
Kegiatan pelatihan berakhir dengan foto bersama dan mushafahah. Semua peserta sudah check out Shanum sudah siap untuk pulang. Dia memutuskan untuk turut pulang dengan temannya sesama peserta dari Bandung yang membawa kendaraan pribadinya. Ahsan sempat menawarkan diri untuk menjemputnya tapi Shanum menolak.
"Maaf ya Bu jadi merepotkan", ucap Shanum pada teman yang mengajaknya pulang bersama.
"Enggak kok Bu, justru saya senang jadi ada teman", jawabnya tulus.
Shanum mengirim pesan pada Ahsan sesuai permintaannya agar Shanum berkabar saat kepulangannya. Entah apa yang akan dilakukan pria itu.
*Kak, kegiatan pelatihan sudah selesai. Sekarang aku baru jalan pulang ke Bandung*
Setelah mengirim pesan dia kembali menyimpan gawai di tas selempangnya. Dia begitu menikmati perjalanan Jakarta-Bandung siang itu. Mereka mengisi perjalanan dengan mengobrol lebih mengakrabkan diri.
Shanum tiba di Bandung sekitar pukul setengah empat sore. Perjalanan kurang lebih dua setengah jam yang ditempuh cukup melelahkannya. Apalagi hari terakhir pelatihan yang diisi dengan kegiatan postest cukup menguras pikiran dan energinya setelah semalaman mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Shanum turun dari kendaraan temannya tepat di depan gerbang utama komplek yayasan Bina Insani. Dia pamit dan mengucapkan banyak terima kepada temannya.
Shanum membuka pesan dari Ahsan, katanya dia sudah menunggunya. Benar saja, laki-laki itu sudah berdiri dengan gagahnya di depan gerbang menyambut kedatangan Shanum. Ahsan tersenyum lebar menyambut kedatangan Shanum yang terus mendekat ke arahnya.
"Assalamu'alaikum", ucap Ahsan terlebih dahulu menyapa, sepertinya kerinduan sudah benar-benar memuncak di hatinya.
"Wa'alaikusalam", Shanum tersenyum menjawabnya.
Seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya, Ahsan menyambut Shanum di pintu gerbang yayasan dan membawakan tas bawaannya menuju rumah dinas. Walaupun Shanum sudah melarangnya tapi Ahsan tidak memedulikannya.
"Kamu apa kabar?" tanya Ahsan saat mereka berjalan beriringan.
"Alhamdulillah baik, Kak", jawab Shanum singkat.
Mereka berjalan beriringan menuju rumah dinas Shanum, perjalanan mereka diisi dengan obrolan ringan. Ahsan yang lebih banyak bertanya sebenarnya, tentang kegiatan apa saja yang Shanum lakukan selama pelatihan, sementara Shanum hanya menjawab apa yang Ahsan tanyakan.
Semua interaksi Ahsan dan Shanum tidak luput dari tatapan sepasang mata seorang pria yang terlihat penuh dengan kesedihan. Kembali pikirannya menerawang pada perbincangannya dengan Ahsan beberapa saat yang lalu di caffe.
"Ja...di... mak... sud... ka...mu... wa... nita ya...ng se...lama ini ka...mu ke...jar cin...tanya a...dalah Sha...num?" tanya Akhtar terbata saat mengucapkan pertanyaan itu kepada Ahsan seakan sesuatu membuat napasnya tercekat.
Dia mengira selama ini kedekatan Ahsan dan Shanum hanya sebatas rekan kerja. Pembawaan Ahsan yang humoris, selalu menyelipkan canda dalam setiap obrolannya membuat Akhtar tidak terlalu memercayai saat dulu Ahsan pernah memperkenalkan Shanum sebagai calon istrinya. Apalagi melihat respon Shanum saat itu yang tampak biasa saja, bahkan ekspresinya menunjukan kurang menyukai dengan apa yang Ahsan lakukan. Akhtar pun menganggapnya hanya sekedar guyonan, yang Akhtar tahu selama ini sahabat sekaligus sepupunya itu sedang menunggu seseorang.
"Jadi perempuan yang berinisial S yang kamu maksud saat bernyanyi di atas panggung itu adalah Shanum?" tanya Akhtar lebih lancar dari sebelumnya. Ada sakit di dadanya saat menanyakan hal itu.
