Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Duka Shanum (3)


__ADS_3

Ruangan itu terasa sunyi dan sepi....


Hanya terdengar bunyi alat yang menjadi penanda bahwa tubuh yang terbujur lemah itu masih hidup.


Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar lirih menambah kesyahduan suasana ruangan itu. Ayat-ayat suci itu dilantunkan oleh seorang gadis cantik yang tampak garis-garis hitam di bawah matanya menandakan bahwa dia kurang tidur. Wajahnya semakin memucat, namun semangatnya lebih deras dari hujan yang turun malam ini.


Sudah satu minggu Shanum menunggui suaminya seorang diri, dia tidak mau beranjak sebentar pun dari ruangan itu. Sesekali dia terpaksa keluar karena ibu mertua atau adik iparnya ingin melihat keadaan suaminya. Namun setelahnya dia kembali masuk dan menemani suaminya.


Baihaqi Abdillah, dinyatakan koma setelah mengalami kecelakaan yang membuat dirinya tak sadarkan diri hingga berujung koma. Setelah upaya operasi dilakukan, Shanum dan keluarga menunggu hasilnya selama enam jam sesuai keterangan yang diberikan dokter. Dia dengan setia menemani suaminya yang masih tak sadarkan diri di ruang perawatan.


Enam jam berlalu belum ada tanda-tanda Haqi akan sadar. Dokter sudah beberapa kali memeriksa namun masih belum bisa memberikan kabar baik kepada Shanum dan keluarganya. Hingga akhirnya setelah dua puluh empat jam berlalu Haqi dinyatakan koma dan harus dirawat intensif di ruang khusus untuk menjaga kestabilan kondisi tubuhnya.


Berbagai alat penopang kehidupan menempel di tubuhnya. Kini terhitung sudah tujuh hari Haqi mengalami koma dan belum ada tanda-tanda akan sadar.


Shanum dengan sabar menemani suaminya, dia selalu mengajak Haqi berbicara meskipun suaminya itu tak pernah menjawabnya. Tetapi Shanum yakin jika suaminya itu mendengar apa yang dikatakannya. Beberapa kali Shanum merasakan genggaman tangan suaminya yang semakin erat tatkala dia mengajaknya berbicara.


Seperti pagi ini, setelah shalat subuh Shanum berdzikir dan duduk di kursi di samping ranjang tempat suaminya terbaring lemah. Dia melantunkan ayat suci Al-Qur'an sambil menggenggam tangan Haqi. Shanum dapat merasakan balasan genggaman tangan Haqi ditangannya. Dia semakin optimis bahwa suaminya akan sadar dan kembali sehat seperti semula.


Rutinitas pagi Shanum setiap pagi adalah membersihkan tubuh Haqi dan mengganti pakaiannya. Dia dengan hati-hati mengelap wajah dan tangan Haqi dengan lap yang sudah dicelupkan ke dalam air hangat.


"Abang, ini adalah hari ke tujuh kita berada di rumah sakit. Abang enggak kangen aku? harusnya mungkin kita sedang berbulan madu saat ini. Tapi tak apa kita berbulan madu di rumah sakit, Abang cepat bangun ya aku kangen...hiks,😭"


Sekuat tenaga Shanum menahan isak tangis setiap membersihkan tubuh Haqi. Dia bisa merasakan jika tubuh suaminya itu semakin kurus.


"Abang aku shalat dhuha dulu ya, setelah itu aku akan membacakan lagi buku buat Abang" Shanum beranjak dari kursi di samping ranjang tempat Haqi berbaring, dia benar-benar tidak kuat menahan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Tanpa Shanum sadari, di sudut mata Haqi sudah tergenang air mata saat isak tangis pilu itu semakin tak kuasa Shanum tahan.


Anggota keluarga lain hanya, bisa melihat Haqi dari jendela kaca ruang rawat karena hanya satu orang yang diperbolehkan untuk menunggui pasien.


