
Malam yang terasa sangat panjang untuk Shanum, padahal dia merasa tubuh dan hatinya sangat lelah hari ini. Jam satu malam Shanum baru selesai membersihkan dirinya, mengganti baju dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.Tapi hingga jarum jam menunjukkan pukul tiga, Shanum masih belum bisa memejamkan matanya.
Pikirannya tidak bisa lepas dari kejadian yang baru saja dia alami. Dia tidak menyangka keputusannya membuka hati dan menerima Ahsan ternyata salah. Dia terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa Ahsan adalah pilihan terbaik dan ternyata dia salah. Dia kembali dipukul mundur dengan kenyataan yang baru saja dilihatnya sendiri.
Shanum tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan seseorang. Dia sudah memutuskan untuk mundur dengan teratur dan pamit dengan baik-baik. Dia tidak cukup percaya diri jika harus bersaing dengan Suraya, dari sisi manapun dia merasa tidak akan mampu mengimbangi Suraya, Shanum cukup sadar diri.
Tidak ada lagi air mata yang menemaninya malam ini. Sepertinya air matanya sudah kering untuk menangisi kegagalan percintaan untuk kedua kalinya. Semakin dewasa dia semakin paham, bahwa ketulusan tidak dimiliki semua orang.
Ketika sampai di rumah dinasnya, Liani menawarkan diri untuk menemaninya tidur. Dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu. Tapi Shanum meyakinkannya bahwa dia baik-baik saja.
Shanum memantapkan hati untuk mengabaikan semua rasa kecewa yang dia rasakan dari orang-orang yang tidak pernah dia kira akan mengecewakannya, dia merasa itu karena salahnya sendiri yang terlalu dalam berekspektasi terhadap makhluk.
"Tidak ada yang harus disesali apalagi ditangisi, semua yang terjadi adalah skenarioNya tugasku adalah menjadi pemeran yang baik dalam sandiwara kehidupan ini. Yang aku butuhkan saat ini adalah badanku sehat, mentalku kuat, hatiku sabar, jiwaku tegar dan rezekiku lancar. Demi masa depan yang cerah, aku tidak boleh menyerah. Ingat tujuan awal keberadaanmu di sini, Shanum. Mengamalkan ilmu, bekerja, menabung untuk membantu sekolah adik-adik sekolah dan memberangkatkan Bapak dan Ibu ke tanah suci." Shanum terus berbicara sendiri, memotivasi dirinya.
"Subhanallah, Walhamdulillah, Walaailaahaillah, Wallahu Akbar, Astaghfirullah..." berulang kali kalimah itu terlontar dari bibirnya tapi tidak juga membuat matanya terpejam.
Shanum memilih beranjak dari tempat tidurnya, dia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat malam.
***
Pagi menjelang, kicauan burung dari taman belakang komplek perumahan dinas guru menghiasi minggu pagi ini.
Cuaca cukup cerah, suasana hari libur yang sangat dinantikan oleh para pekerja untuk bisa melepas penatnya setelah sepekan bekerja walau dengan sekedar jalan-jalan.
Setelah subuh, Shanum menjalankan aktivitas hari liburnya seperti biasa. Membereskan rumah membuka semua gorden dan jendelanya. Membiarkan udara pagi yang masih sejuk memasuki setiap sudut rumahnya. Setelah kamar dan bagian depan rumahnya selesai dirapikan dia beralih ke belakang, dapur menjadi tujuannya sekarang. Dia membersihkan setiap sudut dari dapurnya dan berakhir dengan membersihkan toilet.
Pukul tujuh semua pekerjaan rumahnya sudah selesai, dia pun sudah tampak lebih segar setelah mandi.
Kriuukk....suara dari perutnya membuat dia menoleh ke arah jam dinding.
"Beuh, pantesan sudah melebihi waktu sarapan ini",
Jika hari kerja Shanum biasa sarapan pukul enam dan tiga puluh menit setelahnya dia berangkat ke tempatnya mengajar. Tapi hari libur rutinitasnya kalau tidak pulang ke Bogor adalah beres-beres rumah.