"Iya, dulu aku masih belum berani menyebut namanya langsung karena Shanum belum memberi lampu hijau. Tapi sekarang hubungan kami sudah selangkah lebih maju. Aku ingin menemui orang tuanya untuk melamar Shanum secara resmi",
"Rencananya, aku akan menyampaikan rencanaku ini pada Ayah setelah acara pertunanganmu selesai. Mama dan Papaku akan datang ke Bandung saat acara lamaran atau mungkin mereka langsung ke Bogor. Kata Mama saat ini mereka sedang berada di Surabaya dan Papa lagi sibuk-sibuknya karena beliau dipromosikan untuk naik jabatan. Aku tidak ingin menunda lebih lama lagi. Kamu tahu kan bahkan usiaku sudah tak laik dikatakan muda lagi, sudah waktunya beranak pinak hahaha...." jawab Ahsan mantap sembari mengakhirinya dengan canda tawa.
Akhtar hanya melongo mendengar penuturan Ahsan, dia tidak menyangka takdirnya begitu rumit. Perempuan yang selama ini berada di hatinya adalah perempuan yang sama yang didamba sepupunya. Parahnya lagi selama ini dia menjadikan sepupunya itu tempat berkeluh kesah, menumpahkan semua rasa yang ada di hati dan pikirannya tentang wanita itu. Hanya salahnya dia tidak memberitahukan sepupunya itu siapa perempuan yang menjadi pujaan hatinya selama ini. Dia pun tidak menyangka jika sepupunya itu ternyata sudah beralih hati. Perempuan berinisial S yang Akhtar kira selama ini adalah perempuan yang menjalin kasih dengan Ahsan sejak SMA dulu.
"Lalu bagaimana dengan Suraya?" Akhtar penasaran dengan kisah percintaan sepupunya itu, mengapa bisa dengan mudah beralih hati kepada Shanum. Yang Akhtar tahu sejak SMA Ahsan sudah sangat bucin pada kekasihnya itu.
"Isshhhh....." Ahsan mendesis mendengar nama perempuan yang disebut Akhtar.
"Sejak lima tahun yang lalu dia lebih memilih pergi dan meninggalkanku, sejak saat itu pula aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi, aku sudah tidak mengharapkannya lagi. Dia lebih memilih mengejar ambisinya daripada bertunangan denganku. Aku bahkan sudah tidak peduli bagaimana dia menjalani hidupnya selama ini", Ahsan berkata dengan tegas, ada kekecewaan dan kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya.
Terbayang kembali peristiwa yang membuatnya sempat terpuruk itu. Wanita yang bertahun-tahun dia cintai pergi dengan tega dan tanpa rasa bersalah sehari menjelang acara pertunangan mereka. Ahsan menarik napasnya dalam.
__ADS_1
"Tapi aku bersyukur, berkat dia yang meninggalkanku Allah mendatangkan Shanum dalam hidupku. Jika dulu dia tidak pergi mungkin aku tidak akan menemukan perempuan sebaik dan seistimewa Shanum."
Ahsan tampak enggan menyebut nama perempuan itu. Dia benar-benar ingin menghapus memori tentangnya.
Padahal dulu Ahsan sangat mencintai perempuan itu. Apapun yang diinginkan Suraya selalu Ahsan penuhi, Ahsan sangat memanjakannya. Dia adalah perempuan pertama yang berhasil mengambil hati Ahsan. Dengan Suraya Ahsan mengenal indahnya cinta walau akhirnya kebahagiaannya harus terhempas karena keegoisan Suraya.
Akhtar menghempaskan napasnya. Fakta baru yang dia ketahui sungguh membuat hatinya dilema. Antara keluarga, ingin memperjuangkan Shanum dan melihat sahabat sekaligus sepupunya itu bahagia.
Akhtar membalikkan badannya berjalan ke arah lain, saat melihat Shanum dan Ahsan semakin menjauh. Rooptop adalah tempat ternyamannya. Seperti biasa, Akhtar mendudukan dirinya di kursi kayu yang selalu menjadi tempat ternyamannya saat sendiri. Dia memejamkan mata memutar kembali kenangan dan harapannya bersama Shanum. Sebuah lagu menemani kesendiriannya di rooptop itu.