Selesai shalat dhuha Shanum kembali membacakan ayat suci Al-Qur'an, kali ini dia membaca surat Al-Mulk di samping Haqi.


أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ


Audzubillahiminasyaitonirojim


Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ


Bismillahirrahmanirrahim


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ


'tabārakallażī biyadihil-mulku wa huwa 'alā kulli syai`ing qadīr


Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,


الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ


allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu 'amalā, wa huwal-'azīzul-gafụr


Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,


.......


.......


.......

__ADS_1


Ayat suci Al-Qur'an itu kembali dia lantunkan dengan suara parau karena menahan isak tangis. Setelahnya Shanum pun berdo'a memohon kesembuhan untuk suaminya.


Shanum kemudian meraih sebuah buku yang dibelikan Haqi untuknya saat mereka berkunjung ke sebuah pameran buku beberapa hari setelah mereka pindah ke Jakarta.


Shanum menatap buku yang berjudul "Aku Ingin Sakinah Bersamamu" itu dengan mata yang kembali berembun. Di ingatannya kini berputar kembali kilas balik pertemuannya dengan Haqi, cerita-cerita Haqi yang mengaguminya sejak masih kuliah dulu hingga pertemuan mereka untuk pertama kalinya dengan perantara Adam adik ipar Shanum.


Keputusan Shanum untuk menerima pinangan Haqi berawal karena ingin menghindar dari gangguan Raina sebab Akhtar yang terus menemuinya. Terkadang perasaan bersalah terhadap Haqi menyerang hatinya, namun sejauh ini Shanum sudah berusaha menjalankan perannya sebagai istri dengan baik. Dia berusaha mengabaikan setiap rasa yang pernah ada untuk Akhtar. Bukankah sebuah rasa akan hilang ketika sering diabaikan, pikirnya.


Haqi membelikan buku itu sebagai ungkapan bahwa dirinya hanya ingin sakinah bersama Shanum. Setiap malam sebelum tidur, dia selalu membacakan buku itu hingga suaminya terlelap.


Semenjak menikah Shanum tidak pernah berhubungan dengan apapun yang berhubungan dengan masa lalunya. Dia benar-benar berusaha menumbuhkan cinta untuk pasangan halalnya. Dengan tekad yang kuat Shanum berjanji menjadikan pilihan hidupnya sebagai jalan menuju surga. Perlakuan Haqi yang begitu mengistimewakannya membuat perlahan hati Shanum pun luluh.


Dia teringat setiap pagi yang indah saat menyiapkan baju yang akan Haqi pakai ke kantor, sarapan yang dia siapkan sesuai request Haqi semalam, mengantarnya sampai ke teras rumah dan membawakan tas kerjanya, mencium tangannya dan dibalas dengan kecupan kening penuh kehangatan oleh Haqi.


Semua itu sudah menjadi rutinitas semenjak Shanum pindah ke Jakarta. Keadaan perusahaan yang sangat membutuhkan Haqi membuatnya tidak bisa libur dan langsung masuk kerja setelah mereka menikah.


Haqi pernah berkata jika dua minggu setelah urusannya di kantor selesai dia akan mengajak Shanum ke suatu tempat. Namun sepertinya itu hanya akan menjadi sebatas rencana.


Kata-kata terakhir Haqi yang menyuruhnya untuk bersiap-siap kembali terngiang di telinga Shanum. Selama seminggu menikah Haqi begitu sabar dan tulus memperlakukan Shanum, dia begitu pengertian saat Shanum belum bisa memberikan haknya. Shanum semakin erat menggenggam tangan Haqi. Dia bisa merasakan jika suaminya itu merespon setiap hal yang dia lakukan.


Perlahan Shanum mengusap wajah suaminya dengan penuh kelembutan. Di pagi yang cerah ini air mata Shanum tak kunjung surut. Dia menatap wajah suaminya yang semakin tirus dengan wajah sendu dan air mata yang terus mengalir. Dengan penuh kehangatan Shanum pun mengecup kening Haqi.