Saking konsentrasi dengan pekerjaannya dia sampai lupa menyiapkan sarapan. Biasanya kalau libur pagi-pagi sekali Liani selalu datang dan membawakannya sarapan, tapi tidak pagi ini. Sepertinya dia masih tidur karena lelah setelah acara semalam.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Suara ketukan pintu menghentikan gerakan Shanum yang akan membuat nasi goreng, melihat masih ada sisa nasi di magic comnya.
"Pasti Liani...." gumamnya pelan.
Dia berjalan ke depan untuk membuka pintu. Dan betapa terkejutnya Shanum ketika pintu terbuka, di hadapannya berdiri seorang gadis yang semalam memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Ahsan.
"Assalamu'alaikum", ucap Shanum lebih dulu menyapa tamunya karena sejak tadi tamunya itu hanya berdiri dan menatapnya penuh selidik.
"Wa'alaikumsalam", jawabnya sedikit ketus.
"Silahkan masuk, Kak." Shanum pun mempersilahkan tamunya masuk dan pamit untuk mengambil minum. Tapi Suraya mencegahnya.
"Tidak perlu repot-repot, duduklah. Ada yang ingin aku sampaikan padamu", perintah Suraya pada Shanum.
Shanum pun menurut dia duduk tepat di hadapan Suraya dan siap mendengarkan apa yang akan dikatakan Suraya padanya.
"Aku tidak tahu apa keistimewaan yang kau miliki hingga membuat Ahsan dengan mudahnya berpaling dariku. Tapi satu hal yang ingin aku tegaskan di sini, Ahsan adalah milikku tidak ada yang bisa memilikinya selain aku. Jika kau punya cukup nyali untuk bersaing denganku, silahkan saja",
"Tapi asal kau tahu, kau tidak akan pernah menang bersaing denganku. Aku akan melakukan apa saja untuk membuat Ahsan kembali bersamaku. Aku tidak tahu apa yang sudah kau berikan padanya hingga dia begitu tergila-gila padamu dan mengabaikan aku, tapi aku tidak akan menyerah",
Shanum menarik napas panjang, dia harus lebih tenang menghadapi orang seperti Suraya. Shanum bukan orang yang suka berdebat. Tetapi dia pun tidak akan tinggal diam jika sudah menyangkut harga dirinya.
"Kak Suraya, kenapa Kakak mengatakan semua itu padaku?" tanya Shanum dengan tenang dan penuh kelembutan.
"Semalam Ahsan bilang kalau dia sudah tidak ada rasa apa-apa lagi padaku, dia menyebutmu sebagai calon istrinya. Aku tidak terima jika itu benar. Aku sangat mencintai Ahsan, aku tidak mau kehilangannya." Suraya menjawab dengan nada yang lebih tenang dibanding tadi, perlakuan Shanum padanya membuat emosinya tiba-tiba mereda.
Shanum tersenyum melihatnya,
"Kakak percaya?" tanya Shanum lagi.
"Euum.....ya enggak tahu" jawabnya ragu.
"Aku dan Kak Ahsan sudah saling mengenal sejak kuliah dulu, dia adalah Kakak tingkat dua tahun di atasku itu berarti Kakak pun begitu. Akhir-akhir ini kami memang lebih dekat, sering terlibat di beberapa acara yayasan membuat kami sering bertemu, padahal level mengajar kami berbeda",
"Dia bahkan pernah bilang akan datang pada orang tuaku untuk memintaku menjadi istrinya. Aku tidak tahu jika Kak Ahsan masih mempunyai urusan dengan masa lalunya. Aku kira semuanya sudah selesai dan dia hanya akan fokus denganku saat ini dan di masa depan"
Suraya menatap Shanum tajam, dia masih berusaha mencerna setiap kata-kata yang dicapkan Shanum.
__ADS_1
"Tapi jika seperti ini, aku cukup sadar diri Kak. Kakak tenang saja, jika memang Kakak masih mengklaim Kak Ahsan adalah milik Kakak silahkan Kakak perjuangkan. Aku akan mundur dengan sendirinya dan dengan cara yang baik."