**....
Aku yang lemah tanpamu
Aku yang rentan karena
Cinta yang t'lah hilang darimu
Yang mampu menyanjungku
Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu untuk mengenangmu
Darimu (darimu), kutemukan hidupku
Bagiku (bagiku), kaulah cinta sejati
(Bagiku, engkaulah cinta sejati)
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
'Kan kujadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupmu
Yang t'lah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah
Oo-hoo, oo-hoo
Oo-hoo
__ADS_1
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
'Kan kujadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupmu
Yang t'lah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah
'Kenangan Terindah (Samson)
Akhtar membuka matanya, tatapannya kosong menatap langit yang kian menjingga.
'Mungkin ini memang waktunya, aku harus rela melepasmu bersama orang yang lebih tepat dan kau adalah kenangan terindah dalam hidupku.' batinnya.
**
Mereka sudah sampai di rumah dinas Shanum. Besok adalah hari pertama masuk sekolah. Tampak rumah-rumah dinas yang dua minggu kebelakang sepi kini mulai ramai kembali karena para penghuninya sudah mulai berdatangan. Mereka kembali setelah menghabiskan waktu liburan semester bersama keluarga tercinta di kampung halaman masing-masing.
Shanum berdiri di teras, dia meminta Ahsan untuk menyimpan tas bawaannya di atas meja kecil yang ada di teras rumah dinasnya.
"Terima kasih, Kak. Aku sangat tersanjung, hhee..," Shanum berterima kasih kepada Ahsan atas semua perlakuannya dan mengakhirinya dengan kekehan.
"Harus berapa kali aku bilang kalau aku tidak ingin mendengarkanmu mengucapkan kalimat itu lagi?" balas Ahsan dengan nada sedikit kesal karena Shanum lagi-lagi memosisikan dirinya seperti orang lain.
"Sejak dulu, sekarang dan masa yang akan datang aku ingin selalu ada untukmu untuk mengurangi semua beban di pundakmu", jawab Ahsan mendalam.
Shanum hanya tersenyum malu walaupun perlakuan Ahsan dirasa berlebihan untuknya tapi dia senang menerimanya. Dia merasa harus banyak bersyukur bertemu dengan pria baik yang ada di hadapannya
"Aku ada kabar baik untukmu", Ahsan memulai lembali pembicaraan.
"Apa?" tanya Shanum.
"Pak Furqon meminta kepanitiaan kemarin jangan dibubarkan." Ahsan menjeda ucapannya.
"Kenapa?" sela Shanum.
"Beliau meminta tim kemarin untuk kembali mengurusi acara pertunangan putranya, Akhtar ketua yayasan kita", jelas Ahsan.
Duaarrrr.......jantung Shanum tiba-tiba berdetak sangat kencang seolah sesuatu baru saja menghantamnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dia mampu menyaksikan kembali laki-laki yang masih bertahta di hatinya itu bersanding resmi dengan perempuan lain. Dia tidak munafik, tidak mudah untuknya menghapus semua perasaannya pada Akhtar. Di saat seperti ini ingin rasanya dia menghilang ke belahaan dunia lain.
Walau bagaimana pun dia pernah mendedikasikan waktu dan cintanya untuk laki-laki itu dalam kurun waktu yang tidak sebentar, tidak mudah untuk melupakannya begitu saja, walaupun dia tahu bahwa dirinya hanya sebatas pungguk yang merindukan bulan.
"Baiklah, aku pamit ya. Sekarang kamu istirahat, besok kita akan menghadap Pa Furqon bersama-sama. Assalamu'alaikum", Ahsan pamit setelah memastikan Shanum sampai dengan selamat. Sebelum benar-benar pergi Ahsan kembali menoleh, " Aku merindukanmu", ucapnya sembari tersenyum penuh kehangatan.
__ADS_1
Shanum hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya melepas kepergian Ahsan. Dia masih belum fokus dengan apa yang ada di hadapannya. Pikirannya masih melayang mendengar kabar dia harus menjadi panitia di pertunangan mantan kekasihnya.
'Akhirnya aku benar-benar akan kehilanganmu. Kehilangan yang bukan hanya tentang yang tak ada lagi, namun tentang yang ada tetapi tak lagi terasa, didengar tetapi tak dipahami. Hadir, namun tak lagi berarti, terima kasih pernah mampir di hidupku dan memberiku kenangan indah dan pelajaran berharga', bisik Shanum dalam hatinya.