
'Bu, Allah itu apa?'
'Nak, Allah itu yang menciptakan segalanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, semuanya, termasuk menciptakan Kakek, Nenek, Ayah, Ibu juga kamu.'
'Bu, kenapa kita harus menyembah Allah?'
'Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud syukur karena Allah telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan. Contohnya, sekarang kamu bisa bernapas, menghirup udara bebas gratis lagi. Kita bisa melihat, kita bisa mendengar, kita bisa berjalan, bergerak bebas yang memudahkan semua kegiatan kita, dan banyak lagi kebaikan dan kemudahan yang sudah Allah berikan.'
'Kalau kita tidak menyembah Allah kita sendiri yang rugi, karena Allah tetap menjadi Tuhan Yang Maha Kuasa meskipun kita tidak menyembahnya.'
'Bu, bentuk Allah itu seperti apa?'
'Nak, kamu tahu kan bentuk gunung, batu, matahari, gajah, semuanya?..."
'Nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apapun yang pernah kamu lihat. Dan orang-orang yang shaleh, berbuat banyak kebaikan selama hidupnya dengan ikhlas karena Allah dia kelak akan bertemu dengan Allah pada waktu yang telah ditentukan-Nya."
'Bu, Allah itu ada dimana?'
'Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang shaleh. Termasuk di hatimu sayang, makanya Allah itu ada dimana pun kamu berada.'
Adalah sederet percakapan yang Akhtar ingat tatkala melihat perempuan yang saat ini ada di hadapannya. Beliau selalu menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan olehnya semasa kecil dengan sabar, mulut mungilnya tak pernah berhenti berceloteh tatkala kepenasaran menghinggapinya. Tatapannya penuh kasih dan senyum manis yang selalu menghiasi bibirnya saat menjawab semua pertanyaan Akhtar kecil.
"Ibuu...." adalah kata pertama yang saat ini mampu terucap dari lisannya. Tubuh Akhtar masih terpaku di tempat yang sama, dia merasa ini adalah mimpinya yang menjadi nyata.
Perempuan yang ada di hadapannya pun melemparkan senyuman manisnya kepada sang putra setelah beberapa saat yang lalu beliau membuka cadarnya.
Dengan air mata yang mengalir di pipinya, dia perlahan melangkahkan kaki menuju tempat sang putra tercintanya berdiri. Dia tahu putranya mungkin syok dengan pertemuan ini. Berpisah dalam waktu yang sangat lama membuatnya berubah drastis terutama dalam penampilan.
Semenjak perpisahan dengan suaminya, Ibu Akhtar memilih berubah menjadi lebih tertutup, tidak hanya tentang diri dan hatinya namun juga tentang penampilannya. Abaya longgar dan jilbab lebar yang menutupi hampir seluruh tubuhnya sekarang menjadi pakaiannya sehari-hari.
Beliau berusaha keras memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena untuknya, patah hati itu obatnya bukan pengganti. Patah hati itu obatnya menyendiri, introspeksi dan mencintai diri sendiri.
"Akhtarr....Akhtar Farzan..." suara Ibu tercekat karena isak tangis yang tak mampu ditahan lagi.
"Akhtar Farzan Wijaya...." ucapnya lirih, mengulurkan kedua tangannya ke arah putranya. Ada rasa yang berbeda ketika menyebut nama belakang putranya.
__ADS_1
Akhtar sudah tak bisa lagi menahan tangisnya, dia bersimpuh di kaki sang ibu, menangis sejadi-jadinya.
"Ibuu......hikkk..." tangannya memeluk erat kaki sang ibu, suara tangisannya begitu pilu, membuat siapapun yang mendengar pasti akan tersayat hatinya.
Sang ibu segera meraih tubuhnya, dia memeluk erat putranya menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang putra yang dulu saat ditinggalkan masih sebatas bahunya. Kini dia sudah bersandar di dada putranya itu.
Mereka berdua berpelukan dengan tangis yang belum juga mereda. Keduanya menumpahkan kerinduan yang menggunung dalam tangisan yang menyayat hati.
