
200 nasi kotak paket 1,
10 karung beras ukuran 25 Kg,
Siap meluncur ke Pameungpeuk pukul dua siang ini.
Shanum menyewa mobil bak terbuka yang sudah ditutupi terpal untuk mengantar pesanan ke Pameungpeuk. Jarak tempuh dan kondisi jalan menjadi pertimbangan Shanum mengirim pesanan dengan mobil bak. Dia menyuruh orang untuk mengantarkan pesanan karena jaraknya jauh sehingga dia tidak bisa mengantarnya sendiri.
'Pesanan sedang diantar, terima kasih sudah memercayakan menu berbuka puasanya pada kami. Selamat menikmati, semoga puas dan rezekinya semakin berlimpah berkah'
Adalah pesan yang Shanum kirim kepada setiap pelanggannya. Dia menyematkan do'a di akhir ucapannya, berharap pelanggan warung ibu puas dengan makanan dan pelayanannya dan mereka kembali memesan.
"Teh, mau ada acara reuni di SMP Al-Kausar, teteh mau ikutan enggak? kan teteh alumni juga" tanya Indri di sela-sela istirahat mereka setelah berbuka puasa.
Saat berbuka puasa tiba semua pekerja wajib menghentikan aktivitasnya. Pengunjung warung yang berbuka di sana dipastikan sudah menerima pesanan mereka maksimal sepuluh menit sebelum waktu berbuka tiba. Sehingga ketika waktu berbuka tiba semua pengunjung dan pekerja serempak buka bersama di ruang keluarga rumah Bu Hana. Shanum pun sengaja memberikan takjil gratis untuk setiap pelanggannya.
"Gak tahu In, teteh belum ada rencana" jawab Shanum dengan wajah datar, dia sudah tahu akan ada reuni SMP dari spanduk yang terpasang di jalan yang dilewati ketika pergi ke pasar, namun dia masih enggan untuk mengikuti karena pasti akan mengingatkannya pada kenangan ketika bersama Akhtar dahulu.
"Ikut atulah Teh, biar aku ada temen. Katanya hiburannya ngundang artis ibu kota lho teh. Lagian kan teteh pernah bilang kalau sejak pindah ke Bogor belum pernah lagi ketemu sama temen-temen teteh " ujar Indri diakhiri dengan kekehan.
"Iya sih, sekarang aja teteh belum pernah ketemu teman-teman SMP lagi padahal sudah hampir empat bulan di Garut" imbuh Shanum.
"Makanya atu teh, cepetan daftar. Teteh udah gabung belum di grup whatsapp alumni?" tanya Indri lagi.
"Belum" jawab Shanum singkat.
"Teteh enggak punya grup alumni angkatan teteh?" Indri kembali memastikan, dia beralih mendekat duduk di dekat Shanum.
"Enggak" jawab Shanum santai.
"Grup Alumni kuliahan?"
"Enggak"
"Grup alumni SMA?"
"Enggak"
"Alumni SD?"
"Enggak"
"Gusti.....si Teteh, kemana aja atu Teh? jaman kiwari (sekarang) gak punya grup alumni, sungguh terlalu. Hidup dimana ari teteh? padahal kata Bu Muslimah teteh teh murid yang aktif dan terkenal pada jamannya. Nanti aku masukin teteh ke grup reuni SMP ya teh. Pasti bakalan ada angkatan teteh juga. Kan sekarang katanya reuni akbar teh 20 angkatan" Indri terus berceloteh, merasa heran dengan kakak sepupunya itu. Di tengah perkembangan teknologi yang canggih ini dia sama sekali tidak punya satu pun grup sekolahnya.
Indri merupakan alumni dari sekolah yang sama dengan Shanum hanya angkatan mereka yang cukup jauh, dulu dia juga tinggal di asrama sehingga dia tahu banyak tentang Shanum ketika bersekolah di SMP. Banyak guru-guru yang suka menanyakan keberadaan Shanum. Mereka pun sering membicarakan sebagai murid yang aktif. Shanum memang cukup terkenal di sekolah pada jamannya.
