurkan diri.
Namun, sebagai teman Ghifar tidak tinggal diam. Dia pun terus memastikan jika sahabat sekaligus mantan bossnya itu baik-baik saja dan kembali menjalani hidup dengan baik.
Ghifar sangat senang ketika mendengar kabar dari sahabatnya itu jika ia akan membangun perusahaan baru di Garut. Berbekal keahlian dan pengalamannya Akhtar akan mencoba mengambil peruntungan dengan membuka usaha di bidang furniture.
Bisnis Furniture atau dalam istilah yang lebih familiar dalam bahasa sehari-hari lebih disebut dengan mebel adalah salah satu peluang usaha dengan modal yang tidak sedikit tetapi memiliki peluang sukses yang luar biasa. Dengan uang tabungan dan beberapa aset yang dimilikinya di Bandung yang dia jual, Akhtar pun bulat untuk memulai usaha di bidang ini.
Memang, dengan semakin berkembangnya waktu dan zaman, berjualan beraneka ragam furniture untuk perlengkapan rumah adalah peluang usaha yang sangat luar biasa. Apalagi, didukung dengan semakin padatnya penduduk serta daya kemajuan mereka yang justru semakin konsumtif. Hal ini menjadi celah tersendiri bagi Akhtar yang mulai melirik untuk berbisnis Furniture di Garut.
Akhtar bahkan sudah menemukan tempat yang strategis untuk membuka usahanya. Modal yang dirasa cukup serta tempat strategis sudah menjadi modal awal untuk membangun usahanya. Bukan tanpa alasan Akhtar memilih membangun bisnis di bidang ini. Berawal dari pertemuannya dengan Roni di Pameungpeuk, dia adalah putra dari sahabat ibunya yaitu Bu Muslimah. Roni sebagai anak sulung bertanggungjawab untuk melanjutkan cita-cita Almarhum ayahnya dengan sang ibu untuk mendirikan pesantren.
Setelah berdiri, pesantren yang dikelola oleh sang ibu kini dibantu oleh kedua adiknya yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di salah satu pesantren di Jawa Timur. Sementara dia lebih fokus melanjutkan usaha almarhum sang ayah yaitu usaha pengolahan kayu. Selain sebagai sumber pendapatan keluarga, usaha pengolahan kayu itu pun sebagai sumber pemenuhan kebutuhan pesantren di samping dari para donatur.
Salah satu industri pengolahan kayu adalah industri penggergajian kayu. Penggergajian adalah suatu unit pengolahan kayu yang menggunakan bahan baku dolok, alat utama bilah gergaji, mesin sebagai tenaga penggerak, serta dilengkapi dengan berbagai alat dan mesin pembantu.
Biasanya Roni menjual hasil penggergajian kayu itu pada toko-toko bahan bangunan atau konsumen yang langsung datang ke tempatnya. Kayu-kayu yang digergaji itu pun sebagian besar berasal dari perkebunan kayu milik keluarga.
Melihat ada peluang pada usaha kayu ini ide kreatif Akhtar pun muncul. Dia ingin mengajak Roni untuk bekerja sama. Jika saat ini perusahaan Roni bergerak pada tahapan penggergajian yang menghasilkan kayu yang bersifat setengah jadi, maka Akhtar berpikir jika dia akan membuka usaha pengolahan kayu tersebut menjadi barang jadi.
Dengan beberapa tukang yang sudah teruji olehnya atas rekomendasi Roni tentunya Akhtar mulai mengolah kayu setengah jadi yang dipesannya dari Roni menjadi barang jadi yang siap untuk dijual dengan harga yang fantastis. Terlebih dahulu Akhtar sudah membeli sebuah bangunan seperti gudang beserta tanahnya di pusat kota Garut yang dia gunakan sebagai workshop. Akhtar mendesain sendiri berbagai model furniture yang kemudian siap dieksekusi oleh tukangnya sehingga menghasilkan barang yang sesuai keinginannya.
Bangunan yang Akhtar beli untuk usahanya itu cukup luas. Dia membagi bangunan yang dibelinya menjadi dua ruangan. Bagian belakang dia gunakan sebagai workshop produksi furniture. Sementara bagian depannya dia gunakan untuk memajang furniture yang sudah siap jual. Sementara lantai dua dia gunakan untuk kantor, dua kamar tidur yang digunakan olehnya dan Ghifar jika sedang berada di Garut serta ruang yang sengaja dibiarkan lowong dan hanya berisi satu sofa dan rak pajangan miniatur berbagai produksi furniturenya. Sedikitnya tujuh orang pekerja dia berdayakan saat ini.
