
Selepas shalat dzuhur dan makan siang bersama seluruh anggota keluarga, Shanum bersiap kembali ke Bandung.
Bogor dengan berjuta cerita bahagianya, harus rela Shanum tinggalkan karena tugas lain sudah menanti.
Travel yang dipesan oleh Ayahnya sudah menunggu di halaman rumah. Shanum berpamitan, dia salami ayahnya dengan takdzim. Beralih kepada sang Ibu Shanum memeluknya erat, seakan tahu keresahan hati sang Ibu tentang dirinya yang harus merelakan sang adik terlebih dahulu menikah.
Dia tahu Ibunya ingin Shanum menikah terlebih dahulu, tidak mau Shanum jadi bahan omongan orang-orang jika harus dirunghal (didahului nikah).
Tidak lupa dia pun memeluk erat adik-adiknya dan berpesan untuk menjaga kedua orang tua mereka. Mereka adalah orang-orang berharga untuk Shanum, hanya mereka keluarga dekatnya. Kakeknya dari pihak ibu sudah tiada beberapa bulan yang lalu.
"De, jaga diri ya..." Shanum memeluk erat adik perempuannya.
"Jaga pergaulan, kehormatan untuk seorang perempuan adalah harga diri. Kalau bukan kamu yang menjaganya, bagaimana orang lain bisa turut menjaga", nasehat Shanum.
Farida hanya mengangguk dan mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya. Sebenarnya dia pun merasa tak enak hati dengan Kakaknya, tapi dia tidak bisa menolak permintaan keluarga kekasihnya yang ingin segera menghalalkannya .
Berjalan ke arah travel yang sudah menunggunya. Lambaian tangan menjadi akhir kebersamaan Shanum dan keluarganya di Bogor.
Menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Shanum merasa kepergiannya kali ini ke Bandung ada yang berbeda.
Dia tidak tahu persiapan apa yang harus dilakukan untuk menjalani hidup ke depannya di Bandung.
Kehadiran seseorang dari masa lalu diakui atau tidak sangat mempengaruhinya. Shanum tidak tahu seperti apa perasaannya sekarang, sejujurnya Akhtar masih bertahta di singgasana hatinya.
Tapi dia pun cukup tahu diri itu adalah hal yang salah, tidak mencintai pasangan orang lain adalah salah satu hal mulia yang harus dia lakukan. Menjauh adalah sebuah cara yang tepat, karena sadar dirinya tidaklah berharga.
Dering telepon penumpang di sampingnya mengingatkan Shanum akan gawai miliknya. Selama di Bogor dia sama sekali tidak mengaktifkannya.
Shanum merogoh tas, mengambil gawai dan menyalakannya.
Ting...
Ting...
Ting...
Ting...
Ting...
Ting...
99+ chat yang masuk di aplikasi whattappnya.
Shanum menghela napas, membuka setiap chat satu persatu. Yang paling dulu dia buka adalah chat dari Liani.
*Liani
hari kesatu
'Assalamu'alaikum'ð
'Num, udah nyampe?'
'Num, aku udah nyampe rumah.'
Num...?
Shanum?
Shanum Najua?
Shanum Najua Azzahra?
Shanum lagi ngapain sih kamu.....?????ð
Masih gak aktif.ð
Num, Kak Ahsan nanyain nih.ð
Shanum, kamu baik-baik aja kan?ðĪ
hari kedua
'Assalamu'alaikum'ðĪĐ
'Pagi .....Shanum sholehah, cantik dan baik hati!'ððð
'Aiiihhhh....masih belum aktif'ð
'Num, pangeran kamu nanyain kamu terus nih'ð
'Shanum, dia udah ngechat aku lagi'ðĪ
__ADS_1
'Num, gimana ini Kak Ahsan nanyaaii.....nnn'ðĪ
'Shanuuuuuuuuuuuuu............mmm'ð
hari ketiga
'Assalamu'alaikum, Shanum sayaa...ng'
'Kapan balik ke Bandung?'
'Aku udah di Rudin nih'
'Kamu kapan balik?'ð
'Num, aku kesepian'ðĪ
'Num, Kak Ahsan udah nanyain lagi'ðĪŠ
'Num, Kak Ahsan dateng ke Rudin, dia nyariin kamu'ðð
'Shanuuuuu......mm'ð
Setelah membacanya Shanum hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala, merasa lucu dengan kelakuan sahabatnya itu.