Shanum hanya tersenyum menanggapi celotehan adik sepupunya itu. Di antara banyak sepupunya hanya Indri yang paling berani dengan dia. Perbedaan usia mereka cukup jauh, Indri yang baru tamat SMA memilih bergabung membantu Shanum dan Ibunya. Beberapa kali Shanum menyuruhnya kuliah, tapi dia selalu bilang belum siap mental dan fisik untuk kuliah. Kedua orang tuanya pun tidak memaksa Indri untuk kuliah, mengingat dia dulu sering sakit-sakitan.
"Ayo shalat, ngobrol wae (ngobrol terus). Pelanggan sudah ada yang mau pulang tuh" Intruksi ibu menghentikan ocehan Indri. Dia pun segera bergegas membereskan piring dan gelas bekasnya berbuka dan segera menuju toilet untuk mengambil wudhu.
"Teh, berjamaah ya" ajak Indri pada Shanum dan dijawab anggukan kepala oleh Shanum.
Selesai berbuka juga shalat, Shanum kembali ke posisinya di warung yaitu bagian kasir. Dia melihat ke sekeliling warung. Masih tampak orang-orang sedang menikmati makan mereka dengan sesekali diselingi obrolan. Di area mushala Shanum pun melihat beberapa orang mulai melaksanakan shalat.
__ADS_1
Di belakang rumah yang memiliki halaman yang cukup luas Shanum membangun babancong berbahan kayu yang berfungsi sebagai mushala muat untuk empat sampai lima orang shalat berjamaah. Shanum membuat bangunan itu terinspirasi dari bangunan babancong yang ada di alun-alun Garut.
Bangunan babancong merupakan bangunan panggung, berdenah segi delapan, beratap tajug, dengan delapan pilar berbentuk silinder yang menyangga bagian atap. Di bagian bawah terdapat relung-relung berbentuk lengkung sebanyak delapan buah.
Babancong yang terdapat di alun-alun Garut, terdapat dua sisi tangga untuk menaiki bangunan, yang saat ini diberi tambahan pintu dari besi. Pipi tangga babancong bermotif lengkung terawangan seperti sisik ular, penutup lantai anak tangga dari keramik, yang tampaknya merupakan penambahan baru. Penutup atap berupa genteng beton berglasur yang juga merupakan penambahan baru. Material penyusun bangunan babancong berupa pasangan bata berplester yang dicat warna putih.
Shanum seolah membuat miniatur dari babancong yang ada di alun-alun Garut, hanya dia memodifikasi beberapa hal di antaranya bahan yang digunakan yaitu dari kayu dan hanya terdapat satu tangga yang terdiri dari lima anak tangga untuk masuk dan keluar dari babancong itu.
Tempat wudhu dan toilet pun disediakan berdekatan dengan babancong tersebut. Untuk tempat wudhu dibangun di atas kolam ikan untuk memudahkan mengalirnya air. Shanum sengaja membangunnya di belakang rumah yang awalnya digunakan untuk berkebun dan kolam ikan yang tidak terlalu besar oleh Pak Imran.
Keberadaan kebun di sana tidak dihilangkan, Shanum menata dengan indah kebun yang ditanami berbagai tanaman rempah seperti jahe, kunyit, cabe rawit dan beberapa pohon singkong yang mengelilingi kolam ikan dan terdapat juga pohon jambu dan mangga yang cukup rindang daunnya, sehingga ketika melaksanakan shalat pengunjung bisa merasakan kesejukan yang berasal dari hembusan angin yang menerpa pepohonan juga suara gemericik air yang mengalir ke kolam ikan.
Karena keterbatasan waktu dan tempat, Shanum hanya menerima maksimal tiga puluh pengunjung setiap harinya. Mereka mereservasi tempat dan menu maksimal sehari sebelumnya. Pengunjung pun diberikan batas waktu dari jam empat sore sampai pukul tujuh malam untuk berada di sana. Setelah jam tersebut warung akan tutup karena sang pemilik akan melaksanakan shalat terawih.