Semua orang yang melihatnya turut haru menyaksikan pertemuan ibu dan anak ini yang bertahun-tahun terpisah. Beberapa karyawan kantor agency yang menyaksikan peristiwa itu turut menitikkan air mata. Suasana kantor kini dipenuhi dengan keharuan yang luar biasa.
Perlahan orang-orang pun undur diri, pemilik kantor agency yang saat itu pun hadir, memberi kode pada semua karyawannya untuk meninggalkan ruangan. Beliau ingin memberi ruang seluas luasnya untuk Ibu dan anak itu.
Satu jam berlalu, tangisan mereka berdua pun mulai mereda. Akhtar yang yang selalu tegar dalam menghadapi apapun, benar-benar tak mampu menahan dirinya lagi saat bertemu ibunya. Dia yang penuh wibawa, percaya diri dan gagah saat berhadapan dengan kliennya bak singa yang siap menerkam lawan, kini berubah menjadi kucing manis yang menggemaskan di hadapan sang Ibu.
Perlahan ibunya melonggarkan pelukan, tapi tidak bagi Akhtar dia masih memeluk erat sang ibu seakan tak mau lepas.
Ibu tersenyum merasakan pelukan anaknya yang semakin erat. Dia mengerti perpisahan yang sangat lama membuat sang putra tak pernah lagi merasakan pelukannya. Akhtar seolah ingin mengganti waktu-waktu yang telah terlewati tanpanya dengan memeluk sepuasnya.
"Akhtar, putra Ibu...." Ibu mulai bersuara dengan lebih tenang.
"Dulu tangan ini hanya bisa menangkup pipi ibu, tapi sekarang tangan ini sudah bisa menutupi semua wajah Ibu, hhe..." Ibu mulai bercerita untuk mencairkan suasana.
Dia harus kembali terlihat tegar di hadapan putranya, dia tidak ingin membuat putranya yang kini telah dewasa mengkhawatirkan dirinya. Dia meyakinkan putranya bahwa dirinya baik-baik saja sekarang dan menjalani hidupnya dengan baik.
Tangan ibu meraih tangan Akhtar yang masih menangkup wajahnya. Tapi tampaknya Akhtar masih belum bersedia mengalihkannya. Dia malah mendekatkan wajahnya mencium kening sang Ibu.
Ibu yang mendapat perlakuan manis dari putranya kembali tak mampu menahan air matanya, beliau kembali terisak menahan tangisnya.
Dulu hal ini adalah ritual pagi dan malam yang selalu mereka lakukan. Pagi sebelum berangkat sekolah, Akhtar pamit dengan mencium tangan sang Ibu dan dibalas dengan kecupan hangat di keningnya. Akhtar pun selalu meminta ibunya berjongkok agar dia dapat melakukan hal yang sama, mencium kening sang ibu.
Malam sebelum tidur, setelah membaca cerita pengantar tidur dan muraja'ah (mengulang hafalan) surat-surat pendek Al-Qur'an saling mengecup kening pun menjadi ritual yang tak terlewatkan oleh mereka.
Akhtar kemudian meraih kedua tangan sang Ibu, menciumnya berkali-kali dan kembali mengecup kening sang Ibu. Ibu tersenyum, dia terharu sekaligus bahagia ternyata putranya masih mengingat kebiasaan mereka dulu. Beliaupun beranjak dari tempat duduknya, mensejajarkan diri dengan Akhtar yang masih terduduk di lantai dan mencium keningnya.
Akhtar masih enggan bersuara. Dia menggenggam erat tangan sang ibu dan menatap lekat wajahnya. Wajah perempuan yang paling dia rindukan selama ini. Wajah perempuan yang ditatapnya itu tampak berbeda, kini di wajah itu ada garis-garis kerutan yang menunjukkan betapa waktu yang mereka lewati tanpa bersama telah lama berlalu. Menyadarkan Akhtar ternyata perpisahan dengan sang ibu bukanlah waktu yang sebentar.