Akhtar tidak hanya memasarkan produksi furniturenya di mebelnya saja. Dia pun menjajakan dagangannya melalui media sosial. Banyak yang tertarik dengan furniture hasil produksi Akhtar. Public relation yang dimilikinya menjadi target pasarnya saat ini. Sehingga pada awal-awal membangun bisnisnya Akhtar lebih sering mendapat orderan secara daring dibanding secara langsung.
Semua usaha yang dilakukan Akhtar tidaklah atas kerja kerasnya sendiri. Kesuksesan yang dia raihnya saat ini juga berkat bantuan sahabatnya yaitu Ghifar. Dia bahkan meminta Akhtar agar mengizinkannya untuk kembali menjadi bagian dari perusahaan barunya. Bagi Ghifar Akhtar tidak hanya sebagai sahabat namun juga dermawan yang susah banyak membantu dirinya dan keluarganya.
Jika bukan karena bantuan Akhtar, mungkin dia tidak akan bisa menyekolahkan dua adiknya hingga selesai kuliah dan kini sudah bekerja sesuai bidangnya masing-masing. Sepeninggal orang tuanya Ghifar benar-benar menjadi tulang punggung keluarga dan harus mengurus dua adik perempuannya. Dan berkat bantuan Akhtar dia pun akhirnya bisa mewujudkan harapannya melihat adik-adiknya sudah bisa produktif dan menjalani kehidupan yang bahagia.
Kini di saat sahabatnya sedang berjuang dengan usaha barunya dan juga hidup barunya Ghifar tetap ingin menjadi orang yang selalu ada untuk Akhtar. Berkat kerja keras mereka dalam satu bulan penjualan furniture Akhtar terhitung cukup fantastis sebagai pemula. Dia pun menambah pegawainya menjadi sepuluh orang dan rencananya lusa malam Akhtar akan mengadakan pengajian sekaligus syukuran bersama anak-anak yatim piatu sebelum dilaksanakan grand opening resmi minggu depan.
"Oke, kamu pastikan agar semua berjalan lancar" Akhtar menerima laporan sahabatnya Ghifar yang saat ini sedang memantau keadaan workshop.
Karena kesibukannya di perusahaan dan yayasan, Ghifar hanya bisa membantu Akhtar pada saat weekend. Jumat malam dia datang ke Garut, Sabtu dan Minggu dia gunakan untuk membantu sahabatnya itu dari mulai mengawasi para pekerja, melakukan pemasaran melalui media sosial, melayani pembeli di mebel serta aktivitas-aktivitas lainnya di workshop yang dinamai Akhtar Future Design Furniture.
Banyak harapan yang Akhtar sematkan saat memberi nama itu. Salah satunya dia berharap bahwa semua keindahan yang dituangkan dalam setiap desain furniturenya akan selaras dengan keindahan masa depannya.
Berhubung weekend ada Ghifar yang menggantikan tugasnya di workshop maupun mebel. Akhtar pun menjadwalkan jika setiap weekend dia akan menengok ibu dan kakek neneknya. Bu Fatimah yang memilih tinggal di Pameungpeuk ikut turun tangan langsung membantu sang putra dengan mengondisikan kebutuhan kayu kang dikirim dari Pameungpeuk.
Seperti saat ini, dia tengah tiduran di pangkuan sang ibu saat Ghifar meneleponnya. Bagi Akhtar kebersamaannya dengan sang ibu adalah hal luar biasa yang membuatnya tenang dan semakin tegar dalam menjalani kehidupan.
"Jadi peresmiannya jadi minggu depan?" tanya Bu Fatimah saat mendengar percakapan Akhtar dengan Ghifar telah berakhir.
"Iya Bu, Insya Allah undangannya sekitar lima ratus orang termasuk pemerintah daerah. Ghifar bilang Bupati bersedia untuk membukanya" jawab Akhtar kembali melanjutkan permainan di gawainya yang sempat terjeda karena ada telepon masuk dari Ghifar.
"Kalau acara sama anak-anak yatim, jadi kan? ibu sudah menghubungi teman ibu yang mengelola panti di Garut" Bu Fatimahlah yang mengusulkan agar Akhtar mengadakan syukuran dengan melibatkan anak-anak yatim.
__ADS_1
"Jadi dong Bu, Insya Allah akan kita gelar malam senin ya. Jadi Ghifar masih di sini, rencananya dia subuh akan balik lagi ke Bandung" jawab Akhtar dengan tidak mengalihkan perhatiannya dari layar gawai.
"Oya, untuk makanannya bagaimana kalau kita pesen ke warung nasi ibu, boleh ya?" Bu Fatimah memberi saran kemudian menanyakan persetujuan anaknya dengan ragu-ragu. Dia takut menyinggung perasaan sang putra dengan usulannya itu.
Sejenak Akhtar pun menghentikan permainannya. Dia tampak berpikir namun kemudian dia pun bersuara.
"Boleh Bu, yang pepes ikan dan ayamnya maknyoss itu kan?" Akhtar berusaha menjawab dengan senormal mungkin. Dia tidak mau ibunya sampai kepikiran karenanya.
"Beneran?" Bu Fatimah kembali memastikan. Dia pun mengusap kepala Akhtar dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang masih betah tiduran di pangkuannya.
"Iya, bu ... kenapa emangnya. Ibu semangat benar menanyakannya?" goda Akhtar pada Bu Fatimah
"Iya ibu senang kamu mengizinkan ibu pesen catering dari warung nasi ibu" jawab Bu Fatimah jujur.
"Memangnya kenapa aku harus tidak mengizinkan? Akhtar kembali menyerbu Bu Fatimah dengan pertanyaan yang sedikit menohok membuat Bu Fatimah segera memutar kepala Akhtar jadi menghadap kepadanya.
"I-Ibu takut kamu kecewa dengan pilihan ibu" jawab Bu Fatimah sedikit terbata.
"Bukan karena ada Shanum Bu?" goda Akhtar dengan senyuman jailnya menggoda sang ibu. Dia sudah tahu jika ibunya sudah bertemu Shanum, Ahsan sudah menceritakan semuanya.
"Kamu sudah tahu kalau pemilik warung itu Shanummu?" tanya Bu Fatimah heran.
"Heumm" Akhtar hanya menjawab dengan deheman dan sedikit anggukan kepala karena posisinya yang masih tiduran di pangkuan Bu Fatimah dia anteng dengan permainan di gawainya.
"Kamu tidak apa-apa?" Bu Fatimah kembali mengarahkan kepala putranya menghadapnya, dia menatap mata Akhtar mencari kejujuran jika putranya sudah baik-baik saja jika berbicara tentang Shanum.
Akhtar mengerti kegelisahan sang ibu. Dia pun menghentikan permainannya dan bangun dari tidurnya.
Bu Fatimah hanya memandangi wajah putra satu-satunya itu dengan penuh haru, di hatinya dia selalu berdo'a agar sang putra segera menemukan kebahagiaannya.
"Benarkah?" tanya Bu Fatimah kembali memastikan.
"Iya Bu, sekarang ibu pesan cateringnya dan besok aku sendiri yang akan mengambilnya ke warung nasi Shanum" Akhtar mengakhiri penuturannya dengan mencium kedua tangan Bu Fatimah dengan takzim.
"Sungguh?" ada binar bahagia sekaligus ragu di wajah bu Fatimah saat mendengar penuturan putranya. Namun senyumnya semakin merekah tatkala Akhtar menjawab dengan menganggukan kepalanya mantap.
Hari minggu setelah melaksanakan kewajiban dzuhurnya Akhtar sudah bersiap untuk kembali ke Garut kota, dia membantu membawa barang bawaan Bu Fatimah karena akan tinggal cukup lama di sana. Menjelang grand opening mebel Akhtar meminta sang ibu agar turut membantu segala persiapannya.
Mobil Honda ZR-V putih keluaran terbaru pun melaju membelah jalanan Pemeungpeuk menuju Garut Kota.
Kumandang adzan Ashar terdengar saat mobil yang dikendarai Akhtar sampai di kawasan Cikajang. Keadaan jalan cukup ramai di saat weekend. Dia menepikan mobilnya tepat di depan Masjid Agung Cikajang untuk melaksanakan shalat Ashar.
Tepat pukul empat tiga puluh Akhtar dan Bu Fatimah tiba di depan warung nasi ibu. Akhtar memarkirkan mobilnya di sebrang jalan karena halaman warung tampak penuh dengan terparkirnya beberapa mobil dan kendaraan roda dua. Pengunjung warung nasi ibu di akhir pekan memang lebih ramai dibanding hari-hari biasanya.
Minggu ini Shanum sengaja membuka warung tepat saat makan siang karena dia dan timnya sibuk menyiapkan pesanan catering yang akan diambil jam sebelas siang ini disambung dengan melayani tamu yang datang serta dilanjut dengan menyiapkan pesanan paket satu yang akan diambil jam lima sore ini. Dia sampai harus mengungsikan Humairah ke rumah bibinya untuk diasuh oleh sepupunya yang lain.
Bibi-bibi dan sepupu Shanum yang tidak beraktivitas karena hari libur sengaja diminta untuk membantu menyiapkan pesanan catering yang mencapai tujuh ratus lima puluh box untuk hari ini. Dengan tambahan tenaga yang cukup, akhirnya Shanum bisa memenuhi pesanan pelanggan sesuai waktu yang telah di tetapkan dengan tetap membuka warung dan melayani pembeli yang akan makan di sana.
Pukul empat tiga puluh Shanum masih bergelut dengan catatannya. Memastikan kembali pesanan yang disiapkan sesuai dengan permintaan pelanggan. Dia bolak balik dari meja kasir ke ruang tengah mengecek kembali semua pesanan sudah siap karena akan diambil pukul lima sore ini.
Di saat yang bersamaan Bu Fatimah dan Akhtar masuk ke warung nasi ibu. Indri yang bertugas di barisan paling depan menyambut kedatangan Bu Fatimah dan Akhtar dengan antusias. Dia bahkan terkesima saat lelaki di belakang Bu Fatimah itu masuk mengikuti sang Ibu. Tubuh ideal dengan paras yang rupawan. Hidung mancungnya menjadi tempat yang pas untuk sebuah kaca mata hitam bertengger. Rahangnya yang tegas serta pembawaannya yang penuh kharisma membuat Indri benar-benar terpesona.
__ADS_1
Sejenak pandangannya terkunci menatap Akhtar yang tampak cool dengan penampilan yang simple namun kesan penampilan kharismatiknya benar-nenar muncul. Perpaduan kaos polos pas di badan, jeans dengan warna senada serta sepatu loafers semi formal membuat penampilannya hari ini sempurna.
"Assalamu'alaikum, Neng Indri" sapaan Bu Fatimah berhasil mengalihkan perhatian Indri yang sejak tadi hanya fokus memandangi Akhtar.
"Wa....wa'alaikumsalam, Bu" jawab Indri dengan wajah tersipu malu karena ketahuan sedang menatap laki-laki yang ada di belakang Bu Fatimah. Bu Fatimah hanya mengulum senyum melihata Indri yang tampak kikuk.
"Selamat datang di warung nasi Ibu" sambungnya seperti biasa dengan wajah ceria menyambut setiap tamu yang datang.
"Silahkan duduk Bu, pesanan ibu masih sedang kami siapkan, Teh Zahra sedang melakukan cek and ricek Bu" Indri pun membimbing Bu Fatimah dan Akhtar untuk duduk di kursi yang khusus disediakan untuk menunggu, di tengahnya ada meja kecil yang disediakan untuk menyuguhi tamu yang menunggu pesanan.
"Sebentar ya Bu, saya ambilkan dulu minum. Ibu mau minum apa? teh atau air putih? panas atau dingin?"
"Air putih hangat saja" jawab Bu Fatimah dengan bibir yang tak berhenti tersenyum karena melihat tingkah Indri yang tampak salah tingkah setelah bertemu putranya.
"Kalau Aanya mau minum apa?" Indri beralih menanyai Akhtar.
"Samakan saja" jawab Ahsan dengan senyuman ramah membuat siapapun yang melihatnya akan meleleh dibuatnya.
"Baik, sebentar ya... Bu anak ibu gantengnya kelewatan" bisik Indri di dekat telinga Bu Fatimah sambil berlalu dan Bu Fatimah pun tergelak dibuatnya.
"Silahkan diminum Bu, A, airnya mumpung masih hangat" Indri menyimpan dua gelas berisi air putih hangat sesuai permintaan Bu Fatimah disertai dua toples kue kering sebagai camilan.