Waktu menunjukkan pukul enam 45 menit, Shanum memberikan kode dengan dentingan lonceng bahwa waktu pengunjung hanya sekitar lima belas menit lagi untuk berada di sana. Hal ini dilakukan agar pengunjung segera bersiap untuk pulang.
Pernah ada beberapa orang yang protes dengan batasan waktu yang dibuat sebagai aturan di warung Shanum, mereka menyayangkan dengan keterbatasan waktunya padahal masih banyak pengunjung yang ingin makan di sana. Tetapi Shanum hanya membalasnya dengan senyuman dan memberikan alasan yang mudah diterima oleh para pengunjung.
Dia hanya berusaha konsisten dengan apa yang sudah disepakati dengan Bapak dan Ibunya, bahwa kegiatan warung tidak boleh mengganggu kegiatan ibadah di bulan Ramadhan. Ibu dan Bapak biasanya sudah selesai membantu sekitar pukul empat. Karena persiapan memasak sudah dilakukan sejak pagi. Menu yang ditawarkan sengaja menu yang bertahan cukup lama sehingga walaupun di masak siang tetap masih enak untuk dinikmati ketika maghrib tiba.
Kendati pun demikian, aturan-aturan tersebut tidak membuat warung Ibu menjadi sepi, justru semakin banyak orang yang mengantri untuk bisa berbuka di sana. Bahkan tidak hanya itu, pesanan catering pun semakin meningkat. Kadang Shanum dengan berat hati harus menolak pesanan karena kuota pesanan hari itu sudah terlalu banyak.
Di meja kasir Shanum hanya memeriksa daftar kunjungan pembeli hari ini. Proses pembayaran sudah dilakukan oleh pengunjung pada saat mereka datang. Mereka mengkonfirmasi pesanan sekaligus membayar sesuai menu yang telah mereka pesan secara online. Sehingga saat waktu menunjukkan tepat pukul tujuh para pengunjung bisa langsung meninggalkan warung ibu.
"Teh, ada yang titip salam" ceu imas yang sedang bersih-bersih menghentikan kegiatannya dan berbisik mendekati Shanum
"Hah?" Shanum mendongak saat ceu imas berbisik tepat di samping telinganya.
"Siapa Ceu?" tanya Shanum santai.
"Ouh, wa'alaikumsalam" jawab Shanum dengan ekspresi datar.
"Teh Zahra sudah punya calon?" Bi Isah yang mendengar percakapan Shanum dan Ceu Imas pun menimpali. Keluarga di Garut biasa memanggil Shanum dengan nama akhirnya yaitu Zahra. Di Garut hanya teman-teman sekolah waktu SMP yang memanggil Shanum.
"Saya sudah menikah, Bi" Shanum menjawab dengan santai, dia mengambil gawainya untuk menghitung ulang pemasukan keuangan hari ini.
"Hah, sudah menikah?" sontak Bi Isah dan Ceu Imas kaget, mereka tidak mengira jika Shanum sudah menikah. Pernikahan Shanum yang mendadak hanya menghadirkan beberapa anggota keluarga inti dari Garut yang datang ke Bogor. Meskipun rumah Bi Isah tidak jauh dari rumah Shanum tapi dia memang tidak mengetahui jika Shanum sudah menikah.
"Sekarang suami Teh Zahra dimana?" susul Bi Isah yang masih tampak kaget mengetahui jika Shanum sudah menikah.
"Ada Bi, dia jauh. Kalau mertua saya orang Jakarta, Insya Allah nanti ba'da lebaran mereka akan datang ke sini, nanti saya kenalkan ya" Shanum menjawab dengan ramah setiap pertanyaan Bi Isah, dia tidak menunjukkan kegalauan hatinya ketika ada yang bertanya tentang suaminya. Bukan maksud Shanum menyembunyikan statusnya sebagai janda, hanya saja dia merasa lebih aman dan nyaman ketika orang-orang mengetahui jika dirinya sudah menikah.