__ADS_1
Begitupun dengan Ibu, beliau menatap dalam putranya, wajah yang selalu dia rindukan, yang selalu menjadi alasan untuknya bertahan di masa-masa sulitnya. Wajah itu kini tampak lebih dewasa dan sangat tampan di matanya.
Dia sadar ternyata dia sudah sangat lama meninggalkan putranya itu. Terlalu banyak hal-hal tentang sang putra yang dia lewatkan.
Mereka saling menatap, menumpahkan kerinduan yang belum juga mereda.
"Akhtar, anak Ibu", Ibu kembali menyebut nama Akhtar diiringi panggilan kesayangannya. Akhtar sedikit tersenyum, dia masih fokus dengan wajah yang terus ditatapnya, setia menunggu apa yang akan diucapkan Ibu selanjutnya.
"Akhtar, anak Ibu...."
"Kamu yang lahir saat kawan-kawan Ibu masih bebas berpetualang di dunia luar. Yang tumbuh saat Ibu mungkin masih belum pantas disebut sebagai orang tua. Kamu sudah tumbuh menjadi anak yang shaleh, baik dan cerdas."
Dulu, saat Ibu mengantarkanmu ke sekolah, menghadiri rapat wali murid, menghadiri undangan pentas tahunan, banyak orang bilang Ibu yang mendidikmu dengan baik nyatanya, kamulah yang telah mendidik Ibu untuk menjadi pribadi yang lebih baik."
"Saat perpisahan Ibu dengan Ayahmu terjadi, orang bilang Ibu kuat membesarkanmu. Nyatanya, kaulah yang kuat menghadapi Ibu karena ternyata ego Ibu kala itu sangat mendominasi."
Akhtar, anak Ibu...."
"Kemana pun Ibu pergi, dimana pun ibu berada fotomu tak pernah bosan Ibu pandangi. Galeri di gawai Ibu hanya ada foto-fotomu. Foto terakhir yang Ibu miliki adalah foto kiriman Aini saat kamu berkunjung ke Garut, diam-diam Aini memotretmu dalam setiap keadaan dan mengirimkannya ke Ibu. Hingga orang yang tahu dengan apa yang Ibu lakukan bilang kalau Ibu begitu mencintaimu. Nyatanya, cintamulah yang lebih besar untuk Ibu."
Akhtar mengernyit saat mendengar Ibunya berbicara tentang Aini. Bodohnya dia kenapa dia bisa lupa kalau gadis itu pasti tahu keberadaan dan kabar Ibunya selama ini. Dia tinggal bersama Kakek dan Neneknya, dia pasti yang menjadi penghubung komunikasi Ibu dengan Nenek dan Kakek di Garut.
"Orang bilang, Ibu pemaaf. Nyatanya, hatimulah yang terlalu besar untuk Ibu. Setiap waktu yang kamu lewati tanpa hadir Ibu, setiap waktu yang Ibu lewati tanpa mendampingimu tumbuh dan berkembang sungguh tak akan mampu kembali. Ibu berdosa padamu, Nak. Dan kamu masih saja mencari Ibu." Ada tangis yang tertahan saat Ibu mengatakannya, beliau menghela napas kemudian melanjutkan kembali perkataannya.
"Kadang Ibu berpikir, bahwa sebenarnya kamu pantas mendapatkan orang tua yang lebih baik dari Ibu. Tapi lagi-lagi ego Ibu berkata, kamu adalah anak Ibu, milik Ibu dan tak boleh orang lain memilikimu lebih banyak dari Ibu."
"Akhtar, anak Ibu...."
"Sejauh apapun jarak terbentang yang memisahkan kita, kamu selalu menjadi yang pertama di hati Ibu, Nak."
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu yang tak mampu menjadi Ibu yang baik untukmu." ucapnya lirih, seiring dengan nadanya yang merendah dan air mata yang tak berhenti mengalir dari sudut matanya.
Akhtar terdiam, dia masih belum mampu berkata-kata. Matanya yang sayu telah berembun.
"Ibu...", ucapnya tak kalah lirih. Napasnya tersengal, tangis pun akhirnya kembali pecah.
__ADS_1