Shanum berkata sejujurnya, dia tidak mau punya hubungan buruk dengan siapapun, baginya urusan cinta dan hati adalah nomor sekian biarlah semua hanya dirinya dan Allah yang tahu. Dialah yang menggenggam hatinya, Dia lebih tahu siapa yang laik menghuni hatinya .
Menjalin hubungan baik dengan siapapun akan lebih indah dalam menjalani hidup, walaupun dia yakin Ahsan tidak akan semudah itu menerima keputusannya.
Suraya yang mendengar penuturan Shanum merasa terenyuh, dia tidak menyangka gadis yang ditemuinya ini akan semudah itu melepaskan Ahsan untuknya. Padahal dia sudah bersiap dengan segala ancaman jika ternyata Shanum menolak untuk melepaskan Ahsan.
Mendengar penjelasan Ahsan semalam yang begitu memuja dan mencintai gadis di hadapannya ini Suraya mengira akan kesulitan berbicara baik-baik dengan Shanum.
Tapi ternyata dia salah, Suraya menilai Shanum begitu realistis. Aura kebaikan jelas terlihat dari gadis yang ada di hadapannya ini, sederhana tapi penuh kharisma. Sekarang dia mulai berpikir mungkin Ahsan justru tertarik karena kesederhanaan Shanum dan kelemah lembutannya.
"Aku do'akan, semoga semua rencana Kakak dan Kak Ahsan berjalan lancar dan Allah mudahkan. Namun izinkan aku bertemu dan berbicara baik-baik dengan Kak Ahsan. Sejak awal hubungan yang terjalin di antara kami sangatlah baik, aku tidak ingin berakhir dengan tidak baik. Dengan duduk bersama dan saling berbicara dengan benar, Insyaa Allah semuanya bisa baik-baik saja." Ucap Shanum tulus.
Di hatinya tak ada rasa sakit atau kecewa saat mengatakan itu. Dia benar-benar sudah melepas apapun tentang Ahsan dalam waktu semalam. Pengalamannya dua kali gagal dalam urusan percintaan membuatnya lebih tangguh dan mengabaikan semua perasaan yang hanya akan membuatnya terpuruk.
"Kamu serius?" tanya Suraya ragu dan dibalas anggukan disertai senyum oleh Shanum.
"Jadi selama ini kamu enggak mencintai Ahsan dong?"
Shanum kembali tersenyum, dia heran dengan orang yang ada dihadapannya. Bukankah jika dirinya mengatakan mencintai Kak Ahsan gadis itu akan marah?
"Kakak, ketika saya peduli pada seseorang, saya tidak bercanda. Begitupun ketika saya pamit", jawab Shanum diplomatis.
"aiiihhh.....kamu baik banget sih, pantes aja Ahsan tertarik", seru Suraya. Dia beralih dari tempat duduknya dan mendekati Shanum lalu memeluknya dari samping.
Shanum yang merasa mendapat serangan mendadak terlonjak kaget dengan apa yang dilakukan Suraya, dia pun tidak menyangka Suraya akan memeluknya.
"Tidak usah melebih-lebihkan Kak, saya memang bukan orang baik tapi saya pun tidak sejahat yang Kakak pikirkan",
Suraya kemudian mengurai pelukannya dia memiringkan badannya menghadap Shanum. Suraya sedikit membungkuk menyejajarkan tubuhnya dengan Shanum yang sedang duduk . Dia memegang kedua bahu Shanum dan membalikkan tubuh Shanum ke arahnya. Mereka berdua kini berhadapan saling memandang dengan jarak yang sangat dekat.
Sekilas orang akan melihat posisi itu seperti Suraya mencengkram bahu Shanum dan sedang mengintimidasinya.
Di saat bersamaan Liani datang, melihat pintu rumah dinas Shanum yang terbuka dia pun langsung masuk dan mendapati pemandangan yang langsung membuatnya panik.
"Heyyy.....hentikan!", teriak Liani. Suaranya memenuhi setiap sudut ruangan itu sehingga mengagetkan dua orang yang sedang saling berhadapan itu.
__ADS_1