Indri yang mengetahui jika kakak sepupunya itu berusaha menyembunyikan ketidaknyamanannya saat ada orang yang menanyakan hal tersebut segera mengambil sikap. Dia meminta ceu imas dan bi isah agar membantunya di dapur.
Lebaran tinggal seminggu lagi, Shanum berencana menutup warungnya H-2 lebaran. Masih ada waktu sekitar lima hari untuk menerima order catering.
Menjelang penghujung Ramadhan Shanum tidak hanya disibukkan dengan pesanan catering yang semakin menumpuk, pesanan beras pun meningkat hampir dua kali lipat. Pak Imran yang bertugas bagian pengadaan stok beras pun sedikit kewalahan dengan pesanan beras yang semakin meningkat itu. Untunglah hasil panen padi dari sawah adik-adiknya pun sengaja tidak dijual semenjak Pak Imran menjual beras. Mereka bekerja sama untuk memenuhi pesanan.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Shanum dan Indri masih sibuk dengan rekapan pesanan catering dan reservasi untuk besok.
"Teh, ada pesanan lagi dari Pameungpeuk. Kali ini lebih banyak Teh" Indri setengah berteriak saat membaca orderan via whatsapp.
Setelah shalat terawih berjamaah di mesjid dan tadarus Shanum dan Indri memeriksa pesanan catering dan reservasi untuk besok. Sementara Ceu Imas dan Bi Isah sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Pak Imran dan Bu Hana pun sudah berada di kamarnya untuk beristirahat. Indri yang semenjak Shanum mengembangkan usaha warung ibu dia membantu dan memutuskan untuk tinggal dengan Shanum. Paman dan bibi Shanum pun tidak keberatan, mereka senang jika Indri bersama dengan Shanum.
__ADS_1
"Oya? bagus dong" jawab Shanum santai.
"Iya Teh, 200 nasi kotak, 50 pepes ikan, 50 pepes ayam, 10 pak kentang mustopa, dan 10 pak sambal goreng tempe kering komplit. Tapi katanya mau diambil Teh" Indri menjelaskan rincian pesanannya.
"Alhamdulillah, kita enggak perlu repot-repot nyewa mobil bak lagi dong. Buat kapan?" tanya Shanum.
"Lusa Teh" jawab Indri
"Atas nama?"
"Akhtar Farzan, Teh" jawab Indri
Deg...lagi-lagi mendengar nama itu membuat hati Shanum berdegup, hatinya sedikit terusik penasaran dengan identitas si pemesan, namun segera Shanum menepis pikiran-pikiran berisik di kepalanya.
"Oke, kita terima. Pastikan pesanan untuk lusa kamu close ya" titah Shanum dan indri pun mengangguk, dia memberi tanda di buku catatan dan menyilang angka di kalender dengan tinta merah, pertanda bahwa di hari itu sudah tidak bisa menerima pesanan catering lagi.
Shanum dan Indri sudah selesai merekap pesanan hari ini yang akan dieksekusi esok hari. Mereka merebahkan tubuhnya masing-masing di atas karpet tebal yang digelar di ruang tengah rumah Shanum.
"Teh, boleh nanya enggak?" dengan hati-hati Indri hendak mengungkapkan kepenasarannya selama ini.
"Boleh, mau bertanya apa?" Shanum balik bertanya.
"Tapi teteh jangan marah ya?" Indri tampak ragu, dia memastikan jika Shanum tidak akan tersinggung dan marah dengan pertanyaan yang akan dia ajukan.
"Haha....." Shanum malah tertawa, dia dibuat gemas dengan ekspresi wajah Indri yang tampak sedikit ada ketakutan namun rasa penasarannya tampak lebih mendominasi.
"Mau tanya apa? teteh gak akan marah kok" jelas Shanum meyakinkan.