"Abang, bangun ya..."


"Abang cepat bangun ya, buka mata Abang.


"Aku rindu Abang....hiks...😭"


Kilasan kebersamaannya dengan Haqi terus berputar di ingatannya, dia menangis tersedu menumpahkan semua rasa sambil terus menciumi tangan suaminya. Shanum larut dalam lamunan kenangan indah bersama suaminya.


Titt... Titt... Titt...


Bunyi panjang dengan garis lurus dari monitor yang beberapa hari ini mengontrol keadaan Haqi membuat Shanum terjaga dari lamunannya.


"Bu Shanum silahkan mundur dulu ya" titahnya.


Shanum mundur dua langkah dari ranjang tempat suaminya terbaring. Suster pun menekan tombol darurat yang ada di atas ranjang Haqi. Dengan segera dokter yang menangani Haqi pun datang. Dia memeriksa keadaan Haqi. Shanum bisa melihat Haqi yang membuka matanya dengan napas yang cepat.


Dokter melepas satu persatu alat yang menempel pada tubuh Haqi.


"Kenapa dilepas, Dok" tanya Shanum panik.


"Abang, abang sudah sadar? abang sudah bangun?" teriak Shanum saat melihat mata Haqi masih terbuka dengan napas yang semakin cepat.


"Maaf Bu, siapa yang akan menuntun?" ucap dokter itu.


"Apa maksud dokter?" tanya Shanum dengan nada yang tinggi.


"Waktunya tidak lama lagi" lanjut dokter itu, membuat Shanum merasakan sesuatu yang menghantam hatinya.


"Saya Dok" suara yang tak asing di telinga Shanum tiba-tiba berada di ruangan itu. Shanum tidak menyadari jika di ruangan itu kini telah dipenuhi oleh semua anggota keluarganya.


Bu Ratna meraih Shanum yang bersandar lemah di dinding ruang tempat Haqi di rawat, dia memeluk Shanum erat diikuti oleh Bu Hana ibunya Shanum.


"Asyhadu alla ilaha illallah..." lantunan Syahadat yang diucapkan oleh Pak Imran menyadarkan Shanum dan membuat pertahanan Shanum semakin melemah.


"Abang...abang...Bang Haqi..." suaranya melemah seiring berakhirnya lantunan syahadat yang terucap dari lisan Haqi.


"Innalillahi wa inna ilahi raji'un" Pak Imran mengusap wajah Haqi yang sudah memucat kemudian merapikan tangannya.


"Innalillahi wa inna ilahi raji'un" semua yang hadir di ruangan itu pun turut mengucapkan kalimah yang merupakan potongan ayat dari surat Al-Baqarah ayat 156 itu.

__ADS_1


***


Kemarin engkau masih ada di sini


Bersamaku menikmati rasa ini


Berharap semua takkan pernah berakhir


Bersamamu


Bersamamu


Kemarin dunia terlihat sangat indah


Dan denganmu merasakan ini semua


Melewati hitam-putih hidup ini


Bersamamu


Bersamamu


Kini sendiri di sini


Mencarimu tak tahu di mana


S'moga tenang kau di sana


Selamanya


Aku s'lalu mengingatmu


Doakanmu setiap malamku


S'moga tenang kau di sana


Selamanya


Oh-wo-oh


Kini sendiri di sini


Mencarimu tak tahu di mana


S'moga tenang kau di sana


Selamanya


Aku s'lalu mengingatmu


Doakanmu setiap malamku


S'moga tenang kau di sana


Selamanya, oh-wo-wo-oh


Judul lagu: Kemarin


Penyanyi: Seventeen


Sumber: Musixmatch

__ADS_1


Dunia seakan terbalik, keadaan sekitar Shanum menjadi gelap gulita, Shanum tak mampu lagi menguasai dirinya, tubuhnya semakin melemah dan dia pun akhirnya ambruk di pangkuan sang Ibu dan Ibu mertuanya.


__ADS_2