*Shanum
"Aku kembali ke Bandung hari ini", balas Shanum singkat. Dia beralih ke pesan masuk lainnya.
*Kak Ahsan
hari kesatu
'Assalamu'alaikum, Shanum'
'Shanum, Kakak minta maaf!'
'Maaf kalau kamu kurang berkenan dengan apa yang Kakak lakukan'
'Kakak punya alasan sendiri kenapa melakukannya'
'Shanum?'
hari kedua
'Assalamu'alaikum'
'Maafkan Kakak, Num'
hari ketiga
'Assalamu'alaikum'
'Shanum?'
'Num, jangan gini dong'
'Kamu kapan balik ke Bandung?'
'Kakak, mau bicara!''
Shanum menghela napasnya setelah membaca pesan dari Ahsan. Dia teringat kembali kejadian malam itu, Ahsan dengan gamblangnya memperkenalkan Shanum sebagai calon istrinya.
Shanum tidak tahu apa hubungan Ahsan dengan Akhtar selain tentang pekerjaan, tapi jika melihat keakraban mereka sepertinya mereka memiliki hubungan lebih. Shanum meringis sendiri memikirkan itu.
*Shanum
"Iya, Kak!"
Shanum membalas pesan-pesan dari Ahsan dengan singkat. Dia pun beralih ke pesan masuk lainnya. Beberapa pesan masuk dari orang tua siswa, dari siswa dan juga grup komunitas-komunitas yang dia ikuti.
Shanum mengernyit, mengerutkan keningnya mendapati satu nomor yang asing di gawainya.
*08xxx.......
'Assalamu'alaikum'
'Shanum....'
'Ini aku'
'Akhtar Farzan Wijaya'
Deg.....
__ADS_1
Tiba-tiba saja jantung Shanum berdetak lebih cepat. Dia kembali membaca pesan yang masuk dari nomor itu. Dia klik foto profil nomor itu, hanya gambar yang memperlihatkan punggung seorang pria dengan latar langit senja.
Shanum memegang dadanya, dia masih berusaha menenangkan diri. Jantungnya masih berdetak kencang. Dia bingung harus membalas apa.
Akhirnya Shanum memilih mengabaikannya dan kembali menyimpan gawai ke dalam tas. Memalingkan wajahnya ke jendela samping mobil, memilih menikmati perjalanan Bogor Bandung.
Namun tak lama gawainya kembali berdering. Shanum mengambil gawai dari tasnya, terlihat nama yang tak asing untuk Shanum di layar gawainya.
Shanum tersenyum sendiri sebelum mengangkat telepon itu, seolah sudah terbayang reaksi Liani saat dirinya menjawab telepon.
"Assalamu'alaikum'', Shanum menjawab panggilan Liani.
'Shanuuu.........mm', teriak seseorang diseberang telepon yang tak lain adalah Liani.
Dia berteriak memanggil nama Shanum, saat terdengar Shanum menjawab teleponnya. Dia bahkan lupa menjawab salam Shanum.
Shanum sampai menjauhkan gawai dari telinganya.
"Wa'alaikumussalam, Li" Shanum mengingatkan sahabatnya itu untuk menjawab salam.
'eh iya iya, wa'alaikumsalam. Sorry aku sampai lupa menjawab salam saking senengnya denger suara kamu. Kamu kemana aja? Aku khawatir tahu, gak biasanya kamu kaya gini sampe matiin gawai segala. Kamu tau gak gawai aku sampe heng gara-gara diteror terus sama Kak Ahsan, dia nanyain kamu terus. Gawai kamu enggak rusakkan? Kamu sakit, Num? Kamu baik-baik aja kan? '
Liani memberondong Shanum dengan banyak pertanyaan. Shanum kembali hanya geleng-geleng kepala sambil menghela napasnya mendengar ocehan Liani di seberang telepon.
"Aku sedang di jalan, sebentar lagi nyampe. Sudah dulu nelponnya, teleponnya aku tutup ya. Assalamu'alaikum", Shanum memutuskan lebih dulu sambungan telepon itu.
Sementara Liani, dia mendengus kesal karena teleponnya ditutup oleh Shanum. Tapi dia kembali tersenyum karena mendengar sahabatnya itu akan segera tiba.