"Eummhh....kenapa...kenapa teh Zahra menjawab sudah menikah kalau ada orang yang bertanya tentang status teteh? Indri bertanya dengan sedikit terbata.
"Karena teteh memang sudah menikah" jawab Shanum sambil terkekeh.
"Iya tapi kan suami teteh sudah enggak ada, artinya sekarang teteh single kan?" Indri sudah mulai lantang mengungkapkan isi hatinya, dia melihat Shanum tampak biasa mendengar pertanyaannya.
"Tapi kan mereka gak nanya suami teteh ada atau enggaknya" jawab Shanum tetap santai menjawab pertanyaan sepupunya.
"Iya juga sih, teteh belum ikhlas ya dengan kepergian suami teteh? jadinya teteh susah move on" Indri melanjutkan pertanyaannya.
"Ikhlas itu sesuatu yang tidak terucap, dan memang sulit untuk terrealisasi. Bahkan mungkin kita lupa, bahwa ikhlas dan mudahnya melepas itu bermula dari membiasakan rasa dan menahan gemuruh hati, bahkan ikhlas itu akan cepat tumbuh dari mendo'akan kebaikan untuk mereka yang sudah mengacaukan pikiran dan hati kita hingga waktu memberi kita peringatan dan pelajaran berharga tentang arti kehadiran seseorang dalam hidup kita. Dan saat ini teteh hanya sedang membiasakan rasa, bantu do'a ya. Walau bagaimana pun kehilangan menjadi sesuatu yang meninggalkan duka ternyata." Shanum menjawab dengan jelas dan lugas pertanyaan Indri, dia sama sekali tidak tersinggung. Justru dia merasa punya teman untuk berbagi cerita.
"Maafkan aku ya Teh, sudah lancang bikin teteh jadi sedih lagi" Indri meminta maaf dengan wajah ditekuk karena merasa sudah membuat Shanum sedih.
"Idiih, siapa bilang teteh sedih, enggak ko sekarang kamu mau nanya apa lagi? bolehlah kita sharing and caring" ujar Shanum dengan tetap menampilkan wajah cerianya.
"Jujur ya, saat ini teteh memang lagi berada di fase butuh seseorang untuk menguatkan bukan mematahkan. Orang yang memahami bukan sekedar menemani. Dan kayaknya kamu orang yang bisa diandalkan untuk itu" Shanum beralih tidur menyamping menghadap sepupunya itu.
" Aah.. teteh bisa aja" Indri sedikit tersipu dengan pujian Shanum. Shanum sengaja berbicara seperti itu agar Indri tidak merasa bersalah dan canggung.
"Indri, kadang kita perlu menerima takdir untuk bahagia, karena jalan cerita yang disusun oleh Allah lebih indah dari apa yang kita sangka. Ketika hati kita berkata ingin, kadang Allah berkata tunggu. Di situlah kita harus sabar berproses, karena tidak ada proses yang mudah untuk pencapaian yang indah"
"Saat ini teteh hanya sedang mengikuti alur yang sudah Allah tetapkan, menghadapi realitanya, melewati cobaannya, menikmati setiap prosesnya dan mensyukuri semua karunia-Nya. Percayalah semua ini adalah proses pendewasaan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Do'akan teteh ya, semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik" pungkas Shanum mengakhiri sesi sharingnya dengan Indri.
"Aah....teteh aku jadi sedih sekaligus bangga sama teteh, love you full we lah pokoknya mah" Indri bangun dari tidurannya, dia merentangkan tangan ingin memeluk Shanum dan dibalas dengan senyuman dan pelukan hangat oleh Shanum. Dia mengusap pipinya di balik punggung Indri karena tiba-tiba air mata keluar dari sudut matanya.
__ADS_1
"Abang, rindu tidak diciptakan oleh jarak tapi oleh perasaan. Aku merindukan kamu bukan karena kamu jauh, tapi karena kamu telah ada salam hatiku. I Miss You Abang Baihaqi Abdillah. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu" Shanum bermonolog dalam hatinya.