"Terima kasih neng Indri yang baik dan ramah" Bu Fatimah menjawab diselingi dengan pujian untuk Indri sementara Akhtar hanya sedikit menganggukan kepalanya saat Indri meletakkan dua gelas serta dua toples camilan di hadapannya.
Akhtar mengedarkan pandangannya ke setiap sudut warung itu. Pandangannya terhenti saat menangkap sosok perempuan berjilbab peach yang dipadukan dengan tunik hijau mint dan bawahan kulot yang senada dengan warna jilbab keluar dari sebuah pintu yang bertuliskan khusus karyawan. Dia mengikuti kemana langkah perempuan yang tak lain adalah Shanum.
Shanum menuju meja dengan tinggi sedada sebagai tempat dirinya berinteraksi dengan pelanggan saat pelanggan datang untuk mengonfirmasi pesanan dan membayarnya. Dia pun duduk di kursi yang berada di balik meja itu. Shanum fokus dengan pekerjaannya, tanpa dia sadari sepasang mata setia mengintainya sejak tadi.
"Nah itu Teh Zahranya sudah ada, silahkan Ibu boleh mengonfirmasi pesanannya ke Teh Zahra" Indri menghentikan perbincangannya dengan Bu Fatimah saat menunggu Shanum.
"Nak, kamu aja yang konfirmasi ke depan ya" titah Bu Fatimah yang masih tampak enggan mengakhiri perbincangannya dengan Indri. Bawaan Indri yang supel dalam bergaul membuat Bu Fatimah nyaman mengobrol lama dengannya.
Akhtar pun mengangguk menerima titah sang Ibu untuk menemui Shanum. Sejujurnya jantungnya saat ini berdegup lebih kencang dari biasanya namun dia berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Assalamu'alaikum" sapa Akhtar saat sudah berada di depan meja yang bertuliskan kasir itu.
"Wa'alaikum ......" Shanum mendongakkan kepalanya menjawab ucapan salam yang mendadak terhenti saat melihat siapa orang yang mengucapkan salam itu.
Pandangan mereka bertemu, sejenak saling bertatap seolah saling mendalami pikiran masing-masing. Akhtar tersenyum manis saat Shanum menatapnya dengan wajah yang sedikit memucat, bukan karena terpesona seperti Indri tapi kaget karena akhirnya bertemu dengan orang yang sudah susah payah dia lupakan.
"A....." hanya kata itu yang terucap dari bibir Shanum, selebihnya Akhtarlah yang kali ini lebih banyak bicara.
"Apa kabar, Num? Aku mau konfirmasi pesanan yang akan diambil sore ini jam lima " tanya Akhtar santai, dia berusaha menyembunyikan gejolak rasa yang masih ada. Tampil senormal mungkin karena tak ingin jika tiba-tiba suami Shanum datang dan melihatnya menimbulkan kecurigaan.
Saat Akhtar bertanya Shanum masih belum sadar dari lamunannya, sehingga membuat Akhtar dapat menikmati wajah resah itu dengan leluasa selama beberapa menit berlangsung sebelum Shanum tersadar.
"Oh iya, maaf" ucap Shanum gugup, dia menundukkan pandangannya meraih nota dan kuitansi yang sudah disiapkannya dan diserahkan kepada Akhtar dengan menyimpannya di atas meja dan memastikan jika Akhtar mengambilnya.
"Pesanannya akan di antar ke depan sebentar saya cek dulu. Silahkan duduk dulu" Shanum berlalu bergitu saja dari hadapan Akhtar dia benar-benar gugup, tidak tahu apa yang dilakukan padahal jika sudah konfirmasi biasanya dia tinggal memanggil Ceu Imas untuk mengantarkan pesanan ke pelanggannya tanpa harus meninggalkan tempat duduknya.
Akhtar hanya mengangguk sambil tersenyum tipis dia menatap punggung Shanum yang menghilang di balik pintu bertuliskan selain karyawan dilarang masuk. Dia dapat melihat dengan jelas kegugupan Shanum saat mereka beradu tatap.
__ADS_1
"Setidaknya aku sudah menepati janjiku untuk tidak mencintai orang lain selain kamu, senang sekali dapat mengenalmu walau waktu perlahan mengharuskanku tersadar bahwa perasaan ini harus ku kubur dalam-dalam. Kamu adalah versi terbaik dari semua cinta yang pernah ada, Shanum Najua Azzahra" Akhtar bermonolog dalam hatinya.