Tidak berbeda jauh dengan Liani yang senang karena mendapat pesan balasan dari Shanum.
Ahsan pun demikian, dia senyum-senyum sendiri saat membaca pesan balasan dari Shanum.
Ahsan dengan cepat membalas pesan Shanum. Namun sayang setelah sepuluh menit menunggu Shanum tak kunjung membalasnya.
Beralih dia mencari nomor Liani dan segera mengirim pesan pada sahabat Shanum itu.
'Assalamu'alaikum'
'Bu Liani, kapan Shanum pulang?
Ting
Liani kembali mendengus saat melihat Ahsan yang mengirim pesan. Bukannya dia tidak senang, tetapi beberapa hari ini sungguh Ahsan sangat mengganggunya, tapi dia pun tidak berani jika harus mengungkapkan kekesalannya itu.
'Shanum sedang di jalan, sebentar lagi dia sampai'
Liani membalas pesan Ahsan. Melihat pesannya dibalas, Ahsan segera membukanya.
Tanpa memperdulikan apapun dia langsung keluar dari rumah dinasnya, berlari ke arah gerbang utama komplek yayasan.
Dia akan menunggu kedatangan Shanum, menjadi orang pertama yang menyambut kembalinya Shanum ke Bandung.
Ahsan berdiri dengan gagahnya, tidak peduli beberapa orang yang menatapnya heran karena kelakuannya saat ini, tidak biasanya dia berdiri di depan gerbang seperti satpam.
"Pak Dosen, ada yang bisa dibantu?" Pak Satpam yang bertugas berjaga hari ini mendatangi Ahsan menanyakan keperluannya.
Ahsan menggeleng menanggapi pertanyaan Pak Satpam dia bingung harus menjawab apa.
'Tidak Pak, saya hanya sedang menunggu seseorang" Jawab Ahsan akhirnya memilih jujur.
"Baiklah kalau begitu ,Pak. Saya tinggal dulu, jika Bapak perlu bantuan silahkan panggil saya di pos", balas Pak Satpam mengakhiri obrolannya dengan Ahsan.
Ahsan hanya mengangguk.
Selepas kepergian Pak Satpam Ahsan kembali menyiapkan dirinya menyambut kedatangan Shanum dengan senyum merekah di bibirnya.
Sama seperti Ahsan, pagi menjelang siang itu seseorang dengan setia sudah berdiri di jendela kantornya.
Pandangannya tertuju ke arah gerbang utama, tidak sedetikpun beralih ke arah lain. Sudah tiga hari ini dia melakukan hal ini, menunggu kedatangan seseorang.
Sempat terlintas di pikirannya betapa kejamnya dia sudah membuat Shanum menunggu, apalagi tanpa kabar dan tanpa pesan. Sudah tiga hari dirinya menunggu kedatangan Shanum, sungguh menunggu itu bukanlah pekerjaan yang mudah.
Ting...
Dia merogoh saku celananya, pandangannya sejenak teralihkan ke layar gawai itu. Melihat pesan yang masuk, tertera nama Raina yang mengiriminya pesan.
Dia mengabaikannya, namun sedetik kemudian matanya kembali tertuju ke layar gawai yang masih memperlihatkan deretan pesan masuk, matanya tertuju ke satu nama yang tampak pesannya sudah bercentang dua berwarna biru.
Hatinya bergetar, rasa bahagia menyeruak. Ada perasaan hangat di hatinya saat tahu Shanum sudah membaca pesannya walaupun kembali dia harus kecewa karena pesannya tak dibalas.
Akhtar kembali mengalihkan pandangannya ke arah gerbang utama. Matanya menangkap sosok yang beberapa hari ini dia tunggu.
Tanpa menunggu lagi, Akhtar langsung berbalik menuju pintu keluar dan menuruni tangga dengan hati yang berdebar bahagia.
__ADS_1
Dengan semangat Akhtar melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang, keluar dari gedung utama kantor yayasan. Matanya berbinar, bibirnya tak henti-hentinya menebar senyum, hatinya terus membisikan nama Shanum.
Tiba di pintu lantai satu gedung utama kantor yayasan, pandangannya lurus ke depan, seketika langkah Ahsan terhenti ketika melihat seseorang dengan bahagianya telah menyambut kedatangan